Stop Loving You

Stop Loving You
I Love You Ronald


__ADS_3

Ronald mengganti pakaian Nara karena Nara muntah sangat banyak sekali, untung saja itu tidak di ranjang mereka tetapi di lantai, sayangnya Ronald tidak ingin pelayan yang membersihkannya, biarkan saja dia yang membersihkan bekas muntah kekasihnya. Meski sedikit jijik tetapi itu milik Nara.


"Honey, jangan lagi mabuk, kamu tidak bisa mabuk, kamu seperti orang kesurupan," ucap Ronald menggeleng melihat Nara yang sekarang sudah tidur.


Sayang sekali dia dengan wanita manja itu, sebenarnya Nara sangatlah manja dengan Ronald, sayangnya semenjak kejadian itu, Nara tidak pernah lagi berhubungan dengan Ronald apalagi ingin bermanja. Dia seolah menahan dirinya agar tetap jauh dari jangkauan Ronald.


Setelah selesai membersihkannya, Ronald mandi air dingin di tengah malam seperti ini. Dia hanya ingin mendinginkan tubuhnya yang hangat karena kelakuan nakal Nara padanya.


Nara lupa dengan dirinya, malam ini dia benar-benar menggoda Ronald untuk tidur bersama dengannya, bahkan ketika Ronald bertanya, Nara dengan senang hati memberikannya.


Sungguh tidak bisa dipercaya, untung saja mabuk bersama dengan Ronald. Kalau saja Nara mabuk dengan Andre atau laki-laki manapun, Nara jelas akan kehilangan kesuciannya.


Tidak terasa sudah pagi, Nara mengerjapkan matanya dan mengeratkan urat tangannya ke atas. Membuka matanya pelan dan memiringkan tubuhnya melihat tirai putih yang sudah terbuka di terbangkan angin dan Ronald yang sedang berenang.


Seulas senyum Nara terbitkan dari wajahnya.


Tunggu dulu? Semalam Nara tidak ingat sama sekali apa yang terjadi dan bagaimana bisa dia berakhir di ranjang dengan gaun sexy ini, bahkan gaun tidurnya begitu menggoda iman kalau saja Ronald melihatnya.


"Siapa yang menggantinya?" Nara menarik selimutnya sebatas dada karena apa yang tersaji sungguh sangat indah daripada mentari di pagi hari.


Nara melihat pakaiannya yang berserakan di lantai bahkan ada juga underwearnya.


Ya Tuhan … siapa yang mengganti semua ini?


Nara hanya berharap bukan Ronald yang melakukannya. Nara pun bergerak menuju kopernya untuk mencari pakaian ganti lain tetapi tidak ada, bagaimana bisa tidak ada?


Semua ini pasti ulah Ronald, dia pasti yang menyembunyikan semua pakaiannya.

__ADS_1


"Ronald, di mana kamu simpan pakaianku? Katakan! Aku ingin berganti pakaian," ucap Nara dengan lembut menghampiri Ronald yang sedang berenang saat ini.


Wow … ini baru pemandangan indah pikir Ronald. Padahal semalam dia sendiri yang menggantinya dan membuat Ronald tersiksa.


Gaun tidur itu mini sekali, mana yang tersaji bagian atasnya sungguh tidak bisa membuat Ronald berpaling untuk tidak melihatnya.


Ini namanya surga dunia pikir Ronald.


"Honey, aku tidak menyimpan apapun, kamu hanya membawa pakaian itu dan semalam itu kamu mabuk, hun," ucap Ronald menjelaskan sejujur-jujurnya.


"Kenapa bisa mabuk, honey? Kamu salah ambil gelasku semalam, berterima kasihlah padaku karena aku yang membersihkan muntahanmu itu," lanjut Ronald keluar dari kolam renang dan menuju di mana Nara berdiri.


"Tidak mungkin, aku ingat jelas membawa semua pakaianku, malah tidak banyak karena aku tahu kita akan pulang hari ini, di tas itu tidak ada lagi apapun," ucap Nara kebingungan karena pakaian apa yang akan dia gunakan kalau begitu.


"Kita beli saja yang baru, honey! Itu tidak masalah, kamu jangan khawatir. Nanti aku suruh Janu yang menyiapkan untukmu," ucap Ronald menyimpulkan anak rambut ke daun telinga Nara. Baru Ronald ingin mendekatkan bibirnya berharap di berikan morning kiss pagi ini tetapi apa yang terjadi di luar dugaan, Nara menghindar dan ingin pergi menjauh.


Sebelum itu Ronald menarik tangan Nara.


