
Ternyata kediaman Martin sungguh besar sekali, Sonya tidak menyangka kalau tempat tinggalnya semegah ini dan hanya Martin yang tinggal. Kamarnya juga menghadap ke laut. Belum lagi halamannya yang luas bahkan bisa dia gunakan untuk bermain golf.
Sangat indah sekali. Martin memeluk Sonya dari belakang sesampainya mereka di dalam kamar dan hanya berdua saja. Mencium lembut leher Sonya sampai membuat Sonya meremang seketika.
Rasanya kali ini dia tidak akan bisa lagi membuat alasan untuk tidak melayani Martin malam ini, melihat kelakuan Martin yang begitu lembut, sudah tentu dia ingin bercinta dengan Sonya.
Bunyi decak kecupan terdengar di kamar mereka yang sunyi, tidak ada suara yang ditimbulkan hanya ******* kecil yang lolos dari mulut Sonya. Bahkan tangan Martin sudah menelusup masuk ke dalam dan bermain dengan bukit kembar Sonya, meremasnya dengan lembut bahkan Sonya tidak bisa mengelak dan menerima setiap sentuhan yang dilakukan Martin.
"Aku menginginkannya, apa kamu sudah siap?" tanya Martin dengan suara seraknya. Hasratnya sudah menggebu-gebu sekali dan ingin cepat tersaluri dengan istrinya. Hubungan mereka halal di mata Agama dan Negara. Ini juga haknya dan Martin sudah mentoleransi sehari untuk tidak melakukannya.
Martin kira dia akan lebih banyak bersabar tetapi ternyata ketika ada Sonya yang selalu ada menemaninya. Hasratnya pun muncul begitu saja.
Sonya membalik tubuhnya dan Martin langsung meraup bibir sexy itu sebelum membiarkan wanita nakal ini menjawab.
"Sekarang?" tanya Sonya memastikan saat Martin melepaskan pagutan dibibirnya. Martin pun mengangguk dan menyentuhkan kepalanya ke dada Sonya.
"Aku ingin memiliki seutuhnya," ucap Martin dengan lirih.
"Dengan begitu kamu akan tahu seberapa besar rasa cintaku padamu," lanjut Martin yang membuat Sonya menelan salivanya.
Mereka sampai malam dan sudah makan malam juga. Saatnya untuk tidur dan bersenang-senang. Sonya begitu diterima di keluarga Martin. Mereka melihat Sonya wanita yang cantik dan juga lembut. Cocok sekali untuk anaknya.
"Lakukanlah," ucap Sonya menatap wajah Martin dengan sangat lembut. Sonya membawa Martin ke bibir ranjang dan dia akan memenuhi tugasnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
Dia membuka pakaian Martin dengan pelan dan begitu pun Sonya, dia ingin membuka sendiri gaun tidurnya tetapi Martin melarangnya.
"Biarkan aku yang membukanya," ucap Martin dengan lembut dan mendorong tubuh Sony ke ranjang. Martin mulai mencium seluruh tubuh istrinya dengan kecupan kecil bahkan ketika sampai ujung kaki Sonya, Martin memainkan telapak kakinya, membuat Sonya tersenyum meski hanya sebentar.
Dilepaskannya pelan gaun tidur itu hingga istrinya tidak mengenakan apapun. Martin melihatnya dengan indah dan Sonya ternyata masih malu, dia bahkan menyilangkan tangannya menutupi bukit kembar yang akan menjadi candu untuk Martin.
"Jangan ditutup!" bisik Martin mencium bibir Sonya dan beralih ke leher lalu bermain di gundukannya dengan sangat lama sampai membuat Martin lupa diri dan Sonya meringis antara geli bercampur nikmat. Sonya menjambak lembut rambut Martin. Dia berusaha menikmati sentuhan malam pengantin mereka. Malam yang tidak akan pernah Sonya lupakan dalam hidupnya.
"Martin, jangan seperti itu," ucap Sonya ketika Martin mulai gemas dengan menggigit kecil di sana. Banyak sekali tanda merah yang Martin buat disekujur tubuh Sonya apalagi pada bagian bukit kembarnya. Martin begitu sangat berhasrat malam ini, kalau Sonya menolaknya lagi, sudah tentu Martin akan sangat kecewa.
