
"Honey, aku tadi di telpon Mama, Mama minta di temani ke dokter melihat perkembangan Christin. Minggu ini Christin akan operasi wajah," ucap Nara menghubungi Ronald yang sedang di kantornya.
"Omar sama Dino, mana?" tanya Ronald yang masih tidak percaya kalau Mamanya akan menjaga Naranya dengan baik.
"Ada ikut di belakang aku, kamu kan, memang tidak izinin Mereka pergi," balas Nara kesal.
Ronald terkekeh dan tersenyum simpul, semua ini dia lakukan hanya untuk melindungi Nara, tidak ada maksud lain. Bukan untuk sombong atau apalah itu namanya. Sudah cukup menjadi pelajaran bagi Ronald meninggalkan Nara sendiri dan nyatanya Nara malah terperangkap dan dihabisi oleh ibu kandungnya sendiri.
"Hati-hati honey, jangan lupa makan!"
"Terima kasih, honey," balas Nara dengan lembut dan menutup telponnya, Monica meminta ditemani dan sekaligus Nara akan melihat cafe miliknya yang Monica berikan untuk Nara untuk menjalankan usaha.
"Setelah ini kita ke cafe, nanti kamu uruslah semua yang penting, Mama akan menemani Christin operasi dan setelah Mama akan sangat sibuk," ucap Monica yang saat ini duduk di samping Nara. Pikirannya masih tertuju dengan Christin saat ini.
Setelah menemani Christin ke rumah sakit, mereka menuju ke cafe. Monica mengenalkan pada semua Staff dan memberikan kepercayaan pada Nara untuk menjalan cafenya.
"Kamu sudah lihat tadi cafenya, kan?" tanya Monica. Dia hanya ingin tahu pendapat Nara setelah ini.
"Nara rasa tempatnya bagus Ma dan memang tempatnya pusat keramaian, Nara yakin bisa melakukannya," ucap Nara dengan lembut. Dia akan memulai bisnisnya dari nol.
"Baguslah kalau begitu," ucap Monica kembali mengajak Nara pulang ke rumah karena hari sebentar lagi malam
Tiba-tiba ada mobil pick up yang menghalangi mereka dan menghancurkan kaca mobil Monica, Monica sampai harus bergeser ke tempat Nara.
"Siapa kalian?"
Tanpa menjawab apapun, penjahat itu menggores pipi Monica sehingga membuat luka robek pada pipi Monica, Nara menjerit ketakutan.
"Tolong …."
__ADS_1
Bergegas bodyguard Ronald menolong tetapi mereka sedikit terlambat. Penjahat itu menggores luka di wajah Monica. Monica berteriak histeris.
"Cepat ke rumah sakit sekarang!" Nara menutup darah yang keluar dengan tisu.
"Mama sabar, sebentar lagi kita sampai rumah sakit," ucap Nara dengan tangannya yang sudah berlumur banyak darah yang dikeluarkan dari wajah Monica. Bahkan Nara tidak sanggup melihat wajah Monica yang ternganga seperti itu.
Nara bahkan belum sempat menghubungi Ronald karena sibuk mengurusi luka di wajah Monica. Siapa yang berbuat seperti ini?
Sedangkan Ronald terpaksa pulang ke rumah dan menunggu Nara pulang. Ronald kembali masuk ke dapur hanya untuk mengambil satu gelas air mineral dan yoghurt di dalam pendingin.
Kembali suara desahan itu terdengar. Jijik sekali Ronald mendengarnya. Kembali Ronald menggeleng dan dengan cepat kembali naik ke atas kamarnya.
Tidak suka dia mendengar suara seperti itu dan kemana Nara? Kenapa tidak menghubunginya sudah magrib seperti ini. Ronald pun mengambil ponselnya dan menghubungi istrinya.
"Honey, maaf aku tidak sempat telpon, kamu ke rumah sakit sekarang, Mama lagi di UGD, ada orang yang melukai wajah Mama, honey! Aku takut sekali," ucap Nara gemetar. Kenapa orang itu hanya mengincar wajah Monica. Saat ini pihak kepolisan sedang meminta keterangan Nara dan Monica, karena Nara meminta supirnya untuk melapor pada pihak berwajib.
