Stop Loving You

Stop Loving You
If Not Love For What Together


__ADS_3

Ronald sedang berada di toko kue kesukaan Nara saat ini, kue yang sama setelah tujuh tahun kue itu pun masih di jual di toko ini.


"Sudah lama sekali, aku tidak kesini denganmu, aku merindukan saat-saat indah bersama denganmu," ucap Ronald melihat kue tiramisu dengan white cream dan taburan coklat di atasnya.


Masih ingat di benak Ronald saat Nara menyuapinya sesendok tiramisu yang sangat lumer di mulutnya, padahal Ronald tidak suka kue manis tetapi karena Nara yang menyuapinya, apapun itu, Ronald tetap akan suka.


"Tolong bungkus kue yang ini," tunjuk Ronald pada kue tiramisu yang ada di dalam etalase kaca itu.


Sebelum pulang, Ronald akan membawakan kue ini untuk Nara, juga dia akan membawakan makanan, Ronald tidak tahu Nara masak atau tidak karena Nara tidak memegang ponsel dan Ronald tidak percaya dengan Nara. Ronald takut Nara meninggalkannya.


Selama menunggu kue itu di masukkan ke dalam kotak, seseorang wanita kembali menyapa Ronald.


"Ronald, kamu beli kue di sini juga?" tanya Rosalinda yang tiba-tiba ada di toko kue kecil ini.


Tidak mungkin sekali Rosalinda yang dari keluarga kaya di Indonesia, menyukai toko kue kecil seperti ini kalau tidak memang sedang membuntuti kemana dia pergi.


"Ya kekasihku yang suka," jawab Ronald dengan santai tanpa peduli perasaan Rosalinda. Rosalinda bahkan tersenyum santai seolah hal itu biasa saja karena dia pun tahu Ronald seorang playboy dan memiliki kekasih yang tidak terhitung jumlahnya.


Rosalinda juga tahu kalau tidak ada wanita yang serius dalam hati Ronald. Semua data itu dia dapatkan langsung dari Monica.


"Aku juga suka tiramisu, sepertinya seleranya sama denganku," ucap Rosalinda kembali menarik perhatian Ronald.


"Dia sangat suka tetapi aku tidak, seleraku tidak sama dengannya tetapi kalau dari tangan dia, apapun itu pasti aku suka!"


Ronald berusaha membuat hati Rosalinda jengkel tetapi sayangnya apa yang sedang Ronald katakan sama sekali tidak mempengaruhi hati Rosalinda. Dia tetap suka dengan laki-laki dingin ini.


Ronald bahkan tidak terlihat seperti playboy.

__ADS_1


"Ronald, malam ini kamu punya waktu untukku, aku sedang berada di hotel mariot sendirian," ucap Rosalinda mendekati Ronald dan menggosok lengan Ronald dengan lembut.


Rosalinda memberikan kode untuk bercinta dengan Ronald. Ronald sama sekali tidak tertarik, tidak mungkin dia tertarik saat ada Nara dalam hidupnya.


Tujuh tahun Ronald hidup tanpa perhatian Nara, saat Nara berada dekat dengannya, sudah tentu waktunya akan dia habiskan dengan Nara. Meski Nara selalu mengatakan kalau dirinya sudah tidak suci lagi. Tidak mengapa, asal Nara bersama dengannya. Dia sudah lelah hidup dalam kesepian, dia ingin perhatian seperti dulu. Ingin cinta Nara seperti dulu.


"Maaf Rosalinda, aku sudah bilang kalau aku akan bersama kekasihku, kamu tentu punya telinga mendengar apa yang aku katakan tadi," ucap Ronald sinis dan menyingkirkan tangan Rosalinda lalu tanpa peduli dengan wanita itu dan basa-basi sedikitpun, Ronald kembali ke mobilnya.


Nara sudah lama menunggunya, jangan-jangan Nara kelaparan seperti kemarin. Oh iya, tidak ada makanan apapun, jelas Nara sedang kelaparan saat ini.


Astaga Ronald! Apa yang kamu lakukan? Kamu hampir saja membunuh kekasihmu. Sesampainya di apartemen, dengan cepat Ronald berlari menuju lantai apartemennya.


Setelah membuka kunci kombinasi apartemennya, Ronald naik ke lantai atas kamarnya dan menemukan Nara sedang tertidur dengan pulas.


"Honey, bangun! Aku membawakan kamu kue kesukaanmu," bisik Ronald dengan lembut di telinga Nara. Suaa Ronald yang berbisik membangunkan tidur Nara yang nyenyak.


