Stop Loving You

Stop Loving You
Shame On You


__ADS_3

Ketika berada di mobil, Andre menghubungi Nara. Nara tanpa ragu mengangkatnya.


"Iya sayang kamu sudah sampai?" tanya Nara yang membuat Ronald jadi kesal mendengarnya. Ronald langsung mengambil ponsel Nara dan mengambil Batee ponselnya lalu ponsel Nara, Ronald banting hingga hancur dan dia injak sampai tidak berbentuk lagi.


Ronald menyeringai melihat Nara yang ternganga melihat ponselnya tidak berbentuk lagi.


"Akan aku ganti," jawab Ronald dengan santai dan kembali memeluk pinggang Nara dengan erat dan melanjutkan pekerjaannya di laptop yang selalu dia bawa kemanapun.


Nara berdecak kesal. Keterlaluan sekali Ronald, ketika Nara ingin memungut serpihannya di bawah kaki Ronald, Ronald menahan tangan Nara.


"Untuk apa dipungut, sudah rusak, tadi aku katakan akan mengganti yang baru," ucap Ronald dengan tatapan tajamnya.


"Aku ingin mengambil memori dan nomornya Ronald, ada banyak foto yang tersimpan di ponselku dan banyak nomor penting di sana," ucap Nara kesal. Nara ingin sekali rasanya memukul Ronald saat ini. Tingkah Ronald seperti anak kecil. Seperti inilah dari dulu Ronald, kalau dia cemburu dengan mudah dia akan menghancurkan barang yang ada di dekatnya.


"Biarkan Janu yang akan mengurusnya, kamu tidak perlu sampai repot menunduk di bawah kakiku, foto-fotomu akan aku sortir dulu, jika pantas akan aku pertahankan, jika bersama dengan lelaki berengsek itu, jelas akan aku hapus!"


"Itu bukan hakmu," jawab Nara dengan cepat.


"Oh tentu itu hakku, kamu itu milikku! Milik Ronald Wijaya, apa perlu aku ingatkan agar kamu tidak berulah."


Nara menggeleng, semakin lama Ronald benar-benar membuat Nara habis kesabaran. Menghadapi Ronald sungguh selalu membuat Nara kalah telak.


Aku tidak akan pernah masuk ke dalam hidupmu.


"Sudah ingat! Lama sekali kamu amnesia sampai tujuh tahun," ucap Ronald menyindir Nara.


"Aku tidak amnesia Ronald, aku sadar!"


Mereka bahkan tidak ada yang mau mengalah satu sama lainnya.


Ronald akan selalu memenangkan kata-kata pedas yang keluar dari mulut Nara. Apapun itu, Ronald akan membungkam Nara dengan kata-katanya dan jika sudah tidak sanggup lagi, Ronald akan membungkam mulut Nara dengan bibirnya seperti saat ini.


Ronald bahkan menggigit kecil bibir Nara karena gemas dengan kelakuan Nara yang tidak mau mengalah.

__ADS_1


Keras kepala sekali!


"Honey, kamu sudah membuang nama Gerald dalam pertemuan ini belum?" tanya Ronald yang yakin kalau Gerald salah satu tamunya malam ini.


Nara hanya menghubungi nama yang tertera sesuai dengan yang diberikan sekretaris Ronald, dia juga bukan berbicara langsung dengan CEO nya.


"Ada dua puluh nama di dalam list dan sepertinya ada nama Gerald, aku tidak memperhatikan," ucap Nara dengan lembut dan membuka agendanya.


Ronald menyeringai.


"Memang kamu ingin bertemu dengan laki-laki itu, dia yang membantumu menjebloskan aku ke penjara dan aku harus repot melapor kesana terus karena ulahmu," ucap Ronald dengan kesal.


Nara hanya diam saja kali ini karena bukan dia yang menulis nama Gerald, kenapa dia yang jadi dituduh menjadi wanita penggoda di sini.


Setelah sampai, Nara di bantu para staff dibawahnya mengatur jalannya jamuan makan malam, Nara jelas punya bawahan karena dia bukan bekerja sendiri, seorang asisten pribadi mempunyai jabatan tertinggi karena dia yang paling dekat dengan pimpinan perusahaannya.


Nara hanya mengatur dan Ronald pun tidak menyuruh Nara repot-repot sampai berkeringat karena dia akan mendampinginya.


Ternyata Frans bersama dengan Rosalinda dan membawa serta istrinya.


