
Semenjak Ronald dan Nara menikah, mereka sama sekali belum menikmati honeymoon sesungguhnya, sungguh Ronald ingin sekali mengajak Nara ke luar kota, bermesraan, berpelukan dan sambil menyalurkan kerinduan bersama tetapi sepertinya itu akan sulit Ronald dan Nara lakukan. Bahkan resepsi pernikahan saja tidak ada. Kalau bukan Ronald yang memaksakan kehendaknya menikah dengan Nara.
Sudah tentu mereka sampai saat ini belum menikah dan Nara pasti mencari sejuta alasan untuk pergi meninggalkannya.
Ronald sudah tidak bisa menahan hasratnya sampai dia harus berhenti di hotel terdekat hanya untuk menyalurkan hasratnya dengan Nara.
Sesampainya di dalam kamar, Ronald langsung mendorong Nara ke ranjang dan tanpa berpikir panjang meraup bibir Nara dengan rakusnya dan membuang semua kain yang menutup tubuh Nara dengan sangat cepat seolah mereka sedang diburu waktu saat ini.
"Aku tidak bisa mengontrol tubuhku kalau sudah bersama denganmu, honey! Aku juga bingung kenapa," ucap Ronald dengan suara parau sembari menikmati permainan mereka di ranjang dengan lembut. Ronald menikmati detik demi detik kebersamaannya dengan Nara.
"Kalau dengan wanita lain, kamu bisa mengontrolnya, honey?" tanya Nara masih di sela-sela permainan mereka. Ronald menggigit bibir bawah Nara dengan lembut.
"Ya, aku tidak suka wanita seperti itu, honey! Jelas sekali dia memang sengaja datang ke rumah kita hanya untuk menggodaku," ucap Ronald mengatur nafasnya yang naik turun karena baru selesai melepaskan cintanya di dalam perut Nara dan berbaring bersisian dengan tubuh istrinya yang juga lelah menghadapi gempurannya.
"Kamu tahu, suara wanita di toilet dapur setiap Subuh hari itu, itu suara dia, aku sudah lama ingin mengatakan tetapi pasti kamu tidak percaya denganku, aku hanya mengumpulkan bukti yang cukup baru bisa menyeretnya ke penjara," lanjut Ronald bercerita.
Sudah banyak sekali Ronald mengenal sifat wanita, dia hidup di Inggris dan banyak sekali para wanita yang menggodanya dan satu kali lihat saja, jelas Ronald tahu kalau Nola mengirimkan kode keras untuk menggodanya. Tatapannya yang senduh pada Ronald mengisyaratkan kalau dia menyukai Ronald.
"Honey, beberapa hari ini kita banyak sekali mendapatkan masalah, dari Christin, Mama dan sekarang kamu, kamu harus tetap hati-hati ya honey, aku takut mereka membalaskan dendamnya lagi padamu," ucap Nara memeluk Ronald dengan erat.
"Pasti sayang, pasti aku akan hati-hati mulai saat ini," jawab Ronald. Ronald membawa Nara masuk ke dalam pelukannya. Besok mereka akan sangat sibuk dan Ronald tidak punya waktu memanjakan istrinya.
"Sayang, besok atau lusa aku akan pergi ke Malaysia dan Singapore, kamu mau ikut?" tanya Ronald. Ronald masih berharap Nara mau ikut bersamanya sambil menikmati honeymoon yang hanya dua hari, operasi Monica dan Christin juga belum bisa dilakukan.
"Ada cafe yang harus aku jalankan, honey. Kamu juga mendadak sekali mengajakku, Mama dan Christin juga belum sehat, kalau kita berdua pergi, nanti tidak ada yang menjaga mereka," ucap Nara dengan lembut.
__ADS_1
Ronald memanyunkan bibirnya, Nara susah sekali kalau diajak pergi seperti ini.
"Ya sudahlah! Lain kali kamu tidak boleh menolak, honey, aku juga memerlukan keberadaanmu," ucap Ronald dengan wajahnya yang sedih.
