
Aldo perlahan mendekati Tania dan duduk di sebelahnya. Sementara Kirani masih berdiri di belakang Aldo.
"Aku datang, dan aku membawa seseorang yang ingin aku kenalkan kepadamu", Aldo mulai berkomunikasi dengan Tania.
Hampa dan sunyi, tak ada jawaban apapun dari mulut Tania. Bahkan pandangannya pun tak mengarah kepada Aldo dan Kirani. Mungkin Tania mendengar semua yang dikatakan Aldo, tapi pikirannya tak bisa menangkap ucapan tersebut.
Aldo melihat ke arah Kirani dan begitu pula sebaliknya, kemudian Aldo mengeluarkan ponsel. Dia letakkan ponsel tersebut di salah satu kursi yang ada di ruangan itu, Aldo mulai membuka menu video dan berniat ingin merekam sesuatu. Dia arah kan kamera ponsel ke arah mereka bertiga.
"Apa yang akan kamu lakukan? ", tanya Kirani dengan suara pelan.
" Aku ingin merekam sesuatu, kamu ikuti saja", Aldo menjawab dengan kemudian memberi isyarat supaya Kirani tak banyak bertanya dengan apa yang akan dia lakukan.
"Oke", Kirani berkata sambil menganggukkan kepala.
Aldo kembali duduk di sebelah Tania. Sebelum memulai pembicaraan Aldo terlebih dulu menyentuh ponselnya untuk memulai melakukan sebuah rekaman video.
" Tania, aku datang kesini bersama seseorang yang ingin aku kenalkan sama kamu", Aldo berkata sambil menggenggam tangan Tania.
"Aku mencintaimu, aku juga berusaha setia dan menjaga mu di rumah selama satu tahun meskipun aku harus di usir oleh orang tuaku karena mereka menyuruhku menikah lagi tapi aku lebih memilih mempertahankan dirimu. Namun keadaanmu tak kunjung membaik, bahkan semakin bertambah buruk. Dokter meminta agar kamu di rawat intensif di Rumah Sakit, ini semua demi kebaikan kamu. Sekarang aku sudah kembali kepada keluargaku, dan satu hal yang belum kamu ketahui bahwa tiga minggu yang lalu Papi ku meninggal karena kecelakaan. Dan pesan terakhir beliau kepadaku adalah meminta agar aku segera mempunyai keturunan karena aku adalah putra tunggal beliau".
Aldo berhenti sejenak dari perkataannya, sambil menghela nafas panjang. Lalu kemudian dia kembali meneruskan kalimat nya,
__ADS_1
"Tak ada niat dalam hatiku untuk mengkhianatimu, untuk menduakan mu, untuk meninggalkan mu, apalagi melupakan dirimu. Tapi Takdir yang telah menuntun langkah kita, hingga aku bertemu dengan seorang wanita yang ingin aku perkenalkan sama kamu. Dia tidak merebut aku dari kamu, dan dia juga tidak meminta ku meninggalkan mu. Dia hanya manusia yang dikirim Tuhan untuk hadir dalam hidupku, dan yang di harapkan orang tuaku untuk bisa memberiku keturunan. Maafkan aku Tania, selain berharap keturunan aku juga mencintai wanita itu walaupun sebelumnya telah ada cinta di hatiku untuk dirimu. Wanita itu bernama Kirani", Aldo kemudian menarik tangan Kirani menuju tangan Tania hingga kedua tangan tersebut ada dalam satu genggaman tangan Aldo.
"Jika memang suatu saat kamu bisa kembali pulih semoga kamu dan Kirani bisa menjalin hubungan baik seperti saudara, kalian berdua adalah wanita istimewa yang mengisi hatiku. Aku sengaja melakukan rekaman video ini sebagai rasa tanggung jawabku sebagai suami bagi kamu, dan sebagai laki laki sejati bagi Kirani. Tentu nya ini semua adalah bukti kejujuran dan tanggung jawabku pada kalian", Aldo mengakhiri ucapannya dengan mencium tangan Kirani dan Tania secara bersamaan, kemudian mematikan rekaman videonya.
Kirani tak kuasa menahan air matanya menetes, dia sangat terharu akan sikap Aldo. Walaupun sedikit menyakitkan saat dia membayangkan jika Tania benar benar pulih, tapi dia yakin Aldo adalah laki laki yang bertanggung jawab dan mempunyai pemikiran bijak dalam menghadapi masalah.
