
Tiga hari telah berlalu Fara dan bayi laki-lakinya di izinkan untuk pulang, sedangkan bayi perempuannya masih harus dirawat walaupun berat badannya sudah mulai bertambah namun belum normal jadi masih harus dirawat
semua sudah berkumpul di rumah Fara dan menyambut kedatangan mereka,namun mereka juga sedih karena simungil belum bisa dibawa pulang
"Ayo nak kamu istirahat dulu,bayimu biar kami yang jaga" ucap Nadia
"makasih Bunda saya kekamar dulu" ucap Fara lalu masuk kedalam kamar dibantu oleh suaminya
"kamu istirahat ya sayang,biar kakak bunda dan bibuk dulu yang jaga" ucap Ardhit mencium kening istrinya dan keluar dari kamarnya dan menemui keluarganya
"selamat ya dhit,kamu sekarang sudah menjadi ayah " ucap Fariz menepuk pundak adik iparnya itu
"makasih mas,mas juga sebentar lagi akan menjadi ayah juga " ucap Ardhit menimpali ucapan kakak iparnya
"iya dhit,tapi kami masih deg degan menanti hari itu tiba,kamu sekarang sudah sedikit plong Fara sudah melahirkan malah kita diberi kejutan dengan kehadiran putrimu "ujar Rifqi
"iya mas,
saya tidak pernah menyangka bila Fara akan melahirkan anak kembar"
dua Minggu berlalu Anak kembar kedua fara dan Ardhit bisa dibawa pulang, semua sangat antusias menyambut kedatangan si mungil
"oh iya dhit siapa nama putra dan putrimu"tanya wahyu pada menantunya itu
"kakak kami beri nama "Muhammad Gaffi Ardhitama"
dan kalau untuk adik kami beri nama "Ayesha Faradillah Ardhitama "."ucap Ardhit memberi tahukan nama anak kembarnya
"jadi kita panggil dengan baby Gaffi dan baby Echa "ucap Della dan semua mengangguk
seminggu sudah baby Gaffi dan baby Echa dirumah,Buk sari dan Pak Ahmad lebih sering bolak-balik seperti sekarang ini saat mendengar cucu perempuannya sudah bisa dibawa pulang tiga seminggu yang lalu Buk sari dan Pak Ahmad datang melihat cucunya itu
"cucunya nini cantik sekali" ucap Buk Sari mencium pipi gembul baby Echa
"cucu nini yang juga tampan, sehat terus ya kalian berdua " ucap Buk Sari lagi kini giliran baby Gaffi yang diciumnya
Fara hanya tersenyum melihat ibu angkatnya sangat menyayangi anak-anaknya
Keesokan harinya keluarga besar Nadia mengadakan acara syukuran dan Aqiqah anak-anak Fara banyak tetangga yang datang dalam acara syukuran itu sekalian mereka menjenguk anak-anaknya Fara dan Ardhit
mereka juga berbagi kebahagiaan bersama anak-anak panti asuhan dengan mengundang mereka datang
Anak-anak panti senang sekali selain mendapatkan bingkisan mereka juga mendapat Amplop
...****************...
Sudah tiga hari ini baby Gaffi dan baby Echa gelisah dan selalu nangis membuat Fara dan Ardhit menjadi bingung terkadang Fara ikut menangis bersama bayinya karena fara merasa kasian pada kedua anaknya yang mengis terus itu membuat Ardhit semakin bingung harus berbuat apa
"sayang jangan ikutan nangis dong,papa kan jadi bingung kalau mama ikut nangis, sudah ya sayang " ucap Ardhit pada istrinya dan berusaha menenangkannya
__ADS_1
"mama kasian pa sama mereka,mama bingung pa mau ngapain anak-anak kayak gini" ucap Fara masih dengan isak tangisnya
"iya sayang,papa ngerti tapi kalau kamu kayak gini tidak baik untuk bayi kita, sudah ya sayang papa telpon bunda dulu" ucap Ardhit mencium kening istrinya
fara berusaha menghentikan tangisannya si kembar pun tertidur karena lelah menangis
Ardhit menelpon Nadia dan meminta Nadia datang kerumahnya untuk menemani Fara,tak butuh waktu lama Nadia telah sampai kerumah Ardhit
sedangkan dirumah Shela sesekali dia menahan rasa ngilu diperutnya karena anaknya bergerak sangat aktif
"mas ini ngilu sekali,berapa hari ini kenapa ya mereka aktif sekali "ucap shela menahan ngilu diperutnya
"sayang Kalianda jadi anak yang baik ya, kasihan mami nak "ucap Rifqi sesekali mengusap perut buncit istrinya
"saya telpon bunda ya siapa tau bunda bisa datang temenin kamu" ucap Rifqi lalu nelpon ibu mertuanya
"assalamualaikum Bund"ucap Rifqi saat Nadia mengangkat telponnya
"waalaikumsalam, kamu kenapa nak ?" tanya Nadia kepada menantunya
"Bund, Rifqi mau minta tolong bunda bisa nggak temani Shela dulu soalnya perutnya sering terasa ngilu " ucap Rifqi hati-hati
"Bunda lagi dirumahnya Ardhit, Soalnya Gaffi dan Echa lagi rewel
atau Shela aja yang kamu antar kerumah Ardhit "ucap Nadia
