
Padahal Nara akan menyambut suaminya pulang tetapi karena ada Monica di lantai bawah, Nara terpaksa tampak biasa saja ketika Ronald pulang.
"Honey!" Ronald dengan gilanya merentangkan ke dua tangannya berharap Nara menghambur masuk ke dalam pelukannya. Sedangkan sedari tadi Monica melihat mereka. Tidak mungkin Nara dengan manja melakukan itu di hadapan mertuanya yang tidak suka dengannya.
"Sudah pulang honey," jawab Nara mengambil tas Ronald dan pelukan itu, tidak ada! Tidak hangat seperti kemarin pikir Ronald. Kenapa? Padahal semalam saja, Nara masih bermanja dengannya. Ronald mengkerutkan keningnya dan melihat kiri dan kanan, ternyata Mamanya sedang menonton televisi di ruang tengah besar rumah Ronald. Kenapa tidak menonton di dalam kamar saja pikir Ronald.
"Honey, pelukannya di kamar saja ya," bisik Nara pelan di telinga Ronald. Ronald pun terkekeh mendengar istrinya seperti itu, mereka bahkan seperti sedang maling-maling saat ini hanya untuk berpelukan.
"Ronald, kamu sudah makan belum?" tanya Monica dengan pandangan tidak lepas dari televisi.
"Sudah Ma," jawab Ronald dengan santai.
"Baguslah, istrimu ini masak tidak ada yang bergizi, tidak ada sayur, salad buah. Bagaimana hidup mau sehat kalau makan ayam goreng tepung terus," ucap Monica mengejek apa yang Nara masak tadi. Padahal tadi ketika masak, Monica tidak protes, setelah ada Ronald malah Nara disalahkan.
"Nara hanya memasak apa yang aku sukai Ma, dia malah selalu membuatkan aku sayur dan salad buah tetapi aku tidak memakannya," ucap Ronald membela istrinya dan menggosok pelan rambut Nara.
Ahhh … suamiku, i love you.
Nara bahagia sekali, Ronald membelanya, padahal Nara memang tidak pernah membuatkan makanan seperti itu tetapi mungkin Nara akan pikirkan, yang mertuanya katakan ada benarnya meski dengan mulut pedasnya.
"Sayur dan buah itu dimakan kalau sudah dibuatkan, bukan malah dibuang, kamu ada-ada saja, sudah kembalilah ke kamar, istrimu suruh temani Mama, pundak Mama pegal, Mama mau minta pijat," ucap Monica dengan santainya.
Nara meringis dalam hatinya. Wajah Nara terlihat sedih karena merindukan Ronald tetapi mertuanya malah mengganggu kemesraan mereka.
"Mama, kalau mau minta pijat, nanti aku suruh pelayan saja, aku merindukan istriku Ma, kami ini pengantin baru. Aku memerlukan istriku saat ini," ucap Ronald menyelamatkan istrinya dari Monica.
Saat ini ingin sekali Nara mengecupi bibir Ronald.
Honey, kamu tahu sekali perasaanku.
"Tidak apa honey, aku bisa bantu Mama pijat," ucap Nara dengan lembut dan mata yang memelas.
__ADS_1
"Kamu itu tugasnya ngurusin aku honey, aku sudah pulang dan aku juga mau di pijat, aku juga lelah sekali, tubuhku ini lelah dari atas sampai ujung kaki," ucap Ronald berdecak kesal.
"Nara kamu urus saja suamimu, Mama bisa minta pijat pelayan nanti," ucap Monica mengibaskan tangannya.
Nara bahagia sekali dan dengan cepat mengajak Ronald masuk kamar. Mereka akan melanjutkan pemanasan di dalam kamar.
Baru masuk kamar, Ronald sudah dihadiahkan Nara kecupan hangat dan mesra menggebu-gebu.
Bunyi decak kecupan basah yang dilayangkan Nara menggema di dalam kamar.
"Sangat merindukanku yah honey?" tanya Ronald dengan mencubit bibir Nara dengan lembut. Nara mengangguk dan memeluk Ronald dengan manja.
"Terima kasih honey, kamu selalu mengerti aku, aku bahagia sekali," ucap Nara dalam pelukan Ronald.
"Belum mandi kan?" tanya Nara berbisik di telinga Ronald, Ronald menggeleng.
"Aku mandiin kamu yah," ucap Nara dengan nakalnya.