Sebelum memulainya, Martin kembali bermain dengan bibir bawah Sonya dengan bibirnya, membuat Sonya menggila di bawah sana dan benar saja, Sonya merintih tetapi rasanya begitu luar biasa, dia suka saat Martin melakukannya apalagi sangat lama. Pemanasan malam ini malah lebih lama dari pagi tadi.
"Kamu sudah siap sayang?" tanya Martin berbisik dengan lembut. Begitu susahnya masuk ke lembah Sonya yang masih sempit, apa karena Sonya belum basah dan Martin memastikan dengan jari jemarinya, ada cairan yang lengket keluar dari sana. Kali ini istrinya ikut berhasrat dan ini sudah tentu akan menyenangkan kalau Sonya juga menerimanya.
Uuuh … Sonya menggigit bibirnya saat semuanya sudah masuk dan membuatnya menjerit kesakitan. Tidak tahu itu sudah masuk atau belum tetapi ada sesuatu yang terluka di bawah sana.
"Sakit honey?" tanya Mike melihat wajah Sonya dan Sonya mengangguk dengan manjanya.
"Nanti kamu terbiasa," bisik Martin kembali menarik miliknya dan masuk kembali.
Ahhh … Sonya mendesah kesakitan tetapi dia berusaha menahan rasa sakit yang diterimanya. Martin tahu ini masih belum membuat Sonya nikmat tetapi proses pertama ini memang semua orang juga mengalaminya. Martin mempercepat sedikit permainannya membuat Sonya mendesah begitu hebat dan mengeluarkan air matanya.
"Sakit sayang," ucap Sonya dengan lembut. "Pelan-pelan," lanjut Sonya agar Martin mengasihaninya.
__ADS_1
Martin kembali pelan, seperti ini saja membuat Martin berkeringat dengan hebatnya. Kembali Martin bergerak cepat dan tidak dia hiraukan rasa sakit yang melanda Sonya, bahkan Sonya menutup kakinya karena sakitnya. Martin kewalahan terus melebarkannya.
Martin pun melepaskan sahamnya pada Sonya dan Sonya bergetar dengan hebat. Ada yang hangat masuk ke dalam rahimnya, seperti menembak masuk ke dalam rahim dan itu terasa sakit.
Naik turun Sonya mengatur nafasnya. Martin pun melihat wajah Sonya yang pucat, dia benar-benar kesakitan. Martin sangat yakin sekali istrinya masih bersegel karena dia sendiri yang membukanya. Martin mencium bibir Sonya setelah bercinta dan mencium keningnya dengan lembut.
"Makasih sayang, i love you," ucap Martin mengelus wajah istrinya yang masih lemah dengan dadanya yang masih bergemuruh.
Martin melepaskan miliknya dan keluarlah sedikit cairan miliknya bersatu dengan darah segel Sonya. Bahkan di miliknya pun melekat darah itu, Martin menunjukkan dengan Sonya dengan tisu. Sonya duduk di bantu Matin dan melihatnya.
"Sakit sekali, honey!" Sonya mulai tidak kaku lagi dengan Martin. Dia bahkan memeluk Martin setelah percintaan mereka yang melelahkan itu.
"Lihat honey!" Jejak darah milik Sonya, Martin bangga sekali mendapatkannya. Dia bahkan langsung memagut bibir Sonya dan berbisik di telinga Sonya.
"Tidurlah sebentar, kita akan lanjutkan lagi nanti," ucap Martin dengan seenaknya.
"Aku masih sakit sayang," jawab Sonya ingin menolak tetapi Martin seolah tidak peduli. Sonya harus tahu kalau saat ini percuma menolak hubungan seperti ini.
"Sebentar lagi tidak akan sakit, ini pertama dan memang seperti itu, honey! Buktinya kamu menikmatinya, hanya sakit ketika aku masuk pertama kali, bukan?" tanya Martin mengelus wajah Sonya dan Sonya mengangguk.
"Pelan-pelan jangan seperti tadi," ucap Sonya menangis.
"Iya honey! Aku akan pelan, maaf ya," ucap Martin dengan sabarnya menghadapi istri manjanya ini.
__ADS_1
To Be Continued ….