Stop Loving You

Stop Loving You
Celebrate With Maturity


__ADS_3

"Jangan seperti anak kecil Ronald, aku benar-benar sangat lelah, kamu … kamu tidak tahu apa yang aku alami begitu berat dan menyiksa hatiku, mungkin jika itu kamu, aku rasa kamupun tidak akan sanggup," ucap Nara dengan tangis dan tersendat karena bingung bagaimana merangkai kata agar Ronald mengerti isi hatinya tanpa melukai perasaannya. Sungguh Nara masih memikirkan agar Ronald tidak membenci Mamanya.


Padahal seharusnya Nara katakan saja yang sejujurnya tetapi mulutnya begitu rapat menyimpan pahit yang di alaminya. Ingin dia mengutuk dirinya sendiri.


Katakan saja Nara pada Ronald, agar Ronald tahu kebusukan Mamanya.


Bisik sesuatu yang jelek dalam pikirannya. Nara menepiskan pikiran jeleknya dan tetap pada pendiriannya. Sesuatu yang seperti itu memang mudah untuk di katakan tetapi akan berdampak buruk ke depannya. Nara tidak menginginkannya makanya dia memilih pergi dan mengalah daripada hidup dalam bayangan dan tersiksa.


"Terserah apa yang mau kamu katakan, Nara! Aku memang tidak bisa hidup tanpamu," ucap Ronald menggenggam tangan Nara dengan erat. Sudah seperti ini. Jelas akan sulit lepas dari belenggu Ronald. Dia akan mengurungnya lagi persis sama ketika Nara di Jakarta.


Tidak! Ingatan tentang Monica yang bisa menjangkaunya membuat Nara memeluk dirinya sendiri. Monica bisa datang kapanpun dan kembali melukainya.


"Aku ingin pulang!" Nara menepiskan tangan Ronald dan berjalan cepat menuju rumahnya. Nara jelas tahu bagaimana sifat Ronald, dia akan melakukan apapun untuk membuat Nara kembali lagi bersama dengannya. Bahkan dengan cara kasar sekalipun, Ronald akan melakukan itu.


Dia tidak kuat hidup tanpa Nara. apalagi setelah bertemu dengan Nara seperti ini.


"Aku temani kamu, honey! Kita pulang bersama ke Jakarta," ucap Ronald menggapai tangan Nara. Nara kembali berusaha melepaskan dan kali ini tangan Ronald terlalu erat menggenggamnya. Nara membuang nafasnya kasar dan melihat Ronald.


"Apa kamu suka kalau aku mati dulu, baru kamu akan meninggalkanku?" tanya Nara dengan sinis dan getir di bibirnya.


"Honey, kenapa kamu tidak pernah mengerti perasaanku. Aku mencintaimu, tidak cukupkah membuatmu mengerti, aku pun lelah dengan penolakanmu seperti ini tetapi aku tidak bisa tanpamu," ucap Ronald dengan lembut memberikan pengertian pada Nara.


"Kamu ingin aku memaafkan kesalahanmu?"


Ronald mengangguk dengan cepat, dia ingin sekali Nara memaafkan kesalahannya dan kesalahan orang tuanya, dia ingin hidup bersama dengan Nara secara normal.


"Menikahlah dengan Rosalinda! Dengan begitu aku akan memaafkanmu," ucap Nara tanpa perasaan sedikitpun. Ronald tersenyum sinis.

__ADS_1


Menikah dengan Rosalinda? Kalau begitu Nara tidak perlu memaafkannya. Ronald punya cara sendiri yang lebih ampuh dari itu.


"Nara, jangan menguji kesabaranku! Aku tidak sesabar yang kamu pikirkan. Apa kamu pikir aku sebodoh itu mau menikah dengan wanita yang tidak aku cintai, lebih baik aku menikah denganmu, bukan?" Ronald menyeringai.


Nara justru membuat Ronald berpikir hal yang sama. Kali ini Ronald menggotong Nara kembali ke Villanya.


Biarlah Nara marah padanya, benci padanya asal Nara tetap hidup dengannya, di sampingnya. Selamanya!


"Lepaskan aku Ronald! Lepaskan, kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Nara yang melihat nafas Ronald yang memburu. Dia sudah cukup bersabar bermain-main cinta selama ini. Dia bukan lelaki tamatan SMA yang cukup puas dengan kata cinta saja. Dia jelas sudah berumur dan saat ini sudah cukup umurnya untuk menikah.


Kalau Nara keras seperti ini, sudah tentu cara lain akan Ronald gunakan untuk mendapatkan Nara. Mendapatkan hatinya!


"Kamu mau apa Ronald?"


Ronald membawa Nara ke Villanya dan mengunci Nara di dalam kamarnya. Dengan senyum sinisnya, Ronald membuka semua pakaian yang melekat pada tubuhnya.


