Stop Loving You

Stop Loving You
My Mother In Law Is Weird


__ADS_3

Nara memilih untuk ada di dalam kamar seharian dan mengunci kamarnya, karena terus terang saja bersama Monica tidak membuatnya nyaman, sudah mulutnya yang pedas, Nara takut jika Monica menggunakan tangannya kembali untuk memukul Nara tidak sanggup melawan.


Bukan karena dia lemah tidak bisa membalas, oh tolonglah, lawannya tidak sepadan saat ini.


Tok … Tok …


Nara yang sedang santai sambil membaca majalah melirik pintu kamarnya, siapa yang mengetuk pintu kamarnya? Jangan-jangan mertuanya yang cerewet yang datang. Dengan malasnya Nara membuka pintu kamarnya. Mertuanya selalu saja mencari masalah dengannya. Padahal Nara sudah berusaha tidak terlihat.


Cekrek.


Nara mengintip sedikit dan benar itu mertuanya, Nara mengeluh dalam hatinya tetapi dia tetap tersenyum kecut.


"Kenapa Ma?" tanya Nara dengan lembut.


"Kamu tidak ada pikiran ya, di rumah hanya tiduran, malas sekali, bagaimana bisa Ronald menyukai wanita malas seperti kamu, saat ini wanita di luar sana banyak Nara, banyak yang suka dengan suamimu itu dan dia memilih kamu, kamu malah santai seperti ini, kamu tidak takut Ronald selingkuh?" tanya Monica dengan sinisnya.


Nara tidak mengerti apa sebenarnya yang diinginkan Monica ini.


"Jadi Nara harus bagaimana, Ma?" tanya Nara dengan lembut. Nara ingin tahu sebenarnya apa yang diinginkan mertuanya ini.


"Ya kamu kerja," ucap Monica dengan lantang.


"Ronald tidak boleh Ma, aku sudah mau kerja, kalau begitu coba Mama yang katakan pada Ronald, aku juga malas di rumah seharian seperti ini tetapi Ronald memaksa, aku bingung. Coba Mama saja yang katakan," ucap Nara akhirnya mengalah saja demi keselamatan hidupnya. Lelah sekali menghadapi mertua cerewet seperti ini. Andai saja Ronald mengerti kalau Monica ini sehari saja ada di rumah seperti setahun membuat Nara menderita.


"Nanti Mama katakan pada Ronald, ada cafe Mama yang baru Mama mau buka, kamu jalankan cafe itu," ucap Monica dengan sinisnya.


Nara mengangguk. Terserah saja, yang jelas Nara tetap akan waspada dengan mertuanya yang kejam ini.


"Kamu turun ke bawah, masakin Mama sesuatu, malas Mama masakan koki dari rumah Ronald, tidak enak!"


Nara menghela nafasnya lembut dan mengambil nafas dalam-dalam. Sungguh Mamanya sedang mengerjainya saat ini. Padahal masakan koki rumah Ronald sangat enak.


"Mau makan apa Ma?" tanya Nara sambil turun ke lantai bawah disusul Monica di belakangnya yang mencibir Nara dari belakang.


"Yang enak!"


"Hmmm…."

__ADS_1


Nara pun mengambil apron dan mengikat rambutnya, dia biasa saja memasak bukan hal yang harus disusahkan, baguslah kalau Mamanya ingin makanan masakan buatannya tetapi mungkin tidak selera dengan lidahnya yang terbiasa makan mewah.


Selama masak, Monica terus memperhatikan Nara. Entah apa yang dia pikirkan untuk menyusahkan istri anaknya ini.


Nara memasak mie tumis goreng super pedas dengan irisan cabe yang banyak.


Apa aku terlalu kejam ya masak seperti ini? Nara hanya tersenyum. Mungkin melihat mulut mertuanya yang pedas makanan pun dia pasti suka yang pedas.


Selain itu Nara juga memasak nasi goreng dan ayam goreng tepung. Hanya itu saja! Nanti kalau terlalu lama, mertuanya marah.


Tidak lapar saja mertuanya marah seperti singa apalagi kalau lapar. Mungkin melebihi singa pikir Nara.


"Kamu jangan pikir Mama sudah suka dengan kamu menjadi istri Ronald, Kamu tetap tidak layak untuk Ronald saat ini," ucap Monica dengan sinisnya.


"Dengar tidak!"


Karena Nara diam saja, Monica kira Nara tidak mendengar padahal Nara mendengar dan menganggap itu biasa saja. Sekarang melihat mertuanya marah, dianggap biasa saja oleh Nara. Pusing dia kalau memperdulikan kemarahan mertuanya.


