Stop Loving You

Stop Loving You
What Do You Want?


__ADS_3

Ya Tuhan … Ronald menahan tangan Nara agar tetap bersama dengannya.


"Kenapa kamu masih bersama dengan wanita ini Ronald?" tanya Monica dengan wajah sinisnya.


Tidak tahan Nara kalau sudah berhadapan dengan Mama Ronald, ingin dia menjauh atau menutup wajahnya dan bersembunyi dimanapun, sejauh mungkin dan tidak lagi ditemukan.


"Nara, asistenku, tentu saja dia harus bersama denganku dimanapun, Mama ada masalah dengan itu?" tanya Ronald dengan tegas.


Meski Monica orang tua kandungnya, Ronald tidak ingin Monica menghalangi kebahagiaannya.


"Jelas Ronald! Mama tidak suka melihat wanita ini," tunjuk Monica dengan kasar pada pipi Nara.


Sungguh Nara sudah tidak tahan menghadapi Monica. Ya Tuhan … Nara masih sangat menghargai Monica itu orang tua. Kalau saja Nara tidak ingat umur Monica, sudah tentu Nara akan membalas kelakuan orang tua Ronald saat ini.


"Ma, jangan seperti ini! Malam ini aku yang membuat acara, jangan pernah membuat aku malu!" bisik Ronald kesal tepat di telinga Monica.


Kata-kata Ronald sukses membuat Monica diam. Ronald memang memulai bisnisnya dengan uang Monica tetapi dia sendiri yang mengembangkan usahanya sampai sejauh ini.


Acara pun di mulai dengan baik, Nara kembali sibuk mengatur acara malam ini. Ke sana dan kemari menghindari Ronald. Kesal sekali Ronald melihat Nara, padahal Ronald sudah katakan untuk tetap di sampingnya, Ronald tidak butuh Janu saat ini, dia butuh Nara, butuh menggenggam tangan Nara.


Mata Gerald bahkan berkeliling melihat Nara. Sungguh tidak ada kerjaan laki-laki itu, padahal dia sudah ada kekasih yang bernama Miranda.


Saat Nara melewati meja Gerald, Gerald menarik tangan Nara.


"Kamu sibuk sekali, duduklah dulu!" tawar Gerald pada Nara. Nara pun tersenyum dan akhirnya duduk di sebelah Gerald.


Oh kelakuan Nara kali ini membuat Ronald sangat marah. Awas saja nanti di rumah, Ronald akan membalasnya. Nara harus diberitahu dengan jelas posisinya di hati Ronald itu sebagai apa.


"Nara, akhir pekan kamu ada acara?" tanya Gerald dengan sangat lembut sambil menatap wajah Nara yang sangat cantik malam ini.


"Akhir pekan ini aku akan pergi dengan kekasihku," jawab Nara tanpa banyak basa-basi.


Kekasih Nara itu Ronald. Berarti dia akan pergi dengan Ronald. Tetapi melihat wajah orang tua Ronald, sepertinya tidak suka dengan Nara.


"Sayang, apakah kamu ada masalah dengan Ibunya Ronald?" tanya Jane pada Nara yang saat ini duduk di sampingnya, Jane hanya tidak nyaman melihat tatapan Monica yang begitu tajam menatap mereka.

__ADS_1


"Oh … tidak Mi, Nara tidak ada masalah," jawab Nara berbohong. Nara bukan wanita yang suka mengadu tetapi orang lain saja bisa melihat kebencian Monica pada Nara yang begitu besar.


"Biarkan saja Nara, Monica itu memang seperti itu, tidak ada yang suka dengannya, dia terlalu banyak mengatur," ucap Jane yang sangat paham sekali watak Monica. Mereka teman arisan, jelas saja Jane tahu bagaimana watak Monica yang keras dan kasar.


"Mami ada rahasia, tetapi kamu harus berjanji untuk tidak menceritakan pada siapapun," bisik Jane lembut di telinga Nara.


"Apa Mi?"


Nara pun mendekatkan telinganya pada bibir Jane dan apa yang sedang Jane katakan saat ini sungguh membuat Nara tidak percaya, sangat-sangat tidak percaya. Apakah itu benar?


"Suaminya saja tidak tahan dengan dia, kamu tahu Nara, Edwardo itu punya wanita simpanan, sering sekali ketahuan dan jika ketahuan oleh Monica, wanita itu akan dia siram dengan air keras, waktu itu heboh sekali, wanita itu sampai buta karena ulah Monica dan dia hanya memberikan kompensasi sejumlah uang pada wanita itu, Edwardo pun langsung meninggalkan wanitanya karena sudah jelek, begitu cara Monica membalas para wanita yang ingin mengambil suaminya," bisik Jane menceritakan sifat Monica yang sudah sangat dikenal para teman-temannya.


