
Sengaja sekali Ronald mengikuti kemana Nara bersih-bersih. Dia terlihat santai dan tidak terlalu memburu Nara. Malah terkesan sangat alami.
Seharusnya Nara menyadari kalau Ronald mengenalinya. Tidak mungkin sekali, Ronald tidak mengenali wajah Nara meski Nara menutupinya sekalipun. Mata Nara yang selalu Ronald lihat dalam-dalam, tidak mugkin bagi Ronald tidak kenal kekasihnya. Nara sampai sekarang tidak pernah memahami betapa Ronald sangat jatuh. Jatuh mencintainya!
Nara bahkan sama sekali tidak berusaha membuatnya terlihat, dia malah semakin menunduk dan menjauhi Ronald.
Sampai kapan honey? Aku tahu saat ini kamu sedang tidak ingin melihatku, aku tahu betapa bencinya kamu dengan kondisi kita saat ini.
"Jam berapa kamu selesai bersih-bersih?" tanya Ronald menatap tubuh Nara dari belakang karena Nara saat ini sedang mencuci piring yang banyak sekali. Ingin sekali Ronald menarik tangan Nara untuk berhenti melakukan itu semua karena dia bukan pembantu. Dia pemiliknya!
Tidak Ronald! Kekasihmu akan pergi kalau sampai kamu melakukan itu semua.
Ronald akan bersabar menghadapi Nara meski sebenarnya berat untuk Ronald tetapi Ronald tahu tidaklah mudah untuk Nara. Dia pasti akan histeria jika diajak kembali ke Jakarta.
"Sebentar lagi Tuan, setelah saya selesai menyapu halaman, saya akan pulang!" jawab Nara dengan lembut, sangat lembut sampai dia harus merubah suaranya agar tidak dikenali Ronald.
Tamu Ronald sudah mulai bangun dan banyak yang sudah kembali pagi ini, Villa Antoni yang dibelinya sungguh seperti kapal pecah pagi ini.
Semua kamar terisi oleh temannya yang membawa wanita malam dan bersenang-senang di dalam sana bahkan ada yang sampai membawa dua wanita masuk ke dalam kamar dan bergantian.
Pesta yang dibuat Antoni sepertinya bukan pesta yang diinginkan Ronald, ini pesta gila yang memang sangat Antoni sukai. Hiruk pikuk kota Jakarta sering sekali membuatnya penat dan mereka terkadang lebih suka melakukan pesta di tempat sepi sehingga tidak terganggu ketika ingin bersenang-senang seperti malam tadi.
Pesta kolam renang selalu menjadi pilihan yang terbaik tentunya. Melihat wanita dengan tubuh bak gitar spanyol dan meliuk-liukan tubuhnya di dalam air kolam sungguh pemandangan yang menyegarkan mata. Terlebih Antoni memesan para wanita ABG yang baru lulus SMA, sehingga memang masih kencang dan sempit tentunya. Pilihan yang menarik untuk wanita yang menemani malamnya. Namun, bagi Ronald. Tidaklah penting semua itu tanpa kehadiran Nara, sungguh malam tadi mata Ronald hanya terpaut pada Nara. Nara yang menutup wajahnya dan merapikan meja sambil membawa minuman kesana kemari terasa membuat Ronald sangat bahagia.
"Temani aku jalan ke kebun teh!"
Nara menggigit bibir bawahnya, kenapa semakin banyak sekali permintaan Ronald dan kali ini bagi Nara terlalu pribadi, bagaimana bisa Ronald memintanya pergi berdua saja ke kebun teh. Apa Ronald tahu kalau ini dirinya dan hanya pura-pura tidak kenal saja pikir Nara.
Ah tetapi tidak mungkin Ronald tahu, kalau dia tahu pasti Ronald langsung mendekap Nara dan membawanya kembali tanpa banyak basa-basi.
"Maaf Tuan, setelah ini saya harus pulang, karena di rumah Ibu dan saudara saya sedang menunggu, hmmm … uang lembur ini untuk kami membeli beras nantinya," ucap Nara dengan sangat lembut dan menunduk. Tidak tahan Nara menatap Ronald yang seolah mengintimidasinya.
__ADS_1
Ronald bersandar pada dinding sambil memegang gelas wine di tangannya. Pagi hari dia sudah terbiasa dengan itu semua. Ronald biasa hidup di Inggris dengan minuman utama malah alkohol daripada air mineral.
"Aku tambahkan uang lemburmu, jika kamu mau menemaniku ke atas sana," tunjuk Ronald pada kebun teh miliknya. Ya miliknya karena sudah dia beli.
Nara menelan salivanya, saat ini memang dia butuh uang karena Nara malu bergantung pada keuangan Lasmi dan Siren. Sedangkan dia belum menghasilkan apapun dan malah menghabiskan nasi di rumah mereka. Walaupun Lasmi dan Siren tidak keberatan dan malah sangat bahagia ada Nara di hidup mereka.
"Satu jam saja," ucap Ronald melihat mata Nara yang seolah berpikir. Ronald tahu Nara sedang butuh uang saat ini dan dia tidak mungkin akan menolak karena uang yang dijanjikan Ronald langsung Ronald berikan saat itu juga.
