
Delapan bulan kemudian.
Christin dan Monica sudah kembali dari Korea, wajahnya sudah kembali cantik malah jauh lebih cantik dari sebelumnya, Monica yang sudah tidak lagi marah dengan Nara, sedikit demi sedikit ketika berjauhan Monica justru lebih dekat dengan Nara, Nara juga banyak bertanya seputar kehamilan tentang mertuanya, Nara tidak punya orang tua, meski Monica sering kali marah dengannya dan pernah membuatnya sakit dan terluka. Nara sama sekali tidak menyimpan dendam.
Memang terkadang kalau mengingat itu sungguh membuat Nara merasa sedih dan terpukul tetapi Nara berusaha melupakannya karena Monica sama saja seperti ibunya.
Christin dan Monica sudah sampai Indonesia saat ini, Christin sangat percaya diri dengan tampilan wajahnya yang baru, tidak banyak berubah tetapi malah semakin cantik, Christin juga meminta untuk dibuatkan pemanis di dekat dagunya dan lesung pipi.
Sebenarnya Christin tidak ingin lagi kembali ke Indonesia apalagi Axel yang sudah keluar dari penjara, Axel orang kaya tentu saja mudah keluar dari penjara. Selama berapa bulan ini Axel terus saja mencari Christin tetapi nihil.
Ronald tidak bisa menjemput Nara dan Monica karena Nara sudah mengalami kontraksi dan sekarang sudah ada di rumah sakit, air ketubannya sudah pecah dan sebentar lagi akan melahirkan. Christin dan Monica di jemput oleh Edwardo.
"Ma, koper aku kayaknya ketinggalan satu, Mama duluan deh, aku pergi ambil lagi. Itu isinya oleh-oleh buat Kak Nara," ucap Christin kebingungan. Monica menghela nafasnya panjang, selalu sifat Christin yang ceroboh tidak pernah hilang, Christin pun berlari kembali ke dalam dan tidak sengaja menabrak seseorang karena terburu-buru.
"Maaf, aku tidak sengaja!" Christin menundukkan kepalanya sebentar lalu mendongak dengan wajah bersalahnya.
"Rangga," ucap Christin setelah melihat laki-laki yang ditabraknya adalah Rangga. Hampir saja Rangga tidak mengenali Christin karena ada perubahan pada wajah Christin, lebih segar, sangat cantik, mata yang indah dan ada tahii lalat di dagunya. Lesung pipi yang manis ketika Christin tersenyum dan hidung yang lebih mancung dari sebelumnya.
Jelas kalau Christin melakukan operasi pada wajahnya.
"Christin," balas Rangga dengan senyumnya.
"Dengan istrimu?" tanya Christin dengan lembutnya. Christin tahu kalau Rangga sudah menikah. Rangga hanya tersenyum kecut.
"Dia sudah meninggal dua bulan yang lalu, istriku sakit kanker otak stadium akhir saat aku menikah dengannya," ucap Rangga sedikit bercerita.
"Oh maaf aku tidak tahu, aku turut berduka cita, Rangga." Rangga sedikit salah tingkah karena sebenarnya perasaannya dengan Christin tidak pernah berubah tetapi jelas sekarang bukan waktu yang tepat untuknya.
__ADS_1
"Kamu ingin pulang?" tanya Rangga. Rangga juga baru kembali dari Singapore dan akan kembali ke kantornya.
"Oh iya, Kakak iparku akan segera melahirkan, aku lupa koperku ada satu yang ketinggalan semua baju bayi dan hadiah untuknya, maaf aku harus mengambilnya dulu Rangga, sampai jumpa," ucap Christin pergi dan melambaikan tangannya.
Rangga yang masih belum rela ditinggalkan Christin secepat itu, ikut menyusul Christin kembali. Setelah menemukan kopernya, dengan cepat Christin kembali lagi dan malah melihat Rangga lagi.
"Kamu masih disini?" tanya Christin dengan tawanya.
"Aku tidak ada kerjaan, boleh ikut ke rumah sakit?"
Christin mengkerutkan keningnya. haruskan dia menolak kebaikan Rangga? Bukankah selama di Korea. Christin masih suka terbayang dengan Rangga yang sekarang sudah menikah tetapi saat ini dia sudah tidak lagi bersama istrinya. Harusnya tidak masalah.
