
"Sekarang kamu sudah mulai berani ya, di depan Ronald kamu berpura-pura polos, aku sudah tahu aslinya wanita sepertimu itu," ucap Monica geram karena kelakuan Nara saat ini secara tidak langsung sedang mengusirnya dari rumah Ronald. Baru berapa hari jadi suami Ronald, Nara sudah mulai menunjukkan perlawanannya.
Nara hanya tersenyum dan malas menanggapi apa yang sedang mertuanya ini katakan, silahkan berasumsi sendiri, yang jelas Nara memang tidak akan melawan Monica di depan Ronald karena dia tidak ingin melihat Ronald kecewa dengannya.
"Maaf Ma, aku kira Mama tadi berdiri ingin pulang, oh iya Ma, kalau ke rumah, telpon dulu, mungkin aku bisa memasak yang enak untuk Mama, sepertinya Mama tidak selera makan pagi ini," ucap Nara dengan senyum. Saat ini Monica sudah berada di pekarangan rumah Ronald, di dekat mobilnya dan Nara berdiri sedikit jauh mengantarkan Monica pulang.
Berdiri terlalu dekat, sudah tentu tidak akan baik untuknya. Enak kalau dia bisa melawan. Ini hanya akan pasrah kalau dipukuli. Ya tentu saja, Nara tidak mungkin ikut menjambak mertuanya. Itu bukan lawan seimbang untuknya.
"Tidak perlu! Makanan yang di masak oleh tanganmu itu tidak bersih, aku takut malah akan menjadi penyakit untukku," ucap Monica sinis dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Daa Ma," jawab Nara dengan lembut dan senyumnya.
Huuh … akhirnya pulang juga. Entah kenapa setelah pagi ini, Nara memutuskan untuk tidak pindah ke Bogor. Nyatanya dia bisa melawan mertuanya. Kalau dia jauh dari suaminya. Mengingat tingkah mertuanya yang selalu ingin menjodohkan Ronald. Bagaimana kalau suaminya tergoda dan meninggalkannya.
Nara masuk ke dalam rumah dan mengambil ponselnya, saat ini Ronald tidak lagi melarang istrinya menggunakan ponsel karena untuk apa dilarang lagi, Nara sudah utuh menjadi miliknya, Nara tidak akan mungkin kabur apalagi mengingat Nara yang aktif di ranjang dan juga membutuhkan kebutuhan biologisnya. Sudah tentu Ronald tahu kalau Nara sangat mencintainya.
"Halo honey, Mama sudah pulang sayang, barusan pulangnya. Makasih ya kamu sudah mengerti aku, aku memang tidak ingin ke Jerman," ucap Nara dengan lembut dan duduk di sofa.
Ronald sedang ada meeting saat ini tetapi melihat telpon istrinya dengan cepat Ronald keluar dan mengangkatnya. Ini telpon penting bagi Ronald.
"Iya honey, yang penting kamu bahagia ya sayang, kalau mau belanja minta temani sama bodyguard bawa empat orang, kalau dua tidak cukup untukmu," jawab Ronald dengan lembut. Ya Ronald memang sangat mencintai Nara, Ronald hanya berharap Nara bisa membaca isi hatinya. Dia seperti orang konyol beberapa tahun ini karena Nara meninggalkannya.
"Aku tidak ingin belanja honey, siapa yang mengatakan aku ingin belanja, aku hanya ingin mengatakan kalau aku ingin tinggal di Jakarta menemanimu, apa kamu senang mendengarnya?" tanya Nara begitu antusias. Dia yakin kalau Ronald akan sangat senang.
Ronald tidak bisa menolak permintaan Nara, sudah dia katakan sejak awal kalau Nara tidak nyaman mereka bisa tinggal di luar negeri dan Nara malah memilih Bogor.
__ADS_1
"Kamu yakin honey? Terima kasih honey, kamu mengerti sekali aku tidak bisa jauh darimu."
Ronald tersenyum lebar sekali bahkan tertawa bahagia karena istrinya telah memutuskan untuk tinggal bersama dengannya. Ronald tahu Nara bisa melawan ibunya, Ronald tidak akan memberi tahu Nara kalau dia mendengar semua apa yang dibicarakannya dengan Monica. Jika Nara tidak melapor, itu pasti baik-baik saja dan Nara bisa mengatasinya.
Ronald hanya lucu saja saat Nara mengatakan kalau dia bekerja memang agar Nara menghamburkan uangnya.
