Stop Loving You

Stop Loving You
Patient


__ADS_3

"Ronald, ini masih pagi, kenapa kamu minum anggur?" tanya Nara. Saat ini mereka sedang menikmati pemandangan di Bali dan sarapan di restoran mewah dekat villa mereka.


Ronald senang melihat Nara yang perhatian dengannya. Nara mulai membuka hatinya kembali meski Nara tidak pernah mengakui kalau dia masih sangat mencintai Ronald.


"Mau minum kamu tapi kamu tidak boleh," jawab Ronald mengedipkan matanya sebelah.


Nara menyunggingkan bibirnya dan menggeleng pelan. Ronald pintar sekali menggodanya.


"Honey, jangan panggil namaku, aku tidak suka, panggil seperti semalam kamu memanggilku, honey … honey! Aku suka sekali mendengarnya, sangat manja," ucap Ronald pada Nara sambil tertawa.


Nara memutar bola matanya malas, dia tidak akan memanggil Ronald dengan sebutan itu. Mereka bukan pasangan kekasih.


"Kenapa tidak mau, perlu aku ingatkan kalau kamu semalam memanggilku seperti itu," ucap Ronald mengambil ponselnya yang merekam kelakuan liar Nara semalam.


Nar menutup wajahnya malu, untuk apa Ronald menunjukkan keadaan dia yang mabuk seperti semalam.


"Sebenarnya isi ponselmu itu apa Ronald? Semua videoku yang tidak benar, ada di ponselmu, kamu sengaja menyimpannya untuk menjebakku, bukan?" tanya Nara memicingkan matanya.


Ronald tertawa dengan bahagianya.


"Kamu benar honey, untuk mengikatmu agar tidak kabur dariku, juga koleksiku kalau aku rindu atau sedang di toilet," ucap Ronald dengan nakalnya.


Astaga!


Ronald menghayal dirinya di dalam toilet. Gila sekali laki-laki ini.


"Aku tidak suka melihatnya, hapuslah!" pinta Nara dengan wajah memelasnya.


"No! Tidak akan pernah aku lakukan, ini koleksi pribadiku, jangan khawatir honey, aku tidak akan mungkin menyebarkannya, aku hanya bercanda tadi, tetapi aku tidak akan menghapusnya, aku benar suka melihatnya," ucap Ronald menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


Menjijikan sekali kelakuan Ronald.


"Honey, setelah ini aku ingin bertemu dengan temanku, nanti kamu ikut saja, kalau kamu bosan, kamu cukup berkeliling di sekitar pantai karena aku dan temanku akan bertemu di cafe dekat pantai, jangan kabur! Kamu tidak ada uang dan di sini bahaya untuk wanita cantik seperti kamu," ucap Ronald kembali mengedipkan matanya.


Ronald pun mengajak Nara kembali menikmati pemandangan sambil minum kopi dan Ronald minum anggur. Ronald sudah terbiasa hidup di Inggris dengan meminum anggur, jadi tidak mengenal pagi, siang atau malam untuk meminumnya tidak seperti orang Indonesia yang hanya akan melakukannya pada malam hari dan masih jarang mereka yang suka minum anggur seperti yang Ronald lakukan.


Tiba-tiba ponsel Ronald berdering dan menampilkan nama 'Mama'. Pasti Monica sudah tahu kalau Ronald tidak di Malaysia saat ini.


"Halo Ma!" Ronald menjawab panggilan telpon Mamanya.


"Ronald, kamu sudah pintar yah berbohong dengan Mama, kamu tidak di Malaysia. Mama sudah cek, kamu tidak ada di sana, kamu ke Bali kan bersama dengan wanita itu, Mama lihat foto kamu dan Alfred di Bali semalam," ucap Monica dengan tegas.


Hmm … Ronald menghela nafasnya, dia lupa kalau Alfred dan Jack berteman dengan Mamanya di media sosial. Monica selalu saja ingin tahu urusan Ronald padahal Ronald sudah sebesar ini. Apa kata orang kalau tahu Ronald masih anak Mama?


Memalukan sekali.


"Ya … ya, Ronald di Bali Ma, Ronald sedang liburan dengan Nara. Mama berhentilah menelponku terus, aku ini bukan anak kecil, sekarang aku sedang ada meeting dengan Alfred dan Jack, jangan memata-mataiku dari mereka, aku tidak suka Ma, ingat itu!"


