
Akhirnya Ronald bisa tertidur pulas setelah mengeluarkan semua isi hatinya, dia sudah mengatakan pada Nara betapa sangat mencintai Nara dan semua kedekatannya dengan wanita hanya bohong, dia hanya membuat Nara cemburu.
Sayangnya Nara tidak pernah mengerti dan tidak pernah peduli isi hatinya. Ronald bahkan tidur mendengkur sambil memeluk tubuh Nara dengan erat layaknya guling.
"Kita itu berbeda jauh Ronald. Ibarat langit dan bumi. Kamu begitu bersinar di atas sana dan aku sangat redup di bawah sini tetapi kamu tidak pernah paham, dari dulu kamu tidak pernah berubah, kamu tetap Ronald yang aku kenal, kamu tetap mencintaiku sejak pertama kita bertemu," ucap Nara sambil memainkan alis mata Ronald yang lebat.
Sungguh dia pun mencintai Ronald. Sangat cinta! Tetapi Nara tahu, tidaklah bahagia hidupnya bersama dengan Ronald. Melihatnya saja sudah membuat Nara ketakutan apalagi ingin bermimpi bersanding dengan Ronald.
Ronald tidak seperti Gerald. Jane sangat baik dan lembut. Andai saja itu seperempat sifat Jane, mungkinlah Nara masih ingin bersama dengan Ronald.
Sebenarnya Nara tidak pernah berdoa supaya Monica sakit atau cepat mati, tetapi jika dia ingin bersama dengan Ronald, hanya kematian Monicalah yang bisa mempersatukan mereka. Tetapi tidak mungkin Nara mengatakan seperti itu pada Ronald.
Nara tidak sekurang ajar ini, Ronald pasti sangat mencintai orang tuanya meski kasar sekalipun.
Pagi hari Ronald bangun dengan pusing di kepalanya, rasanya dia butuh obat untuk meringankan sakit kepalanya. Ronald menggapai obat yang di letakkannya di nakas tempat tidurnya.
"Kemana Nara?" Ronald mengelilingkan matanya tetapi tidak melihat Nara di dalam kamarnya. Mungkin di dapur pikir Ronald. Ronald pun keluar dari kamarnya dan berteriak memanggil Nara.
"Hun … Honey! Kamu di mana sayang?" Ronald turun Masih dengan celana pendek dan tubuh polosnya. Dia bahkan tidak malu jika Nara melihatnya.
Ronald ke dapur dan melihat bidadarinya yang masih menggunakan baju tidur sexynya memasak menggunakan apron.
"Ini hari libur Hun, tidurlah ayo!" Ronald memeluk Nara dari belakang dan bermanja di ceruk leher Nara. Bahkan Ronald menciumi leher Nara dengan lembut.
Kekasihnya bangun tidur saja masih tetap wangi.
"Ronald, aku sedang memasak," ucap Nara ingin melepaskan tangan Ronald yang membelit tubuhnya, Ronald menggeleng dan menggigit manja pundak Nara.
"Tidur! Temani aku, masih ngantuk honey," ucap Ronald dengan manjanya.
Ronald ini semakin Nara ingin pergi malah Ronald semakin menjadi-jadi. Ronald selalu lupa kalau mereka itu sekarang tidak ada hubungan apapun. Nara bahkan seperti wanita yang sedang selingkuh saat ini.
__ADS_1
"Jangan seperti ini Ronald, lepaskan tanganmu." Nara kembali melepaskan tangan Ronald malah menjadi sia-sia. Ronald malah dengan gilanya mencubit pinggang Nara, mengajak Nara bermain-main.
"Geli aku tidak suka kelakuanmu itu," ucap Nara terkekeh karena ulah Ronald yang bermain dengan leher dan pinggangnya.
Ronald pun ikut tertawa melihat Nara yang tertawa.
"Sudah masaknya, aku juga belum mau makan, aku masih ngantuk dan aku berencana ingin bangun siang denganmu," bisik parau Ronald di telinga Nara.
Ronald mematikan kompor dan membalik tubuh Nara lalu melepaskan apron yang menempel pada tubuh Nara. Ronald kembali menarik tangan Nara ke atas baru sampai kamar Ronald sudah tidak sabar membelit bibir Nara. Padahal tadi mengatakan hanya ingin tidur dengan Nara.
Herannya kali ini Nara tidak menolak dan bahkan membalas kecupan mesra dari Ronald hingga mereka tidak sadar melakukan itu di ranjang dengan begitu panasnya.