"Dua juta cukup?" tanya Ronald mengeluarkan uang cash pada dompetnya.
Lebih dari cukup malah.
Baiklah! Nara akan menemaninya, toh Ronald masih tidak mengenalinya.
"Cukup!" jawab Nara pelan. Sesungguhnya dia tahu kalau hidupnya tidak ada harga diri. Kenapa dia bodoh mau saja menerima uang ini, Nara lupa kalau tubuhnya terluka dan harga dirinya hancur saat Monica melukainya tetapi yang ini bisa dia tabung dan setengahnya dia berikan pada Lasmi. Masalahnya Nara tidak punya ponsel dan dia ingin punya untuk menopang hidupnya.
Ya semiskin itu hidupnya, Nara tidak menyangkal itu.
"Baiklah, aku ganti pakaian dulu, kamu tunggulah di bawah, tidak lama!" ucap Ronald bergegas mengganti pakaiannya. Dia melihat Nara yang menggunakan pakaian berwarna putih, Ronald pun menggapai kemejanya yang berwarna putih. Dia ingin terlihat sama dengan Nara.
Ronald berjalan lebih dulu di susul Nara di belakang.
"Apa kamu suka pemandangan di desa ini?" tanya Ronald melirik Nara di belakang.
Kenapa pembicaraan mereka seperti sudah akrab sekali, Ronald bahkan tidak canggung tertawa dan sesekali menggenggam tangan Nara kalau terlalu jauh berjalan di belakangnya.
"Sangat suka," ucap Nara dengan lembut dan masih menunduk sembari melihat jalan dari lorong-lorong perkebunan teh ini.
"Kapan kamu pertama kali ke sini?" tanya Ronald kembali. Bukankah pertanyaan ini sedikit janggal? Entah kenapa Nara sudah merasa kalau Ronald tahu siapa dirinya.
"Hampir tiga Minggu yang lalu," jawab Nara dengan jujur.
__ADS_1
Hmmm … Ronald tersenyum tipis. Sebenarnya mereka sudah sama-sama menyadari tetapi membuat batas sendiri.
"Tidak ingin pulang?" tanya Ronald menghadap Nara yang berdiri sedikit jauh darinya. Kali ini Nara mendongak. Ronald tahu siapa dia. Matanya berembun seolah ingin sekali memeluk Nara tetapi Nara tidak ingin lagi kembali.
"Tidak!" jawab Nara dengan tegas.
Ketika Ronald mendekatinya, Nara malah mundur selangkah. Ronald kembali maju, Nara semakin mundur. Sampai Ronald mempercepat langkahnya dan membuat Nara berbalik dan berlari menghindari Ronald.
Ronald jelas dengan mudah menggapai tubuh Nara.
"Jangan tinggalkan aku, Please!" Ronald terduduk memeluk kaki Nara. Dia memohon ampunan atas nama Monica. Nara menangis, dia tidak ingin bersama dengan Ronald. Benar-benar tidak ingin tetapi kenapa takdir selalu tidak berpihak padanya. Kali ini Ronald pasti akan membawanya kembali dan Nara tidak mau kembali. Dia takut, sangat takut sekali.
"Aku seperti orang gila tanpamu, honey! Aku mencarimu kemanapun, tetapi tidak aku temukan. Maafkan aku, aku mohon! Maafkan Mama, hukumlah aku sebagai gantinya, aku tidak masalah, tetapi jangan jauh dariku," ucap Ronald dengan hatinya yang bergemuruh.
Dia laki-laki, tangisnya bukan seperti tangis Nara saat ini yang begitu deras mengalir dari matanya dan jatuh tidak tahu malunya.
"Berhentilah Ronald, kapan kamu mengerti kalau aku tidak ingin lagi mencintaimu, aku ingin kita menjalani hidup masing-masing, aku sudah tenang di sini, aku harap kamu pun bahagia di sana, aku sungguh tidak kuat lagi, jangan paksa aku untuk kembali, lukaku begitu besar padamu, aku mohon kamu mengerti!"
Nara menangis sesegukan. Dia takut Ronald membawanya kembali ke Jakarta. Mengingat Ronald yang sangat pemaksa, sudah tentu saat ini dia akan membawa Nara kembali.
"Kamu ingin aku mati sebagai pengganti lukamu, katakan saja honey! Aku akan melompat dari sini jika itu membuat kamu bahagia," ancam Ronald ketika melihat jalanan yang sudah jauh dari tempat mereka berada. Tentu saja bus atau mobil pribadi bisa langsung menggilas Ronald kalau Ronald berani melompat.
"Jangan!"
Ronald sangat tahu kalau Nara itu begitu lemah, dia tidak akan mungkin tega melihat Ronald meregang nyawa tepat di hadapannya.
Ronald menarik Nara masuk ke dalam pelukannya. Sungguh dia merindukan wanita ini, Ronald ingin mengganti kebahagiaan Nara dengan hidupnya.
To Be Continued ….
Follow IG Madammeyellow jangan lupa.
__ADS_1
Hari Senin jangan lupa untuk vote novel 'Stop Loving You' Supaya Madamme semangat nulisnya.
Jangan Lupa komentar dan Likenya juga. Terima kasih semua.