"Kamu lapar?" tanya Ronald pada Nara saat Nara membuka kedua matanya yang cantik. Nara menggeleng, dia tidak lapar, dia sudah makan dan kebetulan dia memasak karena kulkas Ronald berisi banyak bahan untuk dia masak.


Ronald tahu, Nara bukanlah wanita suci lagi untuknya tetapi dia sungguh tidak bisa meninggalkan Nara. Cintanya terlalu besar untuk Nara. Semula Ronald berpikir, ingin menghancurkan Nara, ingin membunuhnya bila perlu tetapi melihatnya yang saat ini tidur di dalam kamarnya. Semua itu sirna!


"Sampai kapan aku di dalam apartemenmu Ronald? Aku ingin keluar, kamu menahan ponselku dan aku sama sekali tidak tahu kunci apartemenmu," ucap Nara duduk di bibir ranjang dan Ronald yang sedang memeluknya dari belakang dan bertengger pada pundak Nara. Ronald ingin bermanja dengan kekasihnya ini.


"Sampai kamu menerimaku kembali," jawab Ronald dengan santai dan mengecup pundak Nara yang polos.


"Tidak mungkin!"


Ronald tertegun dan menggertakkan giginya, kesal sekali dia mendengar jawaban Nara yang tidak sesuai dengan keinginannya.

__ADS_1


"Kenapa? Masih enak menjadi wanita murahan daripada hidup denganku?" tanya Ronald dengan sinis. Nara tersenyum getir dan selalu berusaha sabar dengan ucapan Ronald yang tajam dengannya.


"Ya! Aku suka menjadi wanita murahan, bukankah lebih enak selalu berganti pasangan dan memuaskan lelaki yang berbeda-beda, aku suka melakukannya," ucap Nara yang terlihat menantang Ronald.


Ronald membalik tubuh Nara dengan cepat dan mencengkram dagu Nara dengan keras.


"Kalau begitu puaskan aku, jadilah wanita murahan untukku, kamu pantas disebut wanita murahan Nara."


Ronald menghempaskan tubuh Nara di ranjang tanpa sempat Nara melawan dan dengan ceoat Nara melentingkan tubuhnya tetapi sia-sia. Ronald merobek pakaian Nara dan mulai menciumi leher Nara dengan kasar dan meninggalkan banyak berkas di sana.


"Lepaskan Ronald, aku jijik denganmu!"


Apapun yang dilakukan Nara percuma saja, Ronald tetap tidak ingin melepaskan Nara. Nara menahan tangisnya saat Ronald mulai menjalari tubuhnya dan tidak peduli dengan jeritan Nara. Gaun tidur Nara bahkan sudah robek dan tidak berbentuk lagi.


"Aku masih suci, Ronald!" ucap Nara lirih dan menangis sesegukan. Ronald belum sampai tahap itu saat Nara berbisik seperti itu padanya. Ronald berhenti dan melihat Nara yang menangis diperlakukan sehina itu oleh Ronald. Ronald bahkan tidak bermaksud melakukan itu kalau saja Nara tidak memprovokasi nya.


"Lalu kenapa kamu tidak menyangkal saat aku menuduhmu? Kenapa Nara?" tanya Ronald dengan keras.


"Karena aku tidak ingin lagi kembali padamu, aku sudah tidak ingin bersama denganmu tetapi kamu tidak mengerti, aku sudah tidak menyukaimu," ucap Nara dalam derai air matanya.


"Berikan alasan yang tepat, kenapa kamu tidak ingin kembali bersama denganku?" tanya Ronald dengan tatapan matanya yang tajam.


"Karena tidak cinta tentu saja tidak perlu bersama, bukankah tali yang sudah putus meski di sambung lagi akan menimbulkan bekas sambungannya, tidak akan bagus di lihat, begitu juga hubungan kita," ucap Nara mencari perumpamaan yang membuat Ronald menyunggingkan senyumnya.


"Hubungan itu tidak sama dengan tali yang kamu maksudkan, tali tidak punya perasaan seperti perasaanku padamu, tali tidak pernah tahu bagaimana berjuang untuk berhasil demi seorang wanita kejam yang bahkan sampai sekarang aku tidak pernah tahu kesalahanku," teriak Ronald dalam kamarnya. Nara menangis!


"Kamu kejam Dinara dan aku tidak akan membiarkan hidupmu bahagia dengan orang lain. Kamu hanya boleh bersama denganku! Titik!"

__ADS_1


Ronald kembali berdiri dan membiarkan Nara menangis sendirian di dalam kamar dengan tubuhnya yang polos dan kamar yang berantakan akibat ulah Ronald padanya.


To Be Continued ….


__ADS_2