
Ronald duduk di dalam kamarnya, bahkan lebih dulu dia sampai daripada Nara pulang. Lampu sengaja dia padamkan, dia ingin melihat bagaimana Nara pulang.
Marah sudah tentu, kesal apalagi, mendengar apa yang dikatakan Rosalinda tadi membuat darah Ronald mendidih.
Sudah terdengar suara pintu terbuka. Ronald sangat tahu kalau itu langkah kaki istrinya.
"Dari mana saja kamu?" Belum sempat Nara menghidupkan lampunya, dia sudah terkejut dengan suara Ronald yang marah dan sangat lantang. Nara sampai melonjak karena terkejut luar biasa.
"Honey, kamu sudah pulang?" tanya Nara sambil menghidupkan lampu dan tampilan Ronald sungguh acak-acakkan, dasi yang sudah bergeser tidak pada tempatnya, rambut yang berantakan dan wajah yang sungguh terlihat sangat marah.
Nara menelan salivanya, sudah pasti dan bisa dipastikan kalau Ronald marah dengannya.
"Tadi aku … aku," ucap Nara terdiam saat Ronald mendekat dan mendorongnya ke dinding.
"Pergi dengan laki-laki lain, saat aku ke luar negeri, bagus sekali!"
Jantung Nara berdegup dengan kencang, saat ini Ronald sama sekali tidak mesra dengannya dan yang dia katakan sungguh membuat Nara ketakutan. Nara menggigit bibirnya dan Ronald mengambil paper bag yang berisi gaun tidur yang Nara bawa dan dia beli dengan uang laki-laki lain.
"Apa ini?" tanya Ronald mengeluarkan pakaian tidur sexy Nara dan melemparkannya ke lantai. Dengan rasa kesalnya Ronald menyobek pakaian itu sedemikian di hadapan Nara.
Nara terdiam dan matanya berkabut. Tidak terasa bulir air mata mengalir di wajah cantik Nara.
"JAWAB! Apa yang kamu beli bersama laki-laki itu, kamu ke rumahnya dan bercinta dengannya, bagus sekali kamu Dinara! Di belakangku, kamu tahu bagaimana gelisahnya aku di Malaysia, aku sampai mengambil penerbangan akhir hanya untuk melihat kamu, Bagus!"
Ronald tidak membiarkan Nara menjelaskan semuanya. Dia berasumsi dengan pikirannya sendiri yang Nara saja tidak tahu Ronald tahu dari mana.
"Hebat kamu! Menemani laki-laki lain ke Mall, makan bersama, ke rumahnya, di belikan gaun tidur, mau jadi apa kamu? Kamu ingin meninggalkanku," ucap Ronald mencengkram lengan Nara begitu kuat.
"Sakit Ronald!"
__ADS_1
"Lebih sakit siapa, kamu atau aku saat ini?" teriak Ronald di depan wajah Nara. Ronald kalau marah selalu seperti itu, tidak bisa mengontrol emosinya. Nara sampai gemetar karena ketakutan. Nara menangis terduduk di lantai dan menangis.
"Ponselku habis batre, aku sudah menolak untuk pergi, itu memang salahku tetapi aku membeli gaun ini dengan uangmu dan bukan meminta hadiah darinya, aku ingin menyambutmu ketika pulang nanti dengan itu, kamu bisa cek sendiri pengeluaran di ATM mu," ucap Nara menangis sesegukan. Dia berlari ke toilet dan menutup pintunya dengan cepat. Ronald menyakiti hatinya.
Nara bukan wanita seperti itu, dia tidak mungkin memberikan tubuhnya pada laki-laki lain, bagaimana kalau saat itu ketika ada masalah mobil bodyguardnya tepat sekali ada Gerald dan ponselnya mati.
Alasan apapun yang diberikan Nara, pasti Ronald tidak akan menerima dan akan menyalahkannya. Ronald terdiam melihat Nara yang menangis seperti itu dan berlari ke toilet.
Dia pun mengecek uang keluar dari rekeningnya. Nara tidak berbohong, dia memang membeli sendiri gaun itu dan malah masih ada segel harganya. Nara malah mencari yang paling cantik dan yang Ronald suka.
"Honey! Maafkan aku, keluar sayang, aku minta maaf, seharusnya aku mendengarkanmu lebih dulu," ucap Ronald mengetuk pintu toilet tempat Nara menangis. Nara terduduk di dekat pintu dan memeluk tubuhnya sendiri. Ronald mengatakan dia bercinta dengan Gerald.
