Stop Loving You

Stop Loving You
First Job


__ADS_3

"Malam Dad, Mom!" sapa Sonya sambil memeluk Ronald dan Nara yang sedang duduk berdua. Tetapi raut wajah Ronald dan Nara tampak sedih dan banyak pikiran.


Sonya diam sebentar, mengatur nafasnya lalu duduk di samping Daddy dan Mommynya.


"Daddy kalah tender sayang, padahal Daddy yakin sekali akan menang kali ini, Daddy menggunakan banyak sekali uang untuk tender kali ini," ucap Ronald dengan senduh.


Sonya tahu kalau kabar ini tidak baik untuk keluarganya.


"Lalu bagaimana selanjutnya, Dad?" tanya Sonya dengan pelan.


"Daddy juga bingung sekarang, banyak sekali yang harus Daddy bayar, bahkan Daddy sudah menjual banyak aset hari ini masih tidak menutupi semua kekurangan, sebentar lagi gaji karyawan dan itu tidak mungkin ditunda," keluh Ronald memijat pangkal hidungnya. Nara membantu Ronald memijat tengkuk lehernya yang lelah sekali.


Ronald begitu bingung sekali saat ini, dia harus mencari pinjaman untuk beberapa bulan kedepan agar perusahaannya mampu berdiri kembali.


"Sonya, bantu saja Daddy di kantor besok, Sonya akan belajar dari awal, bagaimana?" tanya Sonya. Pasti Ronald sudah mengharapkan Sonya ikut dalam mengambil alih perusahaannya.


Ronald mengangguk dan tersenyum sembari menggosok pelan rambut Sonya dengan lembut. Sementara Sonya kembali ke kamar dan menghela nafasnya.


Akhirnya Sonya harus membantu perekonomian keluarganya dan tidak boleh lagi menjadi anak yang manja. Ya dia tahu tidak bisa memilih pekerjaan yang disukainya saat ini.


Baru saja merebahkan tubuhnya di ranjang, telponnya berdering dan itu dari Martin.


"Honey, aku sudah katakan padamu sebelumnya, kalau sudah sampai hubungi aku," ucap Martin dengan semua tingkah otoriternya. Yang membuat Sonya bingung, siapa Martin sampai dia harus menuruti semua yang Martin katakan.


"Kenapa?" tanya Sonya dengan lembut.


"Aku merindukanmu, padahal kita baru saja berpisah," ucap Martin melembutkan suaranya. Sonya berbeda sekali dengan wanita yang dia kenal selama ini, Sonya sama sekali tidak pernah bermanja atau mencari perhatiannya padahal Sonya sudah tahu kalau dia seorang Putra Mahkota.


"Kalau kamu rindu, kamu bisa melihat fotoku, bukannya banyak kamu simpan di ponselmu," ucap Sonya dengan malas.


Martin tertawa dan mencari tempat duduk yang enak karena dia ingin mengalihkan telponnya menjadi panggilan video call.


Sonya terkejut saat panggilan berubah menjadi panggilan video call. Dia sedang berbaring saat ini dan terpaksa harus berdiri dan duduk di ranjangnya.


"Kenapa lama sekali?" tanya Martin setelah panggilan itu berubah dan menunjukkan wajah cantik Sonya yang sedang lesu, ya Sonya baru sampai rumah dan Martin sudah menerornya.

__ADS_1


"Aku lelah mau tidur," jawab Sonya dengan wajah manjanya tetapi Martin belum rela ditinggalkan Sonya.


"Honey, kamu tebak? Besok aku ada bisnis di Indonesia dan aku akan bertemu denganmu," ucap Martin dengan senangnya.


Lalu apa yang harus aku tebak?


Sonya memutar bola matanya malas dan tersenyum palsu.


Besok aku akan menonaktifkan ponselku.


"Kamu tidak bahagia?" tanya Martin melihat wajah Sonya yang biasa saja, sama sekali tidak ada raut kebahagiaan ingin bertemu sang kekasih hati.


Perlukah aku tersenyum pikir Sonya. Sonya pun tersenyum palsu.


"Ya aku bahagia, apa kamu tidak lihat kalau aku bahagia," ucap Sonya dengan senyum kecutnya dan Martin terkekeh. Senang sekali dia menggoda Sonya seperti ini.


"Ya aku suka melihat kamu tersenyum, honey kamu mau tidur? Tidurlah sayang. Sampai jumpa besok," ucap Martin.


"Ya sampai jumpa," balas Sonya tetap tersenyum palsu, baru saja Sonya ingin menutup telponnya. Martin menghalanginya.


