
Nara berlari meninggalkan tempatnya saat ini setelah merasa tubuhnya cukup pulih untuk itu, dia tidak ingin lagi bertemu dengan Monica atau pun bertemu dengan Ronald. Dia ingin menjauh dari gemerlapnya hidup di kota Jakarta dan mewahnya hidup bersama dengan Ronald.
Ronald tidak pantas untuk wanita sepertinya, Nara sangat sadar itu. Dia pergi tak tahu harus ke mana, dengan kondisi nya yang seperti ini, tidak membawa apapun rasanya sulit sekali. Dengan wajahnya yang lebam dan tubuh yang kesakitan.
Duduk sebentar sambil menikmati sakitnya hidup ini. Tidak ada orang yang menghargai wanita yang tidak punya keluarga dan miskin. Nara begitu sangat terharu saat Christin menolongnya. Sungguh Nara tidak percaya Christin bisa seperti itu dengannya.
Lama Nara duduk, hingga ada seseorang datang menghampirinya. Ternyata Nara sudah sampai Bogor saat ini, dia menumpang mobil satu dengan mobil lainnya, hanya berharap jauh dari Ronald.
"Kenapa menangis Neng?" tanya ibu yang lewat tidak tega melihat kondisi Nara saat ini.
"Saya dirampok Bu, saya tidak punya uang dan identitas, semuanya dicuri," ucap Nara berbohong. Kenyataannya memang dia tidak ada apapun saat ini.
"Ya Tuhan Neng, ikut ibu aja pulang ke rumah," ucap Ibu yang baik hati yang belum Nara kenal namanya.
Nara pun tidak segan ikut karena melihat yang menolongnya orang baik. Sesampainya di rumah kecil di dekat pegunungan yang asri sekali, Nara melihat kondisi rumah yang sepi. Hanya ada foto ibu ini dan anak wanitanya.
"Ibu tinggal berdua saja Neng di rumah, panngil saja Ibu Lasmi, kondisi kamu mengingatkan Ibu pada Siren, tidak tega Ibu melihatnya," ucap Lasmi mengenang anaknya yang jadi korban kekerasan laki-laki yang ingin menodainya.
Siren adalah anak wanita satu-satunya. Suaminya jadi TKI dan tidak pernah pulang apalagi memberikan biaya hidup untuk mereka.
"Ibu sebelumnya terima kasih sudah membantu saya, nama saya Nara, Bu. Kalau boleh tahu Siren itu siapa ya Bu?" tanya Nara dengan lembut. Ibu Lasmi tersenyum tipis.
"Anak saya yang ada di foto, dia sedang di dalam kamar, semenjak kejadian malam itu, Siren tidak ingin lagi keluar dari rumah, dia takut dengan lelaki yang hampir menodainya itu, orang kaya dari Jakarta yang punya Villa di atas sana," tunjuk Lasmi pada Villa yang bisa dia lihat dari rumahnya. Villa yang begitu mewah dan megahnya. Sering ada pesta di sana dan warga sebenarnya sudah resah tetapi tidak bisa mengaduhkan pada pihak berwajib karena yang punya orang berada.
Nara pun menjadi terenyuh, mengingatkan dia akan sosok Ronald yang kaya raya. Bahkan Villa itu masih belum mewah dibandingkan dengan rumah Ronald. Seharusnya Nara bahagia punya kekasih seperti itu tetapi Nara malah ingin menjauh. Ingin berlari sejauh mungkin dan sekarang sudah diberikan kesempatan. Dia tidak akan sia-sia kan.
"Bu, boleh kah, saya tinggal di sini Bu, untuk sementara sampai saya punya uang dan bisa mengontrak sendiri rumah," ucap Nara pelan-pelan dan sedikit takut akan penolakan dari sang pemilik rumah.
"Boleh Neng, tinggal saja di sini, temani Sirem di kamarnya, dia senang pasti ada teman," ucap Lasmi dengan senyumnya.
__ADS_1
Nara lega sekali rasanya, ada orang baik yang sama sekali tidak curiga akan kedatangannya, jarang sekali ada orang seperti ini. Ibu Lasmi pun mengenalkan Nara pada Siren.
"Siren, ini Nara, dia ini Ibu temui di ujung jalan, duduk sendirian, Ibu tidak tega melihatnya terluka, Nara dirampok dan tidak ada uang, rencananya Nara mau tinggal di rumah kita, tidur di kamar kamu, tidak apa ya sayang," ucap Lasmi memberikan pengertian pada Siren.
Siren pun mendekati Nara dan melihat kondisinya. Siren jadi ingat dirinya, untung saja dia bisa kabur ketika itu.
