
Ternyata dia menghadiri undangan dari Javier anak dari Gerald. Mereka sangat akrab sekali. Sonya hanya melihat dari jauh. Dia bahkan mencuri lihat tidak seperti wanita yang lain yang terang-terangan mendekati. Meski menjadi pusat perhatian, laki-laki itu terus saja berbicara dengan Javier, terkadang tertawa terkadang senyum dan mereka sepertinya dekat sekali.
Lelaki seperti ini ternyata tidak hanya ada pada dongeng atau novel yang Sonya suka baca. Dia punya kharisma, tubuhnya kekar dan rahangnya kokoh. Wajahnya juga tampan tetapi mendekati lelaki seperti itu.
Ah sangat sulit.
Meski Sonya berada pada kalangan pengusaha pun, lelaki itu tetap saja tidak meliriknya bahkan bukan hanya melirik dia, melirik wanita lain juga.
Tetapi dia tampan sekali.
Sonya tersenyum dan menunduk, ternyata dia juga bisa menyukai lelaki dalam satu kali pandangan. Tidak! Ini tentu saja bukan cinta pada pandangan pertama hanya sedikit mengagumi.
"Terima kasih untuk para tamu yang hadir malam ini, malam ini kita juga kedatangan tamu terhormat, Pangeran Martin dari Brunei," ucap Gerald dengan bangganya. Semua tamu undangan bertepuk tangan ikut gembira dan mulai mencari cara mendekati Martin. Siapa yang tidak bangga didatangi oleh seorang Pangeran yang berkuasa dan terkenal dengan kekayaannya yang luar biasa di dunia. Koleksi mobilnya yang sampai ribuan di halaman khusus mobil mewahnya, pandai berkuda dan letnan dua lulus dari Royal Military Academy Sandhurst di Inggris.
Mata Sonya terus saja melihat lelaki itu sampai pada akhirnya Martin juga mengedarkan pandangannya dan memergoki Sonya yang memandangnya dengan senyum. Sonya langsung menunduk, dia jadi salah tingkah. Padahal hanya dibalas pandangannya saja sudah membuat Sonya gembira bukan main.
"Sayang, ayo kita pulang!" Ronald mengajak istri dan anaknya untuk pulang karena ini sudah larut, Nara dan Sonya harus istirahat, Ronald paling takut kalau istri dan anaknya jatuh sakit, dia paling khawatir kalau sampai itu terjadi.
Sonya pun cepat-cepat berdiri dan menjadi bingung karena takut Martin masih melihatnya. Ya, Sonya sudah tahu namanya dari sambutan yang diberikan Gerald tadi. Ketika Sonya menyelipkan anak rambut ke telinganya dan kembali mencuri lihat Martin. Martin ternyata masih memandanginya.
Jantung Sonya berdegup kencang saat Martin ternyata tahu kalau Sonya melihatnya. Martin bahkan sengaja memberikan senyumnya pada Sonya.
Mati aku! Dia tersenyum.
Dengan kebingungan Sonya berjalan cepat menuju mobil. Sonya wanita yang polos dan sama sekali penakut. Hidup dalam bayangan Daddy nya yang otoriter membuat Sonya menjadi anak rumahan yang disayang dan dimanja. Sonya tidak pernah menerima kemarahan dari Daddy dan Mommynya hanya saja apa yang dia suka selalu jadi perdebatan dan akhirnya Sonya mengalah.
Hidupnya sudah ditentukan oleh Daddy nya. Dia anak pertama dan satu-satunya. Mommy nya tidak akan pernah bisa memberikan dia seorang adik. Bahkan ini bukanlah novel yang dengan mudah bagi Ronald dan Nara mengangkat anak orang lain. Mereka lebih memilih menjadikan Sonya satu-satunya pelampiasan cinta mereka. Sayang cinta orangtuanya tidak selalu yang Sonya harapkan.
__ADS_1
"Daddy, apa Pangeran Martin itu sudah menikah?" tanya Sonya dengan lembut. Dia hanya penasaran saja, meski sebenarnya dia bisa mengakses itu lewat media sosial.