"Kamu tidur bersama wanita itu?" tanya Monica dengan kesal.


"Tentu saja Ma! Haruskah aku jawab pertanyaan konyol seperti ini, aku hidup di Inggris. Mama tahu bagaimana kehidupan di sana," ucap Ronald membela dirinya. Padahal meski hidup di Inggris sekalipun, Ronald tidak pernah sama sekali tidur dengan wanita manapun.


"Kamu ingin membuat dia hamil, Ronald. Mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian dan kalau dia sampai hamil, Mama akan mengajaknya menggugurkan kandungannya, Mama tidak sudi, cucu Mama dilahirkan dari wanita miskin seperti dia," ucap Monica tegas.


Ronald berkacak pinggang dan menarik nafasnya dalam-dalam. Mamanya ini sudah sangat keterlaluan.


"Kalau sampai Mama melakukan itu semua pada calon istri dan anakku, jika memang Nara nanti hamil, aku tidak segan-segan melaporkan Mama pada pihak berwajib, itu kriminal Ma, Aku bingung darimana aku dididik, Sifat Mama sama sekali tidak ada dalam diriku," ucap Ronald dengan tegas dan memutuskan panggilan telponnya.


Ronald membuang nafasnya kasar.

__ADS_1


"Mama kamu yang telpon?" tanya Nara yang sedari tadi ada di belakang Ronald dan memang sengaja ingin mendengar percakapan Ronald dan Mamanya.


"Sejak kapan kamu di belakang, honey?" tanya Ronald lembut sambil mengelus pipi Nara dengan lembut.


Wajah Nara kembali bersedih. Ronald tahu pasti Nara mendengarkan semua percakapan dia dan Mamanya.


"Mama kamu tidak pernah setuju hubungan kita, Ronald. Kamu saja yang selalu berkeras ingin bersama denganku, seharusnya kamu dengarkan apa kata orang tuamu, biasanya itu yang terbaik untuk anaknya," ucap Nara lirih.


"Tidak semua apa yang dikatakan orang tua itu terbaik untuk anaknya, honey! Aku mencintai kamu dan yang merasakan cinta itu aku, bukan Mama. Bukan siapapun, karena aku tahu bagaimana hatiku kalau tidak ada kamu dan karena aku tahu saat bersama denganmu adalah kebahagiaan terbesar untukku, Mamaku tidak pernah melihat itu, biarkan saja! Aku akan membuatnya mengerti kalau kamu adalah satu-satunya wanita yang mampu membuat aku bahagia, mampu merubahku menjadi lebih baik. Itu berkat kamu honey," ucap Ronald panjang lebar.


Ronald menarik Nara masuk ke dalam pelukannya, sebenarnya Ronald sangat tahu kalau Nara ingin kembali dengannya tetapi Monica selalu membuat Nara tidak nyaman dan selalu saja mengaduk perasaannya.


Sedang di tempat lain, Monica sudah tahu kalau Gerald suka dengan Nara. Monica menghubungi Jane hanya untuk mengabarkan pada Jane kalau Nara saat ini di Bali dengan Ronald.


"Gerald suka Nara?" tanya Monica langsung.


"Kenapa Jeng Monic, tidak biasanya langsung menghubungi dan bertanya pertanyaan seperti ini," ucap Jane sinis.


"Ambil saja Nara! Aku tidak suka Nara mendekati anakku Ronald, katakan pada anakmu kalau memang suka Nara, susul Nara di Bali, aku juga akan menyuruh Rosalinda untuk mencari Ronald di Bali, kalau Gerald tidak suka, aku akan mencarikan jodoh untuk Nara, wanita murahan itu agar dia tidak lagi mengganggu Ronald," ucap Monica dalam telpon.


Jane menggeleng. Kasian sekali Nara kalau sampai punya mertua gila seperti ini. Monica tidak pernah berubah, bahkan sesama teman arisan, tidak ada yang menyukai sifatnya yang suka menyakiti hati seperti itu.


Dia berbicara saja suka membuat orang kesal mendengarnya. Jane pun langsung menghubungi Gerald.


Biar Nara dengan Gerald saja, dia sayang dengan Nara. Nara wanita yang baik dan pantas untuk anaknya.


To Be Continued ….


Jangan Lupa Like, Vote dan Komentar yah, biar rame dan Madamme semangat buat nulis.

__ADS_1


Follow IG Madamme juga 'Madammeyellow'


Terima Kasih


__ADS_2