Dia tidak akan keluar.
Tok … tok …
"Honey, keluar sayang! Aku sudah tidak marah lagi denganmu," lanjut Ronald membujuk Nara agar keluar dari toilet tetapi Nara tidak bergeming, dia tidak mau keluar. Herannya, Nara kalau marah pasti bersembunyi di toilet, kenapa tidak mencari yang lebih wangi seperti ruang ganti pakaian mereka misalnya.
Satu jam berlalu, Nara tetap tidak mau keluar. Ronald sudah pusing menyuruh agar istrinya keluar, suara tangis terdengar sekali dari balik pintu dan itu sungguh mengiris hatinya. Ronald menyugar rambutnya frustasi. Tidak lama Nara keluar dengan wajah yang basah sehabis mencuci mukanya.
Ronald langsung memeluk Nara tetapi Nara menepiskan pelukan Ronald.
"Untuk apa memelukku, bukankah aku sudah kotor karena bercinta dengan laki-laki lain," ucap Nara lirih masih sambil menunduk. Padahal Nara tidak pernah cemburu dengan Ronald dan sangat percaya dengan Ronald tetapi sekalinya itu dia, Ronald menghakiminya seperti itu.
Apa salahnya Gerald mengantarnya dan perlu Ronald ketahui kalau Gerald pernah menolongnya saat dia terpuruk.
"Honey, maafkan aku sayang, aku tidak tahu, aku salah!" Ronald memegang tangan Nara dengan lembut dan menenggelamkannya ke bibirnya. Nara diam, dia tidak ingin menjawab. Bukan hanya Ronald yang saat ini marah, Nara pun juga marah.
"Besok kita beli yang sama gaunnya," ucap Ronald kembali membujuk Nara. Nara menggeleng. Dia sudah tidak berselera lagi, Ronald menghancurkan impiannya untuk membahagiakan suaminya.
__ADS_1
"Aku tidak mau, sudahlah! Aku mau tidur," ucap Nara merajuk.
Ya Nara pun bisa merajuk, bukan hanya Ronald yang bisa marah-marah. Tanpa mencari tahu kebenarannya lebih dulu, Ronald langsung saja menghakiminya selingkuh.
Ronald melihat Nara yang menyiapkan pakaian tidur Ronald dan dia juga ikut mengganti pakaian tidurnya dan tidur tanpa adanya kecupan hangat di kening atau di bibir yang sering Nara berikan pada Ronald.
Padahal mereka sedang mesra-mesranya dan sekarang Ronald malah menyakiti hati Nara.
Yang penting Nara sudah mau keluar dari toilet.
"Honey, besok aku libur. Kamu mau ditemani ke mana?" tanya Ronald tidur di samping Nara dan pelan-pelan melingkarkan tangannya ke pinggang Nara dari belakang.
"Aku tidak mau ke mana-mana," jawab Nara ketus.
Nara sangat sedih ketika Ronald menghancurkan gaun yang dia beli seolah pembelian dari Gerald, padahal semua menggunakan uang Ronald.
"Aku lagi rindu sekali dengan nasi goreng pedas buatanmu, honey! Besok pagi buatkan aku ya," ucap Ronald kembali membujuk Nara. Inilah yang bagi Ronald paling susah.
Membujuk Nara itu tidaklah satu atau dua hari, Nara pasti akan mengingat rasa sakitnya dengan lama dan kemesraan itu pasti akan sirna karena kemarahan Nara yang belum reda.
"Hmmm …."
Nara hanya berdehem, dia malas menanggapi Ronald saat ini.
"Tadi kemana saja honey?" tanya Ronald dengan lembut. Seharusnya Ronald seperti ini dari tadi bukan marah-marah tidak jelas. Emosi sudah merajai otaknya sehingga lupa kalau Nara paling tidak bisa di marahi.
"Kamu jelas tahu ke mana aku pergi, untuk apa bertanya lagi," jawab Nara yang masih tidur membelakangi Ronald.
"Aku belum makan, honey! Bisa masak sesuatu untukku," ucap Ronald yang pantang menyerah meminta maaf pada Nara. Nara berdiri dan pergi ke dapurnya tanpa banyak bicara.
__ADS_1
To Be Continued ….