
"Baru selesai Dad, Sonya baru saja tanda tangan dengan Martin kerjasamanya, Daddy sudah pulang?" tanya Sonya dengan lembut.
Masalahnya Mommynya di rumah sendirian dan tidak ada yang menemani, Sonya takut terjadi apa-apa dengan Nara. Apalagi akhir-akhir ini Tante Rosalinda kembali mengusik keluarga mereka. Rosalinda baru bercerai dengan suaminya dan sekarang sering sekali menggoda Daddynya. Meski Sonya tahu kalau Daddynya sampai kapanpun juga tidak akan tergoda dengan Rosalinda itu.
"Ini lagi di bandara honey, Daddy pulang cepat karena rindu Mommy. Mommy tidak mau ikut kemarin, Daddy jadi malas sendirian," ucap Ronald yang baru sampai bandara dan akan menuju ke Indonesia.
"Kamu kapan pulang?" tanya Ronald sambil keluar dari mobil dan berjalan menuju pesawatnya.
"Rencananya besok Dad."
"Hati-hati, honey!"
Martin yang sedari tadi memeluk Sonya dari belakang menjadi kesal karena Sonya akan kembali besok. Mereka baru dua hari dan belum jalan-jalan. Kenapa Sonya ingin sekali pulang cepat. Padahal Daddy dan Mommynya tidak mempermasalahkan Sonya berlibur sedikit lebih lama.
"Kita masih seminggu di sini, kenapa besok sudah mau pulang, aku belum bawa kamu jalan, makan, kita belum happy di sini, please honey! Jangan pulang dulu, aku masih lama di Inggris dan aku butuh kamu," ucap Martin mengeratkan pelukannya dari belakang.
"Kamu butuh buat apa? Sudah dua hari kita di Inggris kamu hanya bawa aku ke kamar, kamu minta pelukan dan kiss, itu terus, aku bosan!" jawab Sonya jujur.
"Namanya juga baru ketemu honey, kamu tahu kan kalau kita pacaran berjauhan, kalau kamu sama negara denganku, tidak mungkin setiap hari aku begitu, ya jangan pulang dulu!" Martin masih membujuk Sonya agar tidak pulang ke Indonesia.
Sumpah Martin sedang sibuk sekali dan Sonya adalah semangat untuknya.
"Ini saja, kita lagi di kamar, lagian kamu tidak bosan?" tanya Sonya membalik tubuhnya dan mencubit pipi Martin dengan lembut.
"Ayo keluar! Kita makan, jalan, ke tempat wisata juga. Aku mau pulang besok, aku takut Mommy sakit," ucap Sonya yang membuat Martin menghela nafasnya.
"Itu hanya alasan kamu honey, Daddy kamu sudah pulang, Daddy pasti akan menjaga Mommy dengan baik, Mommy juga kalau sakit pasti cerita ke kamu, aku masih merindukan kamu sayang, kita tidak sekamar dan aku kurang sekali memelukmu," ucap Martin dengan wajah sedihnya.
__ADS_1
Malah setelah mereka selesai tanda tangan, Staff yang bersama Sonya sudah keliling dan mencari oleh-oleh karena mereka sudah dipastikan akan pulang besok. Sedangkan Sonya masih di kamar dengan Martin meladeni Martin yang tidak sudah lagi merindukannya.
Sudah tidak terhitung lagi Martin mendaratkan kecupan di bibir dan leher Sonya. Hanya sebatas itu saja, Martin memang tidak akan melakukan lebih karena dia juga masih ori, tidak mungkin dia memberikan pada wanita yang bukan istrinya meski dia sangat mau.
"Pokoknya aku mau pulang besok, ayo keluar sekarang! Aku mau cari oleh-oleh," ucap Sonya memaksa Martin. Sonya mengancingkan kemejanya lagi yang dibuka Martin tiga kancing bagian atasnya.
Sungguh gila sekali hasrat Martin ini tetapi Sonya masih menganggap itu biasa.
"Tidak mau! Apalagi kalau kamu pulang besok, seharian aku mau di kamar, peluk kamu dan malam nanti aku mau kita sekamar juga," ucap Martin yang jadi merajuk karena ulah Sonya.
