Suamiku Pelit Bin Medit

Suamiku Pelit Bin Medit
Bab 33


__ADS_3

cepat mana ponselmu, kenapa? kamu takut ketahuan berbohong?" ucap wahyu tersenyum sinis


setelah beberapa kali didesak oleh Wahyu akhirnya Mita menyerahkan ponselnya


Wahyu membuka aplikasi berlogo hijau di ponsel Mita melihat semua pesan Nadia


Wahyu membaca semua pesan Nadia yang dikirimkannya untuk Mita.


Mita memang jarang menghapus pesan-pesan di ponselnya karena Mita biasa lupa apa yg harus dilakukan ataupun kue pesanan siapa saja yang akan di buatnya


Wahyu kecewa karena tidak ada pesan dari Nadia yang menunjukkan dimana dia berada saat ini


wahyu tdk putus asa dia membuka riwayat panggilan telepon dari Nadia tapi yang Ada hanya panggilan beberapa hari yang lalu saja yang ada disana


Wahyu mencoba menelpon Nadia memakai ponsel Mita tapi tetap saja teleponnya tidak diterima


berulang kali Wahyu menelpon tetap saja tidak direspon oleh Nadia


wahyu menyerahkan kembali ponsel Mita dan menyugar kasar rambutnya prustasi


wahyu masuk kembali kedalam rumah dan membanting pintu rumah dengan keras


bragg...


setelah wahyu mengunci pintu diapun masuk kekamarnya lalu masuk kedalam kamar mandi untuk menyiram tubuhnya dengan air dingin


setelah merasa segar Wahyu keluar duduk dikursi depan tv lalu menyalakan Televisi agar tdk merasa bosan


perutnya sudah kerongkongan Wahyu baru mengingat kalau belum makan dari siang tadi


Wahyu berdiri dari duduknya dan berjalan keluar rumah dia ingin meminta tolong pada Mita untuk membuatkannya makanan tapi saat sampai di luar wahyu melihat lampu rumah pembuatan kue Nadia sudah padam menandakan semua pegawai Nadia sudah pulang


wahyu bertambah prustasi


wahyu kembali kedalam kamarnya untuk mengambil uang di dompetnya Wahyu akan membeli makanan di warung diujung jalan


Wahyu meraih kunci motornya yang diletakkannya di atas bufet dekat televisi


wahyu menjalankan motornya menuju warung y diujung jalan sesampainya disana ternyata warung Itu tutup


wahyu bertambah prustasi


saat akan memutar balik motornya wahyu melihat gerobak bakso berjalan kearahnya


"lebih baik beli bakso saja daripada kelaparan


"kata wahyu

__ADS_1


wahyu menghentikan gerobak bakso tersebut


"baksonya mas"ucap wahyu perutnya bertambah kerongkongan mencium aroma kuah bakso


makanan ini makanan yang paling dihindarinya


"maaf mas suda habis"jawab mas-mas penjual bakso


Wahyu bertambah prustasi


gerobak bakso itu kembali didorong pemiliknya pergi meninggalkan Wahyu Yg pusing sendiri


sesampainya dirumah Wahyu bergegas menuju ke dapur Wahyu mencari makanan apa saja yang bisa dimakannya


perutnya sudah semakin perih


wahyu membuka kulkas ternyata Mita siang tadi sudah memasak tapi mungkin siang tadi Wahyu tertidur jadi Mita tidak berani membangunkannya


wahyu memanaskan semua makanan


setelah semua makanan telah dipanaskannya Wahyu lalu makan dengan lahap mungkin karena terlalu lapar sampai tak peduli suara azan magrib wahyu tetap memakan makanannya sampai habis tak bersisa


setelah selesai makan Wahyu membersihkan bekas makannya sendiri dan membawanya kewestafel tanpa mencucinya


Wahyu duduk di kursi depan tv Wahyu menyandarkan punggungnya fikirannya melayang entah kemana,dia memikirkan Nadia


Wahyu menyugar rambutnya gusar karena dia yakin Nadia marah padanya


Wahyu sangatlah menyesal telah melakukan itu semua bagaimana caranya untuk bisa meminta maaf kepada Nadia sedangkan Marni memintanya untuk pulang besok


Aaaahhkkkk


"saya kira semua akan berjalan dengan baik, karena Nadia sudah memiliki penghasilan sendiri yang bisa memenuhi semua kebutuhan rumah dan anak2 tanpa saya memberikan nafkah tapi ternyata Nadia tidak terima


