
Martin menyunggingkan senyumnya saat melihat Sonya yang kebingungan. Bodyguardnya tidak bergeming bahkan tidak melirik sekalipun. Sonya padahal sudah meminta untuk dibukakan pintu.
"Pak, aku sudah selesai sama Tuan kalian, bisa pintunya dibuka!" pinta Sonya dengan suara lembut dan senyumnya yang menggoda. Tetap saja mereka diam.
Sonya menghela nafasnya, susah ternyata bicara dengan patung hidup. Martin melihat dari jauh dan hanya tersenyum dengan tangan dilipat ke dadanya. Perlahan Martin mendekat dan Sonya bisa merasakan suara sepatu yang mendekat ke arahnya. Sonya menoleh dengan memicingkan matanya.
"Buka pintunya, Martin! Kalau tidak aku teriak!" ancam Sonya tidak main-main. Martin malah menaikkan bahunya. Martin ingin lihat apa yang akan Sonya lakukan. Dia juga tidak akan melarang jika Sonya berteriak.
Sonya berdecak kesal dan menghentakkan kakinya ke lantai.
Ya Tuhan kesal sekali aku dengan laki-laki ini.
Martin tertawa melihat kelakuan Sonya yang kesal dan mengacak rambutnya frustasi.
"Godain aku dulu, baru aku buka!" Martin pun suka melihat Sonya yang menjebilkan lidahnya. Sepertinya Sonya tidak akan mau melakukan semua itu.
"Hanya itu caranya keluar sayang, kamu tidak punya pilihan atau kamu boleh berteriak kalau memang ada orang yang mau menolongmu. Aku hanya akan memberitahu kamu kalau sepanjang villa ini adalah milikku, tidak ada orang lain saat ini kecuali kita berdua," ucap Martin tertawa nakal. Sonya menggeleng dan melihat Martin sinis.
Seharusnya dia tidak menurut tadi. Kalau saja kecupan itu tidak menggoda imannya.
Ah ini gara-gara kamu yang penasaran dengan First Kiss, Sonya! Maka kutuklah kamu sendiri.
Sonya memilih berteriak.
"Tolong … Tolong!"
Krik … Krik … Krik
Tidak ada yang mendengar. Percuma! Martin malah tertawa melihat tingkah Sonya sambil memegang perutnya karena ini lucu sekali. Baru kali ini ada wanita yang tidak ingin bersama dengannya. Padahal biasanya Martin yang harus mengusir mereka.
"Aku mau keluar, Martin! Tolonglah, bukankah aku sudah memberikan apa yang kamu mau, lalu apa lagi maumu?" tanya Sonya dengan wajah memelasnya. Kali ini Sonya akan merasa dirinya menderita agar Martin melepaskannya.
Martin jadi tidak tega. Memang benar apa yang Sonya pelajari. Air mata wanita adalah kelemahan laki-laki. Hahahha ….
"Honey, kita baru sebentar di sini, aku tidak akan melakukan apapun padamu, bahkan ini belum sampai satu jam. Aku masih ingin tahu kamu, kamu tahu bukan kalau aku tidak sering ke Indonesia dan jika aku ke Indonesia pun, itu pasti alasannya karena ada kamu," ucap Martin mendekat dan mengelus pipi Sonya dengan lembut.
Maka kamu jangan datang-datang, aku juga tidak menginginkan kamu ke Indonesia.
Sonya kembali mengumpulkan air matanya, kali ini harus berhasil. Bermanja sedikit juga boleh daripada tidak keluar dan dilecehkan oleh Martin.
"Martin, nanti kan bisa lagi, aku … aku sudah lelah," ucap Sonya berbohong dan kali ini suaranya lebih mesra dan Martin jadi tidak tega dan menggosok rambut Sonya dengan lembut.
"Tidur di sini saja," ucap Martin menatap wajah Sonya yang sungguh cantik. Sonya tidak terlihat seperti orang Indonesia. Matanya berwarna coklat dan kulitnya sungguh putih bersih.
"Rutinitas aku sebelum tidur pasti membersihkan wajah, pakai cream wajah biar sehat, aku harus bersihin make up aku, kalau tidak besok tumbuh jerawat, aku tidak mau," ucap Sonya dengan manja. Ya manja sedikit tidak apa. Laki-laki biasanya suka melihat wanita manja.
"Pakai punya aku!"
__ADS_1
Kali ini Sonya tidak punya alasan. Meski dia laki-laki, Martin pun punya pembersih wajah. Dia juga selalu merawat kulitnya meski dia seorang laki-laki.
"Aku kalau Merk-nya tidak cocok, besok timbul merah-merah bercak seperti itu," lanjut Sonya mencari-cari alasan.
CK! Martin memutar bola matanya malas.
"Aku tidur di tempatmu," ucap Martin santai dan Sonya langsung membelalakkan matanya.
"Aku tidak mau!"
"Honey, come on! You're always looking for a way to get home, when I want to be with you, you don't want to either. I'm going home tomorrow, so when can we meet again? I still want to see you!" Martin menggenggam tangan Sonya dengan sangat hangat.
Aduh, kalau begini caranya. Aku tidak kuat. Cara dia menatap aku juga begitu lagi, jantung sudah tidak karuan ini.
Sonya mendumel dalam hatinya, dia tidak sanggup mendengar Martin yang menggodanya seperti ini. Pantas sekali wanitanya banyak pikir Sonya. Begini caranya menggoda wanita.
"Martin, apa kamu seperti ini pada seluruh wanita yang kamu temui?" tanya Sonya memberanikan dirinya.
"No," jawab Martin santai.
Bohong! Padahal aku tahu semua gosip tentang dia dan dia masih mengingkari. Dasar pembohong!
"Please! Honey, just a minute. I want to talk with you." Martin kembali membawa Sonya ke tempatnya tadi dan kali ini Sonya mengikutinya.
Ok hanya sekedar kiss dan tidak lebih, toh dia juga sudah melakukannya. Lehernya bahkan penuh tanda merah dan tidak bisa lagi dipungkiri. Besok terpaksa Sonya menggunakan syal. Bagaimana kalau pulang, Daddynya melihat tanda merah itu. Oh Sonya harus pandai menutupi dengan make up!
"Kamu mau bicara apa?" tanya Sonya duduk di sebelah Martin, kali ini dia menurut saja. Daripada nanti tidak di buka pintu oleh laki-laki ini. Sonya sebenarnya tidak menyangka, bisa duduk bersama Martin yang hebat. Mungkin banyak diluar sana wanita yang memimpikan saat seperti ini dengannya.
"Honey, minggu depan aku akan datang lagi! Kamu mau apa?" tanya Martin menyelipkan anak rambut ke telinga Sonya.
Apa? Dan untuk apa Martin memberikan semua itu padanya. Mereka bukan pasangan kekasih yang di mabuk asmara. Apa Sonya harus menyadarkan Martin akan hal ini.
"Memang kita akan bertemu lagi?" tanya Sonya dengan gilanya. Martin menghembuskan nafasnya kasar.
Bagaimana otak wanita cantik ini berpikir, Martin tidak mengerti. Apa yang dia tanyakan sungguh membuat Martin emosi.
"Bukannya kita sama sekali tidak ada hubungan, telpon atau berkirim pesan saja tidak pernah, terus alasan apa untuk bertemu denganmu," lanjut Sonya membuat kesal dan merusak malam indah Martin.
"Jadi hubungan kita sekarang, kamu pandang seperti apa?" tanya Martin dengan senyum simpulnya.
"Angin lalu …." Sonya berpikir dan matanya mulai kesal melihat Martin yang tersenyum sinis melihatnya.
Angin lalu? Wow … tidak ada satu orang pun wanita yang menganggap Martin adalah angin lalu dari hidupnya dan Sonya dengan tegas mengatakan kalau hubungan mereka hanya seperti angin lalu yang hanya berhembus satu kali lalu pergi.
Martin mendekati Sonya dan kembali menarik pinggang Sonya tanpa adanya perlawanan Martin mengecupi bibir Sonya dengan lembut. Bahkan Sonya sudah berusaha melepaskan dirinya tetapi tidak bisa.
"Mar … Martin! Ummmm … Lepasin!" Sonya mengambil nafas dalam. Ya Tuhan! Sampai tidak bernafas Sonya karena kelakuan Martin.
__ADS_1
Gila ini orang!
"Kamu harus ingat kalau sudah punya kekasih, itu aku! Apa kamu pikir aku menciumi semua bibir wanita?" tanya Martin dengan tatapan tajamnya.
"Kapan kita jadian?" tanya Sonya yang masih bingung.
Kapan Martin mengucapkan kata cinta, tidak pernah ada dan terus kenapa mereka harus menjalin kasih hanya karena kecupan bibir.
"Kalau karena kamu menciumi bibirku, kamu tidak perlu tanggung jawab dan merasa bersalah, aku juga mau tetapi bukan berarti kita pacaran. Kamu salah mengerti!"
Sonya kembali berdiri dan kali ini Martin memeluknya dari belakang.
"Dasar nakal!" Martin mendaratkan bibirnya pada ceruk leher Sonya dan kali ini Sonya menggeleng.
Dasar gila!
Akhirnya Sonya pasrah, terserah Martin mau menganggapnya apa, toh walaupun Sonya berkeras kalau dia tidak suka Martin. Laki-laki bangsawan ini tetap akan memonopoli hidupnya.
Malam ini mereka habiskan dengan pertanyaan tidak penting, keringat dan tanda merah yang banyak tentunya. Sampai akhirnya Martin mengantar Sonya pulang dan itu sudah larut malam.
Sonya terpaksa menutupi bagian pundak dan lehernya karena habis karena Martin. Sudah cukup dia bertemu dengan laki-laki ini. Meski Minggu depan dia pulang, Sonya tidak akan mau bertemu dengannya.
"Honey, Villa mu ramai sekali laki-laki, aku jadi tidak nyaman," ucap Martin ikut masuk dan melihat banyak tamu pesta dan pengusaha yang juga temannya malam ini. Kenapa mereka di villa Sonya.
Sonya melihat Jonathan di luar bersama temannya dan pintu terbuka tetapi seolah ada laki-laki dan wanita yang sedang bercinta.
Apa itu Cantika? Bersama siapa?
"Siapa itu?" tanya Sonya tegas pada Jonathan sambil menunjuk ke arah kamar.
"Cantika bersama Roy," ucap Jonathan yang mabuk tetapi masih sandar dan kesal melihat Sonya bersama Martin.
"Dia kekasihmu dan kamu biarkan dia bercinta dengan laki-laki lain, keluar kalian semua!" seru Sonya dengan tegas.
Tidak ada yang bergeming sampai Martin yang bersuara.
"Keluarlah atau kalian akan berurusan denganku nanti!"
Tidak ada yang berani melawan Martin, mereka tahu Martin seperti apa orangnya dan mereka juga masih punya bisnis dengan Martin apalagi Martin banyak investasi di Indonesia.
Jonathan masuk dan menyuruh Roy keluar.
"Kamu Gila, Jonathan!"
"Bukan aku yang gila, temanmu yang menginginkannya," ucap Jonathan dengan tegas. Sonya menyelimuti Cantika yang polos saat ini. Bagaimana bisa Cantika punya kekasih tidak bermoral seperti Jonathan.
To Be Continued ….
__ADS_1