Suamiku Pelit Bin Medit

Suamiku Pelit Bin Medit
Bab 77


__ADS_3

Nindi memegang tangan adiknya lalu membawa tangan itu untuk diciumnya


Nadia semakin menangis mendapat perlakuan seperti itu dari sang kakak


Orang -orang yang berbeda disanapun tak dapat membendung air matanya


Nadia pun melakukan hal yang sama mencium kedua tangan kakaknya Nadia juga mencium kening sang kakak


Nindi menangis dan memeluk tubuh adik kesayangannya


"dek apakah kamu akan mengabulkan segala permintaan kakak?" tanya Nindi dengan suara terbata-bata


" iya kak tapi kakak juga harus janji kakak harus sembuh " ucap Nadia


"Dek kakak ingin kamu menikah dengan Mas Arman" ucap Nindi dengan suara bergetar


"kakak ini bicara apa sih,mana mungkin kak dia itu kakak iparku


kakak jangan sembarangan kalau bicara" ucap Nadia dengan suara besar karena terkejut kakaknya berkata seperti itu


" saya mohon dek,mas Arman sudah setuju walaupun awalnya dia tidak ingin tapi kakak sudah tidak punya banyak waktu dek


kakak mohon sama kamu dek


kakak tidak percaya sama orang lain untuk bisa merawat dan menyangi dengan tulus mas Arman dan anak-anakku


hanya kamu dek yang kakak percaya


jika kamu setuju kakak bisa pergi dengan tenang" ucap Nindi yang mulai merasa sesak


"kakak jangan bicara seperti itu kakak sudah janji akan sembuh


kakak tidak boleh pergi kasian Anak-anak dan mas Arman" ucap Nadia terisak-isak


"ka ka-kak sudah tidak kuat hahaha lagi dek


ka-kak mo-hon kamu mau menikah dengan mas Arman dek


han-nya kamu yang bisa tulus merawat dan menyangi mereka hahahahaha" ucap Nindi dengan suara tersengal-sengal


Arman segera memencet tombol yang ada di samping tempat tidur nindi


"mami yang tenang ya, Mami tidak usah memikirkan saya dan anak-anak papi yakin mami pasti sembuh papi akan membawa mami berobat ke luar negeri bila perlu agar mami bisasembuh" ucap Arman dengan deraian air matanya


Arman tak henti-hentinya mencium kening sang istri


"Ma-maafkan mami ya pi! mami tidak bisa jadi istri yang baik juga ibu yang baik


kalau mami pergi nanti mami mohon jaga adik kesayanganku ini ya pi!" ucap Nindi lemah


"jangan bicara seperti itu mi,papi yakin mami pasti akan sembuh "ucap Arman menyemangati istrinya

__ADS_1


" mami sudah tidak kuat lagi pi,mami mohon papi dan Nadia menikah ya biar mami tenang "ucapnya lagi memegang tangan nadia dan Arman Nindi menyatukan kedua tangan orang yang disayanginya dalam genggamannya lalu menciumnya


pintu ruangan terbuka dan dua orang dokter cantik masuk bersama seorang suster


"permisi pak bu kami periksa kondisi bu Nindi " ucap salah satu dokter


"silahkan dok"ucap Arman lalu berjalan menjauh dari tempat tidur nindi


Nadia pun melakukan hal yang sama


setelah selesai memeriksa kondisi nindi Dokter permisi keluar dari ruang rawat Nindi


tapi sebelum dokter pergi Nadia menahan mereka dan akhirnya kedua dokter dan perawatnya mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruang perawatan Nindi


"Dok bagaimana keadaan kakak saya, penyakit apa yang sebenarnya kakak saya derita dok?" tanya Nadia kepada sang Dokter


"lebih baik kita bicarakan ini diruangan saya bu agarvpasien tidak terganggu "ucap salah satu dokter yang bernama Dr.Najwa


Nadia membaca nametag Dokter itu


Nadia mengikuti langkah kaki Dokter Najwa menuju Ruangannya diikuti juga oleh Tora


karena Tora sangat penasaran penyakit apa yang diderita kakak sepupunya


Dokter Najwa memasuki sebuah ruangan bersama Perawat yang sedari tadi menemaninya Namun Dokter yang bernama Dr.Aisyah berpamitan kepada Dokter Najwa untuk melanjutkan pekerjaannya


Nadia masuk kedalam ruang kerja Dokter Najwa bersama Tora dan ternyata Arman menyusul mereka


