Stop Loving You

Stop Loving You
Crazy Mom


__ADS_3

"Coba ini, honey!" pinta Ronald pada pakaian tidur tipis, super transparan berwarna hitam berenda, Ronald yakin akan tampak panas kalau Nara menggunakannya.


Nara menggigit bibir bawahnya dan mengambil gaun itu dengan senyum nakalnya.


"Ingat untuk tidak tergoda nantinya," ucap Nara mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum menuju toilet.


Dasar wanita nakal, belum masuk saja, dia sudah menggodaku. Bagaimana aku tidak tergoda.


Dengan sabar Ronald menunggu sambil duduk di sofa kamarnya dan menghidupkan televisi. Tidak lama, Nara keluar dengan sengaja dia memutar tubuhnya menggunakan gaun tidur sexy itu, Ronald yang tadi sedang fokus menonton televisi sampai menjatuhkan ponselnya.


Sexy dan super hot ….


Bahkan kata sexy saja tidak cukup menggambarkan Nara saat ini. Ronald membasahi bibirnya dan berjalan ke arah istrinya yang nakal itu. Sedikit menelan salivanya karena sungguh Ronald tidak menyangkal kalau Nara menggoda imannya.


Ah iman lelaki mana yang teguh jika melihat pemandangan seperti ini tepat di depan matanya.


"Cantik tidak?" bisik Nara di telinga Ronald sambil menggigit telinganya pelan.


Oh … Nara membangkitkan sesuatu di bawah sana, pintar sekali Nara membuatnya bergelora.


"Sexy," balas Nara menggigit kecil bibir Nara dengan lembut. Semula Ronald tidak ingin melakukan pemanasan dengan istrinya. Melihat Nara yang seperti ini, sudah tentu aneh sekali kalau Ronald hanya diam mematung dan hanya sekedar mengagumi tanpa mencoba ciptaan Tuhan yang sempurna yang digariskan berjodoh dengannya.


"Kita lakukan sesuatu yang baru!"


Ronald mulai berpikir nakal untuk istrinya ini, sesuatu seperti apa yang Ronald ingin lakukan bersama Nara.


"Lakukan saja! Aku akan menuruti permainanmu," balas Nara dengan suara yang sengaja dibuat mendesah. Ronald berjongkok di bawah ranjang dengan Nara diatasnya, sebenarnya Nara tidak mengerti apa yang ingin Ronald lakukan sampai ketika Ronald membuka penutup bagian bawahnya dan Ronald dalam kondisi berjongkok menikmati setiap inti tubuhnya ketika lutut Nara bertumpu pada bibir ranjang dan Ronald dibawahnya.

__ADS_1


Oh … jelas saja, ini membuatnya gila! Ronald membuat Nara seolah wanita sempurna di bawah sana, tubuhnya bergetar karena permainan Ronald. Nara bahkan tidak sadar sudah berapa ronde melakukan permainan panas itu dengan suaminya sampai dia berkeringat sebanyak ini.


Sungguh yang Ronald lakukan tadi, sangat luar biasa dan itu pengalaman pertamanya. Sepertinya Nara akan menjadi candu dengan posisi seperti itu sebelum melakukannya dengan Ronald.


"Kamu nakal honey, darimana kamu cepat belajar?" tanya Ronald sambil memeluk istrinya dengan erat.


"Kamu juga hebat sayang, jangan salahkan aku jika aku memintanya," ucap Nara dengan manja.


Tentu saja dengan senang hati. itu bahkan permintaan yang menyenangkan bagi Ronald. Baru saja Ronald ingin tertidur dalam buaian bersama istrinya. Ponselnya berdering dan Ronald tidak tahu siapa yang menghubunginya tengah malam seperti ini.


Ronald menggapai ponselnya dan melihat nama 'Mama' yang menghubunginya.


"Siapa honey?" tanya Nara penasaran karena dia juga belum tidur masih menikmati pelukan bersama dengan Ronald.


"Mama," jawab Ronald cepat. Kenapa Mamanya menghubunginya di jam malam seperti ini? Tidak biasanya.


"Kenapa Ma?" tanya Ronald setelah menggeser tombol hijau ponselnya. Mungkin sangat penting kalau sudah selarut ini menghubungi Ronald.