"Apa tidak merepotkanmu?" tanya Christin dengan lembut.
"Tentu saja tidak," jawab Rangga langsung mengambil koper Christin. Christin mengambil ponselnya dan menghubungi Monica.
"Ya sudah, Mama tunggu di rumah sakit!"
Sementara di rumah sakit, Nara sedang berjuang untuk kelahiran anak pertamanya dengan Ronald. Ronald selalu menggenggam tangan Nara, begitu banyak keringat yang mengucur dan Nara berusaha menahan segala rasa sakit saat akan mengeluarkan anak pertamanya yang dokter perkirakan seorang perempuan.
Nar mengejan dibantu oleh dokter, Ronald baru kali ini melihat Nara begitu kepayahan. Tenaganya sudah hampir habis rasanya seribu uratnya putus menahan rasa sakit yang dideritanya. Tentu ini bukan mudah untuk Ronald. Selama menahan sakit selama beberapa jam, yang Ronald khawatirkan. Bayinya sudah pecah ketuban dan takut jika tidak bernafas di dalam sana.
Ah Ronald tidak mengerti istilah kedokteran. Dia hanya peduli istrinya yang susah saat ini dan anaknya yang sebentar lagi akan lahir.
"Honey, kuat yah sayang!" Ronald tidak berhenti mengecupi kening Nara dari masuk sampai proses kelahirannya. Tidak ada yang bisa dia bantu kecuali tidak melepaskan istrinya. Wajah Nara sudah sangat pucat sekali dan akhirnya dengan kembali mengejan bayinya keluar dengan selamat. Mereka para dokter langsung memperlihatkan pada Nara dan Nara langsung menciumnya.
Nara kelelahan, benar-benar lega sekali rasanya saat mendengar anaknya sudah lahir dengan selamat. Suara tangis bayi yang membuat Nara meneteskan air matanya bahkan Ronald pun terharu melihat putri cantiknya.
__ADS_1
"Terima kasih honey! Kamu sudah melahirkan putri cantik untukku, aku semakin mencintaimu," ucap Ronald kembali mendaratkan kecupan di kening istrinya. Dari Nara hamil sampai dia mengidam ini dan itu, Ronald tidak pernah sekalipun tidak mengabulkannya.
Setelah bayinya dibersihkan dan diberikan obat, bayi mungil itu diberikan pada Ronald.
Bayi perempuan yang akan dia berikan nama Sonya Amberly.
"Dokter, pasien mengalami pendarahan hebat," ucap suster setelah melihat Nara mengalami pendarahan luar biasa setelah melahirkan. Jantung Ronald kembali berdegup dengan kencangnya. Kali ini Ronald tidak bisa masuk dan dipersilahkan untuk keluar, Nara sudah tidak sadarkan diri dan dokter keluar untuk menemui Ronald.
"Pak Ronald, kami harus melakukan tindakan operasi saat ini, kondisi Ibu Nara kritis dan jika tidak segera ditangani, akan berbahaya untuknya," ucap Dokter setelah tahu adanya kelainan pada rahim Nara.
"Dokter, lakukan apapun! Tolong selamatkan istri saya," ucap Ronald dengan jantungnya yang bergemuruh. Dia bisa gila kalau sampai kehilangan Nara. Mereka baru saja mendapatkan buah hati dan bagaimana Ronald bisa hidup tanpa Nara di sampingnya.
Setelah semua diurus, Nara pun dibawa ke ruangan operasi.
Tidak lama Monica dan Edwardo datang setelah Nara melahirkan anaknya.
"Ronald, bagaimana kondisi Nara?" tanya Monica yang ikut khawatir. Monica baru diberikan kabar saat dalam perjalanan.
"Masih di ruang operasi Ma, Sonya masih di ruangan bayi kalau Mama mau melihatnya," ucap Ronald dengan wajah sedihnya. Kasihan sekali Sonya, baru saja dilahirkan Ibunya sedang berjuang antara hidup dan matinya.
"Kamu berdoa saja Ronald, supaya Nara baik-baik dan selamat," ucap Edwardo memukul pelan pundak Ronald.
"Makasih Pa," balas Ronald.
Kamu harus bertahan honey, aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu meninggalkanku.
To Be Continued ….
__ADS_1