Stop Loving You

Stop Loving You
My Husband Is Possessive


__ADS_3

Ronald sangat merasa bersalah sekali dengan Nara. Dia belum membuat pesta pernikahan yang mewah dan Nara sudah hamil saat ini, bahkan mereka juga belum honeymoon karena banyaknya masalah yang terjadi.


Tidak mungkin di awal kehamilan seperti ini, Ronald mengajak Nara pergi berlibur. Itu akan membahayakan kehamilan Nara, apalagi Nara bukan wanita yang kuat dan sangat lemah.


"Ma, bagaimana operasinya?" tanya Ronald mendatangi rumah sakit tempat Monica dan Christin melakukan operasi plastik pada wajahnya. Kalau operasi ini berhasil, merek tidak harus pergi ke Korea tetapi jika hasilnya tidak bagus, mungkin akan ada operasi lanjutan.


Sebenarnya Christin ingin merubah semua bentuk wajahnya, dia hanya tidak ingin ketika Axel keluar dari penjara nanti, Axel kembali mencarinya tetapi Ronald melarang Christin melakukan itu.


"Ya tinggal tunggu hasilnya saja," ucap Monica yang masih berbaring di ranjang rumah sakit setelah melakukan operasi pada wajahnya, Monica sama sekali tidak ditemani oleh suaminya. Suaminya sama sekali tidak peduli, mungkin sedang bersama wanita lain. Selalu seperti itu, herannya Monica tidak mau menceraikan Edwardo dan tetap saja bertahan dengan alasan mencintai Edwardo. Ah klise sekali!


"Ma, Nara hamil," ucap Ronald dengan santainya. Dia ingin melihat reaksi Monica ketika tahu Nara hamil.


"Cepat sekali ya, baguslah. Mama jadi ada cucu dari kalian," ucap Monica yang saat ini sudah sedikit sadar kalau perbuatannya selama ini salah. Ya walau masih sedikit sudah beruntung bagi Ronald. Dia hanya takut Monica kembali berulah dan malah menyakiti Nara kembali.


"Mungkin kalau Mama sudah sehat, aku baru akan mengadakan resepsi pernikahan, bisa-bisa perut Nara sudah besar lebih dulu," ucap Ronald duduk santai sambil mengupas apel di tangannya. Dia mengupas untuk dirinya sendiri karena Monica belum bisa makan yang keras seperti itu.


"Mau bagaimana lagi? Kamu tidak mungkin mengadakan acara tidak ada Mama dan Christin, Nara juga pasti sabar kok," ucap Monica dengan suaranya yang terdengar masih jutek.


"Nara malah menyarankan untuk tidak membuat acara, sederhana saja katanya!"


"Jangan dong, lagian kamu itu Ronald sudah tahu belum resepsi tapi istri sudah dibuat hamil, cepat sekali, tidak tahan sudah mau punya anak ya," ucap Monica kesal.


"Dibuang di luar dong, masih banyak cara mencegah kehamilan," lanjut Monica malas.


Hmmm … Ronald malah yang disalahkan.


"Ya namanya juga sudah masuk Ma, lupa kalau mau dibuang keluar, Mama juga kan, pernah merasakannya," jawab Ronald sambil mengunyah apel yang diirisnya. Nara sengaja tidak diperbolehkan Ronald pergi dan tetap di rumah, duduk santai, makan dan tidak boleh bekerja berat karena Ronald takut akan terjadi apa-apa dengan Nara.

__ADS_1


"Sama kalian berdua itu, keenakan jadinya lupa," ucap Monica menutup matanya, dia lelah menghadapi Ronald.


"Mama kok jadi nyalahin Ronald, Ronald itu kan, menunda resepsi karena Mama sedang di operasi bukan karena Nara hamil," ucap Ronald memutar bola matanya malas.


Kehamilan Nara jelas sudah terencana dengan matang. Tidak ada yang salah kalau soal itu.


"Iya sudahlah! Mama mau istirahat Ronald, kamu pulanglah. Istrimu pasti sedang menunggumu." Monica mengusir Ronald karena mengganggu istirahatnya. Monica memang bukan seperti orang tua yang lain, yang kegirangan mengetahui kalau dirinya akan menjadi seorang nenek. Monica bahkan biasa saja.


