
Sumpah Ku Mencintaimu - Seventeen
Sumpah, 'ku mencintaimu, sungguh 'ku gila karenamu. Sumpah mati, hatiku untukmu, 'tak ada yang lain. Mati rasaku tanpamu, henti nafasku karenamu.
Sumpah mati, aku cinta. Sepantasnya dirimu seutuhnya untukku. Sempurnamu bila bersamaku. Dan denganku, kita 'kan bahagia selamanya.
Tepat sekali saat ini, Nara sedang menghidupkan lagu Seventeen saat Ronald memeluk tubuhnya dan mengangkatnya ke atas lalu memutarnya dengan penuh cinta. Mereka tertawa bersama sampai tidak terasa sudah berada di ranjang kembali.
Nara menatap wajah Ronald dengan penuh cinta begitu pun Ronald menatap wajah istrinya dengan cinta.
Cukup seperti ini, lima menit saja mereka saling berpandangan. Saling berbicara dari hati ke hati. Seolah saling tahu apa yang dirasakan saat ini.
"Jangan pernah tinggalkan aku, honey. Kamu tahu? Hatiku ini hanya ada namamu," ucap Ronald membawa tangan Nara ke dadanya dan merasakan jantungnya yang berdegup dengan kencang. Nara mendekatkan wajahnya ke wajah Ronald dan mengecupi dengan pelan hidung mancung Ronald. Ronald menutup matanya. Menikmati sentuhan penuh cinta yang diberikan istrinya.
"Aku akan menemanimu selamanya, kamu takut aku pergi?" tanya Nara begitu lembutnya. Ronald mengedipkan matanya. Takut sekali!
Takut kehilangan Nara, takut istrinya tidak bahagia dan menangis. Sungguh tidak bisa Ronald rangkai dengan kata-kata betapa sayangnya Ronald dengan wanita ini. Meski terkadang dia keras kepala, suka marah, cerewet dan tetapi semua itu sempurna bagi Ronald.
Tidak ada cacat sedikitpun.
"Don't ever stop loving me because I will never stop loving you," ucap Ronald mengecupi pelan bibir istrinya siang ini. Ronald rasanya tiap hari ingin selalu pulang, ingin melihat istrinya, ingin di manja. Ingin di bawa ke kantor tetapi nanti banyak yang melirik, Ronald tidak suka berbagi mata dengan orang lain. Pandangan orang lain ketika melihat Nara sungguh membuatnya cemburu.
Nara hanya boleh cantik ketika bersama dengannya dan ketika Nara keluar cukup biasa saja. Ya memang Ronald egois, dia ingin memiliki Nara sendiri.
Nara tersenyum simpul dan memegang kedua pipi Ronald.
"Katakan lagi kalau kamu mencintaiku," bisik pelan Nara tepat di wajah Ronald.
"Aku mencintaimu honey, sangat mencintaimu," ucap Ronald menuruti kemauan istrinya. Ronald tidak akan pernah bosan berapa kali pun mengucapkan itu apalagi kalau Nara yang memintanya.
__ADS_1
"Sekali lagi," ucap Nara dengan kekehannya.
"Love you, love you, love you …." Kali ini tangan Ronald mulai bergerilya masuk ke dalam jenjang kaki Nara yang mulus. Mulai mengeksplorasi bagian sensitif yang akan meningkatkan cinta mereka ke tahap selanjutnya.
Ini yang kedua kalinya, Ronald yakin Nara sudah bisa beradaptasi dan tidak akan sulit seperti semalam saat mereka melakukannya. Berjam-jam dengan keringat yang mengucur deras dan berakhir dengan lelah yang sama setelah mencapai puncak percintaan seutuhnya.
Ketika Nara menggigit bibir bawahnya dan menatap senduh wajah Ronald lalu menjambak rambut lebat bagian belakang Ronald karena sentuhan itu mulai meresahkan bagi Nara. Nara ingin menenggelamkan seluruh rasa yang ada pada dirinya dan berbagi bersama suaminya.
"Lakukanlah, sudah cukup bermainnya, apa kamu tidak lihat itu sudah basah," bisik nakal Nara sambil menggigit telinga Ronald dengan lembut dan bergetar.
