
Sonya dari tadi diam saja, sampai di kantor pun dia tidak komentar.
"Daripada dijodohkan dengan Jonathan, lebih baik sama Javier," ucap Ronald sambil menatap Sonya.
Sonya tersenyum kecut.
Itu sama saja Dad, coba carikan aku jodoh yang lebih baik.
Sonya memutar bola matanya malas. Hari ini sungguh malas sekali dia melakukan apapun. Entah kenapa Sonya sama sekali tidak tertarik dengan kedua laki-laki itu.
Masih mending Martin. Eh … kok aku mikirin dia.
Sonya tersenyum simpul dan melihat ponselnya yang mati dari pagi.
"Pasti sekarang Martin lagi kesusahan mencariku," gumam Sonya di ruangan Daddynya yang lagi pusing memikirkan soal masalah perusahaannya. Ini sama sekali tidak sesuai prediksinya dan menikahkan Sonya dengan Jonathan adalah sesuatu yang juga bukan dalam pikiran Ronald.
Calon Sonya harus yang masuk seleksi seperti Javier. Sayangnya, Sonya tidak suka. Heran saja Sonya, apa bagusnya Javier. Daddynya hanya tidak tahu kalau Javier sama sekali tidak menjaganya. Huhh.
Tok … Tok …
"Permisi Pak, ada tamu dari luar," ucap sekretaris Ronald.
"Siapa?" tanya Ronald mengkerutkan keningnya. Rasanya dia tidak ada janji. Sonya pun duduk di sofa sambil bermain ponselnya yang satu lagi. Sonya belum tahu apa yang harus dia kerjakan dan lebih baik dia melihat dulu.
"Tuan Martin dari Brunei," jawab sekretaris itu yang membuat Sonya terkejut dan menoleh ke arah pintu tepat Martin masuk ke dalam ruangan Daddynya.
Mau mati sajalah aku.
Sonya meringis dan diam-diam ingin keluar dari ruangan Ronald kalau saja bodyguard Martin tidak menutup pintu itu setelah Martin masuk.
OMG! Sonya menutup wajahnya. Dari mana Martin tahu dia ada di sini dan dari mana Martin tahu kantor ayahnya. Luar biasa sekali. Tidak bisa dianggap sepele.
"Oh, Mr. Martin, silahkan duduk!" Ronald langsung merangkul pundak Martin dan menyuruh Martin duduk di sofa tempat Sonya sedari tadi diam.
Habislah aku!
Martin menyunggingkan senyumnya menatap Sonya dan lebih sinis lagi ketika melihat Sonya sedang bermain ponsel tetapi sedari tadi dia kesulitan menghubungi Sonya.
Bagus!
"Apa yang membuat Mr. Martin sampai ke kantor saya, suatu kehormatan sekali," ucap Ronald dengan bahagianya. Martin menyilangkan kakinya menatap Sonya di depannya.
Ronald yang sadar pun memperkenalkan Sonya pada Martin.
"Ini putri saya, namanya Sonya, dia baru bekerja di kantor ini," ucap Ronald merangkul pundak Sonya dan Sonya tersenyum terpaksa melihat Martin.
"Saya tidak akan basa-basi, karena waktu saya juga tidak banyak Mr. Ronald, saya tahu kalau perusahaan anda sangat bagus sekali, rencananya saya akan menanam investasi di Indonesia dan saya akan memulai dari perusahaan anda untuk mengelolanya," ucap Martin dengan tegas sambil menatap Sonya yang melengos ke arah lain.
__ADS_1
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Rasaya pribahasa ini tepat sekali untuk menggambarkan keadaan Ronald saat ini. Serasa mendapatkan durian runtuh.
"Oh tentu saja! Mr. Martin bisa mempercayakan pada perusahaan kami," ucap Ronald tersenyum bahagia. Sonya memang selalu membawa keberuntungan untuk perusahaannya. Bukan pertama kali perusahaan Ronald diambang kehancuran tetapi berkat Sonya selalu saja ada keberuntungan.
"Nanti asisten saya yang akan mengurus semuanya, saya juga tertarik berinvestasi pada apartemen yang sekarang sedang perusahaan Mr. Ronald bangun, rencananya juga saya akan memiliki beberapa property, bisakah saya melihatnya lebih dulu," ucap Martin sambil melihat Sonya yang sumpah sama sekali tidak peduli padanya.
Padahal waktu Martin benar-benar sangat sulit bertemu Sonya dan Sonya sama sekali tidak peduli. Bagus sekali!
"Kebetulan saya sedang ada meeting sebentar lagi, apa tidak masalah kalau putri saya yang mengantar anda untuk melihat beberapa property yang kami sedang tangani," ucap Ronald dengan senyumnya.
Oh tentu saja! Itulah malah yang aku mau.
"Sayang sekali, sebenarnya saya lebih suka melihat bersama Mr. Ronald. Baiklah! Tidak masalah," jawab Martin dengan seringainya.
