Stop Loving You

Stop Loving You
Sunset


__ADS_3

Ronald yang bersama Nara saat ini di dalam kamarnya sungguh bukan Ronald yang Nara kenal, semangatnya benar-benar tidak ada, Ronald bahkan mabuk dan mengigau nama Nara. Dia sangat merindukan Naranya.


"Honey, kembalilah sayang, aku tidak bisa tanpamu," ucap Ronald yang memeluk guling saat ini. Dia bahkan menganggap guling itu Nara. Nara hanya diam saja melihat dengan sedih kelakuan Ronald. Setelah di rasa Ronald sudah tidur, barulah Nara membantu Ronald berganti pakaiannya.


Dengan pelan Nara membantu membuka semua pakaiannya yang basah. Nara bahkan mengelap tubuh Ronald yang penuh keringat bahkan dahi dan wajahnya juga. Nara membuka maskernya saat melakukan itu, dia bahkan tidak jijik sama sekali.


"Kenapa kamu masih mencariku? Hiduplah bahagia, berhentilah menggangguku terus," bisik Nara pelan di telinga Ronald, Ronald yang mabuk membuka matanya pelan. Dia tersenyum saat melihat wajah Nara. Nara terdiam! Ronald ternyata belum tidur.


"Aku tahu kamu pasti kembali, jangan tinggalkan aku lagi, aku tidak bisa tanpamu," ucap Ronald membawa Nara masuk ke dalam pelukannya lalu kembali tidur. Mungkin Ronald berpikir semua ini mimpi.


Nara pun tidak melepaskan pelukannya sampai Ronald kembali tidur lagi. Setelah selesai membantu Ronald, Nara kembali lagi ke rumahnya dalam diam dan tanpa suara sama sekali.


Ketika bangun nanti, Ronald pasti tidak akan menyadari kalau semalam yang dia peluk adalah Nara.


Sepeninggal Nara, Ronald membuka matanya. Dia tidak mabuk, dia sangat sadar dan tahu betul semenjak tatapan pertama nya melihat Nara. Dia bahkan yang membuat semua rencana ini agar terlihat begitu alaminya.


Aku tahu jika kamu tahu aku mengenalimu, kamu akan pergi lagi meninggalkan aku, Honey!


Setidaknya Ronald tahu kalau Nara baik-baik saja, dia bahagia sekali bisa memeluk kekasihnya sedekat ini. Meskipun harus berbohong tidak mengenalinya.


Bahkan dari jauh, Ronald bisa memantau kepulangan Nara dari Villanya yang tinggi.


"Kamu baru pulang Nara?" tanya Lasmi dengan lembut setelah dilihatnya jam menunjukkan pukul dua belas malam, sangat larut sekali tetapi Lasmi percaya kalau Nara akan baik-baik saja di sana. Tentu saja! Ada kekasih yang menanti kepulangannya.


Begitu terencananya sampai Ronald lebih dulu bertemu dengan orang yang membantu Nara untuk membuatnya kembali lagi ke dalam pelukannya.


"Iya Bu, ramai sekali orang di sana, besok biar Nara saja yang datang ke sana menggantikan Ibu, kasian Ibu lagi sakit, Nara tidak apa," ucap Nara melepaskan jaket dan maskernya.


Lasmi pun mengangguk. Memang itu yang diinginkan Ronald. Dia ingin Nara yang mengurusnya.


"Kamu istirahatlah, besok pagi sekali kamu akan membersihkan rumah Tuan itu," ucap Lasmi menggosok pelan rambut Nara.


Nara pun masuk ke dalam kamarnya dan Siren masih belum tidur.

__ADS_1


"Masih ngetik?" tanya Nara saat melihat Siren yang masih sibuk dengan tulisannya.


"Iya, aku masih ngetik buat di update besok," jawab Siren dengan senyumnya. Nara mendekat dan melihat apa sebenarnya yang Siren sedang ketik.


"Bukan kah, itu cerita dewasa? Ternyata kamu pintar membuat seperti itu, aku tidak menyangka padahal kamu belum menikah," ucap Nara menggoda Siren. Malu sekali Siren ketahuan Nara sedang membuat cerita sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara.


"Ini ceritanya tentang apa?" tanya Nara dengan lembut.


"Cerita tentang cintanya yang terhalang restu orang tua, mereka sama-sama mencintai tetapi laki-laki itu terpaksa pergi karena orang tuanya tidak menyukai kekasihnya," ucap Siren menjelaskan.


Sama seperti ceritaku.


"Apakah orang tuanya melakukan sesuatu yang jahat?" tanya Nara bingung. Dia hanya ingin tahu apa cerita ini teradaptasi dari hidupnya.


