
semua anak sedang bermain dihalaman depan setelah makan siang yg sedikit terlambat
kini mereka duduk Gasebo depan rumah sengaja dipasang oleh pak Sardi dibawah pohon mangga yg sejak awal menarik perhatian Della Beberapa buah yang sudah mengkal (setengah matang) mereka ambil untuk dijadikan rujak
mereka sesekali tertawa melihat ekspresi wajah Della karena merasa asam dilidahnya
"mami imi cut"ucap Della memejamkan matanya dan mukanya yang gembil ikut berkerut pundaknya naik turun
Mereka tertawa bersama
Nadia tiba-tiba izin kekamar mandi tiba-tiba perutnya sakit mungkin makan terlalu banyak mangga dan cabe bumbu rujak
"saya kekamar mandi dulu ya, kebelet nih" ucap Nadia bergegas beranjak dari duduknya dan berlari kecil masuk kedalam rumah menuju kamar mandi
"cikcik.... Nggak pernah berubah kalau makan yang asem-asem sama cabe pasti deh di kebelet " ucap Nindi sambil tertawa
"ih kamu ini" ucap Bu Rahma menepuk pelan paha Nindi yang masih tertawa bersama Wulan lalu beranjak dari duduknya dan menyusul Nadia kedalam rumah
saat sampai didalam rumah Bu Rahma melihat Nadia keluar dari kamar mandi
"kamu baik-baik saja nak?"ucap Bu Rahma khawatir
"iya bu Nadia baik-baik saja" ucap nadia dan bergelayut manja dilengan Bu Rahma
"Bu"
"Nak"
ucap Bu Rahma dan Nadia bersamaan
"sini nak duduk dulu sama ibu"
ujar Bu Rahma mengajak Nadia kebelakang rumah duduk dikursi teras halaman belakang yg juga luas dan dimanfaatkan oleh Bu Rahma dan Pak sardi menjadi kebun sayuran untuk menghabiskan waktu mereka dan bila hasil kebun merka melimpah maka pak Sardi akan menjualnya kepemasok kenalan pak Sardi di pasar
pak Sardi juga memiliki beberapa hektar tanah dan sawah yg dikelola oleh keluarga pak Sardi dan wahyu tidak tau sama sekali tentang hal ini Wahyu hanya tau bahwasanya mereka sering diberikan hasil panen oleh saudara pak Sardi karena mereka sering dibantu oleh pak Sardi
Nadia mengikuti Bu Rahma duduk dikursi teras itu
Nadia hanya terdiam begitupun Bu Rahma hingga akhirnya Nadia membuka suara
__ADS_1
"Bu Nadia mau ngomong sesuatu tapi ibu jangan terpancing emosi ya nadia takut kalau darah tinggi ibu kambuh"ucap Nadia hati-hati
" iya nak bicaralah,ibu baik-baik saja "ucap Bu Rahma meyakinkan Nadia
Nadia pun menceritakan semua tentang wahyu dan marni serta keinginannya untuk segera mengurus perceraiannya dengan Wahyu
Nadia mengerutkan keningnya heran melihat ekspresi wajah Bu Rahma sama sekali tidak menunjukkan keterkejutan akan tetapi ada raut sedih diwajahnya
"apa ibu sudah tau semua?" tebak Nadia dan diangguki oleh Bu Rahma
Bu Rahma pun mulai menceritakan bagaimana dia bisa tau semua tentang pernikahan Wahyu dan Marni
pantas saja Bu Rahma tidak lagi syok mendengar cerita Nadia
"maafkan ibu nak, bukannya ibu dan bapak ingin menyembunyikan ini semua dari kamu tetapi ibu sedang mencari bukti dan cara menyampaikan sama kamu tapi ternyata kamu sudah tau semuanya danjuga sudah dapat banyak bukti
semua terserah kamu nak karena kamu yang akan menjalaninya kamu juga berhak bahagia
ibu dan bapak serta Wulan akan selalu mendukungmu kamu tidak usah merasa tidak enak hati pada kami karena bukan kami yang mengalaminya tapi kamu nak"ucap Bu Rahma menangis memeluk Nadia