"oh iya bunda Nanti saya antar Shela kesana, assalamualaikum " ucap Rifqi
tak berselang beberapa menit shela dan Rifqi datang
"assalamu'alaikum " ucap Rifqi dan Shela
"waalaikumsalam "ucap Nadia
"kamu kenapa sayang ?" tanya Nadia saat melihat mata anaknya sembab
"dedek bayinya gerak terus bunda,trus kalau mereka gerak rasanya sangat ngilu " ucap shela dengan mata berkaca-kaca
"oh cucunya oma jangan siksa mamimu sayang, kalian kenapa nak?" ucap Nadia mengajak bicara calon cucunya
saat sedang asyik mengelus perut buncit putrinya tiba-tiba saja bayi kembar Fara menangis Nadia segera beranjak dari duduknya dan menghampiri Fara yang sedang menenangkan anak-anaknya
"Bund mereka kenapa bund ?" tanya Fara yang sudah mulai terisak
Shela pun kembali meringis menahan rasa ngilu diperutnya
Nadia juga bingung harus bagaimana,Nadia mengendong salah satu cucunya dan mendekati Shela yang sedang duduk di sofa ruang keluarga yang juga sedang terisak karena rasa ngilu diperutnya
Nadia bingung harus bagaimana,nadia duduk disamping shela tanpa sengaja kaki Echa menyentuh perut shela tiba-tiba tangis Echa berhenti dan Jabang bayi dalam kandungan Shela pun diam,nadia, shela dan Rifqi saling pandang seolah saling bertanya
__ADS_1
"kok bisa?"
Fara yang kebingungan karena putranya tidak berhenti menangis memilih keluar menghampiri bunda dan kakaknya
"Fara sini nak" panggil Nadia dan fara pun menghampirinya
"sayang, coba sentuhkan tangan Gaffi keperut kakakmu" ujar Nadia,Fara bingung namun tetap melakukan apa yang dikatakan oleh bundanya namun Gaffi masih saja tetap menangis tidak seperti Ayesha langsung terdiam dan tertidur pulas
Nadia mengerutkan keningnya bergitu pun shela dan Rifqi
"atau jangan-jangan Gaffi bisa diam kalau menyentuh perut kak Shila Bunda" ucap Rifqi
"iya kamu benar,coba kamu telpon kakakmu" ujar Nadia dan Rifqi pun segera menelepon kakaknya iparnya itu
"Halo Assalamualaikum kak" ucap Rifqi saat sambungan telepon dijawab
"Waalaikumsalam, Rifqi tolong telpon mas Fariz perut ku sakit sekali sepertinya saya akan melahirkan " ucap shila dengan suara terbata-bata
"iya kak saya akan telpon mas Fariz,kakak dirumah sama siapa? " ujar Rifqi khawatir
"kakak sama bik murni,kakak sudah telpon mas Fariz tapi telponnya tidak diangkat,bik murni kerumahmu tapi kata bik sarti kamu lagi pergi sama Shela " ujar Shila menahan rasa sakit diperutnya Rifqi bisa mendengar suara rintihan shila
"saya dirumah Fara kak,kalau begitu sudah dulu kak saya mau telpon mas Fariz dulu"ujar Rifqi yang langsung mematikan sambungan telponnya tanpa mendengar jawaban shila
"kenapa ki?" tanya Nadia
"kak shila bund katanya ingin lahiran trus mas nggak bisa dihubungi " ucap Rifqi panik
"ya sudah kita kesana yuk,siapatau Gaffi juga bisa diam kita juga bisa membantu kakak mu " ucap Nadia, mereka bertiga pun mengangguk dan bergegas kerumah shila yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah Fara
kini mereka sudah sampai didepan rumah Shila, mereka segera masuk kedalam rumah shila
"Assalamualaikum " ucap mereka saat masuk kerumah shila
"Waalaikumsalam"Jawab bik murni sedang Shila hanya menjawab dengan lirih
"sayang kita kerumah sakit ya" ucap Nadia
"iya bunda" Jawab shila pasrah
fara langsung duduk didekat shila dan mendekat kan tangan putranya keperut shila dan tangis Gaffi langsung berhenti serta rasa sakit diperut shila juga ikut berhenti shila menoleh kepada Fara yang memangku putranya
"kok rasa sakit diprutku berhenti saat Gaffi menyentuhnya bunda ?" tanya shila heran
"bunda juga tidak tau karena tadi saat Echa menangis dan shela perutnya terasa ngilu karena dedek bayinya gerak terus tapi saat Echa sentuh mereka diam dan Echa juga diam"ujar Nadia menjelaskan
"Masya Allah mereka saling menenangkan walaupun belum bertemu secara langsung " ucap shila tersenyum
"apakah kamu merasa akan segera melahirkan ?"tanya Nadia pada putri sulungnya
__ADS_1
"iya bunda ini sudah mendekati HPL kata bu bidan biasanya tidak tepat waktunya kadang cepat kadang juga lambat " jawab shila yang kembali meringis menahan rasa sakit diperutnya
Rifqi terus menghubungi kakaknya dan Ubaidillah setelah beberapa kali panggilan akhirnya diangkat juga oleh ubai