Padahal sudah banyak wanita yang menjadi korban keganasan Monica tetapi Edwardo seolah tidak peduli, wanita itu yang menggodanya, tentu saja sebagai lelaki dia tidak munafik, digoda oleh wanita muda dengan pakaian sexy dan membandingkan dengan istrinya yang sudah tua apalagi cerewet, setiap hari bahkan membuatnya pusing karena kebisingan yang dia buat setiap harinya. Bahkan setiap Minggu mereka hampir selalu berganti pelayan karena tidak tahan dengan Monica.


"Mama tidak salah lihat? Itu benar Papa yang masuk ke hotel, mungkin meeting dengan temannya," ucap Ronald malas. Masalah ini bukan sekali dua kali lagi jadi Ronald tidak heran bahkan seperti biasa saja, berbeda ketika pertama kali mereka tahu Papanya seorang lelaki playboy dengan banyak wanita di belakangnya.


"Mama yakin Ronald, yakin sekali!"


Ronald menghembuskan nafasnya kasar dan berdiri, Nara bahkan memanyunkan bibirnya karena Ronald akan meninggalkannya.


"Aku tidak lama, honey! Kamu tidurlah, tidak perlu menungguku, aku langsung pulang setelah ini," ucap Ronald mendaratkan kecupan hangatnya pada kening Nara. Nara pun tersenyum dan melepaskan genggaman tangannya.

__ADS_1


Pengantin baru memang susah sekali melepaskan diri. Sebenarnya Ronald ingin mengajak Nara tetapi mengingat ini sudah malam, Ronald mengurungkan niatnya.


Dengan cepat setelah berganti pakaian, Ronald ke hotel yang di maksud dan meminta bantuan dari pihak hotel untuk memergoki pasangan ini.


Ting … Tong …


"Layanan kamar!"


Suara pelayan hotel membuat Edwardo berdiri masih dengan tubuh polosnya dan membuka pintu hanya dengan menggunakan celana pendek hitamnya.


Sebenarnya Edwardo tidak yakin memesan layanan kamar tetapi ketika dia melihat dari door view memang pelayan hotel dengan membawa makanan. Barulah Edwardo membukanya.


Ronald yang tadinya bersembunyi langsung keluar dan masuk ke dalam kamar.


"Apa yang Papa lakukan di dalam kamar ini bersama wanita lain?" tanya Ronald dengan suara meninggi. Dia tidak suka kelakuan Edwardo yang menyakiti hati Monica meski Mamanya terkadang memang suka dibatas nalarnya. Hanya tidak pantas saja Papanya melakukan semua itu. Monica bahkan tidak menangis dan mendekati wanita murahan yang berani tidur dengan suaminya. Monica menjambak rambutnya dengan kasar dan memukulnya dengan tas mahalnya.


"Masih muda, kamu sudah jadi murahan ya, jual diri. Tidak ada laki-laki muda sampai mengambil lelaki yang sudah berumur untuk kamu goda, memangnya dia masih berdiri, Hahh! Kamu puas memangnya?" tanya Monica sambil menjambak dan mencakar wajah wanita itu.


"To … tolong aku, wanita gila ini mau membunuhku," ucap wanita murahan yang Ronald tidak kenal dan akhirnya Ronald melerai Monica yang sudah naik darah karena kelakuan Edwardo.


Herannya Monica memarahi wanita itu bukan suaminya.


"Papa, kamu tidak tahu diri sekali!" Ronald menggeleng dan tersenyum sinis, sungguh menjijikan kelakuan laki-laki tua ini, Ronald hanya meringis melihat wajah dan tampilan wanita itu yang sudah acak-acakan dan penuh cakaran di bagian wajahnya.


Pantas saja kuku Monica sepanjang itu, ternyata itu gunanya. Monica membawa Edwardo pulang bersamanya dan membiarkan Ronald mengurus sisanya.


"Ini untuk mengobati lukamu, lain kali carilah lelaki lain, jangan ganggu lagi Papaku atau kamu akan berakhir lebih tragis daripada ini," ucap Ronald. Ini hanya peringatan karena Ronald jelas tahu sifat Mamanya dan sudah tidak bisa lagi menasehatinya.

__ADS_1


Uang mereka akan bekerja menutupi kegilaan Monica. Ronald terkadang berpikir lebih baik Monica menceraikan Edwardo daripada setiap kali pusing memikirkan suami pendosanya itu.


To Be Continued ….


__ADS_2