
Pagi ini seperti biasa, Nara dan Ronald sarapan pagi tetapi kembali Monica ikut serta sarapan pagi bersama dengan Ronald.
Sarapan hanya untuk mengumpat dan memarahi Nara, masakan Nara yang tidak enak, kurang garam, tanpa sayur, tidak sedap seperti lagi dangdut.
Nara hanya diam dan mendengarkan saja terserah mertuanya mengatakan apa yang penting suaminya suka. Tidak enak tetapi habis dan tidak ada sisa.
"Kalau bagi Ronald makanan Nara sudah sangat enak, Ma," Ronald selalu saja membuat Nara tersenyum, selalu membela istrinya walaupun sebenarnya Nara tidak pernah meminta Ronald melakukan itu padanya.
Seorang istri pasti akan sangat senang jika suaminya makan masakan dari tangannya meski terkadang memang tidak enak atau kurang dan kelebihan garam, itu biasa saja. Hanya saja ketika melihat istrinya, masakan itu menjadi sempurna.
"Ya mulut kamu itu sudah mati rasa, ini makanan tidak ada rasa asin sama sekali, bagaimana cara kamu memasaknya Nara, tidak enak tahu!"
Ronald menghela nafasnya dan menggenggam tangan Nara dengan erat. Dia hanya ingin menguatkan Nara kalau yang dikatakan oleh Mamanya tidak sama seperti yang dia rasakan.
"Nara mau belajar masak dari Mama, mungkin masakan Mama lebih enak daripada masakan Nara," ucap Nara dengan senyumnya.
Matilah!
Monica tidak bisa masak dan hanya bisa menjadi juri masakan. Kalau tidak enak dia akan katakan tidak enak, kalau enak dia katakan lumayan tetapi kalau untuk masak, mana pernah wanita sosialita manja seperti Monica terjun langsung ke dapur yang kotor itu.
"Tidak mau, kotor! Kamu saja yang masak, kamu kan suka ke dapur, kamu itu lebih mirip pembantu Nara daripada istri, lihat sekarang pakaian kamu ini, pagi hari itu harus tampil cantik bukan pakai piyama tidur seperti ini," ucap Monica mulai mencecar Nara.
"Aku suka Ma, Nara malah terlihat lebih cantik menggunakan piyama seperti ini apalagi gaun yang semalam, honey!" Ronald mengedipkan sebelah matanya dengan Nara. Nara yang tadinya sedih jadi senang ketika Ronald membelanya.
"Ah jelek!"
Monica masih saja mengumpat, Nara tidak peduli. Dia hanya perlu mata suaminya yang melihat kecantikannya, tidak perlu orang lain menilai cantik dia seperti apa.
"Hari ini temani Mama, kita akan mulai bisnisnya, kamu yang menghandle semuanya Nara, Mama percaya sama kamu," ucap Monica tanpa basa-basi.
"Mulai apa Ma?" tanya Ronald masih belum mengerti.
__ADS_1
"Cafe Ronald, itu sudah mau dibuka, Nara yang akan menjaganya, Mama pokoknya tahunya Nara yang harus membangun cafe itu dari nol dan harus berhasil," ucap Monica dengan lantang.
"Kalau begitu nanti Omar dan Dino, ikut menjaga Nara, Ma. Aku hanya takut Mama membawa Nara ke tempat kemarin, sungguh aku masih belum percaya dengan kebaikan Mama saat ini," ucap Ronald dengan jujur.
"Silahkan! Mama tidak akan melarang, Mama memang mau membuka cafe kok bukan buat menyiksa istri kamu," ucap Monica dengan sinisnya.
Nara menghela nafasnya. Padahal mereka ini Ibu dan anak tapi seperti anjing dan kucing, tidak pernah akur.
Setelah Ronald kerja, Ronald tidak henti-hentinya bertanya di mana Nara, dia takut sekali Mamanya membawanya ke hutan atau tempat sepi dan menghabisi istrinya. Bahkan Ronald memasang pelacak khusus untuk memantau di mana Mama dan istrinya saat ini.
Ternyata sedang menuju apartemen.
