
Sudah hampir satu bulan dan Nara benar-benar dalam kondisi baik sekarang, dia benar-benar sehat dan Ronald sudah tidak lagi merasa takut kalau Nara sedang tidur. Biasanya Ronald pasti akan mengganggu Nara tengah malam hanya untuk memastikan kalau Nara hanya tidur bukan seperti kemarin.
Selama itu juga, Nara berjuang untuk bisa memberikan ASI nya sendiri, dia minum obat pelancar ASI, makan sayur yang banyak, buah-buahan. Semua Nara lakukan hanya demi bisa menghasilkan ASI.
Ronald sampai tidak tega melihat istrinya yang jadi makan banyak sampai dia mual tetapi tetap saja di makannya.
"Kamu jangan paksa diri kamu, honey! Aku tidak pernah memaksa kamu memberikan ASI pada Sonya, aku hanya ingin kalian berdua sehat," ucap Ronald saat melihat Nara yang matanya basah karena memaksa makan sayur bayam yang banyak tetapi tetap tersenyum.
"Sonya harus ASI sayang, aku akan berusaha semampuku, jika aku bisa, aku akan memberikan dia ASI sendiri," ucap Nara tersenyum.
Hmmm … susah memang kalau bicara dengan Nara, dari dulu Nara keras kepala. Apa yang dia katakan akan dia lakukan tidak peduli seberapa sulit rintangan itu.
Sejenak Ronald membuang nafasnya pelan. Ada yang dia pikirkan, Ronald kembali bingung bagaimana menjelaskan pada Nara kalau saat ini dia sudah tidak punya rahim lagi. Terus terang saja ini sangat sulit untuk Ronald.
Sebenarnya hanya rahim Nara yang diangkat tetapi dua indung telurnya masih sehat, tetap saja tidak bisa hamil.
"Honey, semenjak aku bangun sampai sekarang, aku belum periode, apa karena efek melahirkan kemarin ya? Waktu aku koma, aku periode tidak, honey?" tanya Nara saat sedang santai di dekat kolam renang bersama Ronald dan Sonya. Nara sedang memberikan ASI nya pada Sonya.
Sudah Ronald duga, Nara pasti akan curiga dengan kondisi tubuhnya saat ini.
"Tidak pernah, honey!" jawab Ronald pelan.
"Sudah berapa bulan jadi aku tidak periode, apa itu akan masalah ya honey, aku takut terjadi pendarahan lagi, apa kita ke dokter saja, aku tidak ingin terjadi lagi sesuatu seperti kemarin," ucap Nara dengan lembut sambil melihat Ronald yang jadi gelisah dengan permintaan Nara.
Kali ini Nara pasti tahu dengan kondisinya, Ronald belum siap mendengar dia menangis. Nara pasti hancur kalau tahu dia sudah tidak lagi bisa hamil dan mengandung anaknya.
"Honey, kenapa kamu diam?" tanya Nara saat melihat Ronald hanya diam saja.
Bagaimana mengatakannya?
Ronald menggaruk keningnya karena sungguh dia belum sanggup mendengarkan Nara bersedih.
__ADS_1
"Ke Dokter yah, hmmm … iya boleh honey, siang nanti kita ke dokter ya sayang," ucap Ronald mengelus pipi Nara dengan lembut. Nara tersenyum dan bersandar pada lengan Ronald.
Jarang mereka punya waktu berkualitas seperti ini.
Siangnya mereka bersiap ke rumah sakit, mungkin sudah saatnya Nara tahu dan Ronald tetap akan menemani istrinya meski dalam kondisi sekarang. Cinta Ronald sama sekali tidak berkurang malah semakin besar. Sungguh dia sangat tega kalau meninggalkan Nara yang seperti ini. Dengan matanya sendiri, dia berjuang antara hidup dan mati sampai dia rela mengorbankan rahimnya demi anak yang dikandungnya. Anak mereka.
Tentu jika Ronald dalam posisi Nara, dia tidak akan sanggup merasakan sakit seperti itu.
"Honey, yang harus kamu tahu, aku sangat mencintaimu, saat kamu sempurna atau tidak sama sekali," ucap Ronald sebelum mereka berangkat ke rumah sakit.
Nara kembali memeluk Ronald.
Apa yang laki-laki ini katakan? Setiap hari dia bilang cinta padaku, sudah seperti pertama kali pacaran saja.
"Aku juga!" balas Nara dengan lembutnya.
Tidak tahu Nara kalau saat ini Ronald tengah berjuang dengan hatinya, bahkan saat ini juga Ronald rasanya ingin membatalkan ke rumah sakit. Bagaimana dia menghadapi Nara nanti, itulah yang terus Ronald pikirkan.
"Ibu Dinara, silahkan masuk!" seru perawat yang membuat jantung Ronald kembali berdegup dengan kencang.
