Stop Loving You

Stop Loving You
Sonya Amberly


__ADS_3

Dokter keluar dari ruangan operasi, operasi Nara berlangsung lancar padahal sebenarnya di dalam sana. Nara sedang berjuang hidup dan mati. Biasanya banyak wanita yang mengalami pendarahan seperti Nara tidak mampu bertahan tetapi syukurlah Nara bisa bertahan. Nara belum sadarkan diri. Kali ini Ronald yang biasanya selalu mampu menahan air matanya. Bersandar di dinding dan mengeluarkan butiran air matanya. Meski tidak banyak tetapi itu bentuk betapa dia sangat sedih jika Nara meninggalkannya.


Ini sama saja Nara menyuruh Ronald berhenti untuk mencintainya di saat Ronald sedang sangat cinta dan sayangnya dengan Nara.


"Kak, Bagaimana Nara?" tanya Christin yang sudah sampai di rumah sakit dan baru melihat keponakannya hanya dari kaca.


"Masih di ruang pemulihan pasca operasi, aku akan menemaninya di sana. Kamu tolong jaga Sonya, kalau ada apa-apa telpon Kakak, semua perlengkapan Sonya ada di dalam ruangan Nara, VVIP no 7," ucap Ronald memberitahu Christin. Christin pun mengangguk, Dia bahkan tidak sempat mengenalkan Rangga pada Ronald. Ronald tidak mengenali Rangga karena Ronald tinggal di luar negeri, dia hanya tahu sedikit cerita saja tetapi tidak terlalu peduli.


"Iya Kak!"


Christin berjalan dengan Rangga menuju ruangan Nara. Karena Christin takut kalau ada perawat atau dokter yang menanyakan tentang Sonya.


"Kenapa dengan Kakak Ipar kamu?" tanya Rangga sambil membawa oleh-oleh yang Christin sudah siapkan.


"Pendarahan hebat katanya, Kak Nara itu memang dari hamil tidak kuat seperti ibu hamil yang lain, Kak Ronald suka maksaain Kak Nara di rumah saja, soalnya kandungannya itu lemah," ucap Christin menjelaskan. Dia tidak ingin panjang lebar dan tidak ingin semua orang tahu kalau sebenarnya penyebab kandungan Nara lemah adalah karena Monica yang pernah dengan kejamnya menginjak-injak perut Nara.


Tetapi memang itu ternyata berpengaruh pada rahimnya. Entah bagaimana Monica dulu menyakit Nara sampai seperti itu. Christin hanya tidak ingin mengingatkannya karena mereka saat ini sudah baik dan tidak ada lagi masalah.


"Kamu kalau mau pulang, pulanglah! Nanti besok kita bisa ketemu lagi, besok kan hari libur. Kamu masih bekerja?" tanya Christin dengan senyumnya.


"Tidak! Iya besok aku ke sini lagi, kamu ada titip makanan atau mau sesuatu?" tanya Rangga yang siap kapanpun untuk Christin.


Saat ini mereka sama-sama sendiri, dia ingin menjalin hubungannya lagi dengan Christin. Semoga saja masih ada cinta di hatinya.

__ADS_1


Setelah sampai di dalam kamar, Rangga berpamitan pulang karena dari sampai Indonesia, Rangga belum pulang ke rumahnya. Sedangkan di dalam kamar, sudah ada Monica dan Edwardo.


"Ma, Pa. Ini Rangga, teman aku, dia mau pamit pulang," ucap Christin kembali mengenalkan Rangga padahal Monica sangat kenal dengan laki-laki yang tidak pernah mendapat restu mendekati Christin karena dia dulu yang miskin.


"Oh hati-hati ya Rangga," ucap Monica dengan senyumnya. Saat ini Monica sudah tidak ingin lagi mencampuri urusan anaknya, dia sekarang mau fokus pada suaminya, karena selama ini Monica sadar dia kurang sekali perhatian dengan suami dan selalu saja marah-marah.


Setidaknya luka di wajahnya membuat hatinya melembut.


"Kamu sudah baikkan ya dengan Rangga?" tanya Monica senang melihat Christin yang terlihat malu-malu setelah ditinggalkan Rangga.


Rangga sudah menjadi duda. Apa boleh dia mengharapkan Rangga? Apa Rangga masih cinta dengannya? Atau justru sudah ada wanita lain lagi yang menggantikan almarhumah istrinya.