"Aku tahu kamu juga merindukanku sama seperti aku, jangan membohongi dirimu sendiri, honey!" Ronald mengelap bibir Nara yang masih basah karena Saliva yang menempel di bibir Nara.
Nara sudah tidak bisa mengontrol dirinya, dia lupa kalau saat ini sedang berjuang melupakan Ronald. Bahkan dengan bodohnya dia membalas kecupan mesra itu.
"Selama tujuh tahun, apa saja yang terjadi honey? Kamu menderita tidak ada di sampingku, apa Mama juga mencarimu?" tanya Ronald begitu lembut dan menyimpulkan anak rambut pada telinga Nara.
Nara pun mengangguk pelan. Sebenarnya Ronald sudah menduga itu, pasti sesuatu yang sangat parah sudah menghancurkan hati Nara. Meski Nara tidak bercerita sekalipun, Ronald tahu kalau Nara begitu lemah menghadapi orang tuanya.
Dia begitu teguh menyimpan rahasia Monica.
Pertanyaan Ronald membuat Nara menangis. Ronald dengan sabar menghapus air mata yang keluar dari wajah cantik kekasihnya. Sesuatu yang berat telah menimpa kekasihnya saat itu.
"Kamu yang mengirim pesan padaku?" Pertanyaan Ronald yang terakhir yang tidak mampu Nara jawab.
"Jangan marah pada Mama mu, Ronald! Aku tidak ingin kalian bertengkar karena aku," ucap Nara kembali menangis.
Sudah cukup ini saja, Ronald tahu kalau Nara tidak mungkin mengkhianati cintanya. Nara pun sama seperti dia, Nara wanita yang paling setia, dia juga sangat lembut. Hanya orang tuanya tidak bisa melihat dari sana dan selalu menuduh Nara hanya ingin memanfaatkan Ronald.
"Tidak honey! Aku tidak akan marah, aku hanya ingin tahu selama tujuh tahun apa yang terjadi padamu, kenapa kamu tidak kuliah?" tanya Ronald. Kali ini Nara lebih histeris lagi menangis.
__ADS_1
Mama kamu berhutang banyak dengan wanita ini, kenapa kamu suka sekali menghancurkan wanita-wanita lemah seperti Nara. Pantas sekali Papa tidak betah denganmu.
"Kenapa menangis honey? Kita masih bisa melanjutkan kuliahmu, kamu ingin kuliah?" tanya Ronald begitu lembutnya. Nara menggeleng, dia sudah mengubur cita-citanya. Kuliah tidak penting lagi untuknya saat ini.
Dibalik keras kepalanya Nara, sebenarnya Nara wanita yang sangat manja. Saat ini bahkan dia menunjukkan sisi lemahnya pada Ronald.
"Ronald, hubungan kita sudah berakhir. Aku sudah memaafkan semua yang terjadi dalam hidupku, aku senang melihatmu bahagia, aku tidak bohong!"
Sambil menangis Nara mengatakan seperti itu. Inilah yang suka membangkitkan kekesalan Ronald. Nara kembali mengingatkan akan hubungan mereka yang sudah lama kandas.
Sayangnya Ronald menutup telinganya, dia menganggap tidak pernah mendengar apapun yang keluar dari mulut Nara.
"Aku sudah membina hubungan cintaku yang baru, aku mohon kamu mengerti!"
"Nara! Jangan terus memancing emosiku. Kita saat ini sudah baik-baik saja, aku tahu kamu takut dengan Mama, aku tahu itu! Aku tidak buta, aku bisa merasakan semuanya, kamu pergi meninggalkanku semua karena orang tuaku tetapi pikirkan perasaanku padamu Nara, pernahkah satu kali saja aku menyakiti hatimu? Pernah?" tanya Ronald sungguh-sungguh.
"Ayo jawab," lanjut Ronald memaksa Nara.
"Tidak pernah," jawab Nara dengan lirih.
"Ya tidak pernah, aku selalu menjaga hatimu, karena sangat penting bagiku melihatmu bahagia, lalu kenapa kamu tega meninggalkanku, kita bisa diskusikan apapun masalahnya, bukan kamu menghindar seperti ini dan laki-laki itu jangan kamu sebut lagi, dia tidak mencintaimu Nara, tidak sungguh-sungguh seperti aku mencintaimu!" Ronald memegang pipi Nara dengan kedua tangannya memaksa kedekatan mereka saat ini.
Visualnya Dinara
Ronald Wijaya
__ADS_1
Abang Ronald dan teman-temannya di Inggris
To Be Continued ….