
Tuhan jagakan dia. Dia kekasihku. Kan tetap milikku. Aku sungguh mencintai. Sungguh menyayangi. Setulus hatiku ....
Walau 'ku tau kau tak sempurna. Takkan membuat aku jauh darimu. Apa adanya. 'Ku 'kan tetap setia kepadamu ....
Tuhan Jagakan Dia - Motif Band
Perasaan Ronald membuncah saat tahu Nara sudah sadar. Air matanya kembali jatuh, saat ini dia seperti lelaki cengeng yang terus menangis tetapi itu perasaan bahagianya. Jantungnya berdegup dengan kencang seolah akan bertemu kekasih yang sudah lama tidak dia temui, persis sekali perasaan ini seperti saat Ronald kembali dari Inggris ke Indonesia. Tangannya bergetar hebat dan dia tersenyum seperti orang konyol. Bahkan supir pribadinya pun turut bahagia dan ikut menangis.
Dia yang menemani hari-hari Ronald selama ini. Melihatnya lesu setiap harinya, melihatnya berusaha tersenyum padahal dia begitu lelahnya. Tetapi pulang ke rumah dia pasti akan tersenyum seolah tahu istrinya sedang menunggunya.
Dokter sudah lebih dulu datang ke rumah Ronald untuk memeriksa Nara. Sumpah demi apapun, Ronald tidak sabar lagi sampai rumah.
"Kak, kamu di mana? Kenapa tergesa-gesa sekali?" tanya Christin yang melihat Ronald berlari secepat kilat dan langsung pergi dari rumah. Sonya bahkan ditinggalkan Ronald dengan pengasuhnya.
"Nara sadar, Dia sudah bangun!" ucap Ronald tertawa bahagia. Christin menangis terharu. Selama ini dia takut sekali terjadi apa-apa dengan Nara. Kasihan sekali bayi kecil ini belum merasakan kebahagiaan bertemu dengan ibunya.
"Ya Tuhan … Kak Nara, akhirnya Kak, aku akan menjaga Sonya, aku dan Rangga juga keluarga lain akan menyusul ke sana."
"Jangan!"
Ronald menolak dengan cepat, dia tidak ingin semua orang membuat Nara pusing dan malah mengakibatkan Nara kembali tidak sadarkan diri.
"Kenapa?" tanya Christin heran. Seharusnya berita bahagia ini harus dibagikan dengan semua keluarga.
"Jangan sampai orang tahu dulu, Nara masih butuh istirahat. Nanti kalau sudah acara, bawa Sonya ke rumah, Nara pasti ingin melihat anaknya," ucap Ronald tersenyum hangat.
Christin mengangguk dan menghapus air mata bahagianya.
Kak Ronald benar, saat ini Kak Nara butuh istirahat, keluarga ini begitu bising. Kasihan kalau sampai membuat Kak Nara lelah berpikir.
"Katakan salamku untuknya," ucap Christin kembali menangis. Rangga bahkan hanya melihat tunangannya dari jauh. Kenapa dengan Christin?
"Iya, aku akan menyampaikan salammu padanya," ucap Ronald sambil menutup panggilan telpon dari Christin.
Kembali Ronald menerima panggilan telpon dari dokter yang bergantian melakukan pemeriksaan terhadap Nara.
"Pak Ronald, sedang ada di mana? Ibu Nara mencari Bapak," ucap Viola, dokter jaga yang umurnya lebih tua dari Ronald dan Nara itu.
__ADS_1
"Dokter bisa ganti menjadi panggilan video call, aku ingin melihat istriku dari jauh, aku sedang menuju ke sana saat ini," ucap Ronald begitu antusias.
"Dari jauh saja, aku ingin membuat kejutan untuknya," lanjut Ronald seperti lelaki yang jatuh cinta.
Ah gila sekali. Rasanya seperti dia sedang jatuh cinta padahal mereka suami istri.
Dokter Viola pun menunjukkan wajah Nara dari jauh, Nara yang duduk bersandar di bantal sambil menikmati bubur pertama setelah dia sadar. Baru bangun, Nara sudah mengeluh kelaparan. Semua pelayan sibuk membuat makanan untuk Nara, bahkan bubur yang disiapkan itu dari nasi yang mereka pirik karena masak bubur akan lama dan makan nasi akan keras untuk Nara.
Semua pelayan bahkan menangis di dapur saat tahu Nara sudah sadar. Nara majikan yang sangat baik dan mereka semua sayang dengan majikannya itu.
"Istrimu kelaparan Ronald, lucu sekali! Dia bilang lapar sekali waktu bangun, aku mau tertawa rasanya," ucap Viola tertawa tapi menangis.
"Itulah yang dia pikirkan terus," ucap Ronald ikut tertawa sambil melihat wajah istrinya.
Kamu benar sadar honey! Kamu sehat sekali seperti itu.
"Jangan katakan aku sebentar lagi sampai ke rumah, biarkan dia kesal menungguku," ucap Ronald yang sengaja ingin membuat kejutan untuk Nara.
"Iya cepatlah, aku tahu kamu merindukannya," ucap Viola yang sudah menjadi teman untuk Ronald saat ini.
