
"Bagaimana Mama, honey?" tanya Nara yang sudah sedari tadi di rumah sakit dengan pakaiannya yang berlumur darah mertuanya itu. Monica sudah di temani Edwardo di dalam, begitu banyak masalah keluarga begitu beruntun sekali yang terjadi pada Mama dan Adiknya, kali ini siapa lagi yang mencelakai Monica.
"Mama sudah istirahat, honey! Lukanya dalam sekali, Mama sampai histeris melihat luka jahitan di wajahnya. Dia hanya menyerang Mama, tidak denganku dan Pak Darman, waktu itu Omar dan Dino di belakang, mereka saja ketika datang, semua sudah terjadi, cepat sekali honey," ucap Nara memeluk dirinya sendiri. Ronald menenangkan istrinya itu dan memeluknya dengan sangat erat sembari mengecupi puncak kepala Nara dengan lembut.
"Semua sudah ditangani kepolisian dan aku minta pelakunya segera ditangkap," ucap Ronald dengan tenang. Dia tidak bisa mengatakan bersyukur saat ini, Mamanya menjadi korban tetapi istrinya selamat. Semua ini sama saja membuat Ronald sangat sedih. Meski terkadang Monica orang tua yang kasar tetapi Ronald sangat menyayanginya.
Ronald masuk ke dalam ruang rawat Mamanya dan Monica sudah tidur. Monica diberikan obat penenang karena sedari tadi histeris tidak percaya kalau wajahnya menjadi jelek seperti itu.
"Mama sudah tidur Pa?" tanya Ronald pada Edwardo yang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Bahkan Edwardo sedang tertawa saat ini, mungkin sedang menghubungi para wanitanya, terserahlah! Malas sudah Ronald peduli dengan Edwardo saat ini.
"Sudah, Mamamu tadi menjerit terus melihat wajahnya, dokter dan perawat sampai bingung mendiamkannya, terpaksa diberikan obat," ucap Edwardo dengan santai.
"Hmmm … begitu, Papa sampai besok kan menunggu di sini, jangan tinggalkan Mama sendiri, kalau tidak bisa katakan padaku, aku akan suruh pelayan yang menjaga Mama di sini," ucap Ronald bernada sedikit kesal.
"Iya, Papa sampai besok, kamu pulanglah! Kasihan istrimu sepertinya lelah sekali," ucap Edwardo melihat wajah Nara yang masih pucat.
Ronald pun mengangguk, dia juga sebenarnya malas kalau menunggu Monica bersama Edwardo. Sudah tua tapi masih saja suka bermain wanita. Dia saja tidak pernah melirik wanita lain, heran sekali Ronald dengan kelakuan Papa tirinya ini.
"Kita pulang, honey! Aku pulang dulu Pa," ucap Ronald dan langsung meninggalkan kamar. Christin sudah tahu tentang Monica tetapi karena kondisi wajahnya yang masih seperti itu, Ronald tidak mengizinkan Christin datang, biar saja dia menunggu di rumah. Semua juga sudah dalam kendali, bahkan Ronald sengaja meletakkan dua bodyguarnya yang lain untuk berjaga di luar kamar.
Nara hanya memeluk erat Ronald di dalam mobil, dia saja masih sangat takut mengingat kejadian itu. Ronald pun memberikan kesempatan istrinya tidur tanpa mengganggunya sama sekali.
Sesampainya di rumah, Nola memang sengaja belum tidur menunggu Tuan rumah yang selalu menjadi fantasinya, ternyata Ronald pulang menggendong Nara. Ada sedikit kesal di dalam hati Nola.
CK! Cari perhatian sekali.
Nola melihat baju Nara yang berlumur darah dengan cepat Nola mendekati Ronald.
"Nona kenapa Tuan?" tanya Nola mendekat dan mengikuti gerakan Ronald ke kamarnya. Begitu cepatnya juga Nola mengikuti Ronald dari belakang bahkan tanpa disuruh.
__ADS_1
Saat ini Ronald mengabaikan apa yang Nola tanyakan karena tidak penting untuk dia menjelaskan masalah keluarganya pada seorang pembantu.
Saat Nola ingin ikut masuk, barulah Ronald menatap tajam Nola.
"Apa aku menyuruhmu ikut masuk ke dalam kamar?" tanya Ronald dengan sinis dan Nola terdiam di depan pintu, sedangkan Ronald menutup pintunya dengan keras.
Lancang sekali! Kalau bukan karena kebaikan Nara, Ronald sudah tentu akan mengusir wanita itu. Nara terlalu baik dengan orang yang tidak dikenal tetapi Ronald tidak bisa juga menolak permintaan istrinya. Nara mengingat dirinya dulu yang terlunta-lunta sudah tentu Nara akan membantu jika melihat wanita seperti itu juga.
