
Ronald berbicara dengan Dokter Viola, tidak ada masalah ketika dia periksa, semua dalam kondisi yang sangat baik tetapi Ronald diharuskan untuk ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan berkala pada Nara. Christin ditemani Rangga, Mama dan Papanya datang dengan cepat setelah acara selesai.
"Kak Nara, kamu membuat aku khawatir, jangan seperti ini lagi," ucap Christin memeluk Nara sambil menangis. Christin menangis sesegukan di dalam pelukkan Nara dan Nara ikut menangis.
Sementara Monica yang sedang menggendong Sonya mendekat, kembali air mata Nara tumpah dengan derasnya. Bibirnya bergetar hebat dan Nara menghapus air matanya.
"Ini anakmu, Nara!" Monica memberikan pada Nara dan Nara dengan pelan mengambil anaknya lalu mendekapnya dengan erat. Menangis Nara sambil memeluk bayinya. Pasti berat sekali bayi sekecil ini tanpa ibunya.
Cukup dia saja yang yatim piatu, tidak merasakan kasih sayang orang tua, jangan sampai anaknya juga mengalami hal yang sama seperti yang dia rasakan. Karena tidak akan sanggup Nara menceritakan pada dunia, bagaimana dia menjalani hidupnya yang sepi. Hidupnya yang tidak punya tujuan.
Hanya ketika ada Ronald, Nara mulai tahu arti kebahagiaan. Mulai merasakan ada cinta yang sesungguhnya.
"Mommy, tidak akan tinggalkan Sonya lagi, kita akan sama-sama bersama, Maafin Mama yah sayang," ucap Nara sambil menciumi bayi kecilnya. Ronald begitu terharu melihat istri dan anaknya.
Ya Tuhan, seperti ini rasanya bahagia yang sesungguhnya. Matanya berkabut tetapi dia tidak mengeluarkan air mata.
Monica mendekati ranjang Nara dan duduk di pinggirnya. Memeluk Nara dengan erat.
"Maafin Mama Nara, meski Mama tahu, kamu sudah memaafkan Mama tetapi kali ini Mama tulus minta maaf, Mama sudah banyak dosa dengan kamu," ucap Monica sambil menangis. Nara menggeleng dan melepaskan pelukan Monica, menghapus air mata Monica.
"Jangan pernah minta maaf Ma, Mama tidak bersalah, justru seharusnya Nara yang berterima kasih pada Mama, Mama memberikan lelaki yang sangat mencintai Nara, akhirnya Nara punya orang tua, Nara tidak pernah marah dengan Mama atau benci sekalipun, dulu Mama tidak kenal Nara, seorang ibu mungkin pernah salah tetapi Nara tahu kalau Mama melakukan itu karena sayang dengan Ronald," ucap Nara dengan lembutnya. Dia tidak ingin merusak kebahagiaannya dengan kata-kata maaf seperti ini. Itu sudah masa lalu. Nara pun sudah lupa, dia tidak ingin ada kebencian dalam hatinya.
Sungguh hidup dalam kebencian hanya membuatnya tidak akan bahagia.
Ronald benar tidak salah memilih wanita, padahal Ronald sangat tahu betul betapa sakit dan tersiksanya Nara karena ulah ibu kandungnya. Betapa jahat Monica dulu kepada Nara tetapi Nara melupakan itu begitu saja.
__ADS_1
Setelah mereka berbincang tentang Sonya, perkembangan Sonya dan Sonya yang minum ASI seperti yang diinginkan Nara. Ketika mereka sedang bertiga dan Nara yang masih dengan infus tetapi catheter sudah dilepaskan. Nara tidak ingin menggunakan itu karena menghalangi dia berjalan. Dia bukan koma dari kecelakaan yang menyebabkannya tidak bisa jalan dan bergerak.
Nara membuka gundukannya dan melihat kalau air susunya tidak keluar, hanya setetes ketika dia paksakan. Kembali Nara bersedih.
"Honey, aku tidak bisa menyusui, Sonya!" Wajah Nara kembali sedih. Ronald tersenyum simpul dan mengelus pipi Nara dengan lembut.