"Kiss nya belum," ucap Martin menunjuk bibirnya.


"Muaaah …."


Lebih baik cepat selesai daripada berurusan lama dengan orang penting seperti Martin. Sonya harus istirahat karena besok dia sudah mulai bekerja.


Pagi sekali, cuaca sudah tidak baik. Hujan begitu derasnya tetapi Sonya tetap semangat dan sudah membuat alarm agar tidak telat terbangun. Sonya turun dari kamarnya dan Ronald sudah siap mengajak Sonya ke kantor. Sonya bahkan hanya mengambil roti isi coklat dan melambaikan tangannya pada Mommynya.


"Sonya pergi Mom," ucap Sonya masuk mobil dan duduk di samping Ronald.


"Kita mau kemana Dad?" tanya Sonya saat arah mobil tidak menuju kantor tetapi pusat kota.


Ronald tidak menjawab karena ada telpon masuk dan mendahului mengangkat telponnya.


"Oh iya! Baik Pak, pagi ini kami segera ke sana, terima kasih sebelumnya," ucap Ronald dengan senyumnya.

__ADS_1


Sepertinya kabar baik pikir Sonya. Tidak terasa Sonya sampai di perusahaan yang Sonya tahu ini milik keluarga siapa. Apa hubungan Daddnya dengan pemilik perusahaan. Sonya tetap berpikir positif sampai mereka naik ke lantai tiga puluh enam dan dipersilahkan masuk ke ruangan CEO Group Wilson.


Benar sekali tebakan Sonya. Ini keluarga Wilson dan ada Jonathan juga di sana.


"Selamat pagi Pak Ronald, silahkan duduk!" CEO Group Wilson langsung menyapa Ronald yang tidak lain adalah Ayah Jonathan. Jonathan malah tersenyum melihat Sonya tetapi Sonya tetap datar.


"Terima kasih Pak Wilson, kebetulan pagi ini saya membawa putri saya, Sonya." Ronald memperkenalkan Sonya pada jajaran petinggi Group Wilson yang berkumpul. Termasuk pada Jonathan. Sonya pun memperkenalkan dirinya satu persatu.


"Sonya," ucap Sonya saat mengambil tangan Jonathan yang sudah terjulur padanya.


"Selamat datang, honey!" bisik Jonathan pada telinga Sonya. Sonya bergidik ngeri. Lalu Sonya mendengarkan agenda pagi ini dan di luar dugaannya, saham perusahaannya akan di beli lima belas persen oleh Group Wilson. Mereka mendapatkan suntikan dana dan persyaratan yang mereka minta. Hanya perjodohan antara Sonya dan Jonathan.


Sonya menggeleng, tetapi dia juga tidak mungkin menyusahkan orang tuanya saat mereka sekarang terpuruk. Bahkan Ronald dulu yang menolak saat Pak Wilson meminta Sonya untuk menjadi menantunya.


"Saya sebenarnya tidak setuju dengan persyaratannya Pak, apa tidak ada yang lain, mungkin pak Wilson bisa melebihkan bunganya dan saya akan membayarnya dalam beberapa bulan ini," ucap Ronald masih tenang. Dia tidak mungkin mengorbankan kebahagiaan anaknya hanya untuk perusahaannya.


"Selain itu saya tidak percaya membeli saham perusahaanmu," ucap Wilson dengan tegas.


"Dad! Tidak apa," jawab Sonya dengan senyumnya.


"Akan saya pikirkan dulu Pak, mungkin satu atau dua hari lagi saya akan memberi kabar pada Pak Wilson dan keluarga." Ronald masih berkeras. Dia harus berdiskusi dulu dengan Sonya dan Nara.


Saat Ronald masih bercerita, Sonya keluar dari ruangan.


Hmmm … ternyata ini yang Jonathan siapkan untuknya.


Tidak lama, Jonathan keluar dan bergerak mendekati Sonya yang duduk di depan ruangan.


"Honey, kamu kenapa? Lelah?" tanya Jonathan menyentuh pipi Sonya dan Sonya menepiskan tangan Jonathan.


Jonathan tersenyum mengejek melihat Sonya yang masih seperti kucing liar yang nakal. Tidak menurut padahal sedang terpuruk. Menyebalkan sekali!


"Kamu tahu, honey! Sudah saatnya kamu jadi milikku," bisik Jonathan tersenyum nakal dan melihat wajah Sonya yang sangat cantik pagi ini. Jonathan malah tidak mengira kalau Sonya pagi ini akan ikut, di luar dugaan sekali tetapi baguslah.


Dasar gila! Bagaimana ini?

__ADS_1


To Be Continued ….


__ADS_2