Benarkah? Benarkah Nara segila itu?


Nara meringis dan tidak percaya dengan kelakuannya. Ah tidak mungkin! Jelas Ronald hanya ingin membodohinya.


"Tidak percaya, mau aku perlihatkan?" Ronald mengambil ponselnya dan menunjukkannya pada Nara.


Nara menutup mulutnya karena tidak percaya kalau itu dirinya. Bagaimana bisa dia sendiri yang menyisir duluan pada bibir Ronald dan Ronald membalasnya begitu menggairahkan.


"Ronald maaf, semalam aku benar-benar tidak ingat apa yang terjadi, kamu lupakan saja!" Wajah Nara menjadi merah, malu sekali dia menghadapi Ronald. Bisa-bisanya dia berteriak cinta dengan Ronald.

__ADS_1


Ceroboh sekali kamu Dinara, Ronald pasti tahu sekarang kalau kamu masih sangat mencintainya.


"Tidak mungkin aku lupakan, honey! Aku tahu perasaanmu padaku, aku tahu kamu juga masih sangat mencintaiku tetapi aku tidak ingin mengambil kesempatan itu meski semalam aku bisa melakukannya," ucap Ronald bertahan pada pundak Nara dan menghembuskan pelan nafasnya pada leher Nara. Mensejajarkan dirinya agar setara dengan tubuh Nara yang mungil.


"Kamu tahu kenapa?" tanya Ronald membalik tubuh Nara dan menyentuhkan hidungnya pada hidung Nara. Menabrakkan hidungnya yang mancung dengan hidung Nara.


"Karena aku bukan hanya ingin tubuhmu tetapi aku ingin hatimu, aku menjagamu sama seperti kamu menjaga hatimu selama aku pergi jauh, aku tahu Nara! Jauh dalam lubuk hatimu, kamu masih sangat mencintaiku, kenapa dipendam honey?"


Nara terdiam dan mendongak menatap mata Ronald yang saat ini sedang menatapnya tanpa jarak sedikitpun bahkan sebentar lagi bibir itu akan mendekat dan mencicipi manisnya bibir Nara di pagi hari.


Tidak ada jawaban, hanya terdengar Nara yang menelan salivanya. Ronaldpun dengan pelan mendekatkan bibirnya, bermain dengan lembut dan memasukkan lidahnya pelan dan bermain dengan lembut di sana, Nara tidak menolak, bahkan menutup matanya dan membuka bibirnya, sengaja membuat Ronald mengeksplorasi di dalam mulutnya. Menikmati kelembutan yang diberikan Ronald padanya. Mengabsen deretan gigi putih Nara. Bahkan kedekatan itu berlangsung sedikit lama dan penuh hasrat di dalamnya.


"Aku hanya ingin kamu jujur Nara, kamu masih mencintaiku, bukan?" tanya Ronald membersihkan bibir Nara dengan jempolnya dan masih menempelkan keningnya pada kening Nara.


Hampir lupa diri Nara karena pesona yang terpampang nyata di hadapannya, Nara menepiskan angan-angannya dan sadar kalau dia bukanlah wanita yang pantas bersanding dengan Ronald.


"Tidak Ronald! Itu sudah lama berlalu, aku tidak …."


"Aku tidak percaya, kamu menikmati saat aku menyentuhmu bahkan kamu yang memintanya sendiri, sudahlah honey. Aku sudah tahu semua yang terjadi, aku minta maaf! Hidupmu sudah karena Mama, aku akan menggantikan kebahagiaanmu yang hilang, aku ingin membuatmu bahagia jadi tolong berhentilah mengatakan untuk berhenti mencintaiku, jelas-jelas kamu masih sangat mencintaiku, Honey," ucap Ronald memotong perkataan Nara.


Apa yang Ronald ketahui? Apa semalam tidak sengaja Nara juga jujur akan hal itu. Apa yang dia katakan?


Nara meringis, dia benar-benar tidak ingat ejekan yang keluar dari mulutnya malam tadi.


"Ronald, jika semalam aku membuat kamu tersinggung, aku minta maaf, aku benar-benar tidak ingat apa yang aku katakan padamu," ucap Nara dengan sangat lembut.


"Tidak ada yang salah honey, aku malah bahagia semalam bersama denganmu, malah aku ingin mengulang kebersamaan kita yang singkat itu andai saja kamu tidak tertidur malam tadi," lanjut Ronald bercerita dengan mengulas senyum paling tampannya. Nara menunduk dan merasakan hawa panas dari pipinya.

__ADS_1


Dia malu sekali dengan Ronald.


To Be Continued ….


__ADS_2