Sangat!
"Pak, mampir toko bunga dulu," ucap Ronald menunjuk toko bunga tempat dia biasa membeli bunga untuk istrinya. Padahal Nara sudah bilang kalau dia tidak suka bunga, Ronald masih saja membelinya.
Ronald berlari dengan cepat ke toko bunga dan membuka toko itu dengan cepat.
"Rangkaikan … rangkaikan aku bunga yang cantik dan jangan lama," ucap Ronald sambil mengambil nafas. Dia terlalu semangat sekali hari ini. Dengan cepat penjaga toko bunga membuat rangkaian bunga yang cantik sekali untuk Ronald.
Setelah selesai Ronald kembali lagi ke mobil dan mobil kembali membelah jalan menuju rumah Ronald yang tidak lama lagi sampai.
Ronald membenarkan pakaiannya dan berjalan dengan hati-hati menuju kamar rawat Nara. Jantungnya berdegup dengan kencang dan dapat Ronald dengar suara ricuh kebahagiaan di rumahnya. Sibuk sekali mereka ketika tahu Nara sudah sadar. Mereka menangis saat melihat Ronald naik ke atas dengan pelan sekali. Senyumnya berkembang dan Ronald terus memegang dadanya.
Kamar Nara yang sudah sepi, Ronald meminta mereka keluar dari kamar Nara. Nara juga tidak melakukan apapun.
"Kenapa dengan rumah ini?" tanya Nara bingung, sedari tadi dia minta untuk dihubungkan dengan Ronald. Ada foto bayi mungil yang Nara tahu itu anaknya tetapi mereka tidak memberikannya pada Nara.
Tidak ada yang memberitahu Nara kalau dia tidak sadarkan diri hampir dua bulan lamanya. Ronald mengintip lalu tertawa dan tersenyum getir.
__ADS_1
Kamu itu jahat sekali honey, meninggalkan aku selama ini tetapi seperti tidak merasakan apapun.
"Honey!" tanya Nara yang melihat Ronald bersandar di dinding. Ronald ketahuan mengintip Nara.
Suaranya, itu benar suaranya! Dia ingat semuanya. Naraku baik-baik saja.
"Honey, apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Nara dengan lembut tetapi Ronald masih tidak ingin mendekat seperti anak kecil yang merajuk karena ditinggalkan lama ibunya pergi ke pasar.
Ronald membalik tubuhnya dan melihat Nara dari jauh. Nara sungguh bingung, dia tidak tahu apa yang terjadi, tidak ada yang bercerita apapun dengannya.
Perlahan Ronald mendekat dengan mata yang berkabut. Nara tersenyum melihatnya.
"Sini!" Ronald menyiapkan bunga untuk Nara di belakang punggungnya.
"Honey, kamu sudah sadar? Apa yang sakit sayang? Perutmu sakit, mau makan apa?" tanya Ronald begitu lembut. Ronald memeluk Nara dengan sangat erat. Sangat-sangat erat!
"Untuk kamu," lanjut Ronald memberikan bunga untuk istrinya.
"Terima kasih, aku tidak sakit honey, mana anak kita?" tanya Nara dengan senyum paling cantiknya. Nara seolah tidak merasa kalau dia sudah koma selama hampir dua bulan, dia seperti sangat sehat sekali. Tidak tahu kalau selama itu membuat Ronald sangat khawatir.
Memang dia tidak pernah cinta denganku, aku tidak pernah dia tanya.
Ronald bahkan cemburu dengan anaknya.
"Jangan pernah tinggalkan aku dan Sonya lagi, bisa?"
"Maksudnya apa, honey?" tanya Nara tidak mengerti. Dia bukan sedang bersandiwara. Dia memang tidak tahu kalau tertidur selama itu. Dia hanya merasakan ketika bangun, sangat lapar dan haus sekali.
"Hampir dua bulan kamu terbaring di ranjang, kamu tidak bangun dan tidur nyenyak sekali," ucap Ronald yang tidak mau mengatakan kalau Nara mengalami koma. Baginya Nara sedang tidur.
"Ya Tuhan … honey! Selama itu aku tidur, kamu berbohong!" Nara bahkan tidak percaya dan Ronald malah menunjukkan foto setiap hari Sonya, setiap hari Sonya punya foto dan video perkembangannya. Sengaja Ronald buat untuk memperlihatkannya pada Nara. Nara menangis terisak dan memeluk Ronald sambil menangis.
"Kamu pasti kesusahan selama itu, aku membuat kamu susah yah?" tanya Nara menangis sesegukan. Ronald ikut menangis jadinya tetapi tidak banyak, hanya membasahi matanya saja.
"Iya, ganti rugi!" ucap Ronald tertawa sambil memeluk Nara dengan mesranya.
Sudah cukup seperti ini. Seperti ini saja! Ronald tidak minta apapun lagi. Tidak minta Tuhan memberikan dia keturunan lagi, sudah cukup Tuhan mengembalikan Nara padanya. Itu adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan.
__ADS_1
To Be Continued ….
IG Madammeyellow