"Belum Ma, masih teman! Rangga baru kehilangan istrinya, tidak mungkin secepat itu dia punya kekasih, ada-ada saja Mama," ucap Christin duduk di sofa dan membuka oleh-oleh untuk keponakan wanitanya. Bayi yang sangat cantik sekali. Sungguh Christin sangat yakin kalau besar nanti Sonya Amberly akan menjadi rebutan para lelaki. Bibirnya merah, kecil dan tipis. Wajahnya imut, putih dan matanya begitu bulat. Rambutnya juga lebat sekali.


Sementara Ronald sudah masuk ke dalam ruangan Nara. Nara belum sadarkan diri karena memang baru selesai operasi. Ronald hanya tidak ingin meninggalkan Nara. Pikirannya terbagi saat ini, melihat Nara yang sangat pucat membuat hati Ronald tidak sanggup melihatnya. Biasanya istrinya cerewet, manja, yang paling Ronald suka. Nara jarang sekali marah-marah dengannya. Kalau marahpun hanya diam.


Di dalam ruangan yang hangat ini, Ronald terus menggenggam tangan Nara. Butiran keringat yang menetes dari pelipis Nara, cepat-cepat Ronald hapuskan.


Bahkan tidak terasa sudah hampir semalaman, Ronald menunggu Nara sadarkan diri. Tidak ada raut lelah dari wajah Ronald. Dia hanya makan roti dan air mineral yang dibawanya. Tidak ada yang lain! Makan nasi tidak membuatnya selera. Dia hanya menjaga tubuhnya karena saat ini ada bayi kecil yang juga membutuhkan perhatiannya.


Mata Nara terbuka dengan pelan dan melihat Ronald di sebelahnya, tidak ada senyum karena Nara sungguh kesakitan saat ini sehabis dioperasi dan melahirkan tetapi tetap dia tahan rasa sakitnya.


"Mau minum, honey!" bisik Nara dengan pelan tetapi Ronald mendengarnya. Ronald dengan matanya yang senduh langsung menyiapkan minum untuk istrinya.

__ADS_1


Sepertinya banyak sekali tenaga Nara yang berkurang sampai dia menghabiskan segelas air hangat yang sudah Ronald berikan sedotan agar Nara mudah untuk menghisapnya.


"Honey, masih sakit sayang?" tanya Ronald pertama kali. Dia tahu kalau sedari tadi Nara meringis kesakitan tetapi tidak mau mengadu padanya.


"Tidak!"


"Kamu cepat sembuh ya Honey, ada Sonya! Dia menunggu Mommynya," ucap Ronald mengelus pipi Nara dengan lembut.


Nara tersenyum kecil, iya dia saat ini sudah menjadi seorang ibu untuk bayi kecil yang sudah mereka sepakati bernama Sonya Amberly.


"Sonya mirip kamu ya, honey?" tanya Nara dengan suaranya yang kecil dan nafasnya yang terengah-engah. Ronald sampai tidak mau mengajak Nara bicara karena takut terjadi apa-apa dengan Nara.


"Tidurlah dulu honey, istirahatlah. Sonya biar aku yang mengurusnya, kamu mau ASI atau biarkan Dokter memberikannya susu Formula," ucap Ronald yang tahu kalau Nara bersikeras ingin ASI.


"ASI, honey!" ucap Nara dengan lembut dan lirih. Malah tidak terdengar sama sekali. Ronald hanya mengiyakan karena dia juga harus berkonsultasi dengan dokter. Masalahnya Nara dalam kondisi yang sangat lemah saat ini.


"Makanya kamu cepat sembuh, honey! Kita bisa bahagia bertiga, kamu mau liburan ke Jepang kan? Kemarin bilang mau honeymoon," ucap Ronald dengan mengusap wajah Nara dengan lembut. Sebenarnya saat ini jantung Ronald sedang berdegup kencang. Dokter mengatakan bisa saja sehabis operasi Nara akan mengalami pendarahan lagi.


Ingin menangis rasanya ketika tahu Nara begitu hebatnya berjuang untuk hidupnya. Ronald tahu Nara sangat sayang dengan dia dan anaknya.


Nara hanya mengangguk dan kembali menutup matanya. Tidak ada pereda nyeri yang dia dapatkan karena Nara baru selesai operasi dan memang belum didalam ruang perawatan.


"Kamu yang kuat ya, honey! Jangan membuat aku takut, aku mohon jangan menghancurkan hatiku," bisik Ronald di telinga Nara.

__ADS_1


To Be Continued ….


__ADS_2