
Pagi ini Sonya bangun lebih pagi. Dia merasa ada yang mengganjal pada bagian bawah tubuhnya. Masih terasa perih sekali, Martin mengulanginya lagi malam tadi dan Sonya tidak bisa menolak permintaan suami.
Sonya membuka tirai kamarnya dan melihat betapa indahnya pemandangan dari kamar Martin. Sedang Martin masih menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Martin mencari dengan tangannya menggapai keberadaan Sonya tetapi tidak dia temukan.
Martin ingin merengkuh lagi tubuh Sonya dalam dekapannya. Kini wanita yang selalu menolak keberadaannya itu sudah sah menjadi istrinya. Martin bebas melakukan apapun terhadap istrinya itu saat ini.
"Honey, sudah bangun sayang?" tanya Martin yang mengejutkan Sonya yang melamun sambil menangis.
"Kenapa menangis, honey? Apa salahku?" tanya Martin membalik tubuh Sonya dan menghapus air mata yang membasahi mata cantik Sonya saat ini.
"Aku rindu Mommy dan Daddy," ucap Sonya lirih. Sonya masih belum bisa menerima jauh dari orang tuanya. Apalagi ini beda negara. Pasti mereka juga merindukan Sonya saat ini.
"Mommy dan Daddy akan datang nanti, kamu gak perlu khawatir, honey! Aku gak akan melarang kamu bertemu dengannya," ucap Martin dengan sangat lembutnya.
Sonya pun memeluk Martin dengan sangat erat, dia takut sekali jauh dari keluarganya. Sekarang hidupnya bergantung dengan Martin.
"Bersiaplah, karena pagi ini kita akan sarapan pagi di kediaman orang tuaku," ucap Martin dengan senyumnya. Sonya pun bersiap secantik dan sesopan mungkin sarapan pagi ini. Seluruh keluarga sudah berkumpul, sangat ramai sekali tetapi begitu tertib. Sonya disambut dengan gembira di negara Martin. Tidak ada yang terjadi saat sarapan pagi sampai adik Martin yang beda ibu, seorang wanita juga bernama Jeny, mendekatinya.
"Kamu istri pertama Kak Martin, seharusnya kamu bahagia menjadi pertama," ucap Jeny dengan senyumnya.
"Maksudnya?" tanya Sonya yang tidak mengerti, karena memang dia tidak mengerti apa yang sedang Jeny katakan saat ini.
"Apa kamu tidak tahu, kalau seorang Putra Mahkota pasti punya banyak istri," ucap Jeny menyeringai. Sonya tidak tahu apapun tentang keluarganya. Menyedihkan sekali. Kabar seperti ini saja, dia langsung terkejut mendengarnya.
Sedangkan Sonya mulai berpikir. Kalau begitu Martin akan punya banyak wanita nantinya. Jadi, untuk apa Martin menjadikan dia istri pertamanya. Rasanya jantung Sonya seakan dirampas dari tempatnya. Sonya berusaha tersenyum meski senyum itu terpaksa.
Dia tidak mau hidup seperti ini. Pantas sekali Martin banyak wanita.
Sonya diam saat Martin mengajaknya berkeliling dan menggenggam tangannya.
__ADS_1
"Honey, apa ada kemungkinan kamu akan menikah lagi?" tanya Sonya dengan begitu pelan dan ragu-ragu.
Mereka saja baru menikah, kenapa Sonya malah bertanya pertanyaan konyol seperti ini.
"Tidak mungkin lagi, aku sudah punya kamu, untuk apa aku menikah lagi," jawab Martin dengan tegas.
Hmmm ….
Sonya diam tetapi jantungnya masih berdegup dengan kencang.
"Jangan memikirkan hal seperti ini, honey! Kamu tidak percaya kalau aku akan setia denganmu?" tanya Martin menatap mata Sonya yang penuh keraguan.
"Kalau seandainya kamu akan menikah lagi, aku gak akan mungkin bertahan, aku lebih baik mengalah," ucap Sonya dengan begitu lembutnya.
"Apa yang kamu pikirkan, Honey? Aku tidak bisa hidup tanpamu," ucap Martin menyelipkan anak rambut ke telinga Sonya. Martin pun dengan begitu pelan dan penuh kasih sayang mengajak Sonya memutari tempat tinggalnya.