"silahkan duduk bapak ibu"ucap Dr.Najwa


"tapi kenapa kakak saya tidak dirawat di ruang ICU dok?! kenapa kakak saya dirawat diruang rawat seperti ini dok?!"tanya Nadia


"ini semua keinginan ibu Nindi,ibu banyak-banyak berdoa semoga ibu Nindi mendapatkan keajaiban dan bisa sembuh kembali tapi sebisa mungkin ikuti segala keinginannya kita tidak tau bagaimana kedepannya karena menurut hasil penelitian kami ibu Nindi sudah tidak bisa bertahan lebih lama lagi


kami bukannya mendahului kehendak Allah namun tim kami sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi" ucap sang dokter dengan wajah yang sangat sedih


Arman menundukkan wajahnya dan mengusap wajahnya yang sudah basah oleh air mata


begitu pun Tora


Nadia menangis sesenggukan dipelukan Tora


Nadia menekan dadanya yang terasa sesak


"Ya Allah jangan kau ambil kakakku sembuhkanlah dia ya Allah hamba mohon "ucap Nadia lirih disela isak tangisnya


"kalau begitu kami permisi dok" ucap Arman


"iya pak Arman kalau bisa turutin keinginan ibu Nindi kita tidak tau mungkin itu permintaan terakhirnya


sebisa mungkin buatlah beliau bahagia dipenghujung hidupnya

__ADS_1


Namun saya sangat berharap semoga ada keajaiban yang diberikan oleh Allah SWT


banyak-banyaklah berdoa " ucap Dokter Najwa


"iya Dokter terima kasih banyak atas segala kerja keras dokter telah merawat istri saya "ucap Arman


"iya pak Arman sama-sama ini semua adalah sudah tugas kami"jawab Dokter Najwa


mereka bertiga pun meninggalkan ruang kerja Dokter Najwa dan kembali keruang rawat Nindi


ditengah perjalanan menuju ke ruang rawat Nindi ,Tora bertanya kepada Arman dan Nadia tentang kesediaan mereka menuruti keinginan Nindi


"Dek bagaimana keputusan kamu tentang keinginan kak Nindi setelah mendengar penuturan dokter tadi ?" tanya Tora kepada Nadia


"saya bingung Bang, harus bagaimana memberikan jawabannya "jawab Nadia


"Dek mas juga sama bingungnya seperti kamu tapi....." Arman tidak sanggup melanjutkan ucapannya Arman berjongkok dan bersandar pada dinding rumah sakit


Arman menutupi wajahnya dengan kedua tangannya


Arman menangis sesenggukan


Tora ikut berjongkok di samping kakak irpar sepupunya itu laku memeluknya mencoba memberikan ketenangan


" mas tidak sanggup Tora,mas tidak sanggup Kalau kakakmu benar-benar meninggalkan kita kasihan Anak-anak yang masih sangat kecil


hiks hiks hiks "ucap Arman disela sela tangisnya


Nadia pun Sama terpukulnya Nadia tidak sanggup untuk kehilangan kakak panutannya


"Dari itu kita harus membahagiakan kak Nindi dengan mengikuti keinginannya kita tidak tau bagaimana kedepannya apa lagi kondisi kak Nindi semakin kritis seperti dokter jelaskan tadi kekita" ucap Tora dengan suara seraknya karena dia juga ikut menangis


tiba-tiba saja ponsel Arman berdering panggilan dari salah satu kerabatnya yang ada diruang perawatan Nindi


Arman segera mengangkat telponnya


"Halo ada apa paman?"tanya Arman tanpa basa basi


"man kamu dimana nak,Nindi sesak lagi" jawab paman Arman dengan suara bergetar karena takut


tanpa menjawab pertanyaan pamannya Arman langsung berlari keruang perawatan Nindi Tora dan Nadia yang melihat itu juga ikut berlari menyusul Arman


sesampainya diruang rawat Nindi Arman segera masuk orang-orang yang berada disana sudah menangis dalam diam


Anak-anak Nadia serta Anak-anaknya sudah ada disana sedang menangis dan saling berpelukan memberikan kekuatan satu sama lain


Arman dan Nadia segera mendekat kepada Nindi sedangkan Tora mendekati ponakan-ponakannya dan mendekap mereka


Nindi yang menyadari kedatangan Nadia dan suaminya membuka matanya dan tersenyum


"mas ma - mukan men-jaga a-dik-ku dan Anak-anak ?!" ucap Nindi tersedat-sedat

__ADS_1


Arman tak sanggup bersuara dia hanya menganggukkan kepalanya


Nindi tersenyum lagi melihat itu kini dia beralih memandang adiknya


__ADS_2