"Tuan, kopinya," teriak Nola dengan tidak tahu malu, jangankan menjawab melihat saja tidak Ronald. Dengan cepat Ronald memanggil supir dan mereka langsung menuju ke rumah sakit.
Pasti saat ini ada orang yang membenci Monica karena Nara sama sekali tidak terluka dan tidak ada juga yang hilang. Jelas ini motifnya balas dendam pikir Ronald, karena Monica tidak terhitung lagi melakukan kekerasan dengan wanita simpanan Papanya bahkan dengan Nara pun dia begitu kejam.
Setelah Ronald keluar dari kamarnya, Nola naik dengan hati-hati ke kamar Ronald dan Nara. Masuk ke kamar itu dan melihat kamar mewah dengan isi yang lengkap, tas Nara, baju Nara yang cantik, sepatu dan sandal belum lagi perhiasan di lemari kaca yang terkunci.
"Kalau aku bisa jadi nyonya, untuk apa aku jadi pembantu di rumah ini," ucap Nola menyeringai. Dia mengambil pakaian Ronald yang ada di ranjang dan menciuminya dengan sangat lembut.
"Bau tubuh Tuan Ronald, sungguh segar!" Nola memeluknya dengan sangat erat dan mengumpulkan semua pakaian kotor itu ke dalam ranjang, padahal tidak ada yang menyuruh Nola melakukan itu dan Nola dengan lancang membuat alibi agar Ronald tidak marah dengan apa yang dia lakukan malam ini.
Bahkan dengan gilanya, Nola mengambil kain penutup bagian bawah Ronald dan digeseknya ke miliknya. Dia berfantasi kalau Ronald sedang berada di atasnya dan memompa tubuhnya dengan pelan dan keras.
Tiba-tiba tubuh Nola menegang dan bagian bawahnya basah, Nola berguling di ranjang milik Nara dan Ronald, kembali menciumi bantal yang ada wangi tubuh Ronald.
__ADS_1
Nola mendesah sendiri dan melampiaskan hasratnya dengan tangannya sendiri. Sungguh gila kelakuan Nola saat ini. Suasana rumah sepi, makanya Nola berani melakukan ini semua.
Dia bahkan sudah mendapatkan izin dari Sumi untuk mengambil pakaian kotor Nona Nara dan Tuan Ronald, petugas laundry akan datang mengambil pakaian majikannya setiap hari.
"Ronald, aku ingin dibawahmu," ucapnya mendesah dan memasukkan jarinya sendiri ke miliknya sampai basah. Setelah cukup lama, Nola keluar dari kamar Ronald setelah membuat tanda bibir di kemeja Ronald, dia akan membuat Nara dan Ronald terpisah sehingga dia akan masuk dalam hidup Tuannya menggantikan Nara yang munafik itu.
Nola turun ke bawah membawa pakaian kotor dan mobil laundry sudah menunggu di bawah.
"Hanya ini saja," ucap petugas laundry yang baru Nola kenal. Ternyata petugasnya sedikit tampan. Nola ingin mengajaknya bercinta karena mengingat Ronald membuatnya basah.
"Iya hanya ini saja Mas," ucap Nola dengan senyum dan sengaja memegang tangan petugas laundry itu dengan lembut dan mengedipkan matanya sedikit sensual.
"Oh iya … iya, kalau begitu saya permisi," baru dia ingin masuk mobil, Nola menghalanginya.
"Kamu tinggal sendiri?" tanya Nola dengan lembut di telinga petugas laundry itu.
Laki-laki itu menelan salivanya.
"Aku … aku sudah lama tidak melakukannya, kalau kamu mau, aku bersedia menemanimu malam ini," ucap Nola begitu sensual.
Gila! Siapa laki-laki yang tidak mau tetapi banyak sekali laundry yang akan mereka ambil dan yang Nola goda saat ini bukanlah petugasnya tetapi pemilik laundry itu sendiri.
"Aku banyak urusan, mungkin nanti!"
Nola tersenyum nakal dan melepaskan laki-laki itu pergi.
To Be Continued ….
Follow IG Madammeyellow
__ADS_1