"Kita sudah dua jam sayang di kamar dan bibirku ini sudah kering, kamu lihat leher aku, mau bilang apa aku dengan Daddy kalau dia lihat, aku besok pasti pakai make up. Padahal aku bilang kiss saja, ah kamu!" Martin tertawa dan melihat gambar yang dia lukis. Cantik sekali, tidak terlihat sama sekali norak pikir Martin.
Martin memangku Sonya di pahanya dan menatap mata Sonya dengan lembut. Dia masih tidak rela Sonya meninggalkannya. Semenjak Martin mengatakan akan mengenalkan keluarganya. Sonya jadi tidak nyaman lama-lama dengan Martin.
Daddynya pasti setuju hubungan mereka karena dari awal Sonya sudah bilang kalau dia menikah pasti dengan orang Indonesia.
"Satu hari lagi, please! Jangan besok, lusa saja!" pinta Martin memohon dengan menangkupkan kedua tangannya.
Bisa-bisa Sonya terjerat oleh Martin apalagi Sonya tidak bisa menolak dan menikmati permainan yang Martin berikan.
Martin menyandarkan wajahnya pada dada Sonya yang terlihat sexy dengan balutan renda di dalam kemeja. Wanginya yang menusuk hidung Martin membuat Martin lama-lama bahkan dua jam saja tidak cukup untuk Martin menyalurkan hasratnya.
Martin melihat bibir Sonya dan kembali meraupnya dengan lembut. Maksud kangen-kangenan yang dikatakan Martin adalah seperti ini. Sonya benar sekali, dia hanya ingin bergulat dengan Sonya di ranjang meski mereka tidak melakukan apapun. Cukup berbalut renda cantik dan Martin dengan celana pendeknya saja sudah cukup menyalurkan hasratnya.
"Kamu mau apa?" tanya Sonya saat Martin melepaskan kemeja Sonya dan membuangnya di sisi ranjang.
"Tidur siang sayang! Malam nanti baru kita cari makan malam," ucap Martin dengan tawa gilanya.
__ADS_1
"Untuk apa dilepas?" tanya Sonya tidak mengerti setelah bajunya kini roknya yang Martin lepas.
"Jangan gila! Aku tidak akan melakukannya kalau pikiran kamu ingin mengajakku untuk bercinta," ucap Sonya dengan tegas.
"Hanya tidur! Aku tidak bohong sayang," ucap Martin memeluk Sonya dan menutup tubuh Sonya dengan selimut dan Martin sadari kalau miliknya kini menegang.
"Honey, itu apa?" tanya Sonya merasakan sesuatu yang berdiri dengan sangat keras.
"Kamu itu kenapa suka cari masalah, kalau tidur seperti ini, pasti yang ada kamu makin tidak tahan," ucap Sonya kesal dan Martin hanya terkekeh dan tetap memeluk Sonya dalam tidurnya.
Sonya tidak mengerti sekali kalau mereka ini jauh.
"Tahan sayang, aku tidak mau baju kamu kusut," ucap Martin mencari alasan yang tepat.
"Kamar aku di sebelah, aku bisa masuk ganti baju dulu," balas Sonya dengan berbagai alasan.
"Sayang, apa yang aku katakan kamu tidak mengerti, aku itu merindukanmu! Kita ini pacaran jauhan dan aku di Inggris lama, itu pun nanti langsung ke Brunei baru aku akan ke indonesia menjengguk kamu." Sonya tahu modus Martin.
"Ya sudah kita tidur! Hanya tidur honey, nanti tangan kamu masuk ke mana-mana," ucap Sonya sinis.
"Tidak! Percaya padaku, aku hanya tidur seperti ini, tidak akan lebih, janji!"
"Janji ya?"
"Iya sayang," balas Martin. Pintar sekali Martin menggodanya.
Sudahlah pikir Sonya, selagi Martin tidak berbuat macam-macam dan lagi Sonya sedang bingung saat ini, apa yang dikatakan Martin itu benar.
__ADS_1
Martin memang ingin mengenalkan Sonya pada orang tuanya nanti dan itu sudah ada dalam rencana Martin.
To Be Continued ….