
Pagi ini begitu bangun, Nara langsung tersenyum bahagia karena sekarang dia sudah resmi menjadi istri Ronald seutuhnya dan Ronald akan mendukung apapun yang akan Nara lakukan bahkan mereka mungkin akan pindah ke Bogor. Semua Ronald lakukan hanya demi kebahagiaan Nara.
Semua yang terbaik untuk Nara dan keluarga kecilnya.
"Selamat pagi, honey! Bangun sayang, kita sarapan dulu," ucap Nara mendekatkan wajahnya dan langsung mendaratkan kecupan hangatnya pada kening Ronald. Ronald sungguh lelah sekali semalam dia berolahraga terlalu banyak dan pagi ini sungguh membuatnya kehabisan tenaga dan berharap tidak ke kantor karena masih ingin bersama istri tercinta.
Ronald mengerjapkan matanya berulang kali dan tersenyum ketika melihat wajah Nara yang tersenyum menatapnya.
"Kenapa malas sekali pagi ini? Ini sudah pagi, honey. Biasanya kamu akan berenang dan pagi ini masih betah di ranjang," ucap Nara menunjuk batang hidung Ronald yang mancung. Ronald mengambil tangan Nara dan mengecupinya dengan sangat lembut.
"Aku bahagia sekali, honey! Aku kira aku sedang bermimpi pagi ini melihatmu tersenyum, ternyata semua itu nyata, berikan aku morning kiss!" Ronald memanyunkan bibirnya dan dengan cepat Nara menuruti semua yang diinginkan Ronald. Semenjak berganti status menjadi istri Ronald, Nara mengerti tugasnya sebagai istri. Dia menurunkan egonya dan mengedepankan perhatiannya pada Ronald.
Cup.
"Sudah! Ayo bangun honey! Banyak yang kita akan urus hari ini, kamu berjanji untuk membawaku ke Bogor," ucap Nara mengingatkan suaminya.
Ronald mendengus kesal, ternyata Nara mempunyai maksud pagi ini. Pantas sekali romantis. Ronald pun bangun dan membawa Nara masuk ke pelukannya.
"Kenapa cepat sekali ingin meninggalkanku, kalau aku merindukanmu, Bagaimana kalau kamu jauh honey, aku bisa saat itu juga pergi ke Bogor," ucap Ronald dengan wajah sedihnya.
"Tetapi kamu sudah janji honey, kamu bilang kita akan tinggal di Bogor," ucap Nara dengan wajah memelasnya.
"Baiklah! Aku tidak bohong sayang, turunlah lebih dulu ke meja makan, aku akan membasuh tubuhku lalu kita langsung pergi, apa kamu senang?" tanya Ronald mengedipkan matanya dan langsung meraup bibir Nara tanpa aba-aba, Nara hanya tersenyum melihat kelakuan nakal suaminya.
Setelahnya Ronald berdiri tanpa menggunakan sehelai benangpun ke toilet. Sekarang Nara sudah tidak malu lagi melihat tubuh toples Ronald seperti itu. Toh semalam mereka sudah saling mengenali tubuh masing-masing. Nara pun dengan cepat ke bawah dan menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Terdengar bunyi ribut-ribut di luar, membuat Nara penasaran sebenarnya sedang terjadi apa. Nara pun mengintip dari jendela dan melihat Monica yang ingin masuk ke dalam tetapi dihalangi oleh bodyguard Ronald.
__ADS_1
Nara menutup mulutnya dan langsung naik ke atas.
Ceklek.
Tubuh Nara gemetar dan nafasnya masih naik turun. Menakutkan sekali bertemu dengan orang tua Ronald di saat seperti ini.
"Kenapa honey?" tanya Ronald penasaran saat dia melihat Nara yang duduk di bibir ranjang sambil menggigit jempolnya.
"Honey, di bawah ada Mama, aku takut dia tahu kalau aku ada di sini dan foto pernikahan kita masih dipajang di ruang utama, apa tidak membuat Mama marah nantinya," ucap Nara mendekat ke arah Ronald.
Kali ini Ronald memegang pundak Nara dengan kuat. Dia tidak ingin melihat Nara ketakutan seperti ini lagi.