"Setelah kamu pulang, kita kan, masih bisa bersama honey," ucap Nara membujuk Ronald agar tidak marah dengannya. Ronald mencubit hidung Nara dengan pelan dan kembali menarik Nara masuk ke dalam pelukannya. Mereka melanjutkan kembali tidurnya sampai malam dan mereka kembali lagi ke rumah.
Pagi Ronald sudah pergi dan semua perlengkapan Ronald sudah Nara siapkan dengan baik. Nara percaya kalau dia akan baik-baik saja di luar negeri. Sementara dia mengurus cafe yang sudah berapa hari terbengkalai.
Nara sibuk melihat jalannya cafe sampai tidak sadar seseorang menyapanya.
"Halo Nara, kita berjumpa lagi di sini, kamu sedang menunggu seseorang?" tanya Gerald yang tidak sengaja datang ke cafe milik Nara dan malah bertemu dengan wanita yang dulu bekerja sama dengannya.
"Gerald, kamu mau makan siang?" tanya Nara melihat Gerald yang datang sendirian ke cafe.
"Nasi goreng Mertua Mercon, hahahah … lucu sekali namanya," ucap Gerald tertawa karena nama nasi goreng yang dianggapnya aneh.
Ya bagi Gerald aneh, tidak bagi Nara. Itu mewakilkan isi hatinya pada mulut Monica yang cerewet. Mungkin karena sedang sakit, Monica sedikit diam, lihat saja kalau sudah sembuh nanti pada lebih pedas dari nasi goreng yang dia buat.
"Oh iya, itu yang paling pedas, kamu suka makanan pedas?" tanya Nara dengan senyumnya. Gerald pun mengangguk.
"Suka sekali apalagi dengan yang membuatnya," ucap Gerald sedikit menggoda Nara. Nara tertawa canggung.
Maksudnya apa ini?
Nara sama sekali tidak sadar kalau sedari tadi juga ada Rosalinda yang ada di cafenya, Rosalinda sengaja melihat cafe milik Nara yang diberitahukan oleh Monica.
__ADS_1
Enak sekali wanita itu, baru menikah sudah mendapatkan cafe untuk dia olah. Menjijikan sekali!
Rosalinda mengambil foto tawa Nara dan Gerald lalu dengan cepat dia mengirimkan pada Ronald dengan menggunakan ponselnya yang berbeda.
Setelah ini kamu pasti tidak akan bisa tertawa lagi.
Rosalinda berdiri dan membayar tagihan makan siangnya. Setidaknya dia akan membuat Nara terus di benci oleh Monica. kalau sampai Monica menyukainya, kesempatan menikah dengan Ronald tidak akan pernah terjadi dalam hidupnya.
"Nara, kamu ada waktu setelah ini. Mami ulang tahun dan aku ingin minta di temani beli hadiah," ucap Gerald santai seolah Nara akan mengabulkan permintaan Gerald, dia sudah menikah. Pasti Ronald marah kalau sampai Nara pergi dengan laki-laki lain di belakangnya.
"Maaf Gerald, hari ini aku sangat sibuk, sampaikan saja salamku pada Mami Jane," ucap Nara. Nara menolak secara halus, Jane sangat baik dengannya, mungkin Nara akan ke Mall dan mencari hadiah kecil untuk Jane.
"Sayang sekali, aku tunggu meski sampai malam, bagaimana?" Gerald masih tidak menyerah padahal Nara tidak ingin pergi dengan Gerald.
Sedari tadi ponsel Nara berbunyi, sayangnya. Nara meletakkan ponselnya di dapur dan ada di dalam tasnya. Ronald yang ada di Malaysia sangat tidak suka melihat Nara duduk dengan Gerald.
"Tidak perlu Gerald, sungguh aku sibuk sekali sampai malam," jawab Nara meringis.
"Baiklah kalau begitu, besok saja! Kamu tidak boleh menolak kalau aku ajak lagi," tunjuk Gerald dengan senyum lebarnya.
"Aku tidak janji," jawab Nara dengan lembut.
Tidak mungkin dia berani pergi dengan Gerald saat tidak ada Ronald, pasti kalau Ronald tahu dia akan sangat marah dengan Nara.
To Be Continued …,
__ADS_1