Stop Loving You

Stop Loving You
Happy With You


__ADS_3

Andai saja Nara bisa sekuat itu menghadapi Monica dan bisa saja sebenarnya dia pergi melaporkan semua ini. Tetapi Nara hanya wanita biasa, lemah dibandingkan dengan keluarga Ronald. Sudah tentu tidak ada artinya.


Sedangkan pelakor yang mengganggu keluarga Monica saja dia habisi dengan air keras dan hanya berakhir dengan perdamaian. Apakah arti Nara?


Nara memang lemah, kenyataannya memang seperti itu. Dia tidak bisa melawan dan hanya bisa menangis. Dia sudah berusaha untuk pergi tetapi Ronald yang berkeras memilikinya. Andai saja yang dia lawan itu Christin sudah tentu Nara bisa melawan. Tidak memiliki orang tua membuat Nara begitu menghargai kehadiran mereka.


Sayang Monica tidak pernah menyadari kalau Nara tidak pernah ingin mengambil Ronald dari tangannya. Tidak pernah sedikitpun dia berniat menjauhkan Ronald dari Monica yang selalu Monica pikirkan setiap harinya.


Malam ini, Ronald mengajak Nara pulang ke Jakarta. Setelah keras membujuk Nara, akhirnya Nara mau pulang. Ronald juga tidak akan mempertemukan Nara dan Mamanya. Seorang anak mana ada yang tega berbuat kasar dengan orang tuanya meski dia sudah melakukan tindakan di luar yang semestinya. Tetapi bukan berarti Ronald membiarkan hal semacam ini terjadi lagi. Cukup kemarin saja.


"Ibu Lasmi, terima kasih sudah menjaga Nara selama ini, saya bersyukur sekali Nara bertemu dengan Ibu, semoga kebaikan Ibu dan keluarga di balas Tuhan," ucap Ronald dengan tulus sambil menggenggam tangan Nara. Bahkan Nara tidak dilepaskan oleh Ronald.


"Aamiin … semoga Ronald bisa menjaga Nara setelah ini," ucap Lasmi dengan wajah sedihnya. Dia akan berpisah dengan Nara, padahal Lasmi sudah menganggap Nara sebagai putrinya sendiri.


Ronald memberikan bantuan bagi Lasmi dan Siren, lalu dia segera pulang ke Jakarta membawa Nara. Kali ini Ronald tidak lagi ingin menghadapi Nara dengan lemahnya. Karena apapun yang dilakukan Ronald, Nara akan tetap seperti ini. Tetap diam.


Nara hidup sendiri, dia tidak terbiasa menyakiti orang, meski tubuh sangat keras tetapi Nara sangat lembut. Dia tidak pandai menyakiti hati orang, Nara hanya berharap sikapnya yang seperti itu akan membuat Monica luluh dengan sendirinya.


"Honey, besok aku sudah menyiapkan untuk pendaftaran pernikahan kita, aku ingin kita tercatat dulu menikah, mungkin setelahnya kita akan membuat pesta yang meriah," ucap Ronald dengan santai seolah hal itu sudah Nara setujui.


Nara melihat Ronald meringis dan mendesah pelan. Dia malas sekali berhadapan dengan laki-laki ini.


"Mama pasti akan marah," jawab Nara lirih. Pernikahan seperti ini tidak lah Nara inginkan, mereka seperti sedang kawin lari saat ini. Ronald bahkan tidak peduli, orang tuanya setuju atau tidak. Yang penting untuknya adalah Nara ada di sampingnya. Setiap hari!

__ADS_1


"Terserah! Aku tidak peduli, aku tidak perlu orang tuaku setuju atau tidak, aku menghasilkan uang sendiri dan tidak bergantung pada mereka, jadi kamu tidak perlu takut, kamu bisa bergantung padaku, honey!" ucap Ronald dengan lembut sambil mengelus punggung Nara naik turun.


Nara menghela nafasnya. Saat ini Ronald sudah kembali ke Indonesia bukan seperti dulu yang jauh dan tidak bisa melakukan apapun, sekarang dia bisa melakukan apapun.


"Baiklah," jawab Nara bersandar pada dada bidang Ronald.


Salahkah kalau dia juga berharap bahagia bersama Ronald?


