Stop Loving You

Stop Loving You
The First Night


__ADS_3

Setelah mengantar Christin, Ronald langsung kembali ke rumahnya dan dia mengira kalau Nara sudah tidur, ketika dia masuk ke dalam kamarnya, kamar gelap gulita hanya ada pencahayaan bulan yang bisa di lihat karena ternyata Nara belum tidur. Nara memandangi bulan dari tirai yang dia buka begitu lebarnya.


"Pelum tidur, honey?" Ronald memeluk Nara dari belakang dan menyandarkan dagunya dengan lembut pada pundak Nara. Gaun tidur yang Nara gunakan tadi begitu sangat indah terlihat ketika hanya ada pencahayaan bulan yang menerangi istrinya.


"Aku menunggumu," jawab Nara begitu lembut. Sebenarnya dari dulu seperti inilah mereka. Itulah kenapa Ronald sangat menyukai Nara, Nara sangat sabar menghadapinya sampai pada hari itu dia mengenalkan Nara pada Monica, saat itu juga rasa itu perlahan berubah. Nara seolah ingin menghindar dari Ronald karena sadar akan dirinya yang tidak layak dengan Ronald.


"Honey, kenapa lampu tidurnya tidak kamu nyalakan?" tanya Ronald melihat kamarnya yang begitu gelap seperti ini.


"Aku suka seperti ini, apa masalah untukmu?"


Nara membalik tubuhnya dan melingkarkan tangannya pada leher Ronald. Dia mendekatkan wajah Ronald dengan wajahnya. Hari ini dia adalah istri Ronald, iya meski pernikahan mereka sangat sederhana dan jauh dari kata mewah. Terkesan seperti kawin lari bagi Nara tetapi tidak akan merubah kalau sekarang Ronald adalah suaminya.


Nara sangat menghargai itu, bukankah saat ini dia harus percaya dengan Ronald dan juga berusaha bertahan dengan pernikahannya meski bayang-bayang wajah Monica yang akan marah setelah tahu mereka menikah begitu sangat mengganggu Nara.


"Kenapa?"


Ronald melihat wajah Nara yang diam dan memandanginya dengan cinta begitu membuat Ronald bahagia. Nara bahkan mengelus wajahnya dengan sangat lembut dan memainkan jemarinya pada hidung dan matanya.


"Salahkah bila aku mencintaimu?" Pertanyaan yang Ronald tidak sangka akan keluar dari mulut Nara. Tentu saja tidak salah, inilah yang Ronald harapkan. Nara mencintainya sepenuh hati dan menerimanya sebagai suami bukan karena paksaan tetapi memang karena mereka memperjuangkan cinta mereka.


"Tidak pernah salah, cinta tidak pernah salah," jawab Ronald mendekatkan keningnya dengan kening Nara.


Aku bahkan menepiskan jarak antara kita hanya karena ingin bersama denganmu. Aku berjuang keras menjadi lelaki sempurna dan bisa berdiri sendiri hanya karena ingin bersanding denganmu. Lalu kamu bertanya salahkah semua ini?

__ADS_1


"Apapun yang kamu lakukan padaku, tidak pernah salah di mataku," jawab Ronald begitu lembutnya. Ronald memeluk Nara dengan erat dan mengelus rambut panjang Nara.


Nara tersenyum mendengarnya, karena memang dia mencintai Ronald. Lama Nara terdiam sampai akhirnya dia memutuskan untuk berbicara. Dia menimbang apakah dia salah mengatakan ini nantinya.


Ah … tidak seharusnya aku menyuruhnya memilih. Ini jelas bukan pilihan.


"Kenapa lagi? Apa sebenarnya yang sedang kamu pikirkan?" tanya Ronald penasaran, Nara seolah sedang menyimpan keraguannya tanpa mau jujur dengan Ronald padahal Ronald sudah siap mendengarnya.


"Sebenarnya … hmmm, sebenarnya aku tidak suka tinggal di Jakarta," ucap Nara pelan dan berbisik manja di telinga Ronald berharap Ronald mengerti apa yang diinginkan Nara.


"Kamu mau tinggal di mana, honey? Aku akan menuruti semua yang kamu mau," ucap Ronald dengan begitu lembut. Kali ini Nara tersenyum dengan lebarnya.


