Stop Loving You

Stop Loving You
Hari Pertama Menjadi Istri


__ADS_3

Malam ini seharusnya jadi malam pengantin untuk Martin dan Sonya, seharusnya jadi malam yang sangat indah untuk Martin. Ya seharusnya!


Tetapi Sonya lebih memilih menghabiskan waktunya berendam dengan lama di bathtub daripada peduli dengan Martin. Sonya masih merasa kalau dia belum menikah dengan Martin. Masih merasa hidupnya seorang wanita dewasa dan belum bersuami.


Di dalam bathtub, Sonya berpikir. Apa Martin sedang menunggu di luar atau sudah tidur? Sehabis Martin menciumi bibirnya. Sonya langsung pergi meninggalkan Martin masuk ke dalam toilet. Lama sekali! Martin bahkan bersabar menunggu Sonya keluar, berharap Sonya sadar dengan posisinya saat ini adalah seorang istri dan tugas seorang istri adalah membahagiakan suaminya. Tentu sebelum menikah, Sonya sudah dapat wejangan dari Nara.


Sonya harus jadi istri yang baik dan harus taat dengan suami. Ronald juga sudah berpesan agar anaknya berperilaku baik di negara orang apalagi dia berada di sisi Pangeran Martin.


Tok … Tok …


"Honey, sudah satu jam lebih sayang? Kamu sedang apa di dalam?" tanya Martin. Martin takut sekali terjadi sesuatu dengan istrinya. Masalahnya tidak ada suara gemericik air, suara nyanyian atau suara yang Sonya timbulkan dari toilet.


"Honey?" kembali Martin mengetuk pintu itu dengan sangat kuat. Masih tidak ada jawaban. Kali ini Martin mendobrak pintu toilet dengan mendorong kuat menggunakan kakinya. Sonya tertidur di dalam bathtub dengan kepala menatap langit-langit dan mata tertutup.


"Honey, kamu kenapa sayang?" tanya Martin menepuk pipi Sonya dengan lembut, merasakan nafas Sonya dan denyut jantungnya. Martin pun segera mengangkat Sonya ke dalam kamar dan mengelap tubuhnya yang basah.


Sonya pingsan! Dia terlalu lama berendam. Benar saja, keluarganya begitu takut terjadi apa-apa dengan Sonya. Dokter pribadi keluarga Ronald pun datang mengeceknya.


"Tidak apa, Sonya hanya kelelahan," ucap Dokter Dona. Martin sudah tidak karuan, pusing memikirkan istrinya yang baru membuka mata ini.


Dia kira karena tidak suka dengan pernikahan ini, Sonya melakukan usaha bunuhdiri, menelan pil tidur atau semacamnya. Ternyata!


Kamu membuat aku takut, honey.


Setelah dokter keluar, hanya ada Nara, Ronald dan Martin di dalam kamar malam itu. Mereka tidak menginap di hotel, mereka tidur di dalam kamar Sonya yang sudah dihias dengan begitu cantiknya.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Nara mengusap wajah Sonya dengan sangat lembut.


"Aku lupa makan tadi, Mom. Rasanya seharian ini aku tidak makan," ucap Sonya yang membuat Martin menggeleng. Ya Tuhan! Istrinya ini sebenarnya mau apa?


Martin belajar dari kesalahan hari ini, lain kali dia akan memperhatikan makan Sonya, bagaimana Sonya bisa lupa tidak makan seperti ini.


"Yang Mommy berikan tadi, Sonya tidak makan?" tanya Nara dengan lembutnya. Sonya pun menggeleng. Dia tidak selera dan baru sadar kalau kelaparan saat berendam. Air hangat membuatnya tambah kelelahan.


"Kamu mau makan sekarang?" Sonya pun mengangguk. Nara dengan cepat memanggil pelayan untuk menyiapkan makanan untuk Sonya. Tidak butuh waktu lama, makanan dibawakan ke lantai atas kamar Sonya.


"Martin, kamu harus sabar menghadapi Sonya, dia ini biasa dimanja, kalau dia salah, ditegur saja," ucap Ronald dengan senyum getirnya. Sonya hanya diam!


Dia masih marah dengan Daddynya. Mereka tidak mengerti bagaimana kerasnya Sonya menolak menikah dengan Martin.