Sungguh sebenarnya cerita novel itu terkadang memang nyata. Buktinya dia yang terhalang restu dan jatuh cinta dengan CEO.


Ah mana mungkin kisah mereka akan berakhir indah.


"Ya, orang tuanya memberikan sejumlah uang agar dia pergi meninggalkan anaknya," ucap Siren memberitahukan alur cerita novel yang dibuatnya.


Setelahnya Nara merebahkan tubuhnya dan kembali mengingat Ronald yang memeluknya dengan mesra. Pelukan yang begitu hangat seolah Ronald tidak sedang mabuk. Begitu menenangkan dan nyaman sekali.


Selama Ronald tidak menyadari dirinya, Nara tidak akan pergi dari sini. Kecuali Ronald sudah tahu. Dia tidak ingin kembali lagi ke Jakarta.


Ketika pagi hari, tiga orang pekerja sudah datang dan membantu membersihkan bekas pesta gila malam tadi, begitu banyak pengaman yang bertebaran di mana-mana. Sebenarnya pesta apa semalam yang dilakukan di rumah ini, bahkan seluruh kamar terisi oleh para laki-laki dan wanita dan masih ada yang masih tidur di sofa dan tempat lainnya.


Begitu berantakan sampai membuat Nara menggelengkan kepalanya. Namun, satu yang membuat Nara kembali terkejut.


Ronald sudah bangun. Dia pagi sudah berenang menikmati matahari terbit.


"Hey! Tolong buatkan aku kopi dan sandwich," ucap Ronald pada Nara. Ya pada Nara. Karena tidak ada orang lain di sana kecuali Nara dan Ronald.


Bertemu dengan Ronald, Nara harus menggunakan masker, karena dia takut Ronald mengenalinya.

__ADS_1


"Baik!" jawab Nara menunduk. Ronald tersenyum dengan hangat melihat kekasihnya dari belakang.


Hanya seperti ini saja, honey! Aku sudah sangat bahagia. Tolong jangan pergi lagi.


Nara pagi ini menguncir kuda rambutnya dan menggunakan dress di bawah lutut milik Siren. Hanya dress sederhana tetapi masih terlihat kecantikannya meski Nara menutup hidung dan mulutnya dengan masker.


Tanpa banyak bicara, Nara menyiapkan kopi dan makanan untuk Ronald. Diletakkannya di sebelah Ronald yang sedang berjemur matahari pagi.


Kembali Nara membersihkan daerah kolam yang penuh banyak sampah-sampah bertaburan.


"Menurutmu, cantik matahari terbit atau matahari tenggelam?" tanya Ronald pada wanita yang sedang bersih-bersih ini. Nara sedang menyapu saat Ronald bersuara dengan lantang seperti itu.


Ronald ini bertanya padaku?


Nara kembali melihat kiri dan kanan. Ya tidak ada orang, Ronald memang bertanya dengannya.


"Matahari terbenam," jawab Nara dengan lembut.


"Apa alasannya, kenapa matahari terbenam begitu cantik untukmu?" lanjut Ronald. Kali ini Ronald menatap mata Nara dan Nara langsung menunduk. Dia takut Ronald sadar kalau itu dirinya.


"Saya tidak tahu Tuan, saya hanya suka saja melihatnya ketika terbenam di sore hari, kebetulan dari villa ini, Sunset-nya begitu cantik," jawab Nara menunduk.


"Kalau bagiku matahari terbit atau tenggelam sama sekali tidak cantik," jawab Ronald dengan sinis.


Nara tidak mampu bertanya kenapa? Dia hanya diam dan mendengarkan. Seharusnya ada yang cantik kalau bukan pagi ya sore. Bagi Ronald tidak ada sama sekali, dia hanya melihatnya. Tidak ada kebahagian ketika melihatnya.


"Kamu tahu kenapa?" tanya Ronald dengan menatap Nara tajam. Nara bahkan sampai harus berpikir kalau Ronald sudah mengenalinya.


"Karena kekasihku tidak ada, percuma aku melihat sesuatu yang sangat cantik tetapi tidak memeluknya," ucap Ronald dengan tulus berharap Nara akan membuka masker dan memeluknya. Nyatanya tidak. Nara sangat keras. Matanya hanya berembun tetapi dia tetap tidak ingin kembali bersama dengan Ronald.


"Kekasihmu akan sangat senang Tuan, kalau mendengarnya," ucap Nara dan kembali melanjutkan membersihkan Villa Ronald.


Andai saja dia senang, Nyatanya dia juga membenci keduanya karena saat-saat itu, dia menghabiskan waktunya sendiri tanpa Ronald.

__ADS_1


To Be Continued ….


__ADS_2