
Nara sudah berganti pakaian karena dia akan kembali ke kostnya, ini bukan tempat tinggalnya karena janji Ronald hanya satu hari saja.
"Kamu mau kemana, Hun?" tanya Ronald saat melihat Nara yang sudah rapi sedangkan dia masih menggunakan kaos oblong dan celana pendeknya.
Ronald melihat keseluruhan dari atas sampai bawah, Nara yang cantik sekali pagi ini. Jelas, Nara ingin bertemu dengan kekasihnya.
Padahal berulang kali Ronald mengatakan pada Nara untuk menjauh kekasihnya yang playboy cap kadal itu tetapi Nara tidak pernah mau mendengarnya.
"Aku sudah janji dengan Andre, dia akan ke Jakarta Sabtu Minggu ini," ucap Nara dengan santai tanpa beban dan tidak memikirkan perasaan Ronald yang kesal mendengarnya.
"Susah bicara denganmu, aku akan buktikan kalau kekasihmu itu tidak layak untukmu, nanti! Tunggu saja saatnya," ucap Ronald meninggalkan Nara dan masuk ke dalam toilet, entah apa yang dilakukan Ronald di dalam toilet yang jelas Nara akan keluar dari rumah Ronald.
Baru Nara selesai berdandan dan sarapan pagi. Dia mengambil tasnya dan bersiap kembali ke kostnya. Nara menggunu Ronald keluar lebih dulu dari toilet.
"Tunggu aku! Nico akan ke sini memberikan ponsel barumu," ucap Ronald dengan rambutnya yang basah sehabis mandi. Dia akan mengantarkan Nara ke kostnya.
"Keringkan rambutku Honey," ucap Ronald memberikan handuk kecil pada tangan Nara. Dengan terpaksa Nara mengeringkan rambut Ronald dengan sangat lembut.
"Honey, ada ATM ku di atas meja, kamu gunakan saja untuk membeli keperluanmu sehari-hari, kamu pakai untuk membeli baju atau apapun, terserah kamu!" ucap Ronald menikmati sentuhan tangan Nara yang lembut di kepalanya.
Nara hanya melirik ATM yang dikatakan Ronald tadi tetapi tidak berencana mengambilnya.
"Nanti kalau hari kerja, aku mau kamu tidur di tempatku, karena aku sibuk sekali Honey, aku tidak bisa mengurus diriku sendiri kalau tidak ada kamu," ucap Ronald dengan senyum nakalnya dan menciumi tangan Nara dengan lembut.
Nara hanya menghela nafasnya melihat Ronald yang manja seperti ini. Nyatanya, ketika Nara mengatakan dia sudah punya kekasih, ingin bertemu kekasihnya. Ronald bahkan tidak peduli sama sekali.
Jalan saja Nara dengan Andre, toh nanti Nara tetap akan menjadi miliknya.
Ting … Tong …
Sepertinya yang datang Nico membawa ponsel Nara yang dihempaskan Ronald kemarin.
Sudah ada pembantu yang membukanya, Nico pasti sedang menunggu di bawah saat ini. Tetapi pagi ini Nara memang ingin menyiapkan makanan karena sudah terbiasa hidup tanpa pelayan.
__ADS_1
"Ronald itu baju gantimu," ucap Nara menunjuk pakaian Ronald yang sudah disiapkan Nara untuknya. Nara memang sangat mengerti Ronald, pakaian yang dipilihnya memang selalu sesuai dengan keinginannya.
Ronald tanpa malu sama sekali berganti pakaian di depan wajah Nara. Baginya Nara itu sudah dianggap istri sendiri oleh Ronald, Nara sudah terbiasa melihat tubuh kekar Ronald.
Setelah selesai berganti, Ronald menggenggam tangan Nara dan mengajaknya turun ke bawah. Benar sekali yang datang Nico membawa ponsel baru untuk Nara.
"Tuan ini ponsel, Nona Nara dan saya sudah mengatur sesuai keinginan Tuan," ucap Nico sedikit membungkuk menghadapi Ronald dan Nara.
"Terima kasih Nico, kamu boleh pulang!" jawab Ronald sembari mengibaskan tangannya.
Ronald langsung memberikan ponsel tadi pada Nara dan ponsel yang diberikan Ronald keluaran terbaru dan terbatas.
Kalo ini Ronald membawa sendiri mobilnya.
