Stop Loving You

Stop Loving You
Don't Make Me Angry


__ADS_3

Setelah liburan mereka di Inggris, apa yang Martin rasakan pada Sonya benar, Sonya tidak lagi mengangkat telponnya, tidak juga pernah lagi menghubunginya. Berulang kali Martin coba untuk menghubungi Sonya tetapi hasilnya nihil, Sonya seakan menghilang ditelan bumi, Sonya seakan tidak ingin lagi berhubungan dengan Martin.


"Kamu kemana, honey?" tanya Martin yang saat ini di negaranya dan Sonya sudah kembali di Indonesia. Sonya berkeras tidak siap bertemu dengan keluarga Martin dan tidak ingin berkunjung ke negaranya.


Panggilan ke ponsel Sonya selalu masuk tetapi Sonya tidak menerimanya. Sedangkan Sonya di Indonesia yang melihat panggilan dari Martin benar-benar mengacuhkannya.


"Maaf Martin, aku belum siap menikah dengan kamu, aku kira kita harus berpikir tentang hubungan kita," gumam Sonya di dalam kamarnya. Sudah hampir satu Minggu Sonya mendiamkan Martin dan Martin belum bisa mengunjungi Sonya ke Indonesia.


Martin sedang disibukkan dengan banyaknya urusan kerajaan dan bisnisnya yang lain. Belum lagi sebentar lagi pesta yang akan diadakan di istana.


Bagaimana bisa Sonya mendiamkannya di saat penting seperti ini, di saat semua keluarganya sudah mulai menanyakan kekasih Martin. Semua orang tahu kalau kemarin Martin di Inggris bersama dengan wanita dan seantero istana bahkan sudah menduga kalau sebentar lagi Martin akan menunjukkan kekasihnya yang sebenarnya.


Semalaman Martin tidak bisa tidur memikirkan Sonya, pesan yang Martin kirimkan, tidak ada satu pun yang Sonya balas. Bahkan Martin mengancam Sonya kalau Sonya masih tidak membalasnya, Martin akan membuat perhitungan dengan Sonya. Martin tidak main-main.


Sonya seakan tidak peduli dengan ancaman Martin. Ini Indonesia negaranya dan Martin tidak mungkin bisa berbuat banyak.


Ceklek.


Nara tiba-tiba masuk ke dalam kamar Sonya.


"Mom, belum tidur?" tanya Sonya saat Nara masuk dan langsung duduk di bibir ranjang. Sonya langsung memeluk Mommnya dengan mesra.


"Sayang, kamu kenapa akhir-akhir ini sering melamun, Mommy lihat kamu gak semangat, terus kenapa tidak main lagi dengan Cantika?" tanya Nara sambil mengusap lembut rambut Sonya.


"Mom, Sonya lagi bingung, Mommy tahu tidak bagaimana memutuskan hubungan dengan laki-laki?" tanya Sonya serius. Sonya bingung menghadapi Martin. Dia juga takut ketemu dengan Martin.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Nara mengkerutkan keningnya.


"Mom, Martin ingin melamar Sonya," ucap Sonya jujur. Nara tersenyum kecut, benar sekali kalau Martin menyukai Sonya. Kalau sampai Sonya menikah dengan Martin, Sonya pasti akan jauh darinya.

__ADS_1


"Sonya belum siap Mom, Sonya juga tidak mau tinggal di negaranya, Sonya tidak bisa meninggalkan kalian tetapi Sonya bingung bagaimana memutuskan hubungan dengan Martin," ucap Sonya bersandar pada pundak Nara. Nara terus mengusap rambut Sonya.


"Kamu cinta dia?" tanya Nara sambil mengusap lembut wajah Sonya yang cantik.


Kali ini Sonya diam, masalah cinta bukanlah yang penting untuknya. Sonya lebih memilih orang tuanya daripada bersama dengan seorang lelaki yang disukainya.


"Cinta bisa datang dan pergi Mom, itu tidak masalah untuk Sonya, kami baru berkenalan dan cinta itu belum terlalu dalam, aku pikir aku tidak akan siap menjadi wanitanya," ucap Sonya jujur.


"Kalau begitu kamu tidak boleh mengabaikannya sayang, putuskan hubunganmu secara baik-baik supaya dia tidak marah," ucap Nara memberikan pengertian.


Mommy benar, aku harus menghadapi Martin. Tidak mungkin Martin aku biarkan menunggu, bukankah banyak wanita yang menyukainya. Pasti tidak akan sulit untuk Martin mendapatkan wanita lain lagi.


