
Sudah seminggu Nara kembali ke Jakarta, tinggal bersama Ronald, tubuhnya sudah kembali baik-baik saja, seminggu ini bahkan dia tidak mendapatkan teror dari Monica. Senang sekali rasanya dalam hati Nara, jujur saja bertemu dengan Monica sangat membuat Nara takut. Mulutnya sangat tajam dan kata-katanya begitu pedas.
Nara selalu saja sabar menghadapi orang tua Ronald itu. Andai saja Ronald membiarkan dia pergi, sudah tentu Nara lebih memilih menjauh dari Ronald daripada tinggal di sisi Ronald.
"Honey, hari ini aku mendadak akan ke Ausie, ada bisnisku di sana dengan Alfred dan Jack, aku ingin mengajakmu tetapi aku tahu kamu masih dalam proses pemulihan, aku harap kamu di rumah saja dan jangan pergi ke luar, kalau ada Mama datang, kamu tidak perlu menemuinya, kunci saja kamar, aku masih belum bicara dengan Mama, nanti aku katakan kalau kamu sudah siap bicara dengan Mama," ucap Ronald sambil menggosok pelan rambut Nara dan mengelus pipinya dengan lembut.
Setelah itu tanpa komando, Ronald dengan cepat mencuri kecupan pada bibir Nara yang membuat Nara terkejut karena tidak siap dengan kecupan yang dilayangkan di bibirnya dengan lembut.
"Kamu masih saja belum terbiasa," ucap Ronald tersenyum dengan tampannya. Nara memukul pelan lengan Ronald dengan manja. Sungguh sebenarnya dia juga menginginkan kecupan hangat itu tetapi terkadang Nara malu melakukannya.
Nara selalu merasa kalau Ronald itu bukanlah miliknya dan dia harus sadar posisinya di mana.
"Berapa hari di sana?" tanya Nara dengan lembut. Ronald memanyunkan bibirnya dengan matanya menatap langit-langit, dia hanya berpikir kalau meninggalkan Nara cukup lama.
Berat rasanya meninggalkan Nara di saat punya orang tua yang suka menyakiti kekasihnya. Sedangkan mengajak Nara, Nara belum siap untuk itu. Padahal akan terasa sangat menyenangkan kalau bisa berlibur dengan Nara. Apalagi kalau tahu Rosalinda, cukup ketika di rumah sakit saja Rosalinda selalu mengganggu dia dan Nara. Sungguh melelahkan sekali! Padahal Rosalinda bukan siapa-siapa untuknya tetapi berlagak seperti kekasihnya.
Tidak ada malu sama sekali, Ronald bahkan tidak memperdulikan wanita itu sepanjang waktunya dan dia masih santai menemani Nara dan Ronald dengan wajah sinisnya. Tentu saja, Ronald tidak akan meninggalkan Nara berdua dengan Rosalinda mengingat pada saat kejadian di pantai itu, Rosalinda hanya diam menikmati Nara tenggelam seolah menikmati Nara dijemput malaikat mautnya.
"Mungkin tiga atau empat hari, honey! Apa aku ajak saja kamu ya, soalnya aku takut kamu di rumah sendirian, kamu tidak bisa menjaga diri," ucap Ronald menunjuk hidung Nara dengan pelan. Nara hanya tersenyum melihat wajah Ronald yang kesal.
__ADS_1
Mereka sebenarnya lebih mirip pasangan suami istri daripada pasangan kekasih. Ya itu yang diakui Ronald meski Nara selalu keberatan kalau Ronald masih menganggap Nara kekasihnya.
"Tidak perlu, aku di sini saja, kamu kerjakan dan ingat untuk cepat pulang ya!" Ronald mengangguk dengan cepat, dia berharap kali ini semua akan baik-baik saja tanpa ada Mamanya yang mengganggu Nara.
Ya, Nara pasti akan baik-baik saja kalau Monica tidak datang dan Ronald menyiapkan penjaga untuk di rumahnya, dia tidak ingin hal yang sama terulang untuk kedua kalinya. Apalagi saat ini dia sedang berada di luar negeri. Ronald bahkan tidak mengabarkan pada orang tuanya kalau dia akan pergi, Ronald takut Mamanya akan datang dan kembali menyiksa Nara.
