
"Gerald kamu harus segera menyusul Nara ke Bali, Monica itu kejam sekali, Mami tidak tega dengan Nara, Mami tahu kamu suka dia," ucap Jane membujuk Gerald agar mau menjemput Nara.
"Sudahlah Mi, Nara itu sudah punya Ronald, aku malas berhubungan dengan Ronald dan pekerjaanku sedang banyak sekarang," ucap Gerald fokus pada pekerjaannya di hari libur seperti ini.
Meski dia suka, Ronald pasti tidak akan melepaskan Nara. Laki-laki itu, Gerald sangat hafal sekali. Ronald pasti akan selalu mengekang Nara untuk selalu bersama dengannya, tidak ada kesempatan untuk dia.
"Baru seperti itu, kamu sudah mengalah Gerald, bagaimana bisa kamu mendapatkan wanita kalau cara kamu seperti ini," ucap Jane kesal.
Gerald tidak ingin menyusul Nara, pasti saat ini Monica yang menyusul anaknya ke Bali. Mengenang sifat Monica yang barbar, Jane hanya takut kalau Monica menyiram air keras pada wajah Nara.
Dan ternyata benar, Monica mengajak Rosalinda menyusul Ronald ke Bali, dia harus bergerak cepat kalau tidak mau kehilangan anak laki-lakinya.
Ronald masih berbicara bisnisnya dengan Alfred dan Jack, sementara Nara berjalan sendirian di tepi pantai menikmati udara segar pantai bercampur air laut. Sementara orang suruhan Monica sudah lebih dulu memata-matai Nara dan Ronald.
Saat sampai Bali, Monica langsung bertanya di mana Ronald dan Nara pada mata-matanya. Monica melihat Nara yang sedang menikmati angin pantai dan langsung bergerak mendekatinya.
Kesal sekali Monica melihat wanita murahan yang tidak tahu malu dan masih mendekati anaknya itu. Padahal Nara tengah duduk dengan santai sendirian di pasir pantai.
Monica datang malah langsung menjabak rambut Nara dan menggeretnya ke pantai.
"Tante, lepasin saya Tante, sakit sekali!" ucap Nara meringis memegang rambutnya yang ditarik begitu kasar.
"Kami itu harus dikasih pelajaran ya, tidak mengerti apa yang saya katakan, sudah saya katakan untuk menjauhi Ronald, kamu tidak punya kaca di rumah, butuh uang kamu!" ucap Monica yang saat ini sudah di pinggir pantai, dia ingin menenggelamkan Nara.
Biar mati sekalian.
"Ronald, bukankah itu Nara dan Mamamu," ucap Alfred melihat Monica menarik rambut kekasih Ronald dengan kasarnya. Ronald langsung sigap melihat dari jauh dan mengejar Mamanya yang saat ini mendorong Nara ke tengah laut.
Nara tidak bisa berenang, Nara bahkan sudah gelagapan dan hanya tangannya yang menggapai permukaan air laut.
"To … tolong!" suara Nara sudah lirih, Ronald tanpa banyak bicara dan masih menahan kesal dan amarahnya, menolong Nara lebih dulu, Ronald berenang dengan cepat menggapai kekasihnya yang sudah kepayahan.
__ADS_1
"Nara, Nara! Bertahanlah honey!" Ronald menepuk pipi Nara kuat, saat ini Nara sudah tidak sadarkan diri. Ronald memberikan nafas buatan pada Nara. Namun, Nara masih belum sadarkan diri. Ronald tidak menyerah sampai air laut yang Nara telan keluar dan dia terbatuk-batuk.
Ronald memeluk Nara dengan erat. Ronald belum memberi pelajaran pada Mamanya dan Rosalinda, saat ini yang penting membawa Nara ke rumah sakit.
Dengan hatinya yang bergemuruh, Ronald menggendong Nara dan berlari dengan cepat ke mobilnya. Membawa Nara ke rumah sakit terdekat. Bahkan teman Ronald menggeleng melihat kelakuan barbar Monica.
Bagaimana bisa Monica sampai hati melakukan itu pada kekasih Ronald. Alfred yang membawa mobil ke rumah sakit, mereka memang diberikan satu mobil selama berada di Villa. Sedang Ronald di belakang bersama dengan Nara.
Wajah Nara masih sangat pucat terlihat bibirnya yang biru.
Kejam sekali Mama denganmu Honey.