"Belum sayang, setahu Daddy belum tetapi katanya dia banyak yang suka dan pernah ada gosip tentangnya yang ketahuan pergi berlibur dengan wanita lain di Italia, Coba saja kamu cari di media sosialmu, zaman sekarang tidak sulit mendapatkan berita seperti itu, kenapa kamu bertanya seperti itu sayang? Kamu suka dia?" tanya Ronald dengan tawanya yang membuat Sonya kesal. Nara bahkan ikut tertawa mendengarnya.
Sonya menghela nafasnya. Tidak bolehkan dia hanya tahu sekilas tentang lelaki yang dia lihat tadi. Apa bertanya termasuk suka, belum tentu juga kan.
"Dia pasti dekat sekali dengan Javier, apa umurnya juga masih muda?" tanya Sonya kembali.
Tetapi Ronald hanya menggeleng dan tidak menjawab. Semua bisa Sonya dapatkan dari ponselnya. Ronald tidak tahu sampai sedetail itu.
"Dad, Mom! Apa kalian lihat ponselku? Tasku, ada di mana? Sepertinya ketinggalan, bisakah kita putar balik?" tanya Sonya gelisah. Bagaimana ini dia melupakan tasnya yang berisi kartu identitas dan ponselnya. Sonya mengusap wajahnya dan menggigit bibir bawahnya.
Kalau hilang bagaimana?
"Sayang, kamu selalu saja ceroboh!" Nara menggeleng dan dengan cepat atas perintah Ronald, mobil kembali ke kediaman Gerald tetapi para tamu sudah habis, tinggal petugas catering yang bersih-bersih.
"Tidak ada yang melihatnya Nona, saya akan tanyakan pada teman yang lain dulu," ucap petugas catering cepat dan bertanya pada semua temannya dan mereka menggeleng.
"Tidak ada Nona tetapi di sini ada CCTV, Nona bisa bertanya pada pemilik rumah," ucap petugas itu sambil menunjuk CCTV.
"Benar juga, tetapi hari sudah malam. Paman Gerald dan Javier pasti sudah istirahat sekarang," gumam Sonya memanyunkan bibirnya.
Sonya menghela nafasnya dan berdecak kesal. Sonya kembali ke mobil dan meminjam ponsel Mommy nya. Lalu keluar untuk menghubungi ponselnya sendiri. Siapa tahu yang mengambil tasnya berniat hati untuk mengembalikan.
"Halo," jawab seseorang dengan suara baritone nya. Laki-laki? Ini suara laki-laki.
"Halo, saya Sonya dan itu ponsel saya, saya membutuhkannya saat ini," ucap Sonya jujur.
__ADS_1
Lelaki itu pun tertawa dan seolah senang kalau pemilik ponsel ini ternyata menyadari cepat telah kehilangan barang berharganya.
"Iya ponselmu ada padaku tetapi malam ini aku sudah akan berangkat, bagaimana kalau besok malam kita bertemu dan aku akan memberikan ponselmu," ucap lelaki yang menghubungi Sonya.
"Besok malam ya, lama sekali! Ponsel itu seperti belahan jiwaku, aku tidak bisa jauh darinya," ucap Sonya meringis. Lagi dan lagi lelaki itu tertawa. Entah apa yang lucu tetapi dia tertawa begitu keras.
"Sayang sekali, aku harus membawa belahan hatimu bersama denganku tetapi aku janji akan memberikan padamu besok malam," ucap lelaki itu kembali.
Sebenarnya siapa laki-laki ini? Haruskah Sonya tahu siapa lelaki yang mengambil ponselnya.
"Iya, atau aku menyusulmu malam ini?" tanya Sonya karena dia benar-benar tidak bisa kalau tidak ada ponsel. Hidupnya akan galau, gelisah dan merana. Sudah kesepian tambah kesepian lagi.
"Maaf Nona, aku sudah di Bandara, maaf sekali membuat kamu kecewa tetapi aku berjanji akan memberikannya besok malam, apa kamu setuju?" tanya lelaki itu kembali.
"Boleh aku tahu namamu?" tanya Sonya yang jadi ingin tahu siapa yang saat ini mengambil belahan hatinya.
"Martin!"
Sonya terdiam! Dia menelan salivanya bulat-bulat lalu berpikir. Apa ini Martin yang tadi atau ada Martin yang lain?
"Pangeran Martin?" tanya Sonya untuk memastikan.
"Iya!"
Matilah aku.
Sonya tiba-tiba menjadi lemas.
__ADS_1
To Be Continued ….