"Nanti kita coba lagi, kamu harus banyak makan supaya ASI kamu keluar, ayo honey, semangat!" Ronald tetap menyemangati Nara. Ronald tidak pernah memaksakan Nara untuk ASI apalagi saat ini dia baru sembuh dari sakitnya.
"Memang masih bisa keluar?" tanya Nara yang tidak mengerti karena dia ibu baru dan juga dia tidak ada tempat bertanya, siapa temannya yang sudah menikah dan punya anak, dia juga tidak enak kalau bertanya dengan Monica.
"Bisa, honey! Kata Dokter Viola, hal itu biasa, asal rutin mengkonsumsi sayur dan makanan yang bergizi, ASI kamu akan keluar dengan deras," ucap Ronald yang memang sudah pernah berdiskusi masalah itu.
Nara tidak ingin lepas dari anaknya, dia ingin selalu dekat dengan Sonya, tidur ingin di samping anaknya.
Ronald tidak sanggup mengatakannya pada Nara. Pasti ini akan membuat Nara sangat sedih.
"Tidak ada honey, aku merasa hanya tidur biasa, tidak pernah bermimpi apapun, bahkan ketika bangun aku hanya seperti orang kelaparan yang merasa sudah berhari-hari tidak makan, hahahha …."
Ronald menghela nafasnya, Nara masih bisa tertawa di saat seperti ini. Tidak tahu dia kalau selama dia koma, Ronald seperti orang gila.
"Jangan tidur ya," ucap Ronald ketika Nara menguap.
"Kenapa tidak boleh tidur?" tanya Nara tidak mengerti.
"Nanti kamu tidak bangun lagi, pokoknya tidak boleh tidur," ucap Ronald memaksakan kehendaknya. Dia takut sekali ketika tidur, Nara kembali koma. Perasaan kehilangan Nara kembali begitu kuat.
__ADS_1
"Baiklah! Kamu tidurlah, aku tidak akan tidur," ucap Nara dengan senyum cantiknya. Setelah dua bulan, akhirnya Ronald bisa merasakan tidur yang sebenarnya sambil memeluk Nara dari belakang karena di samping Nara ada Sonya dan Nara tidak ingin Ronald tidur di samping Sonya, takut Ronald tidur tidak sadar.
Padahal selama ini, Sonya tidur dengannya. Istrinya kalau sudah bangun begitu cerewet sekali. Ronald membuat alarm setengah jam sekali mengecek apa Nara tidur atau tidak. Entah kenapa dia kejam sekali hari ini dengan Nara.
Kriiinggg ….
Ronald bangun sambil mematikan alarmnya. Dia melihat Nara yang ternyata sudah tidur. Cepat-cepat Ronald menggoyangkan tubuh Nara takut Nara pergi jauh lagi darinya.
"Honey … hun, bangun hun!" Nara mengerjapkan matanya dan melihat suaminya yang sangat ketakutan.
"Ngantuk honey, aku lupa! Aku berjaga lagi," ucap Nara terkekeh. Ronald kembali menarik nafasnya, ternyata bangunnya Nara tidak sementara, dia benar-benar bangun. Melihat Nara yang sangat mengantuk membuat Ronald tidak tega.
Apa yang dia pikirkan?
"Tidurlah honey! Sampai berjumpa besok pagi, semoga tidurmu nyenyak dan mimpi aku dalam tidurmu," ucap Ronald menciumi kening Nara dengan lembut lalu berangsur ke bibir Nara sebentar.
"Good night!"
Mereka tidur dengan pulasnya malam ini, Ronald tidak pernah melepaskan pelukannya dari belakang. Setelah ini hanya akan ada kebahagiaan dalam hidup mereka sampai Nara siap mendengar soal rahimnya. Terus terang, Ronald tidak kuasa mengatakan pada Nara. Itu bukan sesuatu yang mudah dan harus waktu yang tepat.
Mendengar suara rengek Sonya, Nara cepat-cepat bangun. Ternyata Sonya tidak nyaman tidurnya. Nara pun berdiri dan menggendong Sonya agar kembali tidur. Dia tidak tega membangunkan Ronald. Nara harus cepat pulih, Sonya dan Ronald membutuhkannya.
To Be Continued ….
IG Madammeyellow
__ADS_1