OMG! Habislah aku sekali ini.
"Sonya, kamu antar Mr. Martin melihat property kita," ucap Ronald yang sama sekali tidak bisa dibantah Sonya. Sonya paling tidak bisa membantah Daddy dan Mommynya jadi walau Ronald menyuruhnya masuk jurang pun, Sonya pasti akan melakukannya.
"Baik Dad!"
Sonya pergi bersama Martin, sama sekali bukan ke arah yang di maksud. Sonya masih diam di dalam mobil, menunggu Martin sendiri yang bicara dan Martin sama seperti Sonya. Menunggu Sonya berbicara atau setidaknya minta maaf padanya.
"Ehem …." Akhirnya Martin tidak tahan.
"Mana ponselnya?" tanya Martin menengadahkan tangannya meminta ponsel dari tangan Sonya. Sonya meringis dan berdecak kesal dengan wajah sedihnya Sonya memberikan ponsel satunya pada Martin dan kali ini Martin menghubungi ponselnya sendiri.
"Ada di dalam tas," jawab Sonya dengan wajah sedihnya.
Martin mengangguk.
"Kenapa tidak bilang padaku kalau perusahaan keluargamu sedang dalam masalah, kalau saja pada saat aku bertemu klienku tadi, mereka tidak cerita, aku pasti tidak akan tahu," ucap Martin menajamkan matanya menatap Sonya.
Bahkan aku pun baru tahu semalam. Untuk apa aku cerita pada orang lain. Aneh sekali!
"Aku tidak sempat," jawab Sonya bohong.
"Lalu kenapa kamu menonaktifkan ponselmu?" tanya Martin dengan tegas.
Ya ampun laki-laki ini cerewet sekali. Pusing kepalaku menghadapinya.
"Lupa di isi dayanya, maaf yah!" Sonya menunjukkan wajah memelasnya dan akhirnya Martin luluh.
Sudahlah! Dia ke Indonesia bukan untuk marah-marah dengan Sonya.
"Aku merindukanmu, honey. Sini peluk!" Martin merentangkan tangannya berharap Sonya masuk ke dalam pelukannya dan Sonya malah diam.
Krikk … Krikk … Krikk …
__ADS_1
Tidak ada tanda-tanda Sonya berinisiatif memeluk Martin dan Martin akhirnya sadar kalau Sonya memang tidak akan menjadi wanita yang aktif seperti wanita lain. Huhh!
Martin menarik tangan Sonya dan memeluknya dengan hangat.
"Kamu kenapa rindu aku?" tanya Sonya dalam pelukan Martin.
"Namanya juga pasangan honey, pasti saling merindukan kalau jauh, masa kamu tidak mengerti," ucap Martin melepaskan pelukannya dan mendongakkan wajah Sonya.
Cup!
Sonya langsung menutup mulutnya dengan tangan.
"Kamu tidak bisa sembarang yah Martin, langsung kiss bibir aku seperti itu," ucap Sonya menajamkan matanya.
"Mau aku kasih tahu Mr. Ronald, foto kamu yang no dua," ancam Martin sambil tertawa.
Bahkan Martin hafal semua nomornya. Laki-laki gila!
No dua posenya paling hot, jangan yang itu. Daddy pasti murka. Bisa dinikahin aku sama Martin.
"Kiss aku!" Martin menunjukkan bibirnya pada Sonya.
"Ayo Kiss!" paksa Martin, Sonya memanyunkan bibirnya. Sumpah dia tidak bisa melakukan apapun dan terpaksa memajukan bibirnya. Maju saja tapi tidak menempel.
Martin tertawa dan mendekatkan bibirnya pada bibir Sonya.
"Love you, honey! Aku tidak bertemu denganmu sehari, rindunya berat sekali, aku bingung kenapa," ucap Martin setelah mengecup bibir Sonya dengan lembut.
"Kamu kan sama semua wanita juga cinta," jawab Sonya malas.
Aku tidak akan percaya padamu! Kamu punya satu wanita tiap negara, aku tidak akan percaya. Jangan tergoda Sonya! Ingat dia ini playboy!
Cup!
Sonya yang dulu mengecupi bibir Martin.
"Itu untuk tanda terima kasihku padamu, kamu menyelamatkan aku dari perjodohan yang tidak aku inginkan, hampir saja aku jadi istri Jonathan," ucap Sonya tertawa.
"Kamu itu jadi istriku!" jawab Martin memeluk Sonya geram. Sonya tertawa dan mencubit hidung Martin dengan lembut.
Sedang Jonathan sudah menerima laporan kalau Martin datang ke kantor Sonya dan menanam investasi di perusahaannya.
Sial!
To Be Continued ….
Kalau Senin nanti Vote novelnya mencapai 20. Madamme akan update 3 bab 3 hari berturut-turut.
__ADS_1