Berbeda dengan Kirani yang terus meneteskan air mata, Tania justru tidak memberi respon apa apa. Dia tersenyum senyum kecil tapi senyumnya bukan untuk Aldo ataupun Kirani. Dia tersenyum senyum sambil memandangi tembok dan memainkan lima jarinya di sana.
Aldo yang melihat itu hanya bisa menghela nafas panjang, tapi dia bersyukur karena sekarang Tania sudah jarang menangis histeris.
Satu jam berada dalam ruangan tersebut akhirnya mereka berniat untuk keluar dan segera pulang. Aldo berpamitan kepada Tania, "Aku pulang dulu, kamu baik baik ya disini", sambil mengecup kening Tania kemudian Aldo berdiri dan melangkah untuk pulang.
Kirani menoleh ke arah Aldo dengan menjawab pertanyaannya, " Aku sedih, aku bayangkan jika aku menjadi Tania. Tapi aku juga terharu sama sikap kamu, aku bersyukur bisa mengenal laki laki seperti kamu walaupun aku berada di posisi yang serba salah".
"Aku berjanji sama kamu, jika suatu saat Tania bisa pulih kembali aku akan pergi jauh dari hidup kalian agar kalian bahagia, walaupun aku akan terluka", Kirani berkata sambil menggenggam tangan Aldo.
" Jangan, aku nggak mau menerima janji kamu. Serahkan semua pada yang kuasa, kita ikuti arus air mengalir bukan melawan arusnya. Kita bertemu dengan jalan takdir, jadi biarkan takdir pula yang memisahkan kita. Bukan berpisah karena ego kita sendiri. Kamu mengerti kan? ", Aldo menjawab perkataan Kirani sambil mengecup punggung tangan Kirani.
Sementara Kirani hanya mengangguk dan lagi lagi meneteskan air matanya kembali.
Melihat suasana hati Kirani yang dirundung kesedihan membuat Aldo ingin menggodanya agar Kirani bisa tersenyum, "Kamu tau nggak kenapa kamu itu bisa cinta sama aku? ".
__ADS_1
Kirani yang mendengarnya hanya mengerutkan kening dan nggak bisa menjawab pertanyaan Aldo, meskipun sebenarnya banyak sekali jawaban yang ingin dia sampaikan.
Tak memberi kesempatan Kirani untuk menjawab, Aldo malah melanjutkan perkataannya, " Kamu bisa cinta sama aku, karena aku adalah orang paling ganteng yang pernah mengungkapkan cinta sama kamu".
Mendengar kalimat itu membuat Kirani tersenyum dan sebenarnya juga mengiyakan ucapan Aldo dalam hati. "Iih ke GR an", sambil manyun Kirani berkata kepada Aldo.
" Tapi bener kan? ", sambil mencolek dagu Kirani Aldo masih berusaha membuat Kirani untuk tersenyum.
Tapi pipi Kirani malah memerah tanda sedikit malu mengakui kalau Aldo memang sangat tampan dan segalanya bagi Kirani.
Candaan mereka terhenti setelah terdengar bunyi ponsel milik Aldo, " Haloo.. iyaa Mii", terlihat Aldo sedang menjawab telpon dari Maminya.
Waktu sudah hampir pukul 19.00 malam, pasti Maminya sudah menunggu di meja makan sejak tadi.
"Iya Mi, Aldo sama Kirani dalam perjalanan pulang. Sebaiknya Mami makan aja dulu, Aldo khawatir kalau Mami sampai telat makan", jawab Aldo dan kemudian mengakhiri panggilan tersebut.
" Mami sudah menunggu kita, kita harus segera pulang. Kamu jangan nangis dan bersedih lagi ya, nanti Mami tanya macem macem. Kita nggak mungkin jujur kepada Mami kalau sore ini kita menjenguk Tania, karena kalau tau Mami pasti melarang. Kamu mengerti kan? ", Aldo memberi penjelasan kepada Kirani.
Kirani hanya mengangguk sambil menyapu air mata kemudian merapikan rambut dan make up nya yang sedikit pudar karena menangis. Sementara Aldo meneruskan laju mobilnya dengan sedikit kencang karena terlihat arus lalu lintas sudah mulai senggang tanpa kemacetan.
------
__ADS_1