Mengerikan sekali! Nara jadi semakin merinding mendengarnya, bagaimana kalau dia masih di sisi Ronald, pasti Monica juga akan melakukan semua itu.


"Kenapa tidak diceraikan saja?" tanya Nara dalam hatinya. Daripada kesal punya suami yang suka selingkuh lebih baik cerai saja pikir Nara. Pikiran Nara ternyata terbaca oleh Jane.


"Dia tidak bisa menceraikan Edwardo, Edwardo itu banyak hartanya Nara, dia juga kaya karena Edwardo dan Christin anaknya juga ikut membantu kalau ayahnya punya simpanan seperti itu," jawab Jane yang membuat Nara mengerti.


Hmmm … ternyata harta bisa membuat orang lupa akan segalanya.


Dia masih ragu menceritakan hidupnya pada wanita yang baru dia kenal meski baik sekalipun.


"Ceritakan saja, apa yang mau kamu ceritakan?"


"Maaf, Nona Nara, Tuan Ronald memanggil anda untuk duduk bersama dengannya," ucap Janu yang tiba-tiba memutuskan cerita antara Nara dan Jane. Nara terkejut dan langsung berdiri dengan cepat. Tatapan mata Ronald sudah sangat tajam dan dia sangat tidak suka Nara dekat dengan keluarga Antonio itu.


Nara pun duduk menemani Ronald. Baru saja duduk, Ronald sudah berbisik di telinga Nara.


"Bagus sekali! Pura-pura sibuk ternyata menggoda laki-laki di meja lain, tidak cukup hanya aku?"


Nara menggeleng dan memutar bola matanya malas. Ronald sangat pencemburu sekali. Mereka tidak ada hubungan saat ini dan kecemburuan Ronald bahkan ditunjukkannya secara terang-terangan.


"Aku tidak berselingkuh."


"Lalu apa namanya kalau bukan berselingkuh?" Ronald masih kesal melihat Nara yang tertawa manja dengan Gerald di meja belakangnya.

__ADS_1


"Ronald, aku bukan kekasihmu, apa kamu lupa? Aku juga hanya menyapa teman bisnismu, tidak lebih!" seru Nara dengan malasnya.


Kali ini Ronald mengalah dengan jawaban Nara. Tunggu sampai pulang nanti. Lihat apa yang akan Ronald lakukan.


Setelah acara basa-basi ini selesai, Ronald menarik Nara untuk cepat pulang.


"Ronald sakit sekali, tidak perlu menarikku seperti ini," Nara berusaha melepaskan tangan Ronald tapi sia-sia. Sepertinya Ronald mabuk. Dia banyak menghabiskan wine malam ini.


Mobil bergerak dengan cepat menuju kediaman Ronald yang super mewah. Dia tidak membawa Nara ke apartemen.


"Ahhh …." Tubuh Nara dihempaskan Ronald di ranjang. Nara langsung berdiri dan ingin pergi, malah Ronald merobek gaun malam Nara.


"Kamu kenapa Ronald?" tanya Nara menutup tubuhnya yang hampir terbuka.


"Aku mau kamu malam ini!"


Ronald kembali mendorong tubuh Nara tetapi Nara kali ini melawan dan menggigit tangan Ronald.


"Lepaskan Ronald! Kamu mabuk, aku tidak suka melihat kamu seperti ini," ucap Nara saat Ronald membasahi lehernya dengan Saliva. Ronald benar-benar memburu tubuh Nara tanpa jeda sama sekali, Nara kembali berusaha melepaskan tubuhnya dari tekanan tubuh Ronald.


Plakk!!


Nara menampar wajah Ronald agar dia sadar apa yang dia lakukan saat ini salah.


Ronald memegang pipinya yang panas karena tamparan keras dari Nara.


"Aku lelah! Sebenarnya apa maumu?" tanya Nara dengan tangisnya.


"Aku mau kamu, honey! Kamu yang dulu, yang mencintaiku, aku mau kamu yang dulu!" teriak Ronald tepat di wajah Nara.


"Berhentilah mengatakan untuk berhenti mencintaiku, aku benci mendengarnya!" lanjut Ronald melempar semua barang yang ada di dalam kamarnya. Nara terdiam!


Saat ini Ronald sedang lepas kontrol dan dia tidak boleh sahut menyahut dengan Ronald. Lebih baik dia mengalah malam ini dan mendengarkan apa yang Ronald inginkan.


To Be Continued ….

__ADS_1


__ADS_2