"Kostmu itu kecil sekali honey dan dilarang laki-laki untuk masuk ke sana, aku berikan apartemen saja untukmu tinggal, kost kamu juga jauh dari kantor, bagaimana kamu mau kerja?" tanya Ronald sembari menghabiskan waktunya dengan Nara.
"Siapa juga yang menginginkan laki-laki masuk, lebih bagus kalau tidak boleh masuk," jawab Nara dengan kesal.
"Bagaimana kalau aku merindukanmu, susah sekali untukku menahan bertemu denganmu," ucap Ronald memanyunkan bibirnya.
Nara menggeleng. Ronald ini tidak pernah mengerti. Cara bicaranya seolah mereka sedang menjalin hubungan padahal mereka hanya terikat kontrak kerja antara bos dan asisten.
Nara tidak memperdulikan kata-kata Ronald dan menghubungi Andre, semoga kali ini Andre tidak berulah.
"Halo sayang, kamu jadi ke Jakarta?" tanya Nara pada Andre yang masih tidur di hotel saat ini dengan wanita lain. Andre mengerjakan matanya dan melihat jam tangan yang dia letakkan di dekat ranjangnya.
"Sudah jam sembilan ternyata, Sayang sepertinya aku sore sampai di sana, kamu tidak marah?" tanya Andre dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Kamu telponan dengan siapa sayang?" tanya wanita malam yang menemani Andre malam ini. Nara mendengar semuanya.
"Itu suara siapa?" tanya Nara dengan jantungnya yang berdegup kencang.
"Bukan siapa-siapa sayang, kamu salah dengar." Andre menutup mulut wanitanya. Bisa kacau kalau Nara tahu apa yang dia lakukan di belakangnya.
__ADS_1
"Tapi seperti suara wanita," ucap Nara curiga. "Kamu di mana sekarang, coba aku ingin video call," ucap Nara dengan tegas dan Ronald malah menyunggingkan senyumnya.
Sudah dia katakan kalau Andre itu playboy. Dengan cepat Andre pergi ke toilet kamar mandi.
"Aku sudah buang air besar sayang," ucap Andre setelah telpon itu diganti menjadi panggilan video. Nara melihat dengan seksama, itu bukan kamar Andre. Lagi dimana Andre saat ini.
"Andre, Baby, buka pintunya sayang! Aku tidak tahan mau ke toilet," teriakan wanita itu terdengar di telinga Nara.
"Kamu di mana Andre?" tanya Nara dengan tegas. Kali ini dia tidak akan toleransi dengan kelakuan nakal Andre.
"Di … di rumah sayang, aku tidak bohong!" ucap Andre membuat tangannya bentuk V.
Namun, nasib ingin menunjukkan pada Nara. Sebelah pipi kanan dan leher Andre ada cap listik bibir yang terlihat jelas sekali berwarna merah.
"Kamu di hotel saat ini? Andre kamu bersama wanita lain, katakan padaku? Jujur saja Andre aku tidak marah," ucap Nara yang ingin memancing Andre agar jujur.
"Sayang aku mohon kamu tidak marah! Dia hanya wanita panggilan karena kamu tidak bisa dihubungi semalam, aku mabuk dan aku lupa diri," ucap Andre membela dirinya.
Hehh! Ronald senang sekali melihat pertunjukkan gratis di depan matanya ini.
"Aku kecewa denganmu Andre, sudahlah! Aku ingin kita putus, aku tidak percaya kamu tega melakukan itu padaku, Andre!" teriak Nara dengan matanya yang menangis. Nara memutuskan panggilan telponnya.
"Sekarang kamu percaya padaku! Kekasihmu itu tidak sepolos yang kamu kenal dan kamu dibohonginya, honey!"
Nara masih menangis dan tidak peduli apa yang Ronald katakan saat ini.
"Sudahlah honey! Untuk apa kamu menangisi laki-laki itu, kesal sekali aku melihat kamu seperti ini," ucap Ronald menggeleng.
Wanita kalau patah hati pasti menangis sehari semalam. Biarlah, bagus kalau Nara sudah tahu sifat kekasihnya. Jadi, Nara hanya fokus dan perhatian padanya.
Senang sekali Ronald bahkan dia menikmati tangis Nara di dalam mobil. Dia hanya lucu melihat Nara yang menangis sesegukan seperti itu.
To Be Continued ….
__ADS_1