"Makasih Mom," ucap Sonya tersenyum hangat dan Nara pun kembali ke luar kamar Sonya. Di dalam kamar, Sonya terus bolak balik kebingungan menghubungi Martin.


Sonya harus menghadapi Martin, harus memutuskan hubungan mereka. Sonya menghubungi Martin dan tidak lama telpon itu pun tersambung. Rasanya ingin marah Martin karena sudah seminggu Sonya tanpa kabar dan tidak membalas pesannya tetapi mendengar suara lembut Sonya, rasa marah yang memuncak langsung redah.


"Kamu kemana honey? Kamu tidak merindukanku?" tanya Martin dengan sangat lembut. Sengaja Sonya membuat panggilan video call agar bisa melihat wajah Martin.


"Kamu tidak menjawab pertanyaanku, kamu tidak merindukanku?" tanya Martin kembali tetapi Sonya hanya diam saja. Dia tidak ingin membalas rasa rindu Martin karena saat ini dia ingin memutuskan hubungannya dengan Martin. Putra Mahkota Brunei ini.


Seharusnya mereka tidak pernah kenal, seharusnya Martin tidak perlu suka dengan Sonya.


"Martin, aku ingin bicara denganmu," ucap Sonya memulai pembicaraan ini dan saat Sonya menyebut namanya, Martin sudah menduga pasti ada yang tidak beres. Pasti sesuatu sedang terjadi dan apa itu?


"Seminggu yang lalu, aku berkenalan dengan seorang laki-laki dan aku mulai dekat dengannya, aku … aku menyukainya," ucap Sonya berbohong. Karena Sonya tidak tahu cara apalagi agar Martin mau meninggalkannya. Martin tersenyum sinis mendengarnya.


Apa Sonya pikir Martin bodoh dan mudah untuk dibodohi, semua kegiatan Sonya selalu di pantau orang khusus kerajaan dan tidak ada laporan Sonya pergi dengan seorang lelaki. Ini jelas hanya alasan Sonya untuk berpisah dengannya.


"Lalu?" tanya Martin dengan sinisnya.

__ADS_1


Sonya menelan salivanya karena tatapan Martin sudah sangat mengerikan.


"Aku rasa hubungan kita tidak bisa dilanjutkan, maafkan aku!"


Benar sekali! Apa yang Martin pikirkan selama seminggu ini, Sonya sedang mencari alasan untuk pergi meninggalkannya. Sayangnya, tidak bisa Sonya! Sekali seorang Martin menyukai wanita maka dia akan serius. Ini bukan lelucon bagi Martin.


"Kamu ingin kita putus?" Martin memperjelas permintaan Sonya dan Sonya mengangguk sambil melirik wajah Martin yang suram.


"Honey, jangan bermain-main denganku, kamu tidak pernah melihat aku marah!" Martin mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya. Sungguh ini menyeramkan sekali. Rasanya saat ini Sonya ingin memutuskan telponnya dengan cepat. Dia ingin bersembunyi dari kejaran Martin.


"Maaf! Aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita, kamu boleh marah padaku!" Sonya menggigit bibir bawahnya dan Martin tersenyum sinis.


Sonya ingin melihat ternyata bagaimana kemarahan Martin.


"Besok aku akan ke Indonesia dan kamu katakan ketika bertemu denganku," ucap Martin dengan tegas.


Tidak mungkin! Pasti Martin tidak akan melepaskanku besok.


"Aku tidak bisa bertemu denganmu Martin. Besok aku akan ke daerah," ucap Sonya kembali mencari-cari alasan.


"Honey, jangan membuat aku marah! Tolong, saat ini aku sedang sangat kesal denganmu, besok temui aku atau kamu akan lihat apa yang akan aku lakukan padamu!"


Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku takut sekali bertemu dengannya. Dia pasti akan memaksakan kehendaknya.


"Sudah malam, aku harus tidur, selamat malam!"


Sonya memutuskan telpon dengan cepat dan di ruang kerjanya, Martin menghempaskan ponselnya ke lantai hingga hancur.


Sial!

__ADS_1


Tidak boleh ada yang mempermainkan perasaannya seperti ini termasuk Sonya. Martin sudah terlanjur sangat menyukai Sonya dan kedua orang tuanya juga sudah tahu kalau Martin menyukai wanita Indonesia.


To Be Continued ….


__ADS_2