Oh ini menyenangkan sekali pikir Ronald, seharusnya sudah lama dia menikah dengan Nara. Kenapa baru sekarang dia tahu rasanya senikmat ini.
Siang ini bahkan mereka habiskan dengan penuh cinta tanpa terasa menghabiskan waktu hingga sore hari.
Ranjang yang tadinya dingin kini berubah menjadi hangat dan berantakan tidak berbentuk lagi, berbagai macam gaya mereka coba hingga berakhir dengan tawa dan senyum malu yang bersama.
"Kamu hebat sekali, honey! Kamu mau lagi?" tanya Ronald pada istrinya, sungguh dia takut kalau Nara tidak puas dengan permainannya. Sebagi laki-laki dia merasa gagal. Tentu saja Ronald tidak akan membiarkan Nara menang darinya.
Ronald pun tertawa dan memeluk Nara dengan eratnya, seumur hidup mana pernah dia memijat orang dan Nara dengan beraninya meminta dipijat, herannya dengan senang hati Ronald melakukan itu.
"Aku akan menyembuhkan dengan sekali sentuhan tangan ajaibku," ucap Ronald tertawa.
Menggemaskan sekali kelakuan suami istri ini, tanpa adanya Monica mereka pasti menjadi keluarga yang sangat bahagia. Nara memutuskan untuk melawan rasa takutnya, dia ingin mencintai Ronald dengan sesungguhnya, jika takdir sudah membuat dia menjadi istri Ronald. Maka dia akan melakukan peran istri yang baik untuk suaminya.
Bahkan seharusnya Nara menyambut Ronald datang tadi, itu kesalahan terbesar dia sudah lalai. Dia tidak tahu jam pulang Ronald. Nara tahu dia lupa bertanya kapan Ronald pulang.
"Honey, kalau kamu pulang ke rumah, beritahu aku, aku ingin menunggumu di depan rumah," ucap Nara mendongak menatap wajah Ronald.
"Tidak perlu honey, aku tidak memintamu seperti itu, biasa saja, seperti kamu yang tadi, aku suka melihatnya," balas Ronald mengernyitkan dahinya. Sungguh dia tidak ingin menjadi raja seperti itu.
__ADS_1
"Tetapi aku suka, aku ingin kamu tahu kalau setiap hari aku menantimu," ucap Nara dengan wajah sedihnya. Ronald tidak ingin melakukan itu padahal Nara sangat mendambakannya.
Melihat wajah Nara yang berubah menjadi sedih, Ronald pun mengelus pipi istrinya.
"Baiklah, aku akan katakan kalau pulang ke rumah, kamu harus siap atau kalau tidak, aku akan menghukummu," ucap Ronald. Ronald mencubit hidung Nara dengan lembut dan senyum kembali terbit dari wajah cantik Nara.
Ah aku tidak bisa melihatnya bersedih.
Ronald selalu kalah kalau melihat wajah Nara seperti itu. Nara menggunakan ilmu apa sampai dia begitu tergila-gila padanya.
"Apa hukumannya sayang?" tanya Nara ingin tahu, dia ingin tahu hukuman apa yang Ronald akan berikan kalau Nara lalai mengurusnya.
"Minum susu!"
Hahh! Hukuman seperti apa itu? tetapi Ronald tahu kalau Nara tidak suka susu apalagi susu putih dan hukuman itu akan membuat Nara muntah kalau meminumnya.
"Kejam sekali," balas Nara memanyunkan bibirnya.
"Jangan sedih honey, aku berbohong tadi, hukumannya traktir makan malam," lanjut Ronald.
Ah … melihat wajah Nara sesedih itu, Ronald harus mengganti hukumannya. Tidak bisa Ronald melihat Nara bersedih. Terlalu lemah sekali dengan istrinya.
"Deal!" jawab Nara dengan senyum lebarnya.
Sore ini setelah pergulatan hebat mereka di ranjang, Ronald dan Nara pergi ke mall karena banyak barang Nara yang tidak ada di rumah dan Ronald tidak suka melihat Nara kebingungan seperti tadi. Pakaiannya masih sedikit dan yang banyak hanya gaun tidur sexy. Itu penting bagi Ronald jadi itu lebih dulu yang Ronald beli untuk Nara.
To Be Continued ….
Follow IG Madammeyellow
__ADS_1
Jangan lupa Vote, like dan komentarnya