
"Ronald, apa yang kamu katakan?"
Nara tidak suka dengan pernyataan Ronald yang mengatakan kalau dia sedang hamil, mereka bahkan belum pernah melakukannya dan bagaimana bisa Ronald mengatakan seperti itu pada Monica. Jelas Monica tambah tidak menyukainya.
"Sssttt … diam saja honey! Kamu tidak perlu bicara, di sini kamu cukup diam dan dengarkan aku, kita akan menikah! Aku akan bertanggung jawab," ucap Ronald meletakkan kedua tangannya pada pipi kanan dan kiri Nara.
"Ronald masalahnya kita …." Ronald menyuruh Nara berhenti dengan meletakkan telunjuknya pada bibir Nara.
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau sampai kamu bicara," bisik Ronald di telinga Nara.
Ronald memeluk Nara dihadapan Monica dan berjanji akan menikahinya. Drama apa yang sedang Ronald mainkan? Nara tidak ingin membohongi orang tua Ronald.
Sedang Monica mengumpat Nara dalam hatinya, kebencian itu semakin mendarah daging apalagi Nara menjebak Ronald dengan menghamilinya.
"Nara hamil Ma, anakku dan jelas sekali aku akan bertanggung jawab, Dia sedang mengandung darah dagingku," ucap Ronald dengan sangat tegas.
"Kamu bisa menggugurkannya Ronald, untuk apa menikahi wanita tidak ada harganya seperti Nara," ucap Monica dengan kasarnya. Kembali Nara menangis.
Inilah yang membuat aku berhenti mencintaimu Ronald, orang tuamu begitu kejam, begitu sadisnya, kata-katanya bahkan lebih tajam daripada pengiris.
"Mama, apa mama katakan tidak mencerminkan seorang ibu, bagaimana bisa Mama menyuruhku menggugurkan anak kandungku sendiri, tidak mungkin! Aku akan menikah dengan Nara," ucap Ronald dengan tegas.
"Lalu bagaimana dengan Rosalinda?" tanya Monica. Monica bahkan masih memikirkan wanita yang jelas tidak ada hubungan sama sekali dengan Ronald. Jelas saja Ronald tidak peduli. Siapa wanita itu? Sepenting apa dia dihidup Ronald, jelas tidak lebih penting dari Nara.
"Jangan tanya aku Ma, itu urusanmu, aku tidak kenal wanita itu dan sama sekali tidak peduli dengan apa yang dia rasakan, Aku hanya akan mengatakan ini pada Mama dan aku juga akan menghubungi Papa untuk merestuiku," ucap Ronald dengan sangat tegas.
Ronald berasal dari keluarga broken home, Papanya tinggal di luar negeri bersama dengan istrinya yang baru dan mereka sampai sekarang tidak punya anak. Ronald anak yang paling di sayangi oleh Papanya, sedangkan adik Ronals berasal dari ayah yang berbeda yang sifatnya sama seperti Monica.
__ADS_1
Seperti inilah dulu, hanya karena Papa Ronald seorang miskin, Monica tega meninggalkannya. Hingga dia berjuang sendiri menjadi orang terpandang dengan kerja kerasnya.
"Aku mencintai Nara dari dulu, sejak pertama kali aku melihatnya, dia cinta pertamaku dan akan menjadi cinta terakhirku," ucap Ronald dengan sangat tegas.
Ronald benar-benar gila mencintai Nara, dia bahkan rela membohongi orang tuanya hanya demi bersatu dengan Nara.
"Mau kemana kamu Ronald, Mama tidak akan merestui pernikahan kalian sampai kapanpun, wanita hina ini tidak akan pernah layak masuk ke dalam keluarga kita, camkan itu! Mama akan memisahkan kalian apapun caranya," teriak Monica ketika Ronald pergi meninggalkannya dan kembali ke apartemen.
Di dalam mobil Nara dan Ronald masih diam, berputar dalam pikirannya masing-masing, sampai akhirnya Nara bersuara.
"Kamu berbohong pada ibumu, untuk apa?" tanya Nara melirik Ronald yang tersenyum sinis mendengar pertanyaan Nara.
"Untuk menikah denganmu, untuk apa lagi? Dengan begitu aku tidak perlu takut kamu tinggalkan kapapnpun, aku ingin kamu hamil sama seperti yang aku katakan pada Mamaku," ucap Ronald dengan lembut.