"Dengar Ma," jawab Nara dengan lembut dan senyum. Kali ini dia tidak akan memasukkan ke dalam hati apa yang mertuanya katakan. Terima saja, telan saja.


Nara pun menghidangkan makanannya.


Melihat cabe di mana-mana membuat Monica menyunggingkan senyumnya.


"Mama suka pedas," ucap Monica sambil mencicipi mie tumis goreng buatan Nara. Nara hanya melihat dan menopang dagunya dengan tangan sambil menelan saliva melihat Mama mertuanya yang makan dengan lahap.


Enak pasti pikir Nara sampai berkeringat dan minum terus. Sedikit Nara tertawa dalam hatinya. Sakit perut setelah ini.


Nara menggeleng, kenapa pikirannya jahat sekali tetapi memang itu di dalam isi hatinya.


"Lumayanlah!" ucap Monica setelah habis makan. Padahal habis tidak bersisa tapi mengatakan lumayan. Nara tidak perlu juga pujian.


"Oke Nara, kita bicarakan bisnis kali ini, Mama sudah mencicip masakan kamu, di lidah Mama lumayan, hanya sedikit pedas saja, mungkin kalau di tambah kecap manis akan lebih enak," ucap Monica melipat tangannya di dada.


"Makasih ya Ma, padahal Nara tidak yakin tadi Mama bisa menghabiskannya," ucap Nara dengan lembut padahal penuh sindiran keras.


Itu cabe semua dan mertuanya suka. Pantas saja mulutnya seperti itu.

__ADS_1


"Mama akan berikan kamu kesempatan untuk menjalankan cafe yang Mama baru beli, kamu bisa meracik kopi dan teh atau minuman apapun di sana, untuk pertama ajarkan koki di sana masakan kamu, jadi nanti jual saja makanan seperti ini, yang mudah saja," ucap Monica dengan serius.


Apa Nara tidak salah dengar? Monica mempercayakan satu cafe miliknya.


"Mama akan beritahu Ronald soal ini," ucap Monica mengelap mulutnya dengan serbet dan meninggalkan Nara setelahnya.


Aneh!


Nara sangat bingung dengan sifat mertuanya ini. Terkadang Nara tidak bisa memahami apakah Monica tulus atau tersirat sesuatu di dalam sana.


Setelah membersihkan semuanya, bahkan Nara sendiri yang membersihkan sisa makanan Monica, dia kembali ke kamar dan tidak lama Ronald menghubunginya.


"Apa semua baik-baik saja, Honey?" tanya Ronald yang seolah bingung.


"Baik sayang, kamu sudah makan?" tanya Nara dengan lembut dan suara yang manja.


"Sudah Hun, Mama menghubungiku, katanya kamu mau menghandle salah satu cafe milik Mama, apa betul itu? Kalian sudah akrab?" Ronald terkekeh.


Kata akrab membuat Nara menghela nafasnya.


"Mama memintaku untuk mengajari koki masakanku yang super pedas itu, makanan lain juga, selain itu aku juga akan belajar meracik kopi, teh dan minuman lainnya. Mungkin sejenis Mocktail, aku juga tidak tahu sayang, bagaimana menurutmu?" tanya Nara meminta pendapat Ronald.


"Aku terserah kamu, kalau kamu nyaman, kamu bisa jalani sayang, kalau tidak tempat kamu kembali tetap di sisiku, kamu tahu itu," ucap Ronald dengan mesranya.


Selalu saja suaminya ini menggombal ria. Membuat Nara tersenyum dan menggigit bibir bawahnya malu.


"Kalau aku kembalinya salah jalan?" tanya Nara dengan nakal.


"Aku akan menyusulmu supaya kamu melihatku," ucap Ronald dengan senyum nakalnya.


"Pulang cepat ya, aku merindukanmu," ucap Nara malu-malu. Ronald mengangguk dan tersenyum.


"Pasti honey, waktuku itu hanya untuk memikirkanmu," ucap Ronald gombal.


"Sudahlah sayang, kamu selalu saja menggodaku, kerjalah! Aku baik-baik saja dan percaya kalau aku tidak akan seperti kemarin," ucap Nara membuat Ronald merasa lega mendengarnya.


Sejujurnya Ronald senang kalau Nara dan Monica sudah baikan atau setidaknya Nara sudah merasa sedikit nyaman.

__ADS_1


To Be Continued ….


__ADS_2