Andai saja Ronald ini wanita, saat ini dia sudah menangis melihat kondisi Nara tetapi masih ditahan oleh Ronald. Hanya matanya saja yang basah dan berkaca-kaca.
"Bagaimana kalau sampai aku kehilanganmu, aku tidak akan bersemangat lagi hidup, honey!" gumam Ronald pelan.
"Tenangkan dirimu, Ronald! Kita sudah sampai rumah sakit," ucap Jack melihat Ronald yang baru kali ini bersedih melihat wanitanya.
Janu menyusul dan membawa semua perlengkapan Ronald yang dia tinggalkan begitu saja di cafe.
Ronald mengambil ponselnya dan menghubungi Mamanya saat ini.
Ronald mengambil nafas dalam-dalam sebelum akhirnya Monica mengangkat telponnya.
"Apa yang Mama lakukan tadi sungguh tidak berperasaan Ma, Bagaimana bisa Mama sampai ingin membunuh Nara, apa salahnya?" tanya Ronald masih menjaga suaranya tetap kecil karena ini masih di rumah sakit.
"Sudah Mama katakan, Mama tidak suka dia Ronald, kalau kamu masih bersama dengannya, Mama tidak akan pernah menganggapmu sebagai anak Mama," ucap Monica mengancam Ronald.
"Itu mau Mama, Bukan Ronald yang meminta, terserah Mama mau berbuat apa tapi ini yang terakhir Ma, jangan pernah lagi sakiti Nara. Dia tidak pernah sekalipun menjelekkan Mama di hadapanku, Mama jangan sampai aku berbuat dosa dengan Mama," ucap Ronald kesal dan menutup telponnya.
"Ronald! Ronald …." Monica berteriak tetapi telpon sudah terputus.
__ADS_1
Kenapa wanita itu tidak mati saja tadi.
Ronald dengan sabar menunggu Nara bangun, saat ini kondisinya semakin membaik dan sudah dipindahkan ke ruang perawatan.
Untung saja Janu membawa pakaian ganti untuk Ronald. Janu juga membuat penjagaan di luar kamar Nara kalau saja Monica masuk dan ingin membunuh Nara kembali, Ronald sudah tidak percaya lagi dengan Monica. Kehadiran Monica hanya ingin membunuh kekasihnya.
"Kamu sudah bangun, honey!" bisik pelan Ronald di telinga Nara saat Nara membuka pelan matanya. Nara hanya tersenyum simpul dan tenaganya masih sangat lemah untuk menggerakkan seluruh tubuhnya.
"Kamu haus?" tanya Ronald karena bibir Nara terlihat kering. Nara pun mengedipkan matanya. Dengan hati-hati Ronald membantu Nara untuk menghabiskan minumnya.
Setelah selesai, Ronald kembali membantu Nara berbaring. Digenggamnya kedua tangan Nara dengan lembut dan dibawanya ke bibirnya, dikecupnya pelan kedua tangan mungil itu.
Nara menangis melihatnya.
"Berhentilah mencintaiku Ronald, sungguh aku lelah menghadapi Mamamu, aku tidak menyalahkan dia yang membenciku, aku menyalahkan diriku, kenapa aku tidak sederajat denganmu?"
Nara berurai air mata, tangisannya jatuh ke bantal yang sedang dia tiduri saat ini. Ronald menggeleng dan menghapus air mata Nara dengan cepat.
Tidak! Sampai kapanpun, dia tidak akan meninggalkan Nara, berhenti mencintai Nara atau membenci Nara sekalipun.
"Jangan marah padanya, aku tidak apa! Dia seperti itu hanya karena ingin kamu bahagia," ucap Nara kembali menangis dengan getir di bibirnya.
Sungguh menyakitkan sekali Ronald mendengarnya, bahkan sudah seperti ini Nara tidak membenci orang tuanya. Dia yang anak kandung saja rasanya ingin sekali membalas apa yang dilakukan orang tuanya.
Ingin marah, ingin berteriak kalau saja dia tidak ingat Monica adalah ibu kandungnya yang membesarkannya sepenuh hati.
"Tidak perlu terlalu baik, honey! Kamu bisa melawannya kalau dia salah, aku tidak akan pernah marah denganmu," ucap Ronald sungguh-sungguh.
Ronald masih tetap ingin bersamanya. Nara sudah lelah! Ingin berlari, ingin kabur dan menyembunyikan dirinya sejauh mungkin. Dia memang cinta dengan Ronald tetapi untuk apa cinta kalau dia malah menyerahkan nyawanya.
To Be Continued ….
__ADS_1