"Honey, kamu ini sekarang istriku, kamu tidak perlu takut, kamu nyonya di rumah ini, jika Mama baik, kamu balas saja kebaikannya dan jika dia melakukan kejahatan denganmu, jangan tinggal diam. Kamu berhak marah! Ingat kata-kataku," ucap Ronald tegas. Dia hanya tidak ingin Nara terus bersembunyi dan membuat Monica bahagia karena Nara yang lemah dan bisa diperdaya.
Ronald menghubungi penjaga di bawah dan membiarkan Monica masuk tanpa menghalanginya sama sekali.
"Selamat pagi Ma," ucap Ronald dengan wajah datar tanpa senyumnya. Monica sangat terkejut memandangi foto pernikahan Ronald dan Nara. Jadi berita yang di dapatkannya mengenai pernikahan Ronald memang benar. Anaknya sudah menikah tanpa kehadirannya.
"Ronald, apa ini?" tanya Monica menunjuk foto pernikahannya dengan Nara. Monica melihat wanita yang berjalan di belakang Ronald. Wanita murahan, miskin dan tidak tahu malu yang mengambil kesempatan menikah dengan anaknya.
"Seperti yang Mama lihat, aku dan Nara sudah menikah, Ma. Hanya dari KUA saja, belum membuat pesta pernikahan, mungkin nanti, aku akan melihat jadwalku dulu dan tanggal yang baik untuk mengadakan pesta besar seperti itu," ucap Ronald dengan santai dan duduk di sofa bersebelahan dengan Nara.
Saat ini Monica masih tidak ingin marah karena melihat raut wajah Ronald saja menandakan Ronald yang masih marah dengannya. Nara juga masih menunduk dan bergelayut di lengan Ronald.
"Tegakkan wajahmu, honey!" perintah Ronald dan dengan pelan Nara menegakkan pandangannya menatap Monica. Bahkan Nara tidak sanggup menyapa Monica.
"Apa Mama kesini ingin memberikan selamat padaku atau ingin meminta maaf pada Nara?" tanya Ronald tanpa banyak basa-basi karena terakhir kali yang dia tahu, Monica membuat cidera tubuh Nara, perasaan kesal dan marah masih melingkupi pikiran Ronald.
__ADS_1
Monica duduk dengan senyum palsunya, dia menatap Nara dan Ronald bergantian.
"Kenapa tidak membuat pesta?" tanya Monica yang tidak bisa menutupi rasa kesalnya dengan wanita di depannya ini.
"Aku hanya takut, Nara pergi lagi meninggalkanku karena bertemu lagi dengannya saja aku masih beruntung, Ma. Aku kira Nara sudah pergi selamanya karena kekerasan yang Mama berikan pada Nara," ucap Ronald mengingatkan Monica.
Monica seperti biasa dan tidak tahu malu, dia tidak akan meminta maaf pada wanita di depannya ini. Memang Nara yang tidak sadar diri mendekati anaknya. Dia hanya ingin Ronald bahagia.
"Bukankah Mama berjanji akan meminta maaf pada Nara?" tanya Ronald.
Ronald hanya mengingatkan apa yang dikatakan Monica padanya saat Ronald masuk rumah sakit dan Ronald menagih janji manis monica.
Monica mengepalkan tangannya tetapi wajahnya masih berusaha senyum.
"Ayo Ma!" Sudah tidak sabar lagi Ronald mendengar permintaan maaf dari Monica.
"Saat ini, Nara bukan lagi orang luar karena dia menantu Mama, yang akan melahirkan anakku nantinya," ucap Ronald kembali mempertegas.
"Nara, Mama minta maaf, kamu mau kan, maafin Mama," ucap Monica dengan senyum palsu dan mata yang seolah sedang menangis.
Meski Nara tahu semua itu palsu, Nara tetap tersenyum dan memaafkan. Kali ini Ronald akan mengajarkan pada Nara untuk lebih berani. Jangan sampai dia selalu di tunda oleh Mamanya yang sudah tua ini.
Seharusnya di umurnya yang tua seperti ini, bukan lagi mengurusi masalah anak-anaknya tetapi berpikir saja tentang kebahagiaannya dengan Papa tirinya.
Bahkan Monica sangat lengah membiarkan terus menerus Edwardo bermain gila di belakangnya.
"Sudah Ma, Nara sudah memaafkan kesalahan Mama," jawab Nara dengan lembut.
__ADS_1
Ronald tidak suka Nara yang terlalu lembut seperti ini. Sedikit demi sedikit, Ronald akan membuat istrinya percaya diri dan tidak lagi ketakutan seperti ini.
To Be Continued ….