"Honey, kamu kenapa tidak bangunkan aku kalau sudah sampai," ucap Nara memanyunkan bibirnya.
"Kamu lelah honey, aku tidak tega. Honey, kamu mandilah dulu! Tubuhmu itu banyak sekali noda darah dan baunya amis," ucap Ronald dengan lembut. Nara pun mengangguk. Dia berdiri dan langsung menuju toilet. Sedangkan Ronald pergi ke walk in closet miliknya untuk berganti pakaian tidur.
"Lelah sekali!" Ronald menarik piyama tidurnya dan seketika dia melihat ada kemeja putihnya yang aneh, ada warna lain di dekat lehernya.
Tentu saja terlihat karena warna itu mencolok dan cetakan bibir itu sungguh tidak membuat Ronald selera melihatnya.
"Kenapa honey menggodaku dengan cara seperti ini?" tanya Ronald melihat cetakan bibir itu. Tidak anggun sama sekali. Ketika mendengar bunyi pintu kamar mandi terbuka, Ronald membawa kemejanya pada Nara.
"Aku tidak pernah melakukan itu honey, jangan-jangan kamu sengaja membuat aku cemburu menunjukkan cetakan bibir di kemejamu itu," tunjuk Nara pada hidung Ronald.
Kurang kerjaan sekali Ronald melakukan itu pada Nara. Dia masih banyak pekerjaan lain. Buat apa dia melakukan ini.
"Honey, tidak mungkin aku sengaja menunjukkan padamu kalau aku sengaja membuatmu cemburu, kamu ada-ada saja, Ya sudah! Kemeja ini aku letakkan di kantung laundry. Nanti katakan pada Sumi, untuk mengatakan pada mereka. Cucian pakaian kantorku tidak bersih, aku bisa komplain kalau seperti ini," ucap Ronald kesal.
Nara tertawa karena melihat Ronald yang marah hanya karena ada noda cetakan bibir di kemejanya. Sebenarnya yang membuat Ronald aneh, Nara kenapa tidak cemburu? Biasanya kalau wanita melihat ini, mereka pasti langsung mencurigai suaminya.
Tok … Tok …
Bunyi ketukan pintu membuat Nara langsung melengos ke arah pintu kamar mereka.
__ADS_1
"Siapa yang mengetuk?" Nara yang masih menggunakan bathdrobe hitam sehabis mandi, langsung bergerak mendekati pintu.
"Nona, saya bawakan minuman jahe untuk Nona dan Tuan, saya lihat Nona tadi pingsan, saya takut terjadi apa-apa," ucap Nola langsung masuk tanpa disuruh Nara lebih dulu.
Nara mengkerutkan keningnya dan menghela nafasnya pelan.
"Terima kasih, Nola!"
Nara melihat minuman jahe yang Nola buat untuk mereka dan sedikit melirik Ronald yang tengah duduk bersandar di punggung ranjang sambil bermain ponsel.
"Kalau Nona Nara lelah, saya bisa membantu Nona memijatkan punggung Nona, saya hanya takut Nona besok sakit," ucap Nola yang selalu mencari alasan untuk sedikit lebih lama memandangi Ronald.
"Tidak perlu Nola, Suamiku sudah mau tidur, aku juga tidak pegal, kalau aku pegal pasti aku akan memanggilmu, kamu bisa keluar saat ini," ucap Nara dengan lembutnya.
Nola sedikit mengumpat Nara dalam hati karena telah mengusirnya. Padahal dia ingin melihat Ronald.
"Baik Nona, saya permisi!"
Ketika Nola keluar, Ronald berdiri dan mengambil minumannya ketika Nara ingin meminum air jahe itu.
"Mau di bawa ke mana, honey?" tanya Nara mengikuti Ronald yang ternyata membuangnya ke wastafel.
"Kenapa dibuang honey, aku mau minum!" Nara merajuk karena tingkah Ronald saat ini.
"Aku tidak percaya padanya, honey! Kamu harus ingat, jangan minum apapun yang dia berikan!" seru Ronald sebagai perintah untuk Nara ikuti.
"Kamu tidak boleh seperti itu, honey! Air jahe itu bagus untuk tubuh," ucap Nara kesal.
"Yang bagus untuk tubuhku itu, air susumu," ucap Ronald dengan nakal.
__ADS_1
Dasar laki-laki gila ini, selalu saja menggodanya. Nara tertawa sambil mencubit perut Ronald karena mendengar kata-kata gila Ronald. Mereka akhirnya tertidur sambil berpelukan.
To Be Continued ….