Stop Loving You

Stop Loving You
Pemanasan


__ADS_3

Tidur berpelukan setelah halal seperti ini ternyata berbeda ketika Martin dan Sonya belum menikah dulu, rasanya lebih hangat. Lebih nyaman dan terasa sangat sayang sekali dengan Sonya.


Sonya sudah tidur lebih dulu, bahkan dia tidak tahu kalau saat ini sedang menyiksa Martin. Tidur berpelukan tidak menggunakan apapun tetapi tidak melakukan apa-apa, sungguh membuat frustasi Martin sekali tetapi Martin tahu kalau Sonya sedang sakit. Tidak apalah daripada Sonya menghindarinya.


Nyatanya Martin paksakan tidur memendam hasratnya pada Sonya sampai pagi. Setelah Pagi, Sonya bangun lebih dulu, dia melepaskan pelukan Martin dan memandangi wajah Martin dengan sangat dekat.


Tidak menyangka kalau lelaki di depannya ini adalah suaminya. Sonya pun mengambil pakaiannya dan turun ke bawah menyiapkan minuman hangat dan makanan untuk suaminya kalau sudah bangun nanti. Ternyata Martin sadar kalau Sonya sudah bangun, dia pun ikut turun dengan celana panjang dan kaos putihnya. Hanya mencuci muka sebentar saja dan gosok gigi.


"Pagi, honey!" Martin mencium kening Sonya ketika melihat istrinya ada di dapur. Martin melihat ada perubahan dari wajah Sonya. Hari ini dia sudah tersenyum meski hanya senyum simpul. Dia juga sudah menyiapkan makanan untuk dirinya. Sonya benar-benar istri yang baik sekali. Ronald dan Nara bahkan tersenyum melihat pengantin baru ini.


"Dad, Mom. Pagi!" Martin menyapa mertuanya dan duduk dengan tenang di meja makan. Sonya duduk di samping Martin. Mendekatkan segelas susu murni untuk suaminya.


"Pagi Martin, cerah sekali sepertinya?" tanya Ronald dengan wajah nakalnya. Sonya tetap masih marah dengan Daddynya. Dia masih tidak mau menegur Ronald.


"Iya Dad, punya istri ini beda sekali ternyata, kenapa tidak dari dulu saja menikah," ucap Martin jujur. Nara dan Ronald pun tertawa. Sonya hanya diam, dia sedang malas bercanda. Masalahnya sampai saat ini, itu hanya sekedar status karena dia belum memberikan hak Martin sebagai suami.


"Dad, rencananya Sore ini, Martin akan membawa Sonya ke Brunei, Daddy dan Mommy tahu kalau ada acara lagi di sana," ucap Martin meminta izin pada Ronald. Ronald pun mengangguk, sekarang setelah Sonya menikah, Ronald tidak masalah Sonya dan suaminya mau kemana karena mereka sudah halal dan memang sudah sepantasnya istri ikut suami.


Sonya menunduk, padahal Sonya sudah katakan kalau dia tidak bisa ikut Martin tapi tetap saja Martin membawanya ke Brunei seolah apa yang dikatakan Sonya adalah angin lalu untuk Martin.


Entah kenapa pernikahan ini tidak membuat Sonya bahagia. Pernikahan yang dilakukan karena paksaan.


"Hati-hati saja Martin, Daddy dan Mommy akan ke sana sehari sebelum acara, Daddy sedang banyak sekali pekerjaan, Daddy titipkan Sonya padamu, tolong dijaga dengan baik," ucap Ronald sambil melihat Sonya yang terlihat sekali bersedih.


"Siap Dad!"

__ADS_1


Sarapan pagi kali ini, Sonya hanya diam. Dia bingung mau menolak bagaimana? Itu adalah acara pernikahan tetapi Sonya tidak siap menjadi istri Martin.


"Sayang, tolong ambilkan aku pasta itu," ucap Martin melirik pasta yang ada di depannya. Sonya bahkan tidak mendengar karena asik melamun.


"Oh iya, yang mana?" tanya Sonya dengan sangat lembutnya.


"Itu sayang," jawab Mike dengan senyum, istrinya sedang melamun. Pasti sedih memikirkan akan pergi meninggalkan orang tuanya.


Setelah selesai makan, Sonya masuk ke dalam kamar dan disusul oleh Martin dengan cepat. Baru masuk kamar, Martin sudah mengunci pintu kamar mereka.


