
Ketika mau pulang ke rumah, Nara tiba-tiba menghubungi Ronald.
"Sudah di mana honey?" tanya Nara dengan perasaan khawatir karena ini sudah larut dan Ronald belum pulang ke rumah.
"Tidak perlu menungguku di luar, Hun! Ini sudah malam, tunggu saja di dalam kamar, sebentar lagi mobilku masuk gerbang," ucap Ronald ketika mobilnya tiba di depan gerbang rumahnya yang belum terbuka dan security dengan cepat membuka gerbang pintu rumah Ronald ketika mendengar bunyi klakson dua kali yang dihidupkan supir pribadi Ronald.
Ternyata istrinya ini bandel, sudah Ronald katakan untuk tidak menunggunya di depan rumah, Nara sudah sedari tadi di sana mengkhawatirkan Ronald. Betapa bahagianya Nara ketika melihat Ronald pulang ke rumah, Ronald membuka pintu mobilnya dan Nara langsung menghambur masuk ke dalam pelukan Ronald.
"Kok lama pulangnya?" tanya Nara dengan wajahnya yang manja.
"Kita cerita di dalam saja, honey! Panjang sekali ceritanya, kamu kenapa tidak pakai baju panjang kalau keluar, seperti ini masuk angin, honey!" ucap Ronald dengan kesal.
Nara tidak merasa kedinginan dia menutup tubuhnya dengan jaket tebal meski di menggunakan gaun tidurnya.
"Maaf ya honey, lain kali aku pakai baju panjang," ucap Nara masih dalam pelukan Ronald. Ronald mengajak istrinya kembali ke kamar dan mulai bercerita tentang yang baru menimpa Mama dan Papanya, Ronald memang selalu jujur dengan Nara, tidak ada rahasia dalam hidupnya yang dia simpan dari Nara.
"Jadi wanita itu bagaimana pulangnya, honey?" tanya Nara ingin tahu, Monica ternyata kejam sekali, bukan hanya menjambak, mencakar, bahkan selingkuhan suaminya pakaiannya dia sobek.
Mengerikan! Andai saja Ronald tahu kalau Monica juga suka memukul. Lengkap sekali wanita itu.
"Aku tidak tahu honey, itu bukan urusanku, aku hanya memberikan kompensasi untuknya. Mama melukai wajahnya sangat dalam, aku rasa itu akan menjadi bercak di wajahnya nanti kalau sudah mengering," ucap Renald sambil tidur di sebelah istrinya dan menyandarkan Nara ke dalam dada bidangnya.
"Honey, kenapa Mama tidak meminta cerai saja dari Papa?" tanya Nara bingung. Kalau bercerita soal Mama Ronald, Nara tidak takut, asal jangan ada Monica. Nara malas bersuara kalau ada mertuanya yang jahat itu.
"Aku tidak mengerti honey, hanya Mama saja yang tahu, mungkin karena sangat mencintai Papa, aku juga tidak tahu. Itu urusan mereka, meski aku anaknya, aku tidak berhak ikut campur," ucap Ronald dengan santai dan mulai mengelus rambut Nara agar cepat tidur.
Istrinya ini seharusnya sudah tidur dua jam yang lalu tetapi karena Ronald belum pulang, Nara mana bisa memejamkan matanya.
"Tidurlah, sudah malam sayang!"
__ADS_1
Nara mengangguk dan masuk ke dalam pelukan Ronald. Sedangkan pertengkaran hebat antara Monica dan Edwardo terjadi di rumah mereka.
"Rumah ini atas namaku, kalau kamu tidak suka dengan kelakuanku, kamu bisa pergi, tinggal bersama dengan Ronald!" tegas Edwardo yang terang-terangan mengusir monica dari rumahnya.
"Aku juga punya hak atas rumah ini, aku istri sahmu dan kalau kamu berani menceraikan aku, aku akan menuntut semua hakku, bukan hanya itu saja, aku akan membuat wanitamu itu tidak akan lagi berani melihat matahari karena malu dengan wajahnya yang aku rusak! Lakukan saja, jika memang kamu berani," tantang Monica dengan tegasnya
"Gila! Kenapa aku dulu bisa menyukai wanita gila sepertimu," ucap Edwardo pergi meninggalkannya dan masuk ke dalam kamar, mengunci Monica di luar agar Monica tidak masuk dan mengganggunya.