Mirna pun tak ingin berbagi dengan Nadia alasannya dia sedang hamil kebutuhannya banyak sedangkan nadia sudah punya uang sendiri


akhhhhh kenapa saya mengikuti keinginan mirna bila akhirnya saya akan semakin jauh dari Nadia


untuk jatah bulanan wulan pun mirna kurangi "wahyu melamun dan berbicara sendiri


tiba-tiba ponsel Wahyu berdering dan menyadarkannya dari lamunannya


wahyu mengambil ponselnya yang diletakkan diatas meja


melihat ID pemanggil di ponselnya ternyata yg menelpon adalah adiknya wulan


"assalamualaikum bang,kenapa ponselnya tidak pernah aktif ,setiap ditelpon pasti nggak aktif,

__ADS_1


Abang sengaja tidak mau tau lagi tentang kabar kami? abang sudah bahagia jadi tidak memerlukan kami lagi? kalau masalah jatah bulanan wulan tidak dikirim lagi tidak apa-apa bang tapi jangan juga mengabaikan orang tuamu


abang mau jadi anak durhaka? ibu sepanajng malam menangis memikirkan kamu bang dimana rasa sayangmu bang? ucap Wulan tanpa jeda dan tidak memberikan kesempatan kepada Wahyu untuk berbicara


wahyu menghela nafas panjang mendengar penuturan adiknya


"ponsel abang aktif terus dek,abang tidak pernah menghubungi kalian karena kalau abang sudah pulang kerja abang capek sekali biasanya selesai makan malam abang langsung tidur dek"ucap wahyu menarik nafasnya menghirup udara sebanyak-banyaknya


"alah alasan aja,bilang saja kalau abang susah tidak mau dibebani oleh kami blafi"ucap Wulan ketus


wahyu sudah emosi mendengar ucapan adiknya


namun Wahyu menahannya agar tdk melepaskan kekesalannya


"kenapa kamu bilang begitu dek, tolong sama ibu dan bapak kalau abang minta maaf karena abang tidak pernah memberi kabar"ucap wahyu lagi


wahyu mendengar wulan berdecak sebal diseberang sana


wahyu tiba-tiba teringat kata-kata wulan tadi bahwa jatah bulanannya tak pernah lagi didapatkannya wahyu pun pernah mendengar perkataan seperti itu dari Nadia waktu mereka bertengkar saat baru pulang dari kota M


"apakah marni tidak pernah mengirimi mereka jatah bulanan tapi kata marni dia rutin mengirimkan mereka setiap bulannya walau jatah mereka Marni kurangi"ucap wahyu dalam hati


"bang...abang....abang masih dengar saya kan?"


ucap Wulan karena Wahyu hanya terdiam


"wulan apa benar jatah bulanan kamu tidak pernah kamu dapatkan?atau kamu sedang berbohong pada abang karena abang tiap bulan mengirimkan melalui teman abang!" jawab Wahyu


"cik...teman apa teman?"wulan berdecih


"abang disuruh pulang sama ibu dan bapak ibu ingin mengatakan sesuatu mungkin ingin membagikan warisan"ucap Wulan tersenyum miring karena wulan tau jika tidak mengatakan seperti itu kakaknya yang pelit lagi matre pasti akan datang secepat kilat menyambar


"iya abang akan kesana "jawab wahyu cepat apalagi setelah mendengar kata warisan


diseberang sana wulan menutup mulutnya menahan tawanya sedangkan Bu Rahma dan Pak sardi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya


"oh iya bang kata ibu bawa serta teman abang ya,yang abang percayakan mengirimkan kami jatah bulanan ibu dan bapak ingin berterima kasih padanya siapa tau aja dia juga dapat warisan dari bapak "ucap Wulan dengan sinis


wahyu hanya diam mencerna setiap ucapan adiknya


"iya baiklah"Jawab wahyu


"okey,kami tunggu kedatangannya besok jangan sampai tidak datang kalau tidak Abang tidak akan dapat apa-apa Assalamualaikum "ucap Wulan mematikan telponnya sepihak tanpa menunggu jawaban dari Wahyu


setelah melihat layar ponselnya menggelap wahyu segera meraih remote control televisi dan mematikannya


wahyu beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat karena besok pagi dia akan menjemput Marni dan membawanya menemui kedua orang tuanya

__ADS_1


__ADS_2