"Aku mencintaimu Nara, aku ingin kita kembali bersama, aku tahu kamu juga mencintaiku." Ronald mendekati Nara dan hampir menyentuh bibir Nara kalau saja Nara tidak berpaling.
"Kamu membenciku?" tanya Ronald sambil bermain pada pipi Nara yang mulus.
"Tidak!"
"Lalu?" Jika tidak membencinya kenapa begitu keras sekali, apa salahnya merajut cinta bersama lagi.
Nara tidak menjawab dan melengos melihat pemandangan luar. Saat ini mereka terjebak lampu merah dan tanpa sengaja Nara melihat Andre yang ingin menyebrang jalan. Nara dengan cepat membuka pintu mobil dan saat Nara ingin berteriak, Ronald menutup mulutnya.
Kaca mobil pun dikunci kembali oleh supir pribadi Ronald dan mereka melaju begitu kencangnya.
"Kamu ingin kembali padanya? Lelaki itu bahkan berselingkuh di depanmu dan kamu malah lebih memilih dia daripada kembali padaku," ucap Ronald melepaskan tangannya pada mulut Nara.
__ADS_1
"Dia di Jakarta, berarti dia mencariku, dia menyadari kalau dia salah, aku memaafkannya, aku tahu dia sudah sadar kesalahannya," ucap Nara yang menghancurkan hati Ronald.
"Lalu apa salahku Nara? KATAKAN! Agar aku bisa merubahnya, agar kamu mau memaafkan kesalahanku dan kembali padaku," ucap Ronald dengan sangat tegas dan hati yang begitu hancur. Wanita yang dicintainya ternyata sudah tidak lagi mencintainya. Hatinya bukan lagi ada namanya dan Ronald tidak menerima semua itu.
Nara menelan salivanya. Dia tidak berani mengatakannya. Dia tidak ingin Ronald benci pada orang tuanya. Bagaimanapun Monica adalah ibu kandungnya, dia tidak boleh memutuskan tali silaturahmi antara ibu dan anak.
Nara kembali diam.
"Bagaimana aku tahu apa salahku kalau kamu hanya diam dan ingin pergi dariku, aku salah apa? Aku tidak peduli padamu, aku pergi selama tujuh tahun dan meninggalkanmu, tiap hari aku menghubungimu, aku takut kamu kesepian, aku mengirimkan uang jajan untukmu, lalu apa salahku? Aku akan membayarnya? Kembalilah padaku Nara, aku mohon! Aku sangat mencintaimu," ucap Ronald. Ronald bahkan tidak malu memohon seperti itu pada Nara. Nyatanya dia memang cinta, dia memang sayang, dia tidak peduli harga dirinya.
Jika tidak ada Nara dalam hidupnya percuma semua yang dia hasilkan selama ini. Kebencian hanya bohong, dia tidak benar-benar benci dan tidak benar-benar ingin menghancurkan Nara. Bahkan ketika Nara terluka sedikit saja, Ronald sangat khawatir.
"Aku tidak mau Ronald! Kamu tidak bisa memaksaku, sudah aku katakan kalau aku tidak lagi mencintaimu," jawab Nara berlinang air mata.
"Kejam sekali kamu Nara, apa kamu pikir bisa kembali dengan laki-laki itu? Jangan harap! Kita lihat saja, aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilmu dariku termasuk laki-laki berengsek seperti itu," ucap Ronald dengan tegas. Tatapannya tajam. Bahkan pelukannya sangat erat menandakan Nara hanya miliknya.
Hanya miliknya!
"Lepaskan pelukanmu, Ronald! Kamu menyakitiku," ucap Nara berusaha lepas dari pelukan Ronald.
"Apa yang aku lakukan sama sekali tidak membuat sakit, tidak sepertimu yang begitu dalam menyakitiku, Nara! Ingat kalau aku belum memaafkanmu, belum!"
Nara menghela nafasnya, percuma saja melakukan apapun, Ronald tetap akan mengurungnya. Nara tidak tahu lagi, bagaimana cara dia melepaskan dirinya.
Aku sangat mencintaimu Ronald tetapi hidupku tidak akan pernah bahagia bersama denganmu. Andai saja aku punya keberanian untuk mengatakan itu.
To Be Continued ….
__ADS_1