Nadia yang diperlukan seperti itu pun ikut menangis
"iya Bu, Nadia akan tetap jadi putri ibu dan bapak jadi nadia minta sama bapak dan ibu selalu jaga kesehatan bila tidak saya tidak akan mau datang kesini lagi "ucap Nadia menggenggam tangan ibu mertuanya
"iya nak ibu dan bapak berjanji untuk selalu menjaga kesehatan"ucap bu Rahma
"sekarang Nadia merasa lega Bu, Nadia tidak khawatir lagi"ucap Nadia memeluk tubuh kurus mertuanya
"oh iya Bu,apa bang wahyu sering kesini dengan istri barunya?"Tanya Nadia
"dia tidak akan berani datang kesini, karena Kalau dia datang kesini bersama istri barunya pasti dia takit kalau ibu memberi tahukan kamu"jawab Bu Rahma emosi
"anak bodoh itu tdk akan pernah berani datang kesini"ucapnya lagi
"sudah Bu jaga emosi ibu nanti darah tingginya kumat"ucap Nadia mengelus lembut lengan ibu mertuanya
"tapi Nadia mohon ya bu jangan memberi tahu Bang Wahyu tentang niat Nadia ingin menggugat cerai, takutnya nanti bang wahyu nekat mecelakai nadia atau anak-anak
Nadia cuma mau antisipasi aja bu dan semoga bang wahyu tidak mempersulit semua "ucap Nadia berusaha tegar
__ADS_1
"iya nak ibu tidak akan memberi tahu Wahyu,ibu juga akan mewanti-wanti bapak dan wulan "jawab Bu Rahma
" terimakasih banyak Bu"ucap Nadia dan merebahkan kepalanya di bahu wanita paruh baya itu
Bu Rahma mengelus sayang kepala Nadia
sore menjelang Nadia dan Nindi berpamitan pulang
Bu Rahma, Pak sardi dan wulan merasa sedih walaupun jarak rumah mereka tidaklah terlalu jauh hanya menempuh setengah jam perjalanan akan tetapi kesibukan Wulan dikampus membuatnya tidak bisa mengantarkan kedua orang tuanya hanya sekedar melepas rindu buat ponakan ponakannya
" Lan, sesekali bawa ibu dan bapak nginap dirumah ya
soalnya kakak tidak bisa lagi sering datang karena pesanan kue Alhamdulillah setiap hari ada jadi kakak tidak bisa tinggal
ini aja pesanan-pesanan kakak selesaikan adengan cara balab rakut kl nggak cepat palenggan akan kabur, hehehe"ucap Madia sambil tertawa
"Iya kak mudahan minggu depen semua wulan bisa selesai semuanya
ucap Wulan penuh semangat.
🥀🥀🥀
"Bang lusa kita adakan tujuh bulanan Apa keluarnya abang tisak ada yg diberitahukan? ucap Marni mengusap perutnya yang buncit
Marni tau mereka pasti akan marah
" jangan macam-macam kamu Marni kalau mereka tau pernikahan kita saya pasui dikeluarkan dari daftar ahli waris" ucap wahyu menahan emosinya
" jadi sampai kapan kita akan seperti ini hah? tanya marni meninggikan suaranya
sampai kapan kamu baru akan menceraikan Nadi,saya capek bang kucing-kucingan terus tanpa kejelasan
apa lagi sebentar lagi saya akan melahirkan bang saya ingin sebelum anak kita lahir kita saya ingin pernikahan sudah resmi"ucap Marni dan merjalan masuk kedalam kamarnya pintu kamar dititupmya dengan sangat kencang
Wahyu terlonjak kaget mendenga pintu kamar dibanting
wahyu menyugar rambutnya prustasi
"saya harus apa? tidak mungkin saya memberi tahukan Nadia Sekarang saja pasti sudah curiga apalagi saya sudah berapa hari tidak pulang "ucap wahyu pada dirinya sendiri lalu memijat pangkal hidungnya karena pusing memikirkan permintaan Marni
__ADS_1