Dia mendorong Sonya ke dinding dan berbisik tepat di telinga Sonya.


"Kamu sudah sehat, honey?" tanya Martin dengan suara paraunya. Dia sudah sangat berhasrat sekali dengan Sonya. Berharap Sonya mengerti dengan apa yang sedang dia hadapi saat ini. Pikirannya begitu pusing saat menyentuh bukit kembar istrinya semalam.


"Kamu menginginkannya?" tanya Sonya dengan sangat lembut. Martin pun berbisik kembali di telinga Sonya.


"Ya sangat, kalau kamu mengizinkannya," ucap Martin dengan suara seraknya. Tanpa menunggu jawaban dan hanya tatapan pengharapan dari Sonya. Martin mulai mencumbui bibir merah Sonya dengan begitu lembut, memasuki rongga mulutnya dengan indah dan mulai bermain di sana. Sonya hanya pasrah membiarkan semuanya terjadi.


Cepat atau lambat, tubuhnya akan menjadi milik Martin. Tidak hari ini besok, tidak besok tentu lusa. Martin lelaki normal, dia pasti akan memburu tubuh istrinya.


Martin menggendong Sonya menuju ranjang. Membuka kain yang menutupi tubuh istrinya hingga dia bisa melihat betapa indahnya istrinya. Mulai mencicipi dari bibir sampai ke bawah tubuhnya dan berhenti di sana.


Sonya mendesah karena ini pengalaman pertama kali untuknya saat Martin mulai bermain di sana. Tangan Sonya meremat sprei dengan begitu kuat menahan rasa yang dia pun sulit menerjemahkannya.


Bahkan Martin sengaja bermain dengan lama agar Sonya terbiasa dengan hasratnya yang besar. Mereka baru tahap pemanasan tetapi keringat sudah mulai bercucuran membasahi dua insan yang baru disatukan Tuhan ini.

__ADS_1


Tubuh Sonya bergetar saat Martin sudah siap masuk memenuhi tubuhnya. Sonya melingkarkan tangannya pada Martin.


"Aku belum siap," bisik Sonya dengan gemuruh di dadanya tetapi sudah tidak bisa lagi mundur. Martin sudah sangat menginginkannya.


"Ini tidak akan sakit, aku akan sangat pelan, honey! Kamu cukup nikmati saja," bisik Martin dengan lembut dan kembali mencium bibir Sonya sembari dia mulai menekan masuk.


Ohh … Sonya menjerit kesakitan tetapi itu masih belum bisa memecah kesuciannya. Sonya benar-benar kesakitan sehingga membuat Martin tidak tega melakukannya.


Sayangnya Sonya tidak bisa menjerit karena bibir mereka saling bertautan.


"Sakit Martin, ini menyakitkan," ucap Sonya mengeluarkan air matanya. Martin pun berhenti sebentar dan kembali membuat Sonya nyaman dengan pemanasan lagi.


"Nanti saja lagi," rengek Sonya memohon belas kasihan Martin. Herannya Martin tidak marah, ya ini memang tidak mudah.


Dia harus sabar melakukan semua itu. Martin pun memeluk Sonya dan mengajaknya mandi bersama. Malam ini di negaranya, Sonya akan jadi miliknya seutuhnya, Martin tidak akan lagi kasihan melihat Sonya menangis. Siang ini biarkan itu menjadi pemanasan untuk Sonya dulu, agar dia tahu bagaimana nikmatnya menjadi seorang istri dan melakukan hubungan ini dengan halal.


Ronald tidak bertanya-tanya kenapa Sonya dan Martin tidak turun dari kamarnya, itu biasa saja. Namanya pengantin baru menemukan hal baru, mereka pasti penasaran dan ingin lama di dalam kamar.


Sampai sore baru keluar dan itupun untuk langsung kembali ke Brunei, pesawat mereka sudah tiba untuk menjemput Martin dan Sonya. Dengan sedihnya, Sonya pamit dengan Ronald dan Nara.


"Mommy, telpon Sonya terus ya, jangan lupain Sonya Mom, Dad. Sonya pergi dulu," ucap Sonya mencium orang tuanya dan pergi dengan menangis.


Masih dia tidak ikhlas. Ronald dan Nara bahkan berusaha tegar tetapi pecah juga tangisan mereka. Anak satu-satunya kini sudah pergi. Rasanya sepi sekali rumah mereka.


To Be Continued ….

__ADS_1


__ADS_2