
"Halo sayang, malam ini aku tidak bisa menemanimu melihat tempat tinggalku, bisa kamu kirimkan saja alamatnya, sepertinya aku akan pulang malam, soalnya aku harus menyiapkan pertemuan malam ini dengan banyak bos besar," ucap Nara dengan sangat lembut. Andre pun tidak marah karena semakin Nara mengenal banyak bos besar maka dia akan mudah mendapatkan pekerjaan di Jakarta menemani Nara.
"Aku akan kembali lagi ke Bandung malam ini, mungkin akhir pekan aku akan datang mengunjungimu, kamu jangan lupa untuk bertanya pada bagian HRD, apakah ada lowongan untukku," ucap Andre mengingatkan Nara.
"Jangan lupa makan sayang," lanjut Andre dengan mesranya.
"Ya kamu juga," ucap Nara memutuskan telponnya. Dia sedang sangat sibuk sekali, Ronald juga meminta laporan yang dimintanya tadi pada Nara. Sungguh Nara sangat kewalahan.
Ruangan Nara tepat berada di depan ruangan Ronald, Ronald bahkan dengan mudah melihat Nara dari ruangannya.
Honey, aku akan membuat kamu terbiasa bersama denganku. Sore harinya setelah semua sudah Nara siapkan untuk jamuan makan malam bersama para bos besar perusahaan ternama di Jakarta. Ronald meminta Nara untuk membantunya mencari pakaian yang cocok dan kali ini, Nara tidak bisa tidak ikut karena Ronald akan kembali ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan seperti biasa, Ronald masih bersikap profesional dia tidak mengganggu Nara tetapi setelah sampai kamarnya. Ronald mengunci kamarnya dan menyeringai menatap Nara.
"Maaf Pak, kenapa kamarnya dikunci?" tanya Nara dengan polosnya.
"Ini sudah jam di luar kantor Nara, kamu tidak perlu memanggil aku Pak lagi, panggil aku honey, seperti yang sering kamu lakukan dulu," ucap Ronald langsung menarik tangan Nara masuk ke dalam pelukannya.
Inilah yang membuat Nara kelimpungan, Ronald selalu melakukan hal seperti ini, dia bahkan tidak peduli Nara menolaknya berpuluh-puluh kali.
Baru Nara ingin melepaskan diri, mulut Nara dibungkam Ronald dengan bibirnya dan Nara dipaksa menikmati sentuhan bibir yang Ronald berikan pada Nara.
"Ber … berhentilah! Ronald, kamu akan terlambat malam ini," ucap Nara terbata-bata dan berusaha keras melepaskan kecupan basah yang diberikan Ronald pada bibirnya.
"Mereka bisa menunggu honey, tetapi kamu tidak bisa," jawab Ronald dengan senyum nakalnya. Kali ini Ronald mendorong tubuh Nara ke ranjang dan kembali membelit bibir Nara.
"Ro … Ronald, berherti!" Nara akhirnya bisa melepaskan dirinya dengan kemejanya yang sudah terbuka dan pakaiannya yang sudah kusut. Puas sekali Ronald menghabisi bibir Nara.
Setiap hari! Aku akan melakukannya setiap hari, Nara!
"Ambilkan pakaianku, honey! Aku ingin mandi dulu, kamu ingin mandi bersamaku?" tanya Ronald begitu nakalnya.
Di kantor Ronald masih terlihat wajar seperti atasan dan bawahan, kenapa ketika berada di kamarnya, Ronald seolah sedang bersama dengan istrinya.
__ADS_1
"Honey, pakaianmu kusut, kamu tentu tahu di mana lemarimu, kamu bisa ganti gaun malam, pakaian itu sudah tidak layak lagi kamu gunakan untuk menemaniku," ucap Ronald dengan seringainya.
Nara menggeleng dan menghela nafasnya, dia masih mengatur nafasnya yang naik turun karena ulah Ronald yang hampir menodainya tadi. Bahkan tangan Ronald sudah masuk menelusup mengelus pahanya.
Sungguh berbahaya menghadapi Ronald seperti ini tetapi dia tidak punya pilihan,dia tidak mungkin hidup di penjara, Nara masih ingin hidup bebas.
Ketika Ronald membasuh tubuhnya, Nara dengan cepat mengganti pakaiannya dan kali ini kembali Nara masuk perangkap, Ronald merekam ketika Nara mengganti pakaiannya. Dia harus bisa menekan Nara untuk tidak melawan dengannya.
"Kamu sexy sekali, honey!" Ronald dengan gilanya memeluk Nara saat Nara sudah selesai berdandan dengan cantiknya.