"Mr. Ronald sendirian?" tanya Frans tanpa ragu dan mungkin akan menyodorkan anaknya. Nara sedang sibuk saat ini karena ini tugasnya dan Ronald sungguh jengkel melihat kelakuan Nara yang menghindarinya malam ini, Ronald harus punya satu lagi asisten pribadi laki-laki karena dia tidak ingin Nara repot seperti ini. Nara itu hanya formalitas, padahal semua sudah diserahkan pada Janu.


"Kelihatannya?" Ronald merentangkan tangannya karena saat ini tidak ada yang bergelayut di lengannya.


"Rosalinda bisa menemani Mr. Ronald, kalau memang Mr. Ronald tidak keberatan," tawar Frans tetapi Ronald tersenyum sinis. Rosalinda bahkan sudah kegirangan karena Ronald tidak mungkin menolak tawaran ayahnya.


"Saya bersama seseorang malam ini," jawab Ronald tanpa ragu. Rosalinda langsung merubah raut wajahnya menjadi bersedih.


Dia tidak peduli.


Ronald pun meninggalkan cepat Frans dan keluarganya setelah mereka duduk di mejanya karena Nara mulai berulah kembali. Saat ini dia sedang berbicara dengan Gerald dan keluarganya.


"Maaf Mi, Nara tidak bermaksud berbohong saat itu, Nara memang bukan Miranda, mungkin Gerald sudah menjelaskannya," ucap Nara dengan senyum paling tulusnya.

__ADS_1


"Padahal Mami sudah sayang banget sama kamu, Miranda. Ehh … Nara! Mami sangat setuju kalian bersama walau kamu bukan Miranda, bagaimana Gerald pendapatmu?" tanya Jane yang hanya dibalas senyum oleh Gerald.


"Mami, itu tidak mungkin Mi," jawab Nara dengan tersenyum kaku dan Ronald langsung menarik cepat tangan Nara ke pelukannya.


"Ya tidak mungkin karena kamu itu kekasihku, bukan Miranda!" Ronald menatap Gerald seolah tajam seolah sedang berbicara dengan musuhnya saat ini.


Gerald hanya tersenyum mengejek melihat tingkah Ronald, ternyata wanita yang bisa membuat Ronald bertekuk lutut adalah Dinara. Begitu hebatnya dia mengaku lelaki playboy di luar sana.


"Mr. Ronald, maafkan kesalahan Gerald yang salah mengenali kekasihmu tetapi Nara begitu baik, saya saja menyukainya, mungkin kalau bukan kekasih Mr. Ronald, Gerald pasti ingin bersama dengannya, Mr. Ronald beruntung sekali punya kekasih yang baik hati seperti Nara," ucap Jane membantu Gerald agar tidak ada pertengkaran saat ini. Sangat malu dilihat banyak teman bisnisnya apalagi di acara Ronald. Mereka datang bukan untuk mencari ribut.


Ini perkumpulan elite yang dua bulan sekali di adakan layaknya arisan oleh para bos-bos besar yang ada di Jakarta.


"Ya tidak masalah," jawab Ronald begitu posesif nya.


Nara sudah tidak mengerti lagi menghadapi Ronald.


"Kamu jangan nakal, honey! Acara ini bukan di siapkan untuk kamu mencuci matamu." Ronald cemburu, dia sangat cemburu ketika ada lelaki lain yang berusaha mendekati kekasihnya.


Tidak lama Monica datang bersama Edwardo, Papa tirinya dan adiknya yang tidak satu ayah, Christin.


Nara berusaha melarikan diri dari situasi ini tetapi Ronald kembali menariknya.


"Aku tidak ingin bertemu dengan ibumu," bisik Nara ketakutan.


"Kenapa? Dia ibuku Nara, calon mertuamu," ucap Ronald dengan gila.


"Kamu bukan kekasihku Ronald, bukan kekasihku! Aku hanya mengingatkan itu," ucap Nara menepiskan tangan Ronald tetapi Ronald yang memang keras kepala tetap memegang Nara dengan erat.


Dari jauh saja, wajah Monica sudah sinis. Ketika mendekat tambah menunjukkan jijik melihat Nara.


"Wanita tidak tahu malu, tidak tahu posisinya di mana, terus dia menggangu Ronald," gumam Monica sebelum mendekat pada Ronald dan Nara yang memang sedang menunggu kehadiran keluarganya.


To Be Continued ….

__ADS_1


__ADS_2