Sepeninggal Ronald, Nara benar-benar tidak bisa keluar dari rumahnya. Ronald mengurungnya karena Ronald juga takut Nara pergi meninggalkannya. Nara menghabiskan waktunya dengan memasak dan menonton televisi karena tidak ada yang bisa dia lakukan, Ronald tidak memperbolehkan Nara melakukan hal-hal yang berat dulu.
Namun, terdengar suara ribut di bawah. Nara mengintip dari balik jendela dan melihat kalau itu Monica dan Christin. Dengan cepat Nara mengunci pintu kamarnya karena tidak ingin bertemu dengan orang tua Ronald.
Anggaplah dia berdosa tapi mau bagaimana lagi kalau bertemu dengan Monica hanya akan menyebabkan tubuhnya terluka. Nara tidak mungkin melawan dengan orang tua, andai saja yang menyiksanya Christin. Sudah tentu Nara bisa membalasnya.
Bahkan Ronald menegaskan bukan hanya keluarganya tetapi siapapun itu.
"Maaf Nyonya tetapi tidak ada orang didalam," jawab penjaga Ronald dengan sangat tenang.
"Bohong sekali kamu, saya tahu kalau ada wanita murahan itu di dalam, dia sudah hebat ya, sudah bisa membuat Ronald membantah saya, awas saja kamu kalau bertemu dengan saya," ucap Monica dengan kesal. Di dalam kamar, Nara menggigit bibirnya dan mulai ketakutan. Sedang dia tidak bisa juga mengadu pada Ronald.
Kali ini Monica keluar karena penjaga Ronald dengan tegas melarang Monica masuk tanpa peduli jabatannya apa dengan Tuannya.
__ADS_1
"Ma, sudahlah Mama seperti ini terus, kasian Kak Ronald Ma, dia cinta dengan Nara, biarkan saja mereka bersama, memang apa sih masalahnya untuk Mama?" tanya Christin bingung. Semenjak dia keguguran, Christin mulai mengerti perasaan Nara dan Kakaknya. Dia malah sudah mulai setuju dengan Nara.
"Kamu kok jadi bela wanita itu daripada Mama, dia itu tidak pantas dengan Ronald. Kamu lihat Kakakmu itu sempurna, coba bandingkan dengan dia, dia jelas cuma ingin memanfaatkan Ronald untuk kepentingannya," ucap Monica dengan sinisnya.
"Tapi yang aku lihat, Nara tidak seperti itu Ma, malah aku mulai tidak suka dengan Rosalinda, Mama ini aneh, memang Mama tidak melihat ada yang aneh dengan wanita yang Mama akan jodohkan dengan Kak Ronald, pantas saja dia tidak suka dengan wanita itu," ucap Christin dengan sinis.
"Kamu tidak tahu apa-apa Christin, lebih baik kamu diam."
Sebenarnya Christin akan dibawa keluar negeri tetapi penerbangannya selalu di tunda karena Axel tahu kepergian Christin dan selalu menunggu Christin di depan pintu rumahnya.
Christin tidak ingin lagi bertemu dengan Axel dan menjalani hubungan gila mereka. Sedang Axel tudak terima diputuskan sepihak seperti itu. Axel bukan tidak peduli pada Christin tetapi pada saat itu moment nya tepat saat Axel ada balapan di luar negeri.
"Terserah Mamalah, tetapi aku tidak mau ikutan kali ini Ma, aku kasian dengan Nara, Mama kejam sekali, mirip dengan ibu tiri," cebik Christin dengan menyunggingkan senyumnya.
Monica bahkan tidak peduli julukan yang diberikan padanya.
Entah apa lagi yang Monica pikirkan untuk menyakiti Nara. Christin hanya berharap Nara baik-baik saja dan kuat dengan semua ini. Setelah tahu Ronald pergi, dengan cepat Monica mengatur rencana untuk mengusir Nara dalam hidup Ronald kembali. Monica hanya takut tidak ada waktu lagi setelah ini dan sudah untuk melakukannya lagi.
To Be Continued ….
__ADS_1