"Lepaskan tanganmu Ronald! Itu pakaianmu, kamu bisa berganti sekarang," ucap Nara pergi meninggalkan Ronald pada ruangan walk in closet miliknya. Ronald lagi dan lagi menarik tangan Nara.
"Bantu aku! Jangan lupakan kalau itu tugasmu, honey!"
Dengan gilanya Ronald membuka bathdrobenya hingga terlihat tubuh kekar dan polosnya. Nara berpaling, dia tidak ingin melihatnya. Apa sebenarnya yang Ronald ingin lakukan dengan berbuat seperti ini padanya?
Ronald hanya tertawa dan langsung menggunakan **********. Ketika selesai Nara hanya membantu Ronald mengancing kemejanya. Jarak mereka sangat dekat sekali hingga membuat Ronald bisa menghirup wangi shampo rambut Nara.
"Honey, kamu masih menggunakan shampo yang lama dari dulu, aku tahu kamu sangat setia," ucap Ronald yang mendekatkan bibirnya pada rambut Nara. Bahkan ketika Nara membantunya memasang kancing kemejanya, Ronald kembali memeluk Nara hingga membuat Nara sangat kesal.
Cup!
Ronald kembali mendaratkan bibirnya saat Nara memasangkan dasi pada lehernya.
"Berhentilah Ronald! Ini sama sekali tidak lucu," ucap Nara dengan wajah kesalnya.
Sayangnya aku tidak bisa berhenti honey, aku bahkan tidak tahu apa arti berhenti itu.
Ronald menyeringai, dia tidak peduli meski Nara membencinya sekalipun. Sekuat apa Nara membencinya, dia akan lebih kuat mencintai Nara.
Jika Nara begitu keras kepala, dia pun bisa seperti Nara.
"Aku mengintipmu berganti pakaian tadi, aku lupa memberi tahumu kalau aku baru memasang CCTV di sana," ucap Ronald menunjuk CCTV nya yang tersembunyi. Namun, sangat tepat di mana tempat Nara berganti pakaian tadi.
__ADS_1
"Kamu merekamnya?" tanya Nara mengulangnya lagi.
"Ya, aku melihat semuanya, kenapa malu! Aku sudah pernah melihat semuanya meski kita tidak melakukannya, honey!" Ronald tertawa sinis.
"Hapus Ronald, apa yang kamu inginkan dengan video itu?" tanya Nara dengan kesal.
"Untukku kalau aku merindukanmu, kamu tidak bisa memaksa aku menghapusnya, honey! Oh atau kamu mau aku memperlihatkan pada kekasihmu?" tanya Ronald dengan senyum mengejeknya.
"Terserah! Lakukan apapun yang mau kamu lakukan," ucap Nara dengan ketakutan. Dia hanya berusaha tenang dan berharap Ronald tidak melakukan itu.
"Kalau kamu masih menjadi asisten pribadiku, aku tidak mungkin melakukannya, mungkin akan aku lakukan ketika kamu pergi atau ketika kamu menikah dengan laki-laki berengsek itu!" Kali ini tatapan Ronald begitu tajam menusuk mata Nara.
"Silahkan saja kalau kamu berani menikah dengannya," ancam Ronald yang membuat Nara menggigit bibir bawahnya.
Nara tidak menyangka kalau Ronald akan melakukan cara kotor seperti ini.
"Malam ini tidur denganku!" perintah Ronald dengan tegas.
"Aku punya tempat tinggal dan aku bukan istrimu yang harus menemanimu tidur setiap harinya," ucap Nara dengan tegas.
"Tidak mau?"
Ronald mengeluarkan ponselnya kali ini dan menunjukkan video yang tadi diambilnya tidaklah main-main.
"Kalau aku sebarkan ini pada semua orang, kamu akan malu tidak?"
Nara menelan salivanya, tidak mungkin! Ronald pasti main-main kan. Dia tidak mungkin tega melakukannya.
"Aku kirimkan saja pada Andre mu itu, dia pasti senang melihat tubuhmu," ucap Ronald terkekeh. Senang sekali Ronald melihat perubahan wajah Nara yang sangat gelisah.
"Jangan Ronald! Baiklah, hanya tidur bukan? Kamu tidak akan melakukan apapun selain itu?" tanya Nara memelas dengan melihat wajah Ronald yang tampak bahagia mendengarnya.
"Ya seperti biasa, hanya peluk dan cium!"
__ADS_1
Karena Nara tahu, sekeras apapun usahanya melepaskan dirinya dari Ronald. Ronald malah akan semakin gila.
To Be Continued ….