"Hun?" panggil Ronald sebelum mereka masuk, Ronald rasanya ingin menarik kembali Nara.
"Ya honey, kenapa? Dari tadi kamu gelisah sekali, aku tidak apa-apa sayang, kamu lihat sekarang aku sehat," ucap Nara dengan senyum paling indah dan cantiknya.
Senyum itu akan hilang ketika pulang nanti, aku tidak kuat rasanya.
"Aku bahagia denganmu, aku cinta kamu, kamu tahu kan, aku hanya cinta kamu?"
"Tahu honey, setiap hari kamu mengatakan itu," ucap Nara terkekeh. "Sudah ayo! Dokter, sudah menunggu kita," lanjut Nara menarik Ronald untuk masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.
Akhirnya Nara diperiksa dan dilakukan USG, jelas Nara tidak mengerti tampilan di USG menunjukkan apa, dia hanya orang awam. Tidak tahu tentang kedokteran itu seperti apa.
__ADS_1
Setelah selesai, Dokter Viola tersenyum hangat dan menjelaskan dengan lembut kondisi Nara. Ronald mengusap wajahnya dan kembali menggenggam tangan Nara dengan sangat erat. Tangannya dingin dan basah.
"Nara, kondisi kamu baik-baik saja dan tidak ada masalah sama sekali, kalau masalah periode, memang untuk wanita yang sudah tidak punya rahim, dia tidak akan lagi mengalami periode," ucap Dokter itu pelan dan tersenyum. Viola tahu ini pasti berat untuk Nara. Nara tidak lagi tersenyum. Dia malah terdiam! Matanya mulai berkabut.
Tidak punya rahim? Maksudnya , aku tidak punya rahim lagi?
Tiba-tiba Nara mengeluarkan air matanya dan melihat Ronald yang terus melihatnya. Ini ternyata maksud Ronald mengucapkan cintanya terus menerus sampai Nara bosan mendengarnya.
"Tetapi kamu masih punya dua indung telur masih sehat, hanya rahim kamu yang kemarin di angkat. Tentu saja itu menyebabkan kamu tidak akan bisa hamil lagi, meski bayi tabung sekarang sedang tren tetapi kamu juga tidak punya rahim untuk menampung tempat calon janin yang sudah dipertemukan, di Indonesia menggunakan rahim pengganti masih dilarang," ucap Viola dengan sejelasnya.
Nara menangis sesegukan sambil menutup mulutnya. Jadi sekarang dia wanita yang cacat. Dia tidak akan bisa lagi memberikan anak pada Ronald.
"Dokter terima kasih," ucap Ronald dengan cepat membawa Nara dan membopongnya sampai di mobil. Sudah Ronald katakan kalau dia tidak tega melihat Nara yang sedih seperti ini.
"Kenapa tidak bilang padaku?" tanya Nara dengan lirih dan suaranya yang sangat kecil. Ronald mendekap tubuh Nara yang bergetar dengan sangat hebatnya. Ini berat untuk Nara, Ronald sangat tahu betul.
"Aku tidak bisa melihat kamu menangis, honey! Aku tidak bisa mengambil senyummu, kamu dengar dan kamu harus ingat, apapun kondisimu sekarang, aku tetap akan mencintaimu, aku tidak peduli kamu bisa hamil lagi atau tidak, yang penting bagiku kamu masih hidup dan menemaniku sampai kita menua dan mati bersama," ucap Ronald dengan matanya yang berkabut. Nara tidak bisa lagi bicara, dia hanya menangis pilu dan terisak. Sampai di rumah, Nara bahkan digendong Ronald ke dalam ranjang, dia diam dan lelah sekali menghabiskan air matanya.
Ronald menemani Nara sampai di ranjang. Tidur di sebelah Nara sambil melihat Nara yang melamun. Sonya dipegang oleh pengasuhnya dan jika dia minta susu sekalipun, Nara sudah menyiapkan ASI-nya yang sudah dia pompa kalau dia sedang senggang.
"Aku tidak bisa lagi punya anak," ucap Nara lirih tetapi kali ini dia lebih tegar.
"Kita sudah ada Sonya, honey! Aku bahagia dengan kalian bertiga," jawab Ronald mengelus pipi Nara dengan lembut sambil berbaring berhadapan.
"Honey, kalau menggunakan bayi tabung itu berarti harus dengan rahim wanita lain tetapi itu anak kita ya?" tanya Nara dengan polosnya.
"Jangan berpikir macam-macam, aku tidak akan pernah melakukan itu," ucap Ronald tegas.
"Aku hanya bertanya, honey!"
Nara juga tidak mungkin melakukan itu. Dokter Viola jelas mengatakan kalau di Indonesia hal seperti itu masih di larang.
__ADS_1
To Be Continued ….