Hidup Martin begitu sangat mewah, bahkan harta kekayaannya, jauh sekali dengan orang tuanya. Padahal Di Indonesia, Sonya termasuk keluarga terpandang.
"Pagi tadi, aku masih melihat darah menempel, masih sakit, honey!" Sonya merintih tetapi tersenyum ke arah Martin. Tidak lama, Sonya mendengar kabar kalau orang tuanya sudah sampai di negara Martin karena malam ini akan ada pesta menyambut kehadiran Putri Mahkota, istri dari Martin Bryan Bolkiah.
"Honey, aku ingin bertemu dengan orang tuaku, mereka baru sampai," ucap Sonya dengan bahagianya.
"Tetapi kamu harus istirahat, honey! Malam nanti akan banyak tamu dan kamu pasti kelelahan," jawab Martin menolak permintaan Sonya.
Padahal Martin baru mengatakan kalau Sonya bebas bertemu dengan orang tuanya kapanpun, sekarang malah untuk bertemu dengan orang tuanya saja susah.
Martin pun menjauh karena ada rekan bisnis yang menghubunginya. Terasa sekali sepi di tempat ini.
Tidak ada teman, tidak ada keluarga dan Martin pun sibuk bekerja.
__ADS_1
Sore harinya, Sonya didandani begitu cantiknya, mereka akan menyambut para tamu dari berbagai negara. Bahkan setelah pesta pun, susah sekali Sonya bicara dengan Mommy dan Daddynya karena dia pun sedang sibuk.
Sonya bahkan tidak menyangka kalau pestanya semeriah ini, hadiah yang begitu mahal datang silih berganti tetapi yang dia tunggu adalah Mommy Nara dan Daddy Ronald yang juga sibuk bicara dengan rekan bisnisnya.
"Honey, boleh aku bertemu dengan Mommy?" tanya Sonya saat mereka sibuk cerita dengan para tamu. Masalahnya banyak sekali tamu kerajaan dari negara lain. Martin bukan melarang tetapi saat ini pun dia butuh Sonya, semua orang ingin melihat yang mana istri Martin, mereka hanya mendengar kalau parasnya cantik dan wanita yang anggun juga lembut.
Martin melarangnya, ada waktunya nanti Sonya bisa bertemu dengan orang tuanya.
Sonya pun tersenyum kecut dan menemani Martin di samping, dia berusaha tersenyum bahagia tetapi matanya selalu melihat ke arah keluarganya dan tersenyum.
Mommy aku merindukanmu.
Padahal baru satu hati berpisah tetapi seperti lama sekali. Waktu semakin berlalu dan tamu sudah banyak yang pulang.
Baru akan menghampiri orang tuanya. Mommy dan Daddynya akan pulang ke Indonesia karena besok Ronald ada pekerjaan yang sangat penting yang harus dia tangani.
"Daddy dan Mommy sudah mau pulang?" tanya Sonya dengan wajah sedihnya.
"Iya Sayang tetapi Minggu depan, Daddy dan Mommy akan mengunjungimu," ucap Ronald mengusap kepala Sonya dengan lembut. Mereka mencium kening Sonya dan memberikan selamat pada anak dan menantunya. Ronald tidak tahu kalau Sonya ingin mereka lama-lama di sini.
"Jangan sedih, sayang! Daddy akan kembali lagi, janji!" Sonya pun mengangguk dan tersenyum getir. Setelah selesai acara, Sonya kembali lagi ke kediamannya dan kali ini dia marah dengan Martin.
"Kapan aku bisa pulang ke Indonesia?" tanya Sonya yang membuat Martin bingung menjawabnya.
"Kamu bilang aku boleh bertemu dengan orang tuaku, nyatanya apa! Aku bahkan tidak bisa bicara dengan mereka, kamu melarangku, aku tidak bisa memeluk mereka," ucap Sonya menangis.
"Bagimu penting tamumu, bagiku yang paling penting itu keluargaku, kamu tidak pernah mengerti aku," ucap Sonya menangis.
Martin tahu dia salah tetapi seharusnya Sonya mengerti keadaan mereka memang sedang dalam pesta.
__ADS_1
"Maafkan aku, honey! Tetapi kamu tidak bisa pulang sembarangan, kamu istriku saat ini."
To Be Continued ….