"Di bathtub ya honey," bisik Ronald dengan nakalnya. Herannya Nara mengangguk. Dia juga suka menyatu dengan suaminya dan sudah dari siang dia menunggu Ronald pulang.
Tok … Tok …
Baru saja mereka ingin bermesraan, ada yang mengganggu mereka. Nara menghela nafasnya.
"Aku saja yang buka, kamu pura-pura tidur," ucap Ronald dengan tawanya. Nara mengangguk dan menuruti keinginan Ronald. Dengan handuk yang melilit di pinggangnya, Ronald membuka pintunya.
"Ada apa lagi Ma?" tanya Ronald setelah tahu yang mengetuk pintu kamarnya adalah mertuanya. Tidak pengertian sekali Mamanya ini, sudah tahu Ronald sedang berusaha membuat si kecil, masih saja tidak mengerti. Seolah tidak pernah menjadi pengantin baru.
"Nara sudah tidur?" tanya Monica melirik ke dalam kamar Ronald, untung saja Nara menuruti apa yang Ronald katakan dan pura-pura tidur.
"Sudah Ma, Nara memang sedang pusing, makanya aku suruh cepat tidur tadi," ucap Ronald dengan santai.
__ADS_1
"CK! Cepat sekali, padahal Mama mau berbicara dengan kamu dan Nara malam ini," ucap Monica kesal.
"Besok saja Ma, kasihan istriku, dia dari tadi itu lagi sakit," ucap Ronald malas. Dari juniornya yang tadinya berdiri dengan tegap kini kembali redup karena Monica yang mengganggunya.
"Ya sudah! Besok saja, Mama juga sudah mengantuk mau tidur, besok bangun pagi sekali, Mama mau ke tempat Christin." Ronald mengangguk dengan malas.
Setelah Monica pergi, Ronald menutup kamarnya dan membuang handuknya ke sembarangan.
"Honey!" panggil Ronald dengan nakalnya. Nara terbangun dan tertawa melihat Ronald dengan tingkahnya saat ini.
"Honey, kamu berbohong, nanti dosa seperti itu dengan Mama," ucap Nara memukul manja dada Ronald. Ronald tidak peduli, sekarang dia ingin membuat pahala dengan istrinya. Dosa Ronald karena ingin mengejar pahala bersama istrinya, salah Mamanya yang datang tidak tepat waktu.
"Mau lanjut tidak?" bisik Ronald dengan nakal dan langsung menggendong Nara ala bridal style masuk ke dalam toilet. Belum masuk saja Ronald sudah memburu bibir Nara dengan hebatnya. Di dalam bathtub mereka berolahraga menghabiskan malam ini dengan rasa dan getaran yang sama.
Ya namanya juga pengantin baru, jelas saja Ronald ingin mengganti pelumasnya terus menerus bersama istrinya. Wanita yang tujuh tahun ini pergi meninggalkannya.
"Sakit pinggang, honey," ucap Nara dengan manja sambil memegang pinggangnya yang lelah bertahan dengan gempuran Ronald di dalam bathtub tadi dari berdiri, duduk, jongkok, berdiri dengan kaki satu, menempel di dinding, bermain di bawah kucuran shower, sudah mereka praktekan semua. Tinggal lelahnya saja saat ini.
"Aku pijat honey," ucap Ronald mengambil body lotion dan memijat pinggang Nara dengan lembut. Lelah sekali menghadapi Ronald. Tenaganya habis terkuras dan dia masih santai saja. Tidak ada raut kelelahan. Mereka masih dengan tubuh polos saat ini karena dari bathtub mereka langsung menuju ranjang, untung saja masih sempat mengeringkan tubuhnya yang basah, melihat rambut Nara yang basah karena kucuran air shower, Ronald malah semakin menggebu-gebu. Yang tadi sudah satu dua ronde, minta tambah jadi tiga ronde di ranjang.
Ah lelah sekali!
"Honey, kalau aku tidur, kamu marah tidak?" tanya Nara dengan lembut.
"Tidak hun, tidurlah! Kamu lelah hari ini," ucap Ronald dengan senyum bahagianya.
"Terima kasih sayang," balas Nara dan tidak terasa Nara tertidur pulas setelah Ronald mengusap lembut pinggangnya.
Tidur saja mau minta izin dulu pikir Ronald, istrinya ini benar-benar membuatnya bahagia.
Aku sangat cinta kamu Dinara.
__ADS_1
To Be Continued ….