Ronald tidak membiarkan Nara menjawab pertanyaannya dan malah memaksa kedekatan mereka. Dengan tangannya Ronald melepaskan semua kain yang menutupi tubuh Nara. Ronald sudah gila saat ini. Nara memukul dada Ronald cukup keras untuk membuat Ronald sadar dengan kelakuannya. Namun, usaha Nara gagal. Ronald malah semakin menjadi-jadi menjelajahi rongga mulut Nara dan membasahi bibir Nara dengan kecupannya yang kasar.


Sudah lelah! Jika Nara selalu menolaknya seperti ini, jalan ini adalah satu-satunya yang dipilih Ronald meski nanti Nara membencinya. Setelah ini Ronald akan membawa Nara langsung ke Jakarta dan mendaftarkan pernikahan mereka.


Tidak perlu restu. Ronald tidak butuh restu orang tuanya.


"Ronald sadaaar …."


Ronald kini turun beralih pada leher jenjang Nara dan menghirup tubuh Nara yang selalu menjadi candu untuknya. Tidak di pedulikannya Nara yang meronta-ronta dan mencakar punggungnya. Justru itu membuat Ronald semakin memburu. Nafasnya sudah tidak beraturan lagi saat dia mulai bermain pada gundukan Nara.


"Cukup Ronald berhenti! Cukup!" Kembali Nara menjerit tetapi tetap Ronald tidak peduli. Nyatanya Nara begitu gilanya menyuruh dia menikah dengan wanita lain. Apa Nara tidak tahu hidupnya hampir mati karena memikirkan keadaan Nara, sedang di mana? Nara terus saja angkuh menyuruhnya bersama wanita lain.

__ADS_1


"Kamu yang menginginkan semua ini, Nara! Kamu memaksa aku melakukan ini," ucap Ronald dengan tegas. Saat Ronald melebarkan kaki Nara, Nara mendorong keras tubuh Ronald dan menutup tubuhnya dengan selimut.


"Jangan … jangan seperti ini Ronald! Kamu sedang marah saat ini, aku mohon, kita bisa bicarakan baik-baik," ucap Nara dengan nafasnya yang naik turun. Dia menutupi tubuhnya agar Ronald sadar apa yang dia lakukan saat ini salah.


Bukan malah mendengarkan, Ronald malah menarik kaki Nara hingga dia mendekat ke arah Ronald.


"Kamu tidak ingin kembali denganku, bukan? Dengan begini, kamu menjadi milikku sepenuhnya Nara, aku pun sudah lelah, aku ingin bersama denganmu tetapi kamu selalu ingin menjauh, aku tidak ingin lagi bermain-main. Sudah waktunya untuk kita bahagia tanpa memikirkan orang lain," ucap Ronald yang kembali ingin memaksakan kehendaknya.


Nara menelan salivanya. Saat ini penglihatan Ronald sudah penuh dengan hasratnya yang terpendam pada Nara. Akan sulit bagi Nara meredamnya.


Nara memeluk Ronald dengan erat dan berbisik di telinga.


"Jangan seperti ini, honey! Aku mau kita kembali ke Jakarta, aku mau pulang bersama denganmu tetapi bukan seperti ini caranya, bisa kita bicara baik-baik," ucap Nara dengan lembut dan mengelus punggung Ronald dengan lembut.


Ronald tersenyum dengan bahagianya dan membalas pelukan Nara dengan erat.


Kenapa susah sekali membuat Nara mengerti apa yang dia mau sebenarnya. Haruskah dia melakukan cara kotor seperti ini, baru Nara akan kembali dengannya? Ronald tidak pernah ingin melakukan semua ini, dia hanya tidak ingin Nara berpikir untuk menyuruhnya menikah dengan wanita lain. Daripada dia memberikan miliknya pada wanita lain, lebih baik dia melakukan yang pertama dengan Nara.


"Maafkan aku, honey! Jangan takut, aku tidak akan melakukannya sampai kita sudah sah sebagai suami istri," ucap Ronald mengajak Nara masuk ke dalam pelukannya dan tidur bersama. Nara menggigit bibir bawahnya dan menutup matanya. Pikirannya bergejolak saat ini. Bagaimana dia bisa menghindari Ronald, dia harus berpikir keluar dari Villa ini. Nara jelas tidak akan mau bertemu lagi dengan Monica.


Sudah cukup baginya kesakitan yang Monica buat untuknya tetapi Ronald jelas tidak akan melepaskannya.


To Be Continued ….


Follow IG Madammeyellow


Jangan lupa kasih votenya buat cerita Madamme. Supaya novel ini naik dan Madamme semangat nulisnya.

__ADS_1


Like dan komentar juga. Hadiahnya juga boleh dikasih sama madamme. Semuanya deh. Hahahah ….


__ADS_2