"Christin itu sekarang sedang dikejar oleh mantan kekasihnya," ucap Monica mulai bercerita dengan Nara.
Nara sampai tidak percaya kalau saat ini mertuanya sedang mengajaknya bercerita. Aneh tidak sih. Ini kan rahasia tetapi Monica seolah bercerita biasa saja.
"Hemm … masih cinta mungkin kekasihnya dengan Christin," balas Nara seadanya.
Kalau rahasia kenapa diceritakan pikir Nara. Padahal Nara tidak pernah bertanya apapun, bahkan terkesan menjaga jarak karena tidak ingin terlalu dekat dengan mertuanya yang gila ini.
"Axel itu menggugurkan kandungan Christin, Mama tidak suka!"
Astaga! Nara menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini, pasti Christin sedang trauma saat ini, pantas kemarin dia meminta Ronald menjemputnya.
"Kenapa kekasih Christin tega sekali Ma, bukannya banyak yang sulit mendapatkan anak saat ini," ucap Nara dengan lembutnya.
"Iya kalau otaknya waras, mikir gitu. Ini salah Christin juga kenapa kasih tubuhnya, sama seperti kamu konyol!"
"Mama juga padahal," ucap Nara kecil sekali hampir tidak terdengar.
"Apa kamu bilang tadi Nara?" tanya Monica yang seolah sedang dihina Nara.
__ADS_1
"Aku kasian dengan Christin, Ma."
Nara mengambil nafasnya dalam-dalam. Bisa jantungan Nara kalau bicara dengan mertuanya ini, sebenarnya Monica ini berasal dari mana. Hutankah?
Cerita saja seperti orang sepuluh yang cerita, heboh sekali.
"Makanya, jadi wanita itu jangan konyol! Tubuh itu kasih ke suami saja, bukan pada kekasih, sama seperti kamu yang hamil karena Ronald, konyol!"
Nara menyunggingkan senyumnya. Terserah Monica sajalah ingin mengumpatnya apa, Monica sepertinya mengira kalau yang Ronald katakan dulu itu benar, Nara hamil anak Ronald.
Setelah sampai apartemen Christin, Christin tidak membukanya.
"Sini, aku saja yang buka Ma, aku tahu password nya," ucap Nara bergerak ke depan dan langsung menekan tanggal jadiannya dengan Ronald. Suaminya tidak pernah melupakan hari di mana mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
Tirai di tutup, lampu mati, seperti tidak ada penghuni. Sebenarnya kemana Christin.
"Christin, dimana kamu?" teriak Monica dengan suara besarnya.
Nara mencari ke kamar dan tidak melihat ada siapapun, kemana dia? Ponsel Christin juga tidak dibawanya. Ternyata malam tadi Axel membuntutinya dan tahu kalau kekasihnya tinggal di apartemen Ronald. Saat pagi ini Christin mencari sarapan pagi, Axel kembali memaksa Christin masuk ke dalam mobilnya. Kali ini Ronald dan keluarganya tidak akan tahu di mana Axel menyembunyikan Christin.
"Oh kamu mau kabur meninggalkan aku?" Axel yang saat ini sudah membuat tubuh Christin polos segera memaksa Christin untuk melayaninya. Dia akan terus melakukannya sampai Christin sadar kalau dia itu hanya milik Axel.
"Lepaskan aku!" teriak Christin saat Axel siap dan membuka kaki Christin. Axel bahkan tidak peduli kalau Christin baru sudah keguguran.
Dia menikmati permainannya dengan Christin dalam keadaan tangan terikat dan mulut Christin yang dia sumpal dengan bibirnya.
Christin hanya bisa menangis karena lagi dan lagi dia terjerat dalam hidup gelap Axel.
"Jangan pernah mencoba untuk meninggalkan ku atau kamu akan tahu akibat dari penolakanmu itu," ucap Axel melepaskan ikatan tali yang menjerat tangan Christin dan membuatnya lebam.
Christin hanya menangis dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Menunduk tanpa melihat Axel yang pergi meninggalkannya ke luar, entah apa yang dicari Axel di luar sana.
__ADS_1
To Be Continued ...