Sepanjang perjalanan Nara hanya tertidur di pelukan Ronald, tidak tahu rasanya sangat nyaman sekali bersama dengan kekasihnya ini. Sampai tidak terasa perjalanan mereka sudah sampai. Ronald tidak membangunkan Nara dan menidurkan Nara dengan pelan di ranjangnya.


"Selamat tidur honey, besok kita sudah jadi suami istri, kamu sudah bisa berdiri dengan tanganmu sendiri dan aku harap kali ini kamu bisa percaya diri, karena ada aku di sampingmu," bisik Ronald dengan lembut dan mendaratkan kecupan hangatnya pada kening Nara.


Ronald sadar Nara tidak bisa melawan Monica tetapi Ronald berharap Nara bisa percaya diri dan setidaknya dia tidak akan selemah itu lagi.


Ronald mengambil berkas yang harus disiapkan untuk pernikahan mereka, untung saja semua milik Nara ada di rumahnya jadi Ronald tidak susah.


Pagi harinya, Nara mengerjapkan matanya dan melihat Ronald tidur di sampingnya. Nara pun tersenyum dan tidak ingin membangunkannya. Nara melepaskan tangan Ronald yang memeluk erat pinggangnya lalu berdiri dan beralih ke dapur menyiapkan roti untuk Ronald makan, Ronald tidak terbiasa makan nasi di pagi hari, dia terbiasa makan Roti, sosis dan kopi.


"Pagi honey! Kenapa tidak membangunkan ku," ucap Ronald memberi kejutan Nara dengan memeluknya dari belakang dan menciumi leher Nara dengan sangat lembut.


"Melihatmu tidur nyenyak seperti itu, aku tidak tega membangunkannya, jam berapa kita sampai?" tanya Nara dengan lembut dan memegang pipi Ronald masih dalam posisi Ronald memeluknya dari belakang.


"Jam satu mungkin, aku tidak terlalu melihat jam honey, setelah menidurkanmu, aku juga langsung tidur, kamu lagi buat apa?" tanya Ronald kembali memeluk Nara dengan erat. Dia semakin gemas dengan kekasihnya ini.

__ADS_1


"Kopi sayang, kamu pasti meminta kopi," ucap Nara menebak.


Ronald tertawa, karena sebenarnya dia lebih suka minum anggur di pagi hari daripada kopi tetapi tidak masalah kalau Nara yang membuatnya.


"Makasih honey!" Ronald mengecupi lembut rambut Nara lalu beralih ke meja makan.


"Pelayan ke mana? Kenapa kamu yang repot membuat sarapan?" tanya Ronald saat Nara membawa makanan Ronald ke mejanya.


"Aku suka melakukannya, mereka hanya membantu sebentar tadi," jawab Nara duduk di samping Ronald dan membawa nasi goreng buatannya sendiri.


"Kamu masak nasi goreng? Itu pedas sepertinya, kenapa warnanya hijau?" tanya Ronald mengkerutkan keningnya.


Nara terkekeh, ya dia membuat nasi goreng rawit yang tidak mungkin bisa Ronald makan karena itu sangat pedas dan Ronald tidak suka pedas.


"Ini nasi goreng cabe rawit, apa kamu ingin mencoba?" Nara menyuapkan sesendok pada Ronald dan karena cintanya dengan Nara, meski dia tidak suka sekalipun, Ronald tetap memakannya.


"Uhuk … uhuk!" Ronald benar-benar merasakan pedas yang luar biasa sampai telinganya berdengung. Nara dengan cepat memberikan air minum pada Ronald.


Gila! Ini pedas sekali mungkin dari mulut Mamanya.


Ronald minum dengan banyaknya lalu tersenyum menatap Nara.


"Lain kali buatkan untukku tapi yang manis saja untukku," ucap Ronald mengelus wajah Nara dengan lembut.

__ADS_1


"Maaf sayang, pedas sekali ya?" Nara tertawa dengan bahagianya. Ronald melihat Nara sudah kembali seperti dirinya, yang jelas Nara sudah mau tertawa dan memanggilnya dengan panggilan mesra. Itu membuat Ronald sangat bahagia.


To Be Continued ….


__ADS_2