"Ma, aku ingin bertanya pada Mama, jawab yang jujur!"


"Apa?" tanya Monica membuka matanya kembali.


"Mama masih dekat dengan Rosalinda?" tanya Ronald dengan memicingkan matanya.


"Kemarin dia menjenguk Mama di rumah sakit, Dia bertanya tentangmu, Mama hanya bilang, Mama tidak bisa membantu hubungan kalian, kalau Ronald mau menikah lagi, ya itu urusan kamu dan dia, Mama pusing!"


Ronald sudah punya istri, biarlah istrinya yang menjaga, Nara juga sudah diberikan cafe, yah kelola saja sendiri. Tugas Monica sebagai orang tua sudah cukup pikir Monica. Dia ingin membahagiakan hidupnya sendiri saat ini.


"Mama tidak perlu peduli lagi dengannya, Ronald tidak suka wanita seperti itu, Mama mengerti?"


"Iya mengerti! Mama juga tidak menghubunginya, dia yang datang ke rumah sakit," ucap Monica dengan kesalnya.


Setelah itu, Ronald berdiri dan berpamitan pulang. Nara pasti menunggunya. Ronald tidak lupa pesan Nara tadi, dia ingin dibelikan martabak. Ibu hamil kalau tidak dituruti akan merajuk tujuh hari tujuh malam. Pusing Ronald kalau sudah seperti itu.


Setelah Janu membelikan Martabak untuk istrinya. Ronald pulang langsung ke rumah. Baru saja masuk ke gerbang, dia sudah melihat Nara duduk di dekat pintu menunggu Ronald pulang.


Nara berdiri dan menyambut suaminya.

__ADS_1


"Honey, aku pulang!" Ronald langsung membaur memeluk Nara dengan erat.


"Bawa apa?" tanya Nara lebih dulu. Ronald terkekeh dan mencubit hidung Nara dengan pelan. Sebenarnya yang Nara tunggu ini, kepulangannya atau martabak yang sedang dia bawa ini.


"Aku hanya membawa cintaku," ucap Ronald sengaja membuat Nara marah.


"Tidak laku cintamu, tidak membuat aku kenyang," ucap Nara dengan tawanya.


"Kok begitu sih, Honey! Semenjak kamu hamil, aku jadi nomor dua," ucap Ronald merajuk dan Nara pun tertawa.


"Aku bercanda saja, honey! Kamu lucu sekali, bagaimana keadaan Mama dan Christin, besok aku boleh ke rumah sakit?"


Ronald menggelengkan telunjuknya.


"Tidak boleh! Di rumah saja, Mama sudah tahu kamu hamil dan Mama titip salam, jaga kesehatan kata Mama," ucap Ronald. Bahagianya Ronald ketika tahu orang tuanya dan istrinya saat ini sudah tidak seperti anjing dan kucing. Monica sudah sedikit melembut dengan Nara.


"Padahal aku mau melihat, honey! Kamu berlebihan sekali, aku tidak boleh kemanapun, turun ke bawah saja aku harus izin kamu," ucap Nara kesal.


"Honey, bahaya sayang. Aku bukan tidak mau, kamu tahu kan, kata dokter kandunganmu masih kecil, harus dijaga ketat," ucap Ronald menggosok pelan rambut Nara dan membopong Nara naik ke kamar mereka. Untung saja rumah Ronald ada lift, jadi Nara tidak perlu naik tangga lagi. Pasti berbahaya sekali kalau Nara naik turun tangga sejauh ini.


"Iya aku tahu sayang, salam saja buat Mama dan Christin, besok aku akan ke cafe untuk mengecek penjualan berapa yang dihasilkan beberapa hari ini," ucap Nara memohon pada Ronald agar diizinkan.


"Iya honey! sebentar saja," ucap Ronald yang akhirnya memberikan izin.


"Sekalian aku ke rumah sakit sebentar, boleh?" tanya Nara tidak kenal lelah. Inilah yang Ronald suka dengan Nara. Nara tidak pendendam meski dia pernah disakiti Buktinya dengan kesabarannya, akhirnya mertuanya membuka diri dan tidak lagi marah dengannya.


"Oke honey! Besok sebelum ke kantor, aku akan menemanimu.

__ADS_1


To Be Continued ….


__ADS_2