Monica mendengus kesal. Edwardo sudah sering sekali berganti pasangan seperti ini, bahkan dengan dirinya saja sudah lama mereka tidak melakukannya.
Ya sekarang dia sudah tua, tidak sehebat dulu di ranjang dan wajahnya juga sudah menunjukkan tanda-tanda keriput meski dia sering ke dokter kecantikan, itu jelas tidak bisa ditipu di bagian tertentu yang tidak terlihat.
Dia tidak akan meninggalkan rumah, enak saja Edwardo bahagia dengan selingkuhannya sementara dia di luar sana menderita. Tidak akan Monica biarkan.
Monica mempunyai rencana licik untuk suaminya dan dia akan mulai merencanakan kelicikannya mulai besok.
Paginya, Monica sudah bangun sangat pagi sekali tetapi Edwardo ternyata sudah pergi ke kantornya, dia malas bertemu Monica yang semalam membuatnya malu lagi dan kali ini malunya karena ada Ronald yang melihat perselingkuhannya.
Kembali lagi ini Monica meretoki keluarga Ronald, dia bahkan membawa sarapan pagi untuk Ronald, nasi goreng buatan tangannya sendiri. Monica tidak mau kalah, melihat anaknya yang suka nasi goreng, dia pun ingin mengambil hati Ronald dengan membuat nasi goreng.
"Tepat sekali Mama datang, kalian ternyata sedang sarapan," sapa monica di pagi hari dengan senyumnya yang merekah.
"Oh Mama, duduk di sini Ma," ucap Nara dengan senyumnya, seperti akrab sekali dengan Monica. Monica mengumpat dalam hatinya, mengejek Nara yang seolah-olah seperti tuan rumah di rumah anaknya. Menjijikan sekali.
"Ronald, Mama masakin kamu nasi goreng, kalau kamu sudah makan, ini bekalnya di bawa saja ke kantor," ucap Monica membuka nasi goreng yang sangat cantik tampilannya itu.
"Ronald baru saja makan nasi goreng buatanku, Ma. Mungkin sudah kenyang," ucap Nara dengan santainya.
"Iya Ma, Ronald kenyang, Mama bisa berikan pada Nara atau kepada pelayan kita, siang ini aku makan di luar kantor," ucap Ronald sambil mengecap kopi yang disiapkan istrinya. Ronald terbiasa minum kopi karena Nara selalu membuatnya di pagi hari.
__ADS_1
"Kenapa Mama pagi sekali ke rumah, habis bertengkar dengan Papa?" tanya Ronald melirik Mamanya yang kesal dengan pertanyaan yang Ronald katakan.
"Iya Papamu mengusir Mama, Mama malam ini boleh menginap?" tanya Monica.
Nara menggigit bibirnya, pasti Monica sedang merencanakan sesuatu yang bahaya, Ronald juga tidak pulang sore hari ini.
"Mama pilih saja kamar yang cocok untuk Mama," ucap Ronald. Monica pun sudah selesai.
"Kalau untuk sehari atau dua hari, Mama boleh menginap, kalau untuk selamanya lebih baik mama pergi, atau tinggal di apartemenku saja," tawar Ronald karena dia tidak suka jika Nara sakit, tubuhnya yang penuh luka karena Mamanya membuat Ronald trauma mendekatkan Nara pada Mamanya.
Setelah Ronald pergi kerja seperti biasa. Monica kembali mengejek Nara.
"Kamu tidak bekerja atau hanya mengandalkan uang Ronald" tanya Monica sinis.
"Untuk apa bekerja Ma, Ronald tidak ingin aku sakit," jawab Nara membuat kesal Monica.
"Istri tidak bisa diandalkan sepertimu pasti akan ditinggalkan suami," ucap Monica kesal.
"Apa Mama juga seperti itu dengan Papa Edwardo?"
Pertanyaan Nara membuatnya kesal saat ini.
"Mama mungkin terlalu kasar selama ini," Monica mencibir, dia tidak punya musuh dalam bisnisnya, musuhnya hanya wanita simpanan suaminya dan juga Nara.
"Urusi saja rumah tanggamu, tidak perlu sok perhatian," ucap Monica meninggalkan meja makannya dengan Nara yang tertawa.
Tidak tahu apa Nara sedang bahagia karena perselingkuhan suaminya.
To Be Continued ….
__ADS_1