"Iya Dad, Martin juga salah, seharusnya Martin tahu kalau Sonya belum makan, lain kali tidak akan terjadi lagi," ucap Martin dengan senyumnya.


Ketika berdua saja di dalam kamar, Sonya melihat Martin yang kacau sekali, rambutnya berantakan, pasti sangat cemas melihat Sonya seperti itu.


"Honey, lain kali kalau mandi, pintunya tidak perlu dikunci kalau ada aku di dalam kamar," ucap Martin bersiap menyendok sesuap nasi ke mulut Sonya.


Sonya menutup tubuhnya dengan selimut dan bersandar di punggung ranjang. Ternyata dia tidak menggunakan apapun tetapi herannya kali ini Sonya tidak malu dengan Martin. Mungkin karena status mereka yang sudah berubah.


"Maaf!"


Hanya kata-kata itu yang terlontar dari mulut Sonya. Martin hanya tersenyum dan mengelus wajah cantik istrinya.

__ADS_1


Sudah bisa dipastikan kalau Sonya dan Martin tidak akan melakukan malam pengantin mereka. Tidak mungkin Sonya yang sedang sakit seperti ini akan Martin sentuh. Sonya sedang lemah.


"Aku tidak marah, honey! Tetapi kalau lain kali kamu tidak makan, aku akan memakanmu," ucap Martin dengan senyum nakalnya. Herannya Sonya tidak tersenyum.


"Martin, bisakah kita batalkan pernikahan ini?" tanya Sonya yang selalu membuat Martin kesal mendengarnya.


"Apa kamu pikir pernikahan itu main-main, apa ada orang yang baru menikah satu hari langsung bercerai besoknya, berhentilah memancing emosiku, honey! Aku tidak ingin marah denganmu, kita bisa diskusikan apa yang membuat kamu khawatir," ucap Martin sambil menatap mata Sonya dengan sangat lembut.


Martin sangat sabar menghadapi istrinya. Dia tidak akan marah, tidak juga akan menyerah. Dia akan membuat Sonya jatuh cinta padanya dan tahu kalau apa yang dia bicarakan saat ini salah.


"Aku bukan istri yang baik untukmu," ucap Sonya yang membuat Martin hanya tersenyum mendengarnya.


"Kamu baru menjadi istriku berapa jam, kamu bahkan belum melakukan apapun, bagaimana kamu bisa menilai kalau kamu bukan istri yang terbaik untukku," ucap Martin. Martin sangat menyayangi Sonya. Meski mereka beda negara tetapi Sonya adalah wanita yang mampu mengambil hatinya.


"Martin, aku takut mengecewakanmu, aku … yakin tidak akan bisa mengikutimu kemanapun kamu pergi, aku takut kamu sedih selalu jauh dariku nantinya," ucap Sonya yang hanya dibalas senyum oleh Martin.


Biarkan saja istrinya seperti itu dulu berpikir, dengan berjalannya waktu. Sonya akan tahu kalau kodrat seorang istri adalah bersama dengan suaminya.


"Aku mencintaimu, honey! Di manapun aku berada dan kamu berada, aku tetap akan mencarimu. Jangan berpikir terlalu keras, aku hanya ingin kamu menjadi istriku, tidak mengharuskan kamu selalu mengikutiku kemanapun kalau memang kamu belum siap," ucap Martin mengusap lembut wajah Sonya yang pucat.


"Honey, kamu hampir membuat aku jantungan tadi, aku pikir kamu … jangan lagi, honey. Itu membuat aku tidak karuan," ucap Martin sambil menyuap sesendok nasi di mulut Sonya. Kali ini Sonya tertawa.


"Aku lapar sekali ternyata, aku baru sadar belum makan tetapi aku sudah lemah berdiri dari bathtub. Jadi, aku putuskan tidur dan ternyata itu pingsan ya?" tanya Sonya dengan tawanya yang cantik.


"Iya itu pingsan, honey! Kamu membuat aku bingung karena itu," ucap Martin sambil mengambil butiran nasi yang ada di ujung bibir Sonya.

__ADS_1


"Honey, apa aku boleh tidur di sampingmu seperti itu dan sambil memelukmu?" tanya Martin serius. Sonya pun mengangguk.


"Boleh, tidurlah!"


__ADS_2