"Iya tidak apa Bu, Siren juga sendirian tidur, siapa namanya?" tanya Siren sambil duduk di samping Nara.
"Dinara, panggil saja Nara," ucap Nara menyodorkan tangannya pada Siren.
"Aku Siren, tidak perlu sungkan, anggap saja rumah sendiri ya. Siapa yang melakukan ini, kejam sekali. Aku juga pernah sama sepertimu, kasian sekali kamu Nara, aku bantu berikan obat," ucap Siren sambil membawa obat untuk menyembuhkan luka di sekujur tubuh Nara, Siren bahkan meminjamkan pakaiannya pada Nara.
Semenjak itu Nara tinggal di sana dan membantu pekerjaan Lasmi dan Siren, Siren seorang penulis, dia tidak pernah keluar rumah. Sedangkan Ibu Lasmi kerja di perkebunan Teh milik yang punya Villa besar di sekitar perkebunan itu.
Nara ikut membantu di perkebunan teh karena dia tidak tahu mau bekerja menjadi apa, dia juga belum punya uang dan setidaknya dia ingin mengumpulkan sedikit uang untuk keperluannya sehari-hari.
"Kamu di mana, honey? Pulanglah, aku sangat merindukanmu. Aku sangat kesepian saat ini, rasanya rumah ini begitu sepi tidak ada suaramu yang suka marah denganku," ucap Ronald sambil memandang foto Nara.
Sungguh Ronald sangat mencintai Nara, meski Nara selalu menolak kehadirannya. Ronald tidak pernah marah, dia bahagia asal Nara ada di sampingnya.
Hidup tentu harus berjalan, Ronald masih punya bisnis dan dia tidak boleh melupakan itu. Dia tetap akan mencari Nara dan mengurus bisnisnya bersamaan.
Ponsel Ronald berdering dan Ronald segera melihat siapa yang menghubunginya.
"Kenapa Antoni?" tanya Ronald pada rekan bisnisnya. Ronald akan berinvestasi di perkebunan teh daerah Bogor yang kebetulan miliknya. Antoni ingin menjualnya pada Ronald dan Ronald ingin melihatnya lebih dulu.
"Kapan kamu punya waktu untuk mengunjungi perkebunan tehku," ucap Antoni karena Ronald sudah berapa kali menundanya dan saat ini dia sedang membutuhkan banyak uang untuk membayar hutangnya di Bank.
Saat seperti ini, Ronald sebenarnya sangat malas mengunjungi perkebunan seperti itu. Dia lebih memilih mencari Nara daripada menghabiskan waktunya untuk hal yang tidak penting.
__ADS_1
"Aku akan menghubungi sekretarisku, semua dia yang akan mengurusnya, aku sedang ada masalah saat ini, semua akan aku serahkan padanya nanti," ucap Ronald dengan tegas.
"Baiklah kalau begitu! Aku tunggu secepatnya," ucap Antoni yang tidak sabaran.
Ronald pun menghela nafasnya dan memutuskan panggilan telponnya dengan Antoni.
Menggangu sekali!
Ronald sedang memikirkan Nara saat ini, bukan bisnis-bisnis berharganya. Tidak lama Janu menghubungi Ronald.
"Tuan, ada kabar soal Nona Nara," ucap Janu dengan cepat.
"Apa, Apa kabarnya? Cepatlah katakan!" Ronald sudah tidak sabar lagi mendengar kemana kekasihnya pergi saat ini.
"Kami menemukan CCTV saat Nona Nara menumpang ke mobil menuju Bogor," ucap Janu dengan tegas.
Bogor? Jauh sekali Nara ke sana. Apa Nara di Bogor saat ini?
Sungguh Ronald sudah sangat frustasi menemukan Nara, jejak Nara tidak bisa di temukan karena dia tidak membawa apapun, bahkan ponselnya juga dia tinggal.
Kenapa tepat sekali dengan Antoni yang ingin menunjukkan perkebunan tehnya di Bogor. Sudahlah pikir Ronald. Dia bisa ke Bogor selama seminggu sekalian mencari Nara di sana.
"Kita ke Bogor besok dan beritahu Antoni untuk menyiapkan semua berkas-berkasnya, aku ingin membeli perkebunan teh miliknya," ucap Ronald dengan tegas.
"Baiklah Tuan."
Semoga kali ini Ronald bisa menemukan Nara meski sebenarnya itu sulit. Bogor tidak kecil, sangat luas. Di mana dia bisa menemukan Nara di sana.
To Be Continued ….
__ADS_1