Dia senang Ronald mengabulkan permintaannya karena terus terang saja, hidup berdekatan dengan Monica tidak membuat Nara nyaman. Monica bisa sewaktu-waktu datang dan kembali meneror rumah tangga mereka.


"Kita tinggal di Bogor, aku suka di sana tetapi kalau kamu tidak bisa, tidak apa, disini juga baik," ucap Nara lirih. Ronald tersenyum kecut, sungguh dia mengerti apa yang Nara rasakan saat ini.


"Aku pasti akan menunggumu pulang," ucap Nara dengan lembut.


Seperti ini jelas lebih baik, Nara merasa dirinya aman jika jauh dari Monica.


Ronald mengambil dagu Nara dengan lembut lalu mendekatkan bibir Nara dengan bibirnya, mereka belum melakukan malam pengantin mereka dan itu membuat Ronald merasa belum yakin kalau Nara adalah istrinya.


Nara membuka pelan mulutnya dan membiarkan Ronald mengeksplorasi rongga mulutnya, dibiarkan Nara Ronald yang menarik lidahnya dengan lembut dan sedikit memburu sampai tidak terasa mereka sudah berada di bibir ranjang dan membuat Nara menahan dengan tangannya karena Ronald dengan cepat membuka kemeja dan celananya masih dalam keadaan mengecupi bibir Nara dengan lembut.

__ADS_1


Bunyi decak kecupan basah mereka bahkan menjadi penyemangat Ronald malam ini melakukan malam yang sudah lama dia nantikan. Malam ini akhirnya Nara akan seutuhnya menjadi miliknya dan menjadi ibu dari anak-anaknya.


Tangan Ronald menelusup masuk menjelajahi setiap inchi tubuh istrinya tanpa adanya penolakan dari Nara sedikit pun. Hanya terdengar suara Nara yang menahan nafasnya dengan manja di telinga Ronald.


"Apa kamu sudah siap honey?" tanya Ronald setelah puas bermain dengan bagian atas dan bawah tubuh Nara. Nara pun sudah siap menerima Ronald sepenuhnya. Nara menggigit bibirnya dan mengangguk. Bahkan Nara tidak sadar kapan kain penutup terakhirnya terlepas dari tubuhnya. Dia hanya menikmati malam panas mereka tanpa ada sedikitpun keluhan keluar dari mulutnya.


Pengalaman pertamanya dengan suami yang akan selalu dia kenang.


"Pelan-pelan saja," bisik Nara setelah Ronald siap bertempur dengan Nara malam ini.


Malam ini dengan sangat egois, Ronald tidak memperdulikan wajah kesakitan Nara dan jerit sesekali yang mengiringi permainan panas mereka. Di biarkannya Nara beradaptasi dengan miliknya hingga keringat mulai berkucuran dari mereka berdua dan mereka mendapatkan kepuasan bersama. Ronald memeluk Nara dalam tidurnya.


Kali ini, Nara tidak akan lepas lagi dari dirinya karena mereka telah utuh menjadi pasangan suami istri sesungguhnya.


"Terima kasih sayang, aku bahagia bersama denganmu," ucap Ronald dengan mengecupi bibir Nara dengan lembut. Ronald sendiri yang menjadi saksi kalau istrinya bukanlah wanita murahan dan ini jelas pertama kali untuknya jika dia melihat jejak warna merah yang ditinggalkan dari miliknya yang masih menempel ketika Ronald membersihkannya dengan tisu.


Nara sudah terlelap karena kelelahan menghadapi Ronald yang tidak pernah puas dengan tubuhnya.


Nara memeluk erat Ronald dalam tidurnya, dia pun sangat bahagia menyerahkan segalanya pada orang yang dia cintai.


"Tidurlah sayang, besok masih banyak yang kamu akan siapkan untuk pindah," ucap Ronald mengelus punggung Nara yang masih polos yang Ronald tutupi dengan selimut tebal putih. Nara mengangguk dan bersandar pada dada bidang Ronald. Ternyata Nara belum tidur dan masih mengatur nafasnya yang masih naik turun akibat pergulatan hebat di ranjang bersama Ronald tadi.


"I love you."

__ADS_1


Nara mendaratkan kecupan di kening Ronald dengan lembut lalu kembali masuk ke dalam mimpi yang sama bersama suaminya.


To Be Continued ….


__ADS_2