Karena itu benar sekali, Ronald suka melihat Nara yang menghabiskan uangnya daripada memendam rasa akan sesuatu yang dia inginkan.
Jadilah istri Ronald Wijaya sesungguhnya, Ronald tidak miskin, dia kaya saat ini. Jadi tidak perlu ragu untuk menghabiskan uangnya.
"Sangat yakin honey, aku takut kamu tidak makan kalau aku jauh, hahaha … kamu cepat pulang ya sayang, aku merindukanmu." Bahagia sekali ternyata menikah dengan Ronald. Kenapa malah dia takut ketika itu, Ronald melindunginya. Sangat tahu apa isi hatinya, seharusnya Nara percaya pada Ronald.
"Aku juga sangat merindukanmu, honey. Sangat! Aku lanjut meeting ya sayang, kebetulan siang aku sudah pulang, honey! Karena sebelumnya kita berjanji akan ke Bogor, siang ini kita belanja sayang, pakaian kantorku sudah mulai habis," ucap Ronald dengan lembut.
Itu hanya alasan Ronald saja, bagaimana bisa pakaian di dalam lemarinya habis, bahkan itu banyak sekali dan Nara melihat masih ada merk-nya yang belum di lepas, sungguh tertata rapi dari baju, celana, dasi, jam tangan dan sepatunya. Hingga parfum mahal juga begitu banyak berbanding terbalik dengan miliknya yang masih tidak seberapa dengan ukuran lemari yang sama. Sudah tentu kalau siang ini, Ronald akan menemani istrinya belanja, dengan kata lain 'Menghamburkan uangnya', suka sekali Ronald dengan kata-kata itu keluar dari mulut manis istrinya.
Ah, membayangkannya saja sudah membuat Ronald berkedut. Tidak! Dia harus fokus karena saat ini sedang ada meeting.
"I love you," ucap Ronald sebelum memutuskan panggilan telponnya.
"Sangat," balas Nara dengan penuh cinta. Ronald memutuskan panggilan telponnya dan meletakkan ponselnya ke dada. Bagaimana bisa jantungnya berdegup sekencang ini ketika Nara menjawabnya.
Aku seperti jatuh cinta berulang-ulang denganmu.
Begitupun Nara, perasaannya membuncah mendengar tutur kata suaminya yang selalu menyejukan hatinya, tidak ada sedikitpun bantahan dan penuh akan cinta.
__ADS_1
"Ah kenapa aku jadi malu, padahal suami sendiri," gumam Nara terkekeh dan berlari menuju kamarnya.
Dia akan berhias karena Ronald akan pulang sebentar lagi atau siang ini sebelum belanja Ronald menginginkan lagi, Nara menggeleng. Sebaiknya dia jangan berpakaian rapi dulu, siapa tahu Ronald mengajaknya untuk bermesraan. Bukankah mereka pengantin baru.
Nara bahkan mempunyai rasa yang sama akan itu tetapi malu untuk memintanya lebih dulu. Rasa sakit semalam masih terasa pedih tetapi Nara ingin mengulangnya. Di manja Ronald sedalam itu membuat Nara sangat-sangat bahagia.
Setelah makan siang, Ronald pun kembali ke rumahnya dan melihat istrinya yang sedang membaca majalah di dalam kamar, santai sekali Nyonya Ronald ini, seperti tidak ada beban hidupnya.
"Honey!" teriak Ronald sambil mengejutkan Nara dan merentangkan kedua tangannya. Nara langsung berdiri dan menghambur masuk ke dalam pelukan Ronald.
"Kangen ya?" tanya Ronald sambil mengecupi puncak kepala istrinya dan Nara mendongak dan mengangguk manja sembari memanyunkan bibirnya.
Oh manja sekali.
"Seharian aku tidak ada kerjaan honey, kamu meeting dan aku tidak bisa bicara denganmu, kalau begini aku bisa bosan di rumah seharian," jawab Nara dengan lembutnya.
Cup!
Oh Oh apa ini! Istrinya sudah mulai nakal, sudah langsung duluan mengecupi bibirnya, bukan kah, ini kode keras pikir Ronald.
"Jangan menggodaku, honey! sampai siang ini aku terus menahannya," ucap Ronald dengan seringai nakalnya.
"Tidak perlu di tahan, aku pun menginginkannya," balas Nara dengan menggigit bibir bawahnya.
Oh kalau begitu tentu